Selamat datang di zaman ketika semua orang punya pendapat, tetapi tidak semua orang merasa perlu memeriksa apakah pendapatnya masuk akal.
Di media sosial, setiap orang mendadak menjadi ahli politik, ekonomi, kesehatan, bahkan teologi. Modalnya sederhana: satu potongan video, dua kalimat kutipan, dan kepercayaan diri yang tidak mengenal batas. Kalau argumennya habis, tinggal serang pribadi lawan bicara. Kalau faktanya tidak cocok, salahkan fakta. Selesai!
Di tengah kegaduhan semacam itulah buku "Makanya, Mikir!" karya Abigail Limuria dan Cania Citta menjadi menarik. Buku ini mengajak kita merapikan cara berpikir, mulai dari membedakan realitas dan preferensi, memahami pola pikir ilmiah, mengenali sesat pikir, menentukan prioritas, hingga mengambil keputusan dan membangun kecerdasan sosial.
Pesannya sederhana, tetapi tidak selalu menyenangkan: jangan hanya berpikir, belajarlah berpikir dengan benar.
Sebab, banyak persoalan hidup bukan muncul karena kita kekurangan informasi, melainkan karena kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kita sering mencampuradukkan apa yang kita inginkan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kita menganggap keyakinan pribadi sebagai kebenaran universal. Bahkan, kadang-kadang kita lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari kebenaran.
Ironisnya, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin banyak pula orang yang malas berpikir. Jempol bekerja lebih cepat daripada otak. Membagikan berita hanya butuh satu detik, memeriksa kebenarannya bisa membutuhkan lima menit. Rupanya, bagi sebagian orang, lima menit adalah pengorbanan intelektual yang terlalu mahal.
Buku ini juga mengingatkan kita bahwa berpikir kritis bukan berarti gemar membantah. Bukan pula merasa diri paling rasional sambil memandang orang lain sebagai sekumpulan manusia kurang pendidikan. Berpikir kritis justru menuntut kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa salah. Dan mungkin inilah bagian yang paling sulit.
Kita senang mengoreksi orang lain, tetapi alergi dikoreksi. Kita meminta orang lain membuka pikiran, tetapi pintu pikiran sendiri digembok dari dalam. Kita ingin didengar, tetapi tidak selalu bersedia mendengarkan.
Tentu saja, membaca satu buku tidak otomatis membuat seseorang menjadi Socrates. Apalagi kalau setelah membacanya kita hanya sibuk memamerkan bahwa kita sudah membaca buku tentang cara berpikir.
Pada akhirnya, "Makanya, Mikir!" bukan sekadar ajakan untuk menjadi lebih pintar, melainkan pengingat agar kita tidak menjadi sumber masalah bagi diri sendiri dan orang lain karena cara berpikir yang berantakan.
Sebab, dunia ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Dunia hanya terlalu sering dibuat repot oleh orang-orang yang merasa dirinya selalu benar.
Jadi, sebelum sibuk mengajari orang lain berpikir, ada baiknya kita mulai dari diri sendiri.
Makanya, mikir! Jangan sampai otak hanya menjadi aksesori di dalam kepala.


