Senin, 11 Mei 2026

Jika Anda mengira kolonialisme sudah mati karena orang-orang Eropa sudah pulang dan membawa topi pith mereka, Anda mungkin perlu memeriksa ulang kacamata Anda—atau setidaknya menonton film dokumenter "Pesta Babi". Ternyata, penjajahan gaya baru tidak lagi butuh kapal perang; ia cukup datang membawa buldozer, stempel "Proyek Strategis Nasional" (PSN), dan nafsu makan yang membuat babi hutan terlihat seperti penganut diet ketat.

Logika pembangunan kita belakangan ini sedang mengalami gangguan pencernaan yang serius. Kita melihat hutan bukan sebagai paru-paru dunia, melainkan sebagai "stok arang" yang belum sempat dibakar. Kita melihat sungai bukan sebagai sumber kehidupan, melainkan sebagai "saluran pembuangan" gratisan yang dianugerahkan Tuhan untuk mempermudah bisnis tambang.

Dalam film ini, kita diajak melihat bagaimana "Ketahanan Pangan" dan "Ketahanan Energi" menjadi mantra ajaib yang bisa mengubah hutan adat menjadi kebun singkong layu dalam semalam. Ini adalah Pesta Babi yang sesungguhnya: sebuah perjamuan di mana alam adalah hidangan pembuka, tanah rakyat adalah hidangan utama, dan masa depan anak cucu kita adalah pencuci mulutnya.

"Dulu, penjajah datang mengambil rempah-rempah kita. Sekarang, kita menjajah diri sendiri dengan mengambil ruang hidup kita sendiri, lalu menyebutnya sebagai kemajuan ekonomi," ujar seorang petani yang tanahnya kini berubah jadi tiang pancang.

Pembangunan modern kita menganut aliran "Eksploitasi-isme". Alam dianggap sebagai 'cadangan sumber daya' yang pasif—seperti kulkas raksasa yang isinya boleh dikuras habis tanpa pernah terpikir untuk mengisinya kembali.

Logikanya sederhana namun mematikan:

• Ada Hutan? Berarti ada kayu dan lahan sawit.

• Ada Gunung? Berarti ada emas dan nikel.

• Ada Rakyat di atasnya? Ah, itu hanya "kendala administratif" yang bisa diselesaikan dengan ganti rugi (yang lebih banyak 'rugi' daripada 'ganti').

Kita bertingkah seolah-olah kita adalah pemilik alam semesta yang baru saja memenangkan lotre, padahal kita hanyalah penyewa yang sedang menunggak uang sewa dan malah menghancurkan dinding bangunan untuk kayu bakar.

Film dokumenter ini bukan sekadar tontonan, tapi tamparan keras bagi siapa saja yang masih percaya bahwa beton bisa dimakan. Ia menggugat cara berpikir kita: Apakah benar disebut "Strategis" jika ia menghancurkan keanekaragaman hayati yang tak tergantikan demi keuntungan kuartalan? Apakah benar disebut "Nasional" jika yang kenyang hanya segelintir babi di meja perjamuan, sementara sisanya hanya kebagian debu dan banjir?

Kolonialisme modern tidak lagi datang dengan bahasa asing, ia datang dengan bahasa statistik, pertumbuhan PDB, dan janji swasembada yang aromanya mirip sekali dengan janji manis mantan yang hobi berutang.

Jadi, sebelum Anda mengangguk setuju pada proyek raksasa berikutnya yang "demi kepentingan umum," tanyakan dulu: Apakah Anda sedang duduk di kursi tamu, atau Anda sebenarnya sedang berbaring di atas piring saji?

Selamat menonton, dan hati-hati, jangan sampai Anda tersedak logika pembangunan yang sedang menggila ini!

Kamis, 07 Mei 2026

Pernahkah Anda berdiri di depan cermin, menemukan satu uban baru yang berkilau seolah-olah sedang mengejek seluruh rencana hidup Anda, lalu tiba-tiba suara serak Mick Jagger menggema di kepala: "Time, time, time... won't wait for me"?

Mick Jagger mengatakan itu sambil melompat-lompat di panggung Stadion Wembley, sementara kita mengatakannya sambil mengeluh karena pinggang encok akibat kelamaan duduk membalas messenger.

Mick Jagger benar. Waktu adalah satu-satunya entitas di dunia ini yang tidak bisa disuap dengan koneksi orang dalam atau jabatan mentereng. Ia tidak peduli apakah Anda seorang ksatria Inggris (Sir Mick) atau sekadar ksatria keyboard yang hobi berdebat di kolom komentar.

Kita semua memperlakukan waktu seperti saldo tabungan yang tidak terbatas. Kita menunda kebahagiaan, menunda pelukan, bahkan menunda diet, seolah-olah kita memiliki kontrak eksklusif dengan alam semesta untuk hidup selama tiga ratus tahun. Kita berkata, "Nanti kalau sudah sukses, aku akan menikmati hidup." Padahal, waktu sedang duduk di pojokan sambil memegang jam pasir, tersenyum sinis melihat kita yang sibuk menumpuk harta tapi lupa cara bernapas.

Jagger sudah menyanyikan lagu tentang waktu yang tidak menunggu sejak ia masih muda, namun sekarang di usianya yang sudah "sangat matang," ia tetap tidak mau berhenti. Ini adalah bentuk pemberontakan paling provokatif: Jika waktu tidak mau menunggu kita, maka jangan pernah biarkan waktu menangkap kita.

