Selasa, 18 Agustus 2026

On the Brink

"Katanya kita tinggal selangkah lagi menjadi negara maju. Masalahnya, setiap kali melangkah, garis finisnya ikut bergeser."

Frasa on the brink of a developed country terdengar sangat menjanjikan. Seperti seseorang yang berkata, "Tunggu aku, sebentar lagi sukses." Kalimat itu indah. Sayangnya, "sebentar lagi" kadang bisa lebih panjang dari jarak ke matahari. Bisa seminggu, bisa sepuluh tahun, bahkan bisa terus menjadi alasan sampai kita lupa kapan pernah benar-benar tiba.

Kita sudah bertahun-tahun hidup di tepi. Di tepi status negara maju. Di tepi pertumbuhan ekonomi. Di tepi optimisme. Bahkan belakangan, lebih sering di tepi dompet.

Rupiah melemah. Harga kebutuhan pokok naik seperti balon yang lupa membawa tali. Daya beli masyarakat turun pelan-pelan, bukan karena rakyat mendadak hemat, tetapi karena isi dompet lebih dulu mengundurkan diri.

Lucunya, setiap kali ekonomi batuk, pidato-pidato resmi selalu terdengar sehat.

Katanya fundamental ekonomi kuat.

Mungkin benar. Yang tidak kuat adalah fundamen dapur.

Di meja makan, istilah "pertumbuhan ekonomi" diterjemahkan menjadi pertanyaan sederhana: "Besok masih bisa beli minyak goreng?"

Angka-angka makro memang sering tampak gagah. Grafik naik. Indeks membaik. Investor tersenyum. Tetapi ibu rumah tangga tidak pernah memasak grafik. Pedagang pasar tidak menerima pembayaran dengan indeks. Dan anak sekolah tidak bisa sarapan menggunakan optimisme.

Ekonomi memiliki satu kebiasaan buruk: ia sering dipotret dari langit, padahal rakyat menjalaninya dari trotoar.

Yang menarik, kita sangat pandai menciptakan slogan.

Indonesia Emas.

Lompatan besar.

Transformasi.

Negara maju.

Slogan memang penting. Tetapi slogan tidak pernah membuat harga cabai turun. Ia hanya membuat spanduk bertambah.

Di negeri kita, kadang humor bahkan kalah lucu dibanding kenyataan.

Bayangkan. Nilai tukar rupiah melemah, tetapi semangat kita diminta tetap menguat. Harga-harga naik, tetapi masyarakat diminta tetap optimistis. Daya beli turun, masyarakat disuruh bijak dalam berbelanja. Kita menjadi bangsa yang ahli membedakan antara "ingin membeli" dan "mampu membeli".

Inilah zaman ketika keranjang belanja digital selalu penuh, tetapi tombol checkout menjadi barang mewah.

Mungkin itulah definisi baru kelas menengah: sanggup memasukkan barang ke keranjang, tetapi tidak sanggup membayar semuanya.

Negara berkembang selalu sibuk mengejar predikat negara maju. Seolah-olah kebahagiaan berada tepat di balik papan nama itu. Padahal sejarah menunjukkan, banyak negara maju tetap bergulat dengan kesepian, ketimpangan, dan kecemasan.

Pertanyaannya bukan sekadar kapan kita menjadi negara maju.

Pertanyaannya adalah: siapa yang benar-benar ikut maju?

Kalau gedung-gedung semakin tinggi tetapi harapan rakyat semakin rendah, apakah itu kemajuan? Kalau statistik semakin indah tetapi meja makan semakin sederhana, apakah itu keberhasilan? Kalau kita terus berdiri on the brink, jangan-jangan yang kita bangun bukan jembatan menuju kemakmuran, melainkan balkon tempat rakyat diminta menikmati pemandangan sambil menunggu janji berikutnya.

Pada akhirnya, sebuah negara tidak menjadi maju ketika berhasil mencetak slogan yang indah. Negara menjadi maju ketika rakyatnya tidak lagi cemas membuka dompet di pasar, tidak takut melihat harga kebutuhan pokok setiap pagi, dan tidak perlu menghitung ulang mimpi hanya karena nilai rupiah kembali melemah.

