Logika pembangunan kita belakangan ini sedang mengalami gangguan pencernaan yang serius. Kita melihat hutan bukan sebagai paru-paru dunia, melainkan sebagai "stok arang" yang belum sempat dibakar. Kita melihat sungai bukan sebagai sumber kehidupan, melainkan sebagai "saluran pembuangan" gratisan yang dianugerahkan Tuhan untuk mempermudah bisnis tambang.
Dalam film ini, kita diajak melihat bagaimana "Ketahanan Pangan" dan "Ketahanan Energi" menjadi mantra ajaib yang bisa mengubah hutan adat menjadi kebun singkong layu dalam semalam. Ini adalah Pesta Babi yang sesungguhnya: sebuah perjamuan di mana alam adalah hidangan pembuka, tanah rakyat adalah hidangan utama, dan masa depan anak cucu kita adalah pencuci mulutnya.
"Dulu, penjajah datang mengambil rempah-rempah kita. Sekarang, kita menjajah diri sendiri dengan mengambil ruang hidup kita sendiri, lalu menyebutnya sebagai kemajuan ekonomi," ujar seorang petani yang tanahnya kini berubah jadi tiang pancang.
Pembangunan modern kita menganut aliran "Eksploitasi-isme". Alam dianggap sebagai 'cadangan sumber daya' yang pasif—seperti kulkas raksasa yang isinya boleh dikuras habis tanpa pernah terpikir untuk mengisinya kembali.
Logikanya sederhana namun mematikan:
• Ada Hutan? Berarti ada kayu dan lahan sawit.
• Ada Gunung? Berarti ada emas dan nikel.
• Ada Rakyat di atasnya? Ah, itu hanya "kendala administratif" yang bisa diselesaikan dengan ganti rugi (yang lebih banyak 'rugi' daripada 'ganti').
Kita bertingkah seolah-olah kita adalah pemilik alam semesta yang baru saja memenangkan lotre, padahal kita hanyalah penyewa yang sedang menunggak uang sewa dan malah menghancurkan dinding bangunan untuk kayu bakar.
Film dokumenter ini bukan sekadar tontonan, tapi tamparan keras bagi siapa saja yang masih percaya bahwa beton bisa dimakan. Ia menggugat cara berpikir kita: Apakah benar disebut "Strategis" jika ia menghancurkan keanekaragaman hayati yang tak tergantikan demi keuntungan kuartalan? Apakah benar disebut "Nasional" jika yang kenyang hanya segelintir babi di meja perjamuan, sementara sisanya hanya kebagian debu dan banjir?
Kolonialisme modern tidak lagi datang dengan bahasa asing, ia datang dengan bahasa statistik, pertumbuhan PDB, dan janji swasembada yang aromanya mirip sekali dengan janji manis mantan yang hobi berutang.
Jadi, sebelum Anda mengangguk setuju pada proyek raksasa berikutnya yang "demi kepentingan umum," tanyakan dulu: Apakah Anda sedang duduk di kursi tamu, atau Anda sebenarnya sedang berbaring di atas piring saji?
Selamat menonton, dan hati-hati, jangan sampai Anda tersedak logika pembangunan yang sedang menggila ini!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar