Rabu, 20 Mei 2026

Meritokrasi - Masih adakah di negeri ini?

Di atas kertas, negeri kita ini sangat mencintai meritokrasi. Meritokrasi—sebuah sistem di mana jabatan dan kesuksesan diberikan berdasarkan kemampuan, bukan karena Anda anak siapa atau berapa isi amplop Anda—telah menjelma menjadi dongeng pengantar tidur yang paling sering diceritakan di ruang-ruang kuliah.

Kita diajari sejak TK: "Gantungkan citamu setinggi langit, belajarlah yang rajin!" Tapi setelah dewasa, kita baru sadar bahwa langitnya ternyata sudah disewa oleh jalur orang dalam (ordal).

Sebagai pengamat kehidupan yang modalnya cuma rasa penasaran dan kopi saset, saya sering kasihan melihat anak-anak muda zaman sekarang. Mereka mengoleksi sertifikat seminar online sampai memori Google Drive-nya penuh, ikut lomba ini-itu demi mempercantik CV, dan magang tanpa dibayar demi "pengalaman". Mereka pikir CV yang tebal bisa meruntuhkan tembok birokrasi. Padahal, di dunia nyata, selembar kertas memo kecil dari "Bapak di Atas" yang berbunyi, "Tolong dibantu, ini anak teman main golf saya," jauh lebih sakti daripada ijazah Harvard sekalipun.

Mengapa meritokrasi begitu sulit bertahan hidup di iklim tropis kita? Jawabannya sederhana: karena kita adalah bangsa yang teramat sangat kekeluargaan. Ya, kita terlalu hangat!

Di negara-negara Barat yang individualis dan dingin, jika Anda tidak kompeten, Anda dipecat. Kejam sekali. Di negeri kita, kita memiliki kearifan lokal yang jauh lebih humanis bernama: Ewuh Pakewuh dan Tahu Sama Tahu.

Hukum Gravitasi Birokrasi: Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin kuat daya tariknya untuk menarik seluruh anggota silsilah keluarganya ke dalam struktur organisasi.

Jika seorang pejabat memiliki posisi basah, lalu dia tidak mempekerjakan keponakannya yang menganggur, dia akan dicap sebagai "anak durhaka" atau "sombong setelah sukses" dalam grup WhatsApp keluarga besar. Jadi, demi menjaga harmoni keluarga dan menghindari kutukan nenek moyang, mengorbankan meritokrasi adalah harga kecil yang harus dibayar. Nepotisme di sini bukan kejahatan, kawan, melainkan bentuk bakti sosial skala mikro!

Lalu, apakah meritokrasi benar-benar punah? Oh, tentu tidak. Meritokrasi masih ada, tapi sudah mengalami mutasi genetik yang sangat kreatif.

Hari ini, kita mengenal meritokrasi gaya baru: Meritokrasi Koneksi.

Kemampuan Anda tetap dinilai, kok. Tapi yang dinilai bukan kemampuan otak Anda, melainkan kemampuan Anda untuk bertahan di dalam lingkaran pergaulan orang-orang penting. Pertanyaannya bukan lagi "What do you know?" melainkan "Who do you know, and how much can you code-switch to sound like them?"

Jika Anda bisa membuat lelucon yang disukai bos saat bermain tenis, atau Anda kebetulan satu almamater SMA dengan ketua yayasan, selamat! Anda memiliki "merit" (kelayakan) yang jauh lebih tinggi daripada si jenius yang kuper dan tidak tahu cara mengambil hati atasan.

Apakah kita harus berhenti belajar, membakar buku-buku teori, dan mulai mencari tahu siapa saja nama paman kita yang barangkali punya kenalan di kementerian?

Jangan dulu. Tetaplah menjadi pintar. Lagipula, jika semua orang di negeri ini menjadi "orang dalam", lalu siapa yang akan mengerjakan pekerjaan aslinya? Siapa yang akan memperbaiki sistem yang eror ketika para keponakan direktur itu kebingungan?

