Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2009

Dua Puluh Tujuh September Dua Ribu Delapan

Bangun pagi dengan persiapan untuk kembali ke Manado. Kebetulan Expres Bahari akan tiba dan berangkat siang ini. Kata mereka tiket sudah terjual habis sejak kemarin hari. Tertunda lagi rencana untuk pulang.

Tidak lama kemudian ada yang datang membawa 2 tiket, kata mereka kami tidak akan duduk di dalam tapi di luar (diburitan kapal). Mereka menyerahkan pada kami, dan kuperiksa ternyata nama yang ada dalam tiket tersebut tidak sama dengan kami. Tiket sebenarnya sudah habis, dan yang ini tinggal tiket orang lain, taka apa yang penting pulang.

Kupersiapkan semua kelengkapan, hanya satu tas gendong yang kubawa. Sudah agak siang sekitar pukul 11.00. Kami ke tempat 30 langkah dari penginapan, posisi tempat ini agak tinggi dengan tempat duduk untuk istirahat bahkan tidur juga bisa. Di tiup angin yang sepoi-sepoi kering, nampak di bawah pelabuhan Siau. Kata pak Bun kita duduk di sini dulu nanti kalau KM Express Bahari sudah tiba (berlabuh) baru kemudian pergi ke Pelabuhan. Pelabuhan masih kosong, belum nampak kapal di sana.

Tak lama kemudian nampak di kejauhan sebuah kapal mendekat ke pelabuhan dan kata mereka into kapal yang akan kita tumpangi. Tak lama kemudian dia merapat ke pelabuhan. Kami pun bergegas menuruni bukit kecil ini dan ke pelabuhan.

Suasana di pelabuhan Siau sudah ramai. Aku membeli aqua botol untuk minum di kapal. Penumpang sudah mulai turun, penumpan yang akan naik sudah betumpuk antri. Bupati Sitaro juga bersama penumpang antri. Aku melihat ia berdesakan dengan para penumpang. Aku tak tahu ini kemauan sang Bupati atau kelalaian Protokolernya, yang pasti sang Bupati juga antri. Prilaku yang baik tapi sebenarnya sangat berbahaya, sebab bisa saja ada yang iseng mendorong dan bupati bisa kecebur ke laut atau tindakan yang lebih ekstrim dari itu. Mungkin sang Bupati percaya betul dengan warganya dan yakin tak akan berbuat sejauh itu.

Aku menaiki tangga kapal dari arah depan, berjalan dan naik ke dek di atasnya lagi kemudian berjalan terus ke belakang kapal. Pandangan di tempat ini terbuka. Dari sini aku boleh melihat samping dan belakang dengan leluasa.

Pak Alfrets sudah tiba lebih dulu dan ia sudah duduk di kursi plastik. Tempat ini memang hanya menyediakan tempat duduk plastic. Sementara aku masih kebingungan mencari tempat duduk, bule di sampingku menawarkan kursi untukku, aku mengucapkan terima kasih, kemudian ia berkata: “bayar”. Beberapa kali ia mengulang dengan menambahkan: “dua puluh lima ribu”. Aku kaget juga. Bule ini bercanda atau serius? Aku memjawab: “Ini di negeri anda bayar tapi di negeri kami gratis”. Tapi jawaban ku itu sepertinya tidak dimengerti. Rupanya bule ini hanya tau “bayar” dan “dua puluh lima ribu”, dasar bule. Dengan inggris kira-kira ku coba menjawab kembali: “This chair payee in your country but free in our country”. Bule itu terkekeh-kekeh dengan teman di sampingnya.

Pukul 12.30 kami berangkat. Laut tenang, kapal melaju dengan cepat. Suasana di buritan ini memang ramai. Penumpangnya sebagian bule. Ada Prancis, amerika, jerman. Kelompok bule Prancis ini sudah agak tua, usia mereka mungkin di atas 55 thn bahkan ada mungkin sudah diatas 65 thn. Mereka yang kemarin berada di batu-batu lahar. Mungkin mereka peneliti, dari kalangan akademisi.

