Rabu, 27 Mei 2026

Belakangan ini, grafik Rupiah kita terlihat seperti wahana roller coaster di Dufan—bedanya, yang ini turun terus dan tidak ada tanda-tanda mau naik lagi.

Di Jakarta, atmosfernya mirip ruang ICU. Semua mata tertuju pada monitor hijau-merah bernama kurs dolar. Di sudut ruangan, kita bisa melihat Bank Indonesia (BI) sedang berkeringat dingin, melakukan CPR finansial, menyuntikkan cadangan devisa, dan menahan beban berat bernama "intervensi pasar." Pertanyaannya: sampai kapan otot BI kuat menahan beban ini sebelum akhirnya terkena encok monetere? Kita semua berdoa agar BI tidak kehabisan napas. Sebab kalau BI pingsan, kita semua ikut masuk angin.

Namun, mari kita geser kamera kita sedikit menjauh dari gedung-gedung pencakar langit di Jalan MH Thamrin. Mari kita tengok Pak Kumis di Desa Sukamaju yang sedang asyik memandikan kerbaunya.

Ada sebuah mitos urban yang romantis di negeri ini: Orang desa tidak terpengaruh krisis global. Mereka punya sawah, punya ayam, punya singkong. Secara filosofis, orang desa dianggap telah mencapai tingkatan zen finansial yang tidak bisa disentuh oleh Jerome Powell atau kebijakan suku bunga The Fed. Konon, selama matahari masih terbit dan cacing masih ada di dalam tanah, ekonomi desa akan aman-aman saja.

Benarkah demikian? Wah, tunggu dulu.

Mari kita bedah mi instan yang dimakan Pak Kumis saat ronda malam. Terigu dari mana? Impor. Kedelai untuk tempe goreng yang menemani kopinya? Impor. Pupuk kimia untuk sawahnya? Sebagian bahan bakunya dibeli pakai dolar. Jadi, ketika Rupiah kehabisan darah di Jakarta, dampaknya merayap pelan tapi pasti seperti hantu di malam jumat, mengetuk pintu dapur rumah-rumah panggung di pelosok desa.

Kita harus jujur: globalisasi telah berhasil menjajah lambung kita hingga ke tingkat RT. Tidak ada lagi isolasi yang benar-benar murni.

Situasi ini memperlihatkan betapa lucunya hidup kita hari ini. Kita menciptakan sistem yang begitu rumit di mana nasib seorang petani di pelosok desa bisa ditentukan oleh keputusan beberapa pria berjas di Washington yang bahkan tidak tahu cara menanam padi. Angka-angka digital di layar komputer Wall Street mendikte apakah seorang anak desa di pelosok Sulawesi bisa membeli buku sekolah baru atau tidak.

Jadi, apa kabar orang desa? Mereka sebenarnya sedang terpengaruh, hanya saja mereka terlalu sibuk bekerja dan terlalu tabah untuk mengeluh di FB (atau Meta, apa pun namanya sekarang). Sementara orang kota sibuk panik di kedai kopi mahal sambil memesan iced latte seharga setengah gram emas, orang desa menghadapi pelemahan Rupiah dengan cara terbaik yang mereka tahu: terus mencangkul, tetap tersenyum, dan berharap keajaiban panen berikutnya.

Mari kita angkat gelas kopi kita—yang harganya mungkin naik besok pagi—untuk kekuatan otot Bank Indonesia. Dan untuk orang desa? Semoga ketabahan mereka tidak ikut melemah seperti mata uang kita. Sebab kalau pertahanan terakhir itu runtuh, singkong pun mungkin harus kita beli pakai mencicil.

Sabtu, 23 Mei 2026

Revolusi Kognitif

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa simpanse tidak pernah membentuk pemerintahan global atau mendirikan bank sentral? Jawabannya bukan karena kita lebih kuat atau lebih baik secara moral, melainkan karena kita adalah satu-satunya spesies yang bisa percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada.

Dalam Sapiens, Yuval Noah Harari menelanjangi sejarah kita bukan sebagai deretan pahlawan, melainkan sebagai rentetan kebetulan biologi dan kekuatan imajinasi.

Bayangkan, 150.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita itu bukan siapa-siapa. Di sabana Afrika, kita hanyalah makhluk rapuh yang kerjaannya ketakutan setengah mati pada singa, memungut sisa-sisa sumsum tulang yang ditinggalkan oleh hewan pemburu sejati, dan tidak punya kontribusi apa pun bagi ekosistem selain menjadi camilan macan purba.

Lalu, bum! Terjadilah apa yang disebut Harari sebagai Revolusi Kognitif.

Kekuatan super kita bukanlah otot yang kekar atau taring yang tajam, melainkan kemampuan untuk bergosip. Ya, Anda tidak salah baca. Kita adalah satu-satunya spesies yang bisa berkumpul dalam jumlah ribuan hanya karena kita memercayai "mitos bersama". Singa tidak bisa Anda ajak bekerja sama dengan janji bahwa jika mereka tidak memakan Anda, mereka akan masuk surga singa yang penuh dengan daging rusa. Tapi manusia? Kita bisa menciptakan agama, negara, korporasi, hingga konsep "Hak Asasi Manusia"—yang semuanya, menurut Harari, sebenarnya hanya ada di dalam kepala kita. Kita adalah spesies yang menguasai dunia lewat fiksi ilmiah yang kita