Kita diajari sejak TK: "Gantungkan citamu setinggi langit, belajarlah yang rajin!" Tapi setelah dewasa, kita baru sadar bahwa langitnya ternyata sudah disewa oleh jalur orang dalam (ordal).
Sebagai pengamat kehidupan yang modalnya cuma rasa penasaran dan kopi saset, saya sering kasihan melihat anak-anak muda zaman sekarang. Mereka mengoleksi sertifikat seminar online sampai memori Google Drive-nya penuh, ikut lomba ini-itu demi mempercantik CV, dan magang tanpa dibayar demi "pengalaman". Mereka pikir CV yang tebal bisa meruntuhkan tembok birokrasi. Padahal, di dunia nyata, selembar kertas memo kecil dari "Bapak di Atas" yang berbunyi, "Tolong dibantu, ini anak teman main golf saya," jauh lebih sakti daripada ijazah Harvard sekalipun.
Mengapa meritokrasi begitu sulit bertahan hidup di iklim tropis kita? Jawabannya sederhana: karena kita adalah bangsa yang teramat sangat kekeluargaan. Ya, kita terlalu hangat!
Di negara-negara Barat yang individualis dan dingin, jika Anda tidak kompeten, Anda dipecat. Kejam sekali. Di negeri kita, kita memiliki kearifan lokal yang jauh lebih humanis bernama: Ewuh Pakewuh dan Tahu Sama Tahu.
Hukum Gravitasi Birokrasi: Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin kuat daya tariknya untuk menarik seluruh anggota silsilah keluarganya ke dalam struktur organisasi.
Jika seorang pejabat memiliki posisi basah, lalu dia tidak mempekerjakan keponakannya yang menganggur, dia akan dicap sebagai "anak durhaka" atau "sombong setelah sukses" dalam grup WhatsApp keluarga besar. Jadi, demi menjaga harmoni keluarga dan menghindari kutukan nenek moyang, mengorbankan meritokrasi adalah harga kecil yang harus dibayar. Nepotisme di sini bukan kejahatan, kawan, melainkan bentuk bakti sosial skala mikro!
Lalu, apakah meritokrasi benar-benar punah? Oh, tentu tidak. Meritokrasi masih ada, tapi sudah mengalami mutasi genetik yang sangat kreatif.
Hari ini, kita mengenal meritokrasi gaya baru: Meritokrasi Koneksi.
Kemampuan Anda tetap dinilai, kok. Tapi yang dinilai bukan kemampuan otak Anda, melainkan kemampuan Anda untuk bertahan di dalam lingkaran pergaulan orang-orang penting. Pertanyaannya bukan lagi "What do you know?" melainkan "Who do you know, and how much can you code-switch to sound like them?"
Jika Anda bisa membuat lelucon yang disukai bos saat bermain tenis, atau Anda kebetulan satu almamater SMA dengan ketua yayasan, selamat! Anda memiliki "merit" (kelayakan) yang jauh lebih tinggi daripada si jenius yang kuper dan tidak tahu cara mengambil hati atasan.
Apakah kita harus berhenti belajar, membakar buku-buku teori, dan mulai mencari tahu siapa saja nama paman kita yang barangkali punya kenalan di kementerian?
Jangan dulu. Tetaplah menjadi pintar. Lagipula, jika semua orang di negeri ini menjadi "orang dalam", lalu siapa yang akan mengerjakan pekerjaan aslinya? Siapa yang akan memperbaiki sistem yang eror ketika para keponakan direktur itu kebingungan?
Dunia tetap butuh orang pintar seperti Anda—setidaknya untuk dijadikan staf ahli yang mengerjakan seluruh tugas, sementara orang lain yang maju ke depan untuk menerima plakat penghargaan. Bukankah itu sebuah pembagian kerja yang sangat adil dan merata?


