Jumat, 16 Oktober 2026

Diotrefes

Nama Diotrefes muncul singkat dalam Surat Yohanes yang Ketiga. Hanya satu-dua ayat. Tapi kadang, justru dari potongan kecil itu, kita melihat potret yang terlalu akrab untuk diabaikan.

Ia digambarkan sederhana: suka menjadi yang terkemuka. Menolak otoritas rasuli. Menjelek-jelekkan orang lain. Bahkan menghalangi mereka yang ingin berbuat baik. Sebuah daftar yang, kalau jujur, terasa lebih kontemporer daripada kuno.

Diotrefes bukan penjahat besar. Ia tidak memimpin pemberontakan, tidak menulis ajaran sesat yang spektakuler. Ia hanya melakukan satu hal—yang diam-diam berbahaya: menjadikan posisi sebagai panggung, bukan pelayanan.

Dan mungkin di situlah masalahnya.

Kita sering membayangkan dosa sebagai sesuatu yang dramatis. Padahal, sering kali ia hadir dalam bentuk yang sangat “normal”: ingin dihormati, ingin diakui, ingin didengar lebih dari yang lain. Sesuatu yang tampak manusiawi—sampai ia mulai menguasai.

Diotrefes mengingatkan bahwa gereja pun tidak kebal dari penyakit itu. Bahwa struktur rohani bisa berubah jadi struktur kekuasaan. Bahwa lidah yang seharusnya memberkati bisa dipakai untuk menjatuhkan—dengan alasan yang terdengar saleh.

Dan yang lebih mengganggu: semua itu bisa terjadi sambil tetap terlihat “rohani.”

Ia tidak menolak Tuhan secara terang-terangan. Ia hanya menolak orang lain—dan itu cukup.

Di zaman sekarang, kita mungkin tidak menyebut diri “Diotrefes.” Kita punya istilah yang lebih halus: pemimpin, pelayan, influencer rohani. Tapi pertanyaannya tetap sama: apakah kita membangun orang lain, atau justru menyaring siapa yang boleh berdiri di dekat kita?

Ada godaan halus dalam setiap bentuk kepemimpinan: untuk mengontrol, untuk menentukan siapa yang layak, untuk merasa bahwa tanpa kita, segalanya tidak berjalan. Dan dari sana, pelayanan berubah jadi kepemilikan.

Diotrefes mungkin tidak sadar bahwa ia sedang menjadi masalah. Itulah yang membuatnya berbahaya. Karena dosa yang paling sulit dilawan adalah yang terasa benar.

Maka ayat itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia seperti cermin kecil—yang memantulkan sesuatu yang kita lebih suka tidak lihat.

Dan mungkin, yang paling perlu kita takutkan bukanlah Diotrefes di luar sana.

Melainkan kemungkinan bahwa, dalam situasi tertentu, kita bisa menjadi dia—tanpa pernah menyadarinya.

Kamis, 15 Oktober 2026

Hingga Akhir Waktu

Kita adalah sekumpulan atom yang entah bagaimana caranya bisa bangun di pagi hari, menyeduh kopi, dan bertanya-tanya tentang makna hidup, padahal alam semesta sendiri tidak peduli apakah kita eksis atau tidak.

Pernahkah Anda merasa ngeri menyadari bahwa kesadaran Anda hanyalah "kecelakaan" kimiawi yang sangat singkat dalam bentang waktu kosmik yang nyaris abadi? Brian Greene dalam Until the End of Time mengajak kita melakukan perjalanan terjauh: dari dentuman besar menuju kesunyian mutlak, sambil menyeruput secangkir nihilisme yang manis.

Sejak awal, naskah alam semesta sudah tertulis dengan tinta entropi—hukum yang menyatakan bahwa segala sesuatu akan menuju kekacauan. Namun, di tengah kecenderungan kosmos untuk menjadi berantakan, evolusi justru berhasil merakit struktur yang luar biasa rumit: kita.

Kritik filosofis Greene sangat menohok: kita adalah anomali. Kita terbentuk dari debu bintang yang belajar cara berpikir, namun kemampuan berpikir itu pulalah yang membuat kita sadar bahwa kita sedang menuju kehancuran. Kita berada di "masa keemasan" kosmos di mana cahaya bintang masih cukup terang untuk dilihat, sebelum ekspansi ruang angkasa membuat langit menjadi gelap gulita dan dingin.