Dunia tetap butuh orang pintar seperti Anda—setidaknya untuk dijadikan staf ahli yang mengerjakan seluruh tugas, sementara orang lain yang maju ke depan untuk menerima plakat penghargaan. Bukankah itu sebuah pembagian kerja yang sangat adil dan merata?

Sabtu, 16 Mei 2026

Pemilik AI Antri di Perpustakaan

Kemarin saya terbangun dengan pikiran yang mengganggu: Bagaimana jika selama ini kita salah mengira bahwa "Kemajuan" adalah kemampuan menonton orang asing berjoget di layar seukuran telapak tangan? Sementara kita di sini sibuk berdebat apakah AI akan mengambil alih pekerjaan kita, anak-anak muda di Cina—negeri yang menciptakan hampir semua jeroan HP kita—justru sedang melakukan pemberontakan paling radikal di abad ke-21. Mereka membaca buku.

Di Beijing dan Shanghai, pemandangan paling provokatif bukanlah peluncuran mobil listrik terbaru yang bisa terbang sambil masak nasi goreng. Pemandangan itu adalah antrean panjang anak muda di depan perpustakaan nasional sejak jam lima pagi.

Bayangkan! Di negara di mana Anda bisa memesan mi instan lewat satelit dan membayarnya pakai pemindaian wajah, anak-anak mudanya justru rela berdiri berjam-jam demi sebuah kursi kayu keras dan aroma debu literatur. Ini adalah komedi satir terbaik musim ini: Bangsa yang memimpin revolusi digital justru sedang jatuh cinta setengah mati pada teknologi dari zaman Dinasti Han.

Kenapa ini terjadi? Karena mereka tahu satu rahasia besar yang kita lupakan saat asyik scrolling: Gadget membuatmu pintar mencari tahu, tapi buku membuatmu pintar berpikir.

Di sini, kita merasa sudah "belajar" hanya dengan menonton video rangkuman 60 detik di TikTok. Di sana, mereka sadar bahwa filosofi Konfusius atau kerumitan algoritma kuantum tidak bisa dikunyah lewat konten joget-joget. Mereka tidak mau cuma jadi "konsumen" konten; mereka sedang membentuk diri menjadi "arsitek" peradaban.

Sementara anak muda di belahan dunia lain sibuk mencari filter wajah agar terlihat cantik di layar, anak muda di sana sedang mencari "filter pikiran" agar tidak terlihat bodoh di hadapan sejarah.

Ada sesuatu yang sangat filosofis—dan sedikit mengejek kita—ketika melihat perpustakaan penuh sesak di tengah gempuran AI. Ini adalah pernyataan perang terhadap Mentalitas Kawanan Digital.

Buku adalah satu-satunya tempat di mana Anda bisa sendirian dengan pikiran orang paling cerdas di dunia tanpa interupsi iklan asuransi. Di dalam perpustakaan yang hening itu, ada ledakan intelektual yang lebih dahsyat daripada peluncuran roket SpaceX. Mereka tahu bahwa robot mungkin bisa menulis puisi, tapi hanya manusia yang membaca buku yang bisa mengendalikan robotnya.

Jadi, jika Anda membaca artikel ini sambil rebahan dan merasa bangga karena HP Anda punya RAM 12GB, ingatlah ini: Di belahan dunia lain, saingan terberatmu sedang duduk diam, memegang buku tebal, dan tidak peduli pada trending topic hari ini.

Mereka sedang membangun masa depan, sementara kita mungkin hanya sedang membangun statistik screen time.

Pertanyaannya: Kapan terakhir kali Anda memegang buku yang lebih berat daripada HP Anda? Atau jangan-jangan, otot otak kita sudah terlalu lembek karena terlalu sering disuapi konten "hal-hal yang harus kamu tahu dalam 15 detik"?

Selamat merenung. Jangan lupa, buku tidak butuh sinyal, tapi dia memberi Anda visi. HP butuh sinyal, tapi seringkali cuma memberi Anda polusi.

