Jumat, 30 Oktober 2026

Negara Kehilangan Akal

Selamat datang di negara yang logikanya sudah pensiun, tetapi kebodohannya masih aktif bekerja. Negara tempat kebohongan bisa naik pangkat, ketidakmampuan mendapat jabatan, dan kesalahan justru memiliki juru bicara. Di sini, semakin tidak masuk akal sebuah keputusan, semakin panjang penjelasan yang disiapkan untuk membelanya.

Kita tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita hanya sedang mengalami kelebihan orang yang merasa pintar, tetapi alergi menggunakan akal sehat.

Ironisnya, mereka yang membuat masalah sering tampil paling percaya diri menjelaskan cara menyelesaikannya. Mereka yang seharusnya meminta maaf justru menggelar konferensi pers. Dan mereka yang seharusnya diperiksa malah sibuk memeriksa siapa yang berani bertanya.

Kalau ini bukan negara kehilangan akal, lalu apa namanya?

Ada yang salah dengan negara ini. Bukan karena kita kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dijelaskan.

Kita hidup di negara yang semakin sulit membedakan antara kenyataan dan sandiwara. Harga kebutuhan pokok naik, rakyat diminta bersabar. Korupsi terbongkar, pejabat tampil dengan wajah prihatin. Hukum dipertontonkan dengan gagah berani, tetapi entah mengapa keberaniannya sering kali memiliki ukuran berbeda, tergantung siapa yang sedang duduk di kursi terdakwa.

Di negara ini, masalah bukan lagi bagaimana menyelesaikan persoalan, melainkan bagaimana membuat persoalan terlihat seolah-olah sudah diselesaikan.

Jalan rusak diperbaiki dengan spanduk. Kemiskinan diatasi dengan konferensi pers. Korupsi dilawan dengan seminar antikorupsi yang biaya penyelenggaraannya mungkin cukup untuk membeli satu mobil mewah. Sementara itu, para pejabat sibuk membicarakan keberhasilan pembangunan di hadapan rakyat yang masih sibuk menghitung uang belanja.

Politik pun berubah menjadi pertunjukan komedi. Mereka yang kemarin saling menyerang hari ini duduk berdampingan sambil tersenyum. Rupanya permusuhan dalam politik memiliki masa kedaluwarsa yang sangat pendek, terutama ketika ada kepentingan yang lebih besar menunggu di belakang pintu.

Rakyat? Jangan khawatir. Rakyat selalu mendapat peran penting: menjadi penonton, membayar tiket, dan sesekali diminta bertepuk tangan.

Yang lebih menarik, setiap kritik dianggap sebagai kebencian, setiap pertanyaan dianggap sebagai ancaman, dan setiap orang yang meminta penjelasan dicurigai tidak memiliki rasa nasionalisme. Seolah-olah mencintai negara berarti harus menyetujui semua yang dilakukan pemerintah, termasuk ketika sesuatu berjalan ke arah yang salah.

Padahal, mencintai negara bukan berarti harus memuji semua kebodohannya.

Kita juga mulai terbiasa dengan hal-hal yang seharusnya membuat kita terkejut. Kebohongan menjadi strategi komunikasi. Ketidakmampuan disebut dinamika. Kegagalan disebut proses pembelajaran. Dan ketika semuanya berantakan, selalu ada seseorang yang tampil meyakinkan untuk menjelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada yang berantakan.

Mungkin inilah prestasi terbesar kita: berhasil membuat ketidakmasukakalan terasa begitu biasa sehingga orang yang masih menggunakan akal sehat justru dianggap aneh.

Tetapi sebuah negara tidak kehilangan akal ketika rakyatnya tidak tahu apa-apa. Negara kehilangan akal ketika orang-orang yang tahu kebenaran memilih diam, sementara mereka yang seharusnya malu justru sibuk memberi ceramah tentang moralitas.

Dan barangkali, yang paling berbahaya bukanlah ketika negara ini dipimpin oleh orang-orang yang salah. Melainkan ketika kita sudah terlalu terbiasa dengan kesalahan sehingga tidak lagi merasa perlu mencari yang benar.