Karena kemajuan sejati bukanlah soal berdiri di bibir jurang bernama developed country.

Kemajuan sejati adalah ketika rakyat tidak lagi hidup di bibir kekhawatiran.

Rabu, 27 Mei 2026

Belakangan ini, grafik Rupiah kita terlihat seperti wahana roller coaster di Dufan—bedanya, yang ini turun terus dan tidak ada tanda-tanda mau naik lagi.

Di Jakarta, atmosfernya mirip ruang ICU. Semua mata tertuju pada monitor hijau-merah bernama kurs dolar. Di sudut ruangan, kita bisa melihat Bank Indonesia (BI) sedang berkeringat dingin, melakukan CPR finansial, menyuntikkan cadangan devisa, dan menahan beban berat bernama "intervensi pasar." Pertanyaannya: sampai kapan otot BI kuat menahan beban ini sebelum akhirnya terkena encok monetere? Kita semua berdoa agar BI tidak kehabisan napas. Sebab kalau BI pingsan, kita semua ikut masuk angin.

Namun, mari kita geser kamera kita sedikit menjauh dari gedung-gedung pencakar langit di Jalan MH Thamrin. Mari kita tengok Pak Kumis di Desa Sukamaju yang sedang asyik memandikan kerbaunya.

Ada sebuah mitos urban yang romantis di negeri ini: Orang desa tidak terpengaruh krisis global. Mereka punya sawah, punya ayam, punya singkong. Secara filosofis, orang desa dianggap telah mencapai tingkatan zen finansial yang tidak bisa disentuh oleh Jerome Powell atau kebijakan suku bunga The Fed. Konon, selama matahari masih terbit dan cacing masih ada di dalam tanah, ekonomi desa akan aman-aman saja.

Benarkah demikian? Wah, tunggu dulu.

Mari kita bedah mi instan yang dimakan Pak Kumis saat ronda malam. Terigu dari mana? Impor. Kedelai untuk tempe goreng yang menemani kopinya? Impor. Pupuk kimia untuk sawahnya? Sebagian bahan bakunya dibeli pakai dolar. Jadi, ketika Rupiah kehabisan darah di Jakarta, dampaknya merayap pelan tapi pasti seperti hantu di malam jumat, mengetuk pintu dapur rumah-rumah panggung di pelosok desa.

Kita harus jujur: globalisasi telah berhasil menjajah lambung kita hingga ke tingkat RT. Tidak ada lagi isolasi yang benar-benar murni.

Situasi ini memperlihatkan betapa lucunya hidup kita hari ini. Kita menciptakan sistem yang begitu rumit di mana nasib seorang petani di pelosok desa bisa ditentukan oleh keputusan beberapa pria berjas di Washington yang bahkan tidak tahu cara menanam padi. Angka-angka digital di layar komputer Wall Street mendikte apakah seorang anak desa di pelosok Sulawesi bisa membeli buku sekolah baru atau tidak.

Jadi, apa kabar orang desa? Mereka sebenarnya sedang terpengaruh, hanya saja mereka terlalu sibuk bekerja dan terlalu tabah untuk mengeluh di FB (atau Meta, apa pun namanya sekarang). Sementara orang kota sibuk panik di kedai kopi mahal sambil memesan iced latte seharga setengah gram emas, orang desa menghadapi pelemahan Rupiah dengan cara terbaik yang mereka tahu: terus mencangkul, tetap tersenyum, dan berharap keajaiban panen berikutnya.

Mari kita angkat gelas kopi kita—yang harganya mungkin naik besok pagi—untuk kekuatan otot Bank Indonesia. Dan untuk orang desa? Semoga ketabahan mereka tidak ikut melemah seperti mata uang kita. Sebab kalau pertahanan terakhir itu runtuh, singkong pun mungkin harus kita beli pakai mencicil.

Sabtu, 23 Mei 2026

Revolusi Kognitif

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa simpanse tidak pernah membentuk pemerintahan global atau mendirikan bank sentral? Jawabannya bukan karena kita lebih kuat atau lebih baik secara moral, melainkan karena kita adalah satu-satunya spesies yang bisa percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada.

