Rabu, 14 Oktober 2026

Sapiens

Pernahkah Anda terbangun di suatu pagi, menatap cermin, dan menyadari bahwa kita—spesies yang memproklamirkan diri sebagai makhluk paling cerdas di muka bumi—sebenarnya cuma sekelompok kera yang pandai membual?

Jika belum, Anda jelas belum membaca Sapiens karya Yuval Noah Harari. Buku ini, dengan sangat tidak sopan, membongkar rahasia terbesar peradaban kita: bahwa seluruh sejarah manusia dibentuk oleh kemampuan kita menyebarkan selentingan, gosip, dan dongeng pengantar tidur.

Dahulu kala, nenek moyang kita berkeliaran di savana tanpa pakaian, sibuk menghindar dari incaran macan tutul. Lalu, tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul: Bagaimana kalau kita pura-pura percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada?

Seketika itu juga, lahirlah peradaban.

Harari menunjukkan bahwa rahasia keberhasilan Homo sapiens menaklukkan planet ini bukanlah otot yang kuat atau taring yang tajam, melainkan Imajinasi Kolektif. Kita menciptakan agama, negara, hak asasi manusia, hingga Perseroan Terbatas (PT). Coba Anda lemparkan selembar uang kertas $100 ke dalam kandang simpanse. Simpanse itu akan mengunyahnya atau membuangnya ke lumpur. Namun, berikan uang itu kepada manusia, dan mereka siap saling sikut, bekerja jam lembur, atau bahkan berperang demi selembar kertas bertuliskan angka tersebut. Mengapa? Karena kita semua sepakat untuk percaya pada dongeng yang sama.

Lalu datanglah Revolusi Pertanian. Jika buku sejarah sekolah mengagungkannya sebagai puncaknya kemajuan manusia, Harari justru menyebutnya sebagai penipuan terbesar sepanjang sejarah. Kita mengira telah menjinakkan gandum, padahal gandumlah yang menjinakkan kita. Sebelum ada gandum, manusia hidup santai, berburu, mengumpulkan buah, dan punya banyak waktu luang untuk bersantai. Setelah gandum datang, kita mendadak harus bekerja dari terbit hingga terbenamnya matahari, sakit punggung karena mencangkul, dan menetap di satu tempat hanya demi melayani sebatang rumput yang rewel.

Hari ini, dongeng kita telah berevolusi dari dewa-dewa Olimpus menjadi algoritma dan pasar bebas. Kita dengan bangga merasa sebagai penguasa rantai makanan, padahal kita hanyalah budak dari fiksi yang kita buat sendiri.

Jadi, saat nanti malam Anda lembur demi membayar cicilan rumah atau membeli saham perusahaan rintisan yang belum tentu berwujud, tersenyumlah. Ingatlah bahwa Anda sedang menjalankan tradisi tertua Homo sapiens: menukar keringat demi sebuah cerita rekaan.

Selasa, 13 Oktober 2026

Logical Fallacy

Pernahkah anda memenangkan debat kusir di grup WhatsApp keluarga hanya dengan membawa-bawa "dosa masa lalu" lawan bicara, padahal anda sedang berdebat soal cara paling benar merebus telur? Jika ya, selamat! Anda baru saja melakukan kejahatan intelektual tanpa sidik jari yang kita sebut dengan Logical Fallacy, atau dalam bahasa gaulnya: cara curang untuk terlihat pintar saat otak anda sebenarnya sedang mogok kerja.

Logical Fallacy (kesesatan logika) adalah bumbu penyedap dalam setiap obrolan warung kopi hingga podium politik. Ini adalah seni menyambungkan hal-hal yang tidak nyambung agar terlihat masuk akal bagi orang yang malas berpikir. Di negeri ini, menguasai sesat logika lebih penting daripada menguasai data, karena data bisa bikin pusing, tapi sesat logika bisa bikin Anda menang sorak.

Mari kita bedah beberapa "jurus maut" yang sering kita temui di sekitar kita:

Ini adalah favorit semua orang. Saat anda tidak bisa membantah argumen lawan tentang kenaikan harga BBM, jangan panik! Cukup katakan: "Halah, kamu saja jarang mandi, mau bicara soal ekonomi negara?"

Tiba-tiba, masalah ekonomi hilang, dan fokus beralih ke bau badan lawan bicara. Efektif? Sangat. Logis? Sama sekali tidak. Kecuali jika anda sedang berdebat soal kualitas sabun, penampilan seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebenaran argumennya. Tapi hei, siapa yang butuh kebenaran kalau kita bisa mempermalukan orang di depan umum?

Jurus ini sering dipakai oleh para politisi dan pasangan yang sedang bertengkar. Caranya: pelintir omongan lawan bicara menjadi sesuatu yang sangat ekstrem, lalu serang pelintiran itu.