Sebab, sebuah negara masih bisa bertahan tanpa banyak orang pintar. Tetapi sulit diselamatkan ketika akal sehat sudah menjadi barang langka.

Kamis, 29 Oktober 2026

Moralitas, Hanya Kebohongan?

Selamat datang di abad ke-21, sebuah era di mana kita lebih takut kehilangan sinyal Wi-Fi daripada kehilangan kompas moral, dan di mana "berbuat baik" sering kali hanyalah strategi pemasaran agar profil kita terlihat sedikit lebih suci dari aslinya.

Mari kita jujur sejenak—jika kejujuran masih diperbolehkan di internet: Apakah moralitas itu benar-benar ada, atau ia hanyalah selembar tisu toilet yang kita gunakan untuk menyeka kekacauan yang kita buat sendiri?

Dulu moralitas adalah tentang tidak mencuri ayam tetangga. Sekarang, moralitas adalah tentang memastikan tetanggamu tahu bahwa kamu merasa sangat sedih di Instagram karena seekor ayam di pedalaman Afrika sedang kedinginan."

Masalah utama dengan moralitas modern adalah kita memperlakukannya seperti prasmanan di hotel bintang lima. Kita mengambil sedikit "Keadilan Sosial" (karena itu terlihat keren), menambah porsi "Kepedulian Lingkungan", dan sama sekali mengabaikan "Kejujuran pada Diri Sendiri" karena rasanya terlalu pahit.

Kita hidup di dunia di mana:

• Politisi berbicara tentang integritas dengan wajah yang begitu datar hingga Anda bertanya-tanya apakah mereka menggunakan botox atau memang sudah tidak punya saraf rasa bersalah.

• Perusahaan besar meluncurkan kampanye "Mencintai Bumi" hanya untuk menutupi fakta bahwa limbah mereka bisa membuat mutasi baru pada kura-kura Ninja.

• Kita semua merasa seperti orang suci karena tidak membuang sampah sembarangan, padahal kita baru saja menghabiskan tiga jam menghujat orang lain di FB.

Para filsuf besar mungkin akan berdebat hingga jenggot mereka rontok. Immanuel Kant akan bilang moralitas adalah kewajiban mutlak. Friedrich Nietzsche mungkin akan tertawa sambil bilang itu cuma taktik kaum lemah untuk mengontrol kaum kuat.

Tapi menurut pandangan saya—moralitas bukanlah kebohongan total. Ia lebih mirip seperti pakaian dalam. Sangat penting untuk dimiliki, memberikan rasa aman, tapi akan sangat memalukan jika Anda memamerkannya di depan umum hanya untuk membuktikan bahwa Anda memakainya.

"Moralitas adalah apa yang kita lakukan ketika tidak ada orang yang melihat. Sayangnya, di zaman sekarang, selalu ada orang yang melihat (atau setidaknya ada algoritma yang merekam), jadi kita terpaksa menjadi bermoral demi rating."

Jadi, apakah moralitas itu hanya kebohongan? Mungkin tidak sepenuhnya. Ia adalah "kebohongan putih" yang kita sepakati bersama agar kita tidak saling memakan satu sama lain.

Kita butuh moralitas, bukan karena kita suci, tapi karena kita pada dasarnya adalah makhluk kacau yang butuh alasan untuk merasa lebih baik daripada simpanse. Tanpa moralitas, kita hanyalah hewan dengan pakaian bermerek dan cicilan kartu kredit.

Jadi, silakan lanjutkan hidup Anda yang mulia itu. Pasang status tentang kepedulian dunia, donasikan recehan Anda, dan tersenyumlah pada tetangga. Meski itu bohong, setidaknya itu adalah kebohongan yang membuat dunia sedikit lebih tenang untuk ditinggali.