Bule di depanku, yang tadi menjual kursi, mengeluarkan kameranya kemudian masang lensa telenya dan mulai mengambil gambar. Kamera yang satu dengan lensa zoomnya digantung di pundak. Aku pikir bule ini mungkin fotografer. Bule di sampingku gondrong dengan anting di bibirnya. Ia diam terus dan hanya mengelus-elus janggutnya yang panjang sambil membaca sebuah buku tebal dan kulihat itu buku sastra. Mungkin ia sastrawan/seniman. Ia sudah mengunjungi bebarapa tempat/pulau, aku sendiri tidak tau nama daerah lain yang ia sebutkan. Bahkan ia sudah dari aceh. Ketika aku bertanya apa tujuannya, ia menjawab tidak tau. Aneh juga.

Ombak mulai membesar, kapal terasa sedikit oleng. Suasana di sini semakin ramai karena kursi plastik yang ringan selalu bergerak bahkan ada bule yang terguling ke samping untung ada temannya yang menahan. Dari samping pancaran air laut mulai terasa, bahkan dari depan air laut dapat naik sampai ke atap kapal dan meluncur ke belakang di mana kami berada, lagi-lagi ada bule yang basah dan ditertawakan teman-temannya.

Pukul. 14.33 kami tiba di tagulandang. Kapal hanya merapat di kapal yang lain tidak lansung di dermaga. Suasana bedesak-desakkan, momen ini di tangkap oleh kamera si bule penjual kursi tadi.

Pukul 15.15 kami berangkat dari tagulandang. Laut agak tenang bukan seperti dari Siau tadi. Menjelang memasuki Manado, matahari mulai terbenam. Bule penjual kursi itu nekat memanjat atap kapal sementara kapal malaju karena ingin mengambil foto saat matahari terbenam (Sunset). Temannya juga ikut naik.

Pukul 18.05 kapal merapat di pelabuhan Manado. Pak Alfrets akan ke tempat pertemuan partai karena ia temasuk calon legislative, aku langsung pulang ke Tinoor.

Rabu, 15 Juli 2009

Dua Puluh Enam September Dua Ribu Delapan

Jarak antara tempat kami menginap di daerah pelabuhan siau dan kompleks perkantoran Pemda agak jauh, melewati beberapa desa. Kami pun melewati daerah aliran lahar gunung karangetan. Batu-batu berwarna hitam tersebar di mana-mana. Ada turis yang kemarin bersama dalam perjalanan sedang mondar-mandir di antara batu-batu yang menggunung.

Kami tiba di tempat yang menjadi pusat pemerintahan. Melewati kompleks pertokoan kemudian rumah-rumah penduduk. Kantor bupati sedang dalam pembangunan. Kantor Dinas PU dari bentuknya sepertinya masih menggunakan rumah penduduk. Lagi-lagi kuburan tepat di samping rumah di depan kantin, sudah menjadi bagian dari rumah tersebut. Mereka memasukan penawaran, aku mondar-mandir di sekitar.

Hampir saja terjadi insinden kecil karena suasana memanas ketika seorang saksi pada pembukaan dokumen yang pertama mengoreksi judul pekerjaan dalam pernyataan minat yang rupanya tidak sesuai dengan paket pekerjaan yang sedang di buka. Rupanya mereka tidak teliti ketika mengkopi paste lupa mengganti judulnya. Kami di posisi ke tiga dari enam perusahaan yang bertarung. Ini posisi ideal, tapi tender-tender di lingkungan pemerintah hampir tidak ada yang murni kompetisi. Kebanyakan arahan, artinya pemenang sudah ada sebelum pemasukan penawaran tergantung negosiasi.

Agak sore kami kembali. Dalam perjalanan teman kontraktor yang satu merasa tidak puas atas ulah dari sesama kontraktor yang menjadi saksi saat pembukaan dokumen, padahal ia ranking 1.

Mengisi waktu yang tersisa di Siau Aku di ajak oleh pak Alfrets mengunjungi saudaranya, saudara istrinya di kompleks pertokoan tidak jauh dari pelabuhan. Kami ngobrol sampai hari hampir malam. Tidak jauh dari tempat kami pasir putih dan laut lepas terbentang dan perahu-perahu nelayan yang ditambat. Mereka juga mengikuti tender siang tadi. Ada yang datang dari Tagulandang. Mereka keturunan cina.