Dalam Sapiens, Yuval Noah Harari menelanjangi sejarah kita bukan sebagai deretan pahlawan, melainkan sebagai rentetan kebetulan biologi dan kekuatan imajinasi.

Bayangkan, 150.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita itu bukan siapa-siapa. Di sabana Afrika, kita hanyalah makhluk rapuh yang kerjaannya ketakutan setengah mati pada singa, memungut sisa-sisa sumsum tulang yang ditinggalkan oleh hewan pemburu sejati, dan tidak punya kontribusi apa pun bagi ekosistem selain menjadi camilan macan purba.

Lalu, bum! Terjadilah apa yang disebut Harari sebagai Revolusi Kognitif.

Kekuatan super kita bukanlah otot yang kekar atau taring yang tajam, melainkan kemampuan untuk bergosip. Ya, Anda tidak salah baca. Kita adalah satu-satunya spesies yang bisa berkumpul dalam jumlah ribuan hanya karena kita memercayai "mitos bersama". Singa tidak bisa Anda ajak bekerja sama dengan janji bahwa jika mereka tidak memakan Anda, mereka akan masuk surga singa yang penuh dengan daging rusa. Tapi manusia? Kita bisa menciptakan agama, negara, korporasi, hingga konsep "Hak Asasi Manusia"—yang semuanya, menurut Harari, sebenarnya hanya ada di dalam kepala kita. Kita adalah spesies yang menguasai dunia lewat fiksi ilmiah yang kita karang sendiri.

Yang paling provokatif di buku ini adalah ketika Harari membongkar kedok Revolusi Pertanian. Selama ini, guru sejarah kita di sekolah selalu membual bahwa momen ketika manusia berhenti berburu dan mulai bercocok tanam adalah lompatan besar menuju kesejahteraan.

Bullshit, kata Harari dengan gaya akademis yang halus.

Yang terjadi justru sebaliknya: Gandum yang menjinakkan manusia, bukan manusia yang menjinakkan gandum. Sebelum ada pertanian, manusia purba itu hidup santai. Mereka berburu beberapa jam, makan makanan bervariasi, lalu sisa harinya dipakai untuk bersosialisasi dan bersenang-senang. Begitu gandum datang, manusia mendadak jadi budak tanah. Kita harus mencangkul dari subuh sampai malam, encok, memikirkan irigasi, dan cemas setengah mati kalau hujan tidak turun.

Lalu apa hadiahnya? Populasi meledak, penyakit menular bermunculan, dan lahirnya sistem kelas di mana ada segelintir orang yang duduk di singgasana emas sementara sisanya mati kelaparan di ladang gandum. Jadi, jika hari ini Anda stres memikirkan cicilan rumah, salahkan gandum.

Kita, si kera yang dulunya penakut, sekarang sudah bertransformasi menjadi "Tuhan". Kita bisa merekayasa genetika, menciptakan kecerdasan buatan, dan mengubah lanskap planet ini sesuka hati.

Namun, ironinya, kita adalah Tuhan yang sangat tidak bertanggung jawab. Kita memusnahkan mamut, membantai Neanderthal (sepupu kita sendiri yang lebih kekar tapi kurang jago bergosip), merusak atmosfer, dan mengurung miliaran ayam di peternakan industri demi kepuasan lidah kita.

Kita bergerak dari sabana menuju laboratorium ruang angkasa, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Kita mengumpulkan kenyamanan, tapi tidak pernah benar-benar mendapatkan kebahagiaan.

Jadi, setelah menutup halaman terakhir Sapiens, saya melihat kucing peliharaan saya yang sedang tidur siang dengan pulas di atas sofa. Dia tidak perlu tahu tentang inflasi, tidak peduli dengan batas negara, dan tidak stres memikirkan eksistensialisme. Pada titik itu, saya mendadak ragu: dalam bagan evolusi ini, sebenarnya siapa yang lebih cerdas? Kita, atau mereka yang berhasil membuat kita memberi mereka makan gratis setiap hari?