Silakan lanjut scrolling. Sementara jempolmu sibuk mengejar like, anak-anak muda di sana sedang membaca peta untuk membeli masa depanmu.

Senin, 11 Mei 2026

Jika Anda mengira kolonialisme sudah mati karena orang-orang Eropa sudah pulang dan membawa topi pith mereka, Anda mungkin perlu memeriksa ulang kacamata Anda—atau setidaknya menonton film dokumenter "Pesta Babi". Ternyata, penjajahan gaya baru tidak lagi butuh kapal perang; ia cukup datang membawa buldozer, stempel "Proyek Strategis Nasional" (PSN), dan nafsu makan yang membuat babi hutan terlihat seperti penganut diet ketat.

Logika pembangunan kita belakangan ini sedang mengalami gangguan pencernaan yang serius. Kita melihat hutan bukan sebagai paru-paru dunia, melainkan sebagai "stok arang" yang belum sempat dibakar. Kita melihat sungai bukan sebagai sumber kehidupan, melainkan sebagai "saluran pembuangan" gratisan yang dianugerahkan Tuhan untuk mempermudah bisnis tambang.

Dalam film ini, kita diajak melihat bagaimana "Ketahanan Pangan" dan "Ketahanan Energi" menjadi mantra ajaib yang bisa mengubah hutan adat menjadi kebun singkong layu dalam semalam. Ini adalah Pesta Babi yang sesungguhnya: sebuah perjamuan di mana alam adalah hidangan pembuka, tanah rakyat adalah hidangan utama, dan masa depan anak cucu kita adalah pencuci mulutnya.

"Dulu, penjajah datang mengambil rempah-rempah kita. Sekarang, kita menjajah diri sendiri dengan mengambil ruang hidup kita sendiri, lalu menyebutnya sebagai kemajuan ekonomi," ujar seorang petani yang tanahnya kini berubah jadi tiang pancang.

Pembangunan modern kita menganut aliran "Eksploitasi-isme". Alam dianggap sebagai 'cadangan sumber daya' yang pasif—seperti kulkas raksasa yang isinya boleh dikuras habis tanpa pernah terpikir untuk mengisinya kembali.

Logikanya sederhana namun mematikan:

• Ada Hutan? Berarti ada kayu dan lahan sawit.

• Ada Gunung? Berarti ada emas dan nikel.

• Ada Rakyat di atasnya? Ah, itu hanya "kendala administratif" yang bisa diselesaikan dengan ganti rugi (yang lebih banyak 'rugi' daripada 'ganti').

Kita bertingkah seolah-olah kita adalah pemilik alam semesta yang baru saja memenangkan lotre, padahal kita hanyalah penyewa yang sedang menunggak uang sewa dan malah menghancurkan dinding bangunan untuk kayu bakar.

Film dokumenter ini bukan sekadar tontonan, tapi tamparan keras bagi siapa saja yang masih percaya bahwa beton bisa dimakan. Ia menggugat cara berpikir kita: Apakah benar disebut "Strategis" jika ia menghancurkan keanekaragaman hayati yang tak tergantikan demi keuntungan kuartalan? Apakah benar disebut "Nasional" jika yang kenyang hanya segelintir babi di meja perjamuan, sementara sisanya hanya kebagian debu dan banjir?

Kolonialisme modern tidak lagi datang dengan bahasa asing, ia datang dengan bahasa statistik, pertumbuhan PDB, dan janji swasembada yang aromanya mirip sekali dengan janji manis mantan yang hobi berutang.

Jadi, sebelum Anda mengangguk setuju pada proyek raksasa berikutnya yang "demi kepentingan umum," tanyakan dulu: Apakah Anda sedang duduk di kursi tamu, atau Anda sebenarnya sedang berbaring di atas piring saji?

Selamat menonton, dan hati-hati, jangan sampai Anda tersedak logika pembangunan yang sedang menggila ini!