Pak Bun selalu kuatir, jangan-jangan ada kesalahan kecil dalam penawaran. Beberapa waktu yang lalu ia mengalaminya. Kami sudah melakukan cek list semua dokumen tidak mungkin terjadi kesalahan. Bukti, buktinya lolos board. Ia bercerita tentang saudaranya yang KPK, minggu depan akan datang ke Siau. Aku kurang yakin saudaranya itu bisa membantu, ia pasti terikat peraturan/komitmen dari lembaga ini yang tentu tidak menggunakan nam lebaga untuk kepentingan pribadi.

Suasana game center, milik Klif masih ramai. Aku bahkan mencoba bermain, gratis lagi, untuk menghabiskan waktu menjelang tengah malam sebelum tidur.

Jumat, 10 Juli 2009

Dua Puluh Lima September Dua Ribu Delapan

Pukul 1.15 kami tiba di pelabuhan Siau ibu kota Kabupaten Sitaro. Dijemput pa Bun dan temannya. Banyak yang berkumpul di demarga, termasuk kuli panggul yang siap menyerbu masuk saat kapal menurunkan tangganya. Aku menuruni tangga kapal sambil berdesak-desakkan dengan kuli panggul yang juga menaiki tangga.

Mampir sebentar minum kopi di warung kompleks pelabuhan sambil ngobrol. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke rumah tempat kami akan menginap. Percakapan dilanjutkan namun tidak terlalau lama, kemudian kami tidur.

Masih agak pagi aku bangun. Berjalan-jalan di sekitar rumah dan ke luar sambil melihat aktivitas pagi itu. Hampir setiap halaman rumah di sini memiliki kuburan keluarga. Rumah ini memang tidak jauh dari kompleks pertokoan.

Aku melihat bukit-bukit sekitar yang masih hijau dan nampak sebuah gunung yang puncaknya mengeluarkan asap putih. “Karangetan” nama gunung tersebut. Beberapa tahun yang lalu pernah meletus bahkan mengeluarkan laharnya. Jika saat ini ia meletus dengan dasyat, kecil kemungkinan akan dapat menyelamatkan diri karena ternyata posisiku berada tidak jauh dari kaki gunung tersebut.

Aku kembali ke rumah dan ternyata sudah disiapkan kopi panas dan kue. Kutanyakan tentang gunung tersebut, kata mereka jika ada tamu dari luar yang tidak disukai atau kemungkinan akan berbuat kejahatan gunung tersebut akan mengeluarkan dengkurannya bahkan meletus, sebagai suatu isyarat. Sampai saat ini gunung tersebut belum mendengkur, berarti kami tamu yang baik.

Clif masih tidur, kami menunggu dia karena akan meminjam Printernya. Anak muda ini kuliah di STIKOM Manado dan membuka usaha Game Center di Siau ini. Kata mereka ayahnya salah satu tim di KPK, aku melihat memang ada foto seorang perwira polisi, tapi aku tak perlu menelusuri, karena misi ku bukan itu.

Kupersiapkan semua data yang diperlukan termasuk perhitungan untuk penawaran proyek tersebut. Semua sudah siap tinggal menunggu besok untuk pemasukannya. Dan tentu gerilya di mulai, namun itu urusan mereka bukan urusanku lagi.

Aku kelelahan lewat tengah malam, dan kemudian tidur.

Kamis, 02 Juli 2009

Dua Puluh Empat September Dua Ribu Delapan

Masih agak pagi aku tiba di rumahnya Pak Pek. Ketika aku duduk, Nescafe Panas disuguhkan. Dan setelah memberi penjelasan singkat ia berkata “Jus ngana musti brangkat”, aku kaget juga, karena apa yang dibutuhkan mereka sudah kusiapkan, sesuai kesepaktan aku tidak akan ke lokasi proyek, disana ada yang akan menangani. Dengan banyak pertimbangan, kuputuskan untuk berangkat. Kebetulan aku belum pernah ke Sitaro. Tujuan kami Siau, ibukota kabupaten baru itu.

Cuaca cerah berawan, laut tenang sore itu ketika kami bertiga (aku, pak pek dan pak Alfrets) tiba di pelabuhan Manado. Mereka berdua masing-masing pimpinan GAPEKSINDO Manado dan Bitung. Queen Marry demikian nama kapal yang akan membawa kami. Rencana berangkat pukul 17.00. Mereka mengurus segala keperluan termasuk tiket. Suasana di pelabuhan tersebut cukup ramai dan tak beraturan seperti kebanyakan pelabuhan laut di negeri ini.

Akhirnya setelah beberapa lama di atas geladak sambil mondar-mandir kapalpun meniupkan terompetnya lalu berangkat. Jam menunjukan pukul 18.00 itu artinya molor 1 jam dari rencana. Cuaca baik, cerah berawan dan laut tenang membuat hati ini tenang. Aku tak bisa berdiam di kamar, keluar melihat pemandangan laut yang indah. Hari menjelang malam, pantai Manado nampak penuh cahaya, semakin lama semakin menjauh dan hilang.

Pukul 19.30 listrik padam, suasana pun jadi gelap gulita. Mesin kapalpun mati. Aku melihat ke samping kapal sepertinya hanya berputar-putar di tempat. Aku agak kuatir, untung laut tenang. Bule (turis) asal Prancis yang tidur-tiduran di buritan bergerak ke depan menggunakan senter di kepala, bolak-balik dari ruang kemudi kembali keburitan dan kembali lagi keruang kemudi, sepertinya tidak tenang.

Pukul 19.43 listrik kembali dinyalakan, suasana menjadi terang, mesin terdengar dihidupkan. Perjalanan dilanjutkan. Namun tak lama kemudian listrik kembali padam dan mesin mati, ini berulang sampai tiga kali. Untung cuaca baik, laut tenang. Kalau cuaca buruk, laut bergelora, mungkin kami terombang ambing di lautan pasifik atau diam di dasar samudera selamanya.

Aku keluar masuk kamar, beberapa saat di luar, beberapa saat di dalam. Pak pek dengan usianya 60-an tahun itu kulihat asik ngobrol dengan beberapa orang dan hanya menggunakan kaus tanpa jaket. Sekeliling di kejauhan kulihat lampu-lampu nelayan maklum jalur ini kawasan dengan beberapa pulau.

Senin, 22 Juni 2009

Dua Puluh Satu Juli Dua Ribu Tujuh

Pukul 03.10 dini hari udara mulai dingin, kami mulai mencapai perbatasan Sulteng-Sulut. Di Molosipat kami singgah untuk makan. Sopir langsung tidur. Memang ada tempat untuk mereka bahkan makan mereka gratis. Teman baruku itu mengeluarkan 2 Laptopnya merek Toshiba. Sambil menunggu sopir yang sedang tidur, kami bercerita atau dapat dikatakan bediskusi tentang banyak hal yang berhubungan dengan Komputer yang kebetulan sedikitnya aku mengerti. Katanya ia menangani sistem Data Base kantor-kantor di Parigi. Bukan dia yang membuat sistemnya tapi ia meminta bantuan temannya yang memang mengerti soal itu melalui Internet. Sambil menunggu aku mencoba Laptopnya, tapi bosan juga karena software yang tersedia masih standart di tambah tanpa koneksi internet maklum di antara hutan belantara. Kami melanjutkan perjalanan. Pukul 12.50 kami singgah makan di RM Muslim “Dengi”. Di sini penyiapan/penyajian makanan agak lama, member kesempatan kepada Sopir untuk tidur lagi. Kami memilih ikan untuk dibakar. Menunya hanya nasi putih, ikan (bobara, kerapuh, dll.) bakar, sayur kangkung dan dabu-dabu (sambal). Ini rumah makan favoritku di jalan Trans Sulawesi ini. Malam harinya kami tiba di Amurang, kemudian menuju Tondano, dan Tomohon. Selesai sudah perjalan……..

