
Salut dan bangga, bagi seluruh remaja dan pemuda yang kreativ ini, walau ini hanyalah sepenggal kalimat yang masih berada di tataran pertunjukan, tapi setidaknya telah membangunkan kesadaran kita tentang pentingnya keteladanan. Sayang konser ini tidak sepenuhnya dihadiri oleh mereka yang diharapkan menjadi teladan.
Aku tahu bahwa malam itu keteladanan hanyalah judul sebuah lagu, belum menjadi bagian kehidupan sesungguhnya. Artinya keteladanan masih menjadi sebuah harapan anak muda untuk menjadi realita hidupnya, yang saat ini menjadi sesuatu yang langka dan sulit di temukan.
Banyak pejabat yang memang pantas di teladani dalam berpakaian dan kewibawaannya, tapi sayang moralitasnya hanya pantas ditelanjangi.
Banyak pelayan Tuhan yang patut di teladani ucapannya, tapi sayang prilakunya hanya patut menjadi kayu bakar di neraka.
Teladan diharapkan menjadi sebuah prilaku dan tidak hanya berhenti menjadi sebuah slogan yang luar biasa kibaran dan penampilannya tetapi dari hari kehari tercabik-cabik oleh badai. Ia tidak mampu bertahan dan akhirnya pergi bersama badai.
Teladan tidak selalu datang dari luar, tidak juga selalu dari yang tua, tetapi ia bisa lahir dari dalam, dari sebuah keyakinan iman yang sungguh, dari generasi muda yang dinamis dan kreativ. Seperti kata Paulus “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. (I Timotius 4 : 12).
Teladan adalah kehidupan!