• Lawan: "Saya rasa kita perlu mengurangi konsumsi daging merah demi kesehatan."

• Anda: "Ooo, jadi kamu mau semua peternak sapi mati kelaparan dan seluruh dunia jadi hutan belantara? Kamu kejam sekali!"

Anda tidak sedang mendebat kesehatan, anda sedang mendebat imajinasi anda sendiri. Tapi bagi penonton, anda terlihat seperti pahlawan pelindung peternak.

Di sini, logika menyerah pada jabatan. Jika seorang artis terkenal bilang bahwa meminum air rendaman batu akik bisa menyembuhkan patah hati, ribuan orang akan melakukannya. Kenapa? Karena dia terkenal! Kita sering lupa bahwa seorang ahli nuklir tidak otomatis menjadi ahli dalam urusan asmara, dan seorang influencer tidak otomatis menjadi pakar epidemiologi. Tapi di dunia Logical Fallacy, gelar atau popularitas adalah pengganti otak yang paling praktis.

Manusia itu makhluk yang malas. Berpikir logis itu melelahkan; ia butuh energi, riset, dan kerendahan hati untuk mengakui kalau kita salah. Sedangkan sesat logika? Ia seperti makanan cepat saji: enak, bikin kenyang sesaat, tapi merusak kesehatan otak jangka panjang.

Kesesatan logika adalah benteng bagi ego kita. Ia melindungi kita dari kenyataan bahwa mungkin saja kita ini sebenarnya tidak tahu apa-apa. Kita lebih suka menang debat dengan cara kotor daripada kalah debat dengan cara yang terhormat dan tercerahkan.

Jadi, tantangan saya untuk anda hari ini adalah: Cobalah sehari saja berbicara tanpa menggunakan jurus-jurus di atas. Saat pasangan anda mengkritik cara anda menyetir, jangan jawab dengan "Kamu sendiri kalau masak sering gosong!".

Dunia ini sudah penuh dengan kebisingan yang tidak bermakna. Jika kita terus-terusan memelihara sesat logika, kita hanya akan menjadi sekumpulan orang yang berteriak di dalam gua, merasa hebat karena gema suara kita sendiri, padahal kita hanya sedang membodohi diri sendiri secara kolektif.

Ingat: Memenangkan argumen dengan sesat logika itu seperti menang balapan lari karena anda menyabotase sepatu lawan. Anda mungkin dapat pialanya, tapi anda tetaplah seorang pecundang yang tidak bisa lari.

Senin, 12 Oktober 2026

Sirkus Para Elit

Kemarin, kita baru saja disuguhi drama kolosal yang menegangkan: seorang pejabat terciduk Kortas Tipidkor dengan tumpukan dolar setinggi tiang bendera dan emas batangan seberat barbel binaragawan. Ada lagi penjara dengan jeruji bintang lima. Publik bertepuk tangan meriah, mengira sinetron pemberantasan korupsi sudah sampai di babak akhir kebahagiaan rakyat.

Eh, tiba-tiba sang sutradara politik mengganti naskah di tengah jalan. Masuklah isu baru yang jauh lebih krusial bagi masa depan bangsa: polemik ijazah.

Seketika itu juga, dolar yang kemarin dipamerkan di layar kaca mendadak menguap, emas batangan berubah wujud jadi kerupuk kaleng, dan kasus korupsi triliunan rupiah sebelumnya langsung masuk ke dalam kotak arsip berlabel "Harap Dilupakan".

Hebat benar kemampuan magis para elit kita. Masalah riil yang menggerogoti lambung rakyat setiap hari—mulai dari harga beras dan cabai yang terus naik, daya beli yang menciut mirip kulit jeruk purut, hingga lapangan kerja yang lebih langka dicari daripada kejujuran seorang calo—mendadak dianggap angin lalu.

Bagaimana rakyat bisa memikirkan perut yang keroncongan, jika para pemikir di senayan sedang sibuk memperdebatkan apakah tinta ijazah tahun 80-an dulu pakai merek Pelikan atau Standard? Apakah Certivicate (luar negeri) sama dengan Sertifikat (Indonesia)? Rakyat seolah disuruh memilih: mau mati kelaparan karena harga kebutuhan pokok naik, atau mati kebingungan karena Ijazah vs Certivicate?

Mungkin ke depan, pemerintah tidak perlu lagi repot-repot membuat program pengentasan kemiskinan atau membuka lapangan kerja baru. Cukup dirikan satu kementerian baru saja: Kementerian Pengalihan Isu dan Sulap Ingatan. Dijamin, rakyat bakal lupa kalau mereka sebenarnya sedang lapar.

Bagaimana menurut Anda? Apakah dompet Anda sudah ikut hilang ingatan juga?