Kita, di sisi lain, sering kali menyerah sebelum berperang. Kita merasa "sudah terlalu tua" untuk memulai hobi baru di usia tiga puluh, atau merasa "terlambat" untuk jatuh cinta lagi di usia lima puluh. Kita membiarkan konsep waktu memenjarakan kita. Kita menjadi budak kalender, sementara orang-orang seperti Jagger memperlakukan kalender seperti saran belaka, bukan hukum rimba.

Di era modern, "waktu tidak menunggu" telah diubah menjadi slogan pemasaran yang menakutkan. "Beli sekarang sebelum kehabisan!" atau "Sukses di usia dua puluh atau Anda gagal selamanya!" Kita dipaksa untuk terus berlari dalam roda hamster produktivitas karena takut tertinggal oleh waktu.

Kita tidak benar-benar takut pada waktu. Kita takut pada kekosongan. Kita takut bahwa saat waktu akhirnya berhenti untuk kita, kita tidak meninggalkan apa-apa selain tumpukan struk belanja dan riwayat pencarian YouTube yang tidak penting. Kita ingin mengejar waktu, tapi kita tidak tahu mau menuju ke mana. Kita hanya ingin terlihat sibuk agar waktu merasa segan untuk mengambil kita.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari Mick Jagger? Mungkin bukan cara bernyanyi atau gaya jalannya yang unik, melainkan sikapnya terhadap detik yang terus berdetak. Jika waktu memang tidak mau menunggu, maka berhentilah mengejarnya dengan napas terengah-engah.

Berjalanlah di samping waktu. Nikmati pemandangannya. Jangan biarkan hidup kita menjadi sekadar deretan daftar to-do list yang tidak pernah selesai. Waktu tidak menunggu siapa pun, itu benar. Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk terus berlari tanpa tujuan seperti orang yang ketinggalan bus terakhir.

Jika waktu benar-benar berhenti menunggu kita detik ini juga, apakah kita akan bangga dengan apa yang kita lakukan sekarang? Ataukah kita akan menyesal karena menghabiskan sepuluh menit terakhir hanya untuk membaca artikel ini sementara kopi mendingin?

Silakan diminum kopinya. Waktu tidak menunggu, tapi kopi panas jauh lebih berharga daripada penyesalan yang terlambat. Rock on!

Selasa, 05 Mei 2026

Pernahkah Anda berdiri di tengah trotoar yang panas, memandangi sebuah kafe dengan dinding bata ekspos yang belum selesai, lalu bertanya-tanya: "Apakah saya ke sini untuk kenyang, atau hanya untuk membuktikan kepada algoritma Instagram bahwa saya masih hidup?"

Selamat datang di era Urban Foodscape. Sebuah fenomena di mana makanan bukan lagi urusan lambung, melainkan urusan semantik dan desain interior.

Dulu, doa sebelum makan itu sederhana: "Terima kasih atas berkat-Nya." Sekarang, doa itu berubah menjadi manuver akrobatik memegang smartphone demi mendapatkan angle "Cahaya Ilahi" agar tekstur alpukat di atas roti panggang terlihat seperti karya seni Renaisans.

Kita adalah satu-satunya spesies di planet ini yang membiarkan sup mendingin demi sebuah foto yang akan diabaikan oleh orang asing di internet dalam waktu tiga detik. Kita tidak sedang memakan hidangan; kita sedang mengonsumsi validasi.

Di hutan beton ini, bahasa adalah bumbu utama. Anda tidak lagi membeli "Nasi Goreng Pinggir Jalan." Anda membeli "Hand-crafted Street-style Fried Rice with Organic Infused Oil." Harganya naik tiga kali lipat hanya karena penggunaan kata sifat.

Urban Foodscape telah mengubah kita menjadi kritikus makanan amatir yang lebih peduli pada "narasi" di balik sepiring pasta daripada rasanya sendiri. Kita rela mengantre dua jam untuk sebuah burger yang ukurannya lebih kecil dari nyali kita untuk menolak tren. Mengapa? Karena di kota besar, rasa lapar adalah masalah sekunder. Masalah primernya adalah: "Apakah saya cukup relevan secara visual hari ini?"

Pemandangan pangan urban kita sebenarnya adalah sebuah ironi besar. Kita menanam selada di atap gedung pencakar langit (disebut Urban Farming agar terdengar heroik), sementara di bawahnya, warung nasi legendaris digusur untuk membangun gerai kopi waralaba internasional yang rasanya seragam dari Jakarta sampai New York.

Kita merindukan yang "autentik", tapi kita mencarinya di mal yang ber-AC. Kita ingin "kembali ke alam", tapi kita ingin alam itu dikemas dalam wadah plastik sekali pakai yang estetik (dan tentu saja, sedotan kertas yang hancur sebelum kopinya habis).

Jadi, apa itu Urban Foodscape? Itu adalah panggung sandiwara besar di mana piring adalah properti dan kita adalah aktor yang kelaparan. Kita terjebak dalam mentalitas kawanan, bergerak menuju tempat-tempat yang "viral" seperti domba yang mengikuti aroma kopi roasting mahal.

Mungkin, sesekali, kita perlu mencoba sesuatu yang radikal: Masuk ke warung makan paling kumuh yang tidak punya akun Instagram, letakkan ponsel di saku, dan makanlah dengan tenang.

Tantangannya adalah: Mampukah Anda menikmati makanan tanpa perlu membuktikannya kepada dunia? Ataukah lidah Anda sudah mati rasa jika tidak dibumbui dengan likes dan comments?