Rabu, 28 Oktober 2026

Beyond Good and Evil

Pernahkah Anda berdiri di depan cermin sambil merenung: "Kenapa ya, membantu nenek menyeberang jalan itu disebut 'baik', sedangkan mengambil sisa kembalian belanja ibu di meja makan itu disebut 'jahat'?" Kita semua tumbuh besar dengan keyakinan bahwa "Baik" dan "Jahat" adalah dua kotak hitam-putih yang sudah disegel langsung oleh Tuhan dari langit, lalu dikirim via kurir ekspres ke dalam otak kita sejak lahir.

Lalu datanglah seorang pria Jerman abad ke-19 dengan kumis super lebat yang tampak seperti sapu ijuk—namanya Friedrich Nietzsche. Lewat bukunya yang berjudul Beyond Good and Evil (Melampaui Kebajikan dan Kejahatan), dia membawa palu besar dan menghantam kotak-kotak moral kita sampai hancur berkeping-keping.

Nietzsche, dengan gaya provokatifnya yang bikin telinga para pemuka agama merah padam, berbisik: "Hei kawan, bagaimana jika moralitas yang kamu agung-agungkan itu sebenarnya cuma karangan sejarah? Bagaimana jika semua konsep suci itu hanyalah produk dari ketakutan orang-orang lemah yang tidak punya nyali untuk berkuasa?"

Kedengarannya seperti teori konspirasi tingkat dewa, bukan? Tapi mari kita bedah komedi sejarah ini dengan kepala dingin.

Nietzsche membagi moralitas manusia menjadi dua kubu besar: Moralitas Tuan (Master Morality) dan Moralitas Budak (Slave Morality).

Dahulu kala, kaum "Tuan"—para kesatria, bangsawan, dan orang-orang kuat—menentukan bahwa "Baik" adalah segala hal yang agung, kuat, berani, dan bangga. Sedangkan "Buruk" adalah mereka yang lemah, penakut, dan kasihan. Sederhananya: kalau kamu kuat, kamu baik.

Namun, kaum "Budak" yang jumlahnya mayoritas tapi tertindas tentu saja tidak terima dengan aturan main ini. Karena tidak bisa menang bertarung secara fisik, mereka melakukan balas dendam paling jenius dalam sejarah peradaban: Balas Dendam Linguistik.

Mereka memutarbalikkan kamus! Lewat narasi sejarah yang panjang, mereka berkhotbah bahwa menjadi lemah, miskin, menderita, dan mengalah adalah esensi dari "Kebajikan". Sementara menjadi kuat, kaya, bangga, dan berkuasa diubah labelnya menjadi "Jahat".

Nietzsche sedang menelanjangi kita semua. Dia mengatakan bahwa rasa bersalah yang sering membuat Anda susah tidur di malam hari itu bukan karena Anda telah berdosa pada semesta, melainkan karena Anda telah menginternalisasi ketakutan-ketakutan kuno yang diwariskan oleh nenek moyang kita agar kita semua tetap menjadi "domba yang penurut."

Moralitas, pada akhirnya, sering kali hanyalah alat bagi mereka yang tidak berdaya untuk membuat orang-orang kuat merasa berdosa karena telah menjadi kuat. Ini adalah sebuah komedi psikologis di mana singa dipaksa merasa bersalah karena telah memakan rusa, lalu sang rusa tersenyum sambil merasa dirinya paling suci sedunia karena telah pasrah dimakan.

Lalu, apakah setelah membaca Nietzsche kita harus menjadi penjahat? Tentu tidak. Kumis Lebat kita ini hanya ingin kita berhenti menjadi domba yang mengekor tanpa berpikir. Dia menantang kita untuk menciptakan nilai-nilai kita sendiri secara autentik, bukan karena takut masuk neraka sosial bernama "omongan tetangga."

Jadi, sebelum Anda kembali menjadi warga negara yang teladan hari ini, tanyakan pada diri Anda: Apakah Anda berbuat baik karena Anda tulus mencintai kemanusiaan, atau Anda hanya terlalu takut untuk menjadi egois?

Hati-hati dalam menjawab, karena Nietzsche sedang menertawakan isi kepala Anda dari alam kubur.