Jika sejarah adalah sebuah buku, manusia mungkin hanya menempati satu huruf di halaman terakhir sebelum perpustakaan itu terbakar habis. Greene memprovokasi kita dengan pertanyaan tentang warisan:

• Sekarang: Kita sibuk membangun peradaban, menciptakan seni, dan menulis sejarah.

• Masa Depan: Partikel-partikel penyusun tubuh kita akan tercerai-berai, dan akhirnya, bahkan memori tentang keberadaan kita akan lenyap ditelan hukum fisika.

Lantas, apakah ini berarti hidup itu sia-sia? Greene justru menawarkan sudut pandang yang puitis. Karena kita tahu pesta ini akan berakhir dan lampu-lampu akan dipadamkan, setiap detik kesadaran menjadi sangat mahal. Kita tidak butuh makna dari luar jika kita bisa menciptakan makna sendiri di tengah kesementaraan ini.

Until the End of Time adalah sebuah pengingat bahwa sains tidak menghapus keajaiban; ia hanya mengganti dongeng dengan realitas yang lebih megah sekaligus mengerikan. Kita adalah cara alam semesta untuk mengagumi dirinya sendiri.

Mungkin tugas kita bukan untuk bertahan selamanya, karena itu mustahil. Tugas kita adalah menjadi saksi yang cerdas atas keindahan kosmos selama jendela waktu kita masih terbuka. Sebelum semua atom kita kembali menjadi sunyi, mari kita pastikan kebisingan yang kita buat adalah sebuah simfoni, bukan sekadar teriakan ketakutan.

Jika pada akhirnya semua akan menjadi abu dan ruang hampa, apa yang membuat Anda merasa bahwa hari ini masih layak untuk dijalani?

Rabu, 14 Oktober 2026

Sapiens

Pernahkah Anda terbangun di suatu pagi, menatap cermin, dan menyadari bahwa kita—spesies yang memproklamirkan diri sebagai makhluk paling cerdas di muka bumi—sebenarnya cuma sekelompok kera yang pandai membual?

Jika belum, Anda jelas belum membaca Sapiens karya Yuval Noah Harari. Buku ini, dengan sangat tidak sopan, membongkar rahasia terbesar peradaban kita: bahwa seluruh sejarah manusia dibentuk oleh kemampuan kita menyebarkan selentingan, gosip, dan dongeng pengantar tidur.

Dahulu kala, nenek moyang kita berkeliaran di savana tanpa pakaian, sibuk menghindar dari incaran macan tutul. Lalu, tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul: Bagaimana kalau kita pura-pura percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada?

Seketika itu juga, lahirlah peradaban.

Harari menunjukkan bahwa rahasia keberhasilan Homo sapiens menaklukkan planet ini bukanlah otot yang kuat atau taring yang tajam, melainkan Imajinasi Kolektif. Kita menciptakan agama, negara, hak asasi manusia, hingga Perseroan Terbatas (PT). Coba Anda lemparkan selembar uang kertas $100 ke dalam kandang simpanse. Simpanse itu akan mengunyahnya atau membuangnya ke lumpur. Namun, berikan uang itu kepada manusia, dan mereka siap saling sikut, bekerja jam lembur, atau bahkan berperang demi selembar kertas bertuliskan angka tersebut. Mengapa? Karena kita semua sepakat untuk percaya pada dongeng yang sama.

Lalu datanglah Revolusi Pertanian. Jika buku sejarah sekolah mengagungkannya sebagai puncaknya kemajuan manusia, Harari justru menyebutnya sebagai penipuan terbesar sepanjang sejarah. Kita mengira telah menjinakkan gandum, padahal gandumlah yang menjinakkan kita. Sebelum ada gandum, manusia hidup santai, berburu, mengumpulkan buah, dan punya banyak waktu luang untuk bersantai. Setelah gandum datang, kita mendadak harus bekerja dari terbit hingga terbenamnya matahari, sakit punggung karena mencangkul, dan menetap di satu tempat hanya demi melayani sebatang rumput yang rewel.

Hari ini, dongeng kita telah berevolusi dari dewa-dewa Olimpus menjadi algoritma dan pasar bebas. Kita dengan bangga merasa sebagai penguasa rantai makanan, padahal kita hanyalah budak dari fiksi yang kita buat sendiri.

Jadi, saat nanti malam Anda lembur demi membayar cicilan rumah atau membeli saham perusahaan rintisan yang belum tentu berwujud, tersenyumlah. Ingatlah bahwa Anda sedang menjalankan tradisi tertua Homo sapiens: menukar keringat demi sebuah cerita rekaan.