Dua Puluh Juli Dua Ribu Tujuh

Akhirnya akan kutinggalkan semua keindahan Danau Poso serta desa yang kecil dan indah ini. Kupersiapkan segalanya untuk sebuah perjalan kembali yang panjang. Motor danau papa Nining sudah siap. Aku berjalan menyusuri jalan menuju pelabuhan sambil melambaikan tangan kepada orang-orang yang kujumpai di sepanjang jalan. Di depan Baruga (tempat pertemuan) ketemu Kepala Desa dan perangkat-perangkatnya, mereka sedang mempersiapkan kerja. Pukul 08.15 bertolak dari pelabuhan, motor danaunya agak kecil. Mendekati Desa Peyura danau mulai bergelora, tandokasa (nama ombak yang datang dari arah selatan) memulaikan aktivitasnya di di pagi menjelang siang itu. Guncangannya cukup untuk membuat hati ini berdebar. Pukul 10.30 tiba di Tentena. Ku hubungi Is Sopir Panther Biru yang akan membawa aku kembali. Mereka sudah siap dan langsung menjemput di pelabuhan. Aku ketemu Budi Kayupa di Pusat Informasi “Tourism”, teman dulu ketika masih di Lombugia jauh sebelum pecah kerusuhan Poso. Katanya dia kepala di situ. Hebat, calon perawat akhirnya menajadi kepala pusat informasi wisata. Aku “men-charge Batteray” yang sudah lemah itu di KUD Kasintuwu Tentena. Kata bapak di situ listrik tidak lama akan dipadamkan. Listrik hanya sampai pkl.12.00 dan nanti menyala lagi pkl.18.00. Memprihatinkan memang, ibu kota kecamatan ini yang sepantasnya dikatakan Kota, listriknya hanya dinyalakan sampai pkl.12.00. Pukul 13.30 kami berangkat, meninggalkan Tentena melewati hutan pinus dengan padang ilalangnya, Tentena serta danau posonya di belakang seakan memanggil untuk kembali. Jalan berkelok-kelok menurun. Kami melewati lokasi Proyek PLTA Sulewana yang kapasitas dayanya cukup besar, mungkin dapat menyuplai listrik se-sulawesi. Tapi sementara ini tentu untuk industry di Sulawesi Selatan, tentu karena arah line cable-nya ke sana. Pukul 15.30 singgah makan di Sausu. Udara di sini cukup panas. Selesai makan aku langsung ke luar mencari tempat yang tiupan anginnya cukup untuk mendinginkan tubuhku yang kepanasan. Kami singgah sebentar di Parigi, karena ada seorang penumpang yang hendak di jemput. Ia duduk di sampingku. Kami berkenalan, rupanya dia akan kembali ke Bitung untuk berlibur. Kerjanya di BRI Parigi dan juga mempunyai usaha penjualan Komputer (Toko Komputer). Luar biasa, anak muda ini membuat hidupnya lebih hidup. Pukul 23.10 terdengar bunyi keras, aku yang mulai ngantuk tiba-tiba tersentak karena bunyinya cukup keras. Ternyata “kaca spion” bersinggungan dengan kas Truck yang lewat. Namun tetap kulanjutkan rasa tidurku…dan aku tertidur.

Sabtu, 13 Juni 2009

Sembilan Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Lagi-lagi memori stik di kameraku penuh. Kutitipkan memori stik itu kepada adikku yang kebetulan ia akan berangkat kerja di Pendolo.

Pagi ini tidak ada rencana untuk keluar, maklum adikku harus masuk kerja karena banyak pekerjaan yang menumpuk.

Sorenya aku jalan-jalan ke rumah keluarga-keluarga papa terutama orang-orang tua. Ketemu dengan papa Ros di warungnya. Setelah pensiun dari guru, ia memilih berdagang dengan membuka warung kecil-kecilan. Anak-anaknya membuka usaha di Tentena, yang satu sedang di Hongkong. Banyak kenangan dengan mereka, dapat saya katakana kakak, karena kami atau aku ketika liburan dan hendak ke kampung menikmati tepian danau poso sering nginap dulu di Tentena (rumah mereka) sambil menunggu motor danau yang akan berangkat. Sebaliknya jika kembali ke Poso.

Aku ketemu juga dengan Papa Ning, saudara sepupuku. Pendidikannya mungkin tidak selesai SD, tapi ia mampu menyelesaikan anaknya di perguruan tinggi. Aku kagum terhadap tekat dan perjuangannya. Dulu jika liburan ke kampung, ia sering bersama-sama dengan aku pergi memancing ikan “bungu” ikan khas danau Poso yang sekarang menghilang entah ke mana, dan menyelam menelusuri tepian danau memanah ikan mas yang mungkin sekarang sulit untuk dilakukan lagi karena pukat merajalela.

Sementara kami becakap-cakap, datang Ndolu adik dari papa Ning, kerjanya di kantor camat Pendolo. Ia ketika masih bersekolah dulu tinggal bersama kami di Poso.

Aku ke rumahnya Papa Ropo. Ini termasuk orang tua, usianya sudah di atas 80-an. Penglihatannya sudah tidak jelas akibat katarak, demikian juga dengan pendengarannya yang sudah mulai bekurang. Garis-garis keperkasaannya masih jelas, ia seorang pemberani.

Aku juga ke rumah papa Oce. Ia bercerita bahwa ia baru dari Mangkutana, pergi membeli TV dan Parabola. Aku kagum dengan pribadi ini. Selalu ceria dan tidak menampakan kesusahan. Ia memang pribadi yang menarik jika bertutur, senyum dan tawa menjadi bagian kehidupannya. Ia memang pernah menjadi ketua adat di desa Tolambo.

Sudah agak larut malam, rasanya banyak hal yang hendak di ceritakan. Aku harus kembali untuk tidur sebab akan mempersiapkan diri untuk besok hari untuk kembali ke Tomohon.

Sabtu, 09 Mei 2009

Delapan Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Menurut cerita. Setelah tentara Belanda berhasil melumpuhkan benteng di “Kandela” (benteng suku pribumi/asli), ± 6 orang tentara Belanda menggunakan perahu yang di dayung/dikemudikan oleh pribumi namanya “N’gkai Jelo” mengantar mereka ke Tentena.

Saat tiba di tempat yang namanya “Tanjung Tolambo”, orang tua yang mengantar mereka itu berkata bawa jangan memukul batu yang di pinggiran danau di tanjung tersebut. Tetapi tentara Belanda itu tidak memperdulikan kata-katanya. Mereka memukul batu di tanjung itu dengan popor senapan mereka dan batu itu patah masuk ke dalam danau.

Tepat di ujung tanjung itu datang ombak besar yang masyarakat di sana menyebutnya “Dongi”. Orang tua itu mengguncangkan perahu yang mereka tumpangi tersebut sampai tentara-tentara belanda itu jatuh ke dalam danau. Mereka yang mengapung minta tolong dipukul dengan dayung oleh orang tua tersebut sampai semuanya tewas. Orang tua itu mengumpulkan mayat-mayat tentara Belanda tersebut dan meletakkannya di batu yang sampai sekarang masih ada walaupun tidak lengkap lagi. Tulang-tulang itu memang seperti tulang orang eropah. Anehnya tempat tulang-tulang itu diletakkan tidak terdapat daun-daun kering dan rambut kepala masih ada walau hanya sedikit.

Ternyata banyak kisah-kisah heroik perjungan anak negeri ini di bagian timur Indonesia khususnya di Poso yang tidak terpublikasikan, yang menonjol memang dari pulau jawa.

Setelah makan siang aku dan adikku menuju ke tanjung Tolambo untuk melihat kuburan-kuburan yang lain lagi. Kami menemukan tumpukan-tumpukan tengkorak di sana. Ada yang masih di tempatnya, ada yang sudah beserakkan di sekitarnya bahkan di dalam danau. Kata adik, tulang-tulang yang beserakan itu karena dimainkan oleh monyet-monyet liar di daerah itu.

Dulu, pernah ada yang memancing di tanjung tersebut dan menemukan sebilah pedang komando (“klewang”) tentara Belanda yang masih utuh.

Pukul 13.30 kami ke tepi danau untuk memancing. Kami mendapatkan ikan mujair, mas dan nilam serta kabos. Kami tidak menemukan yang besar, rata-rata hanya selebar 3 jari saja. Kata adik dahulu ikannya banyak yang besar, tetapi karena di setrum dan dipukat “dampar”, maka ikan-ikan tersebut mulai berkurang. Bias mendapatkan yang besar jika menggunakan pukat.

Pulang sudah agak malam.

Orang-orang yang hidup di desa Tolambo dan desa Dulumai ini disebut “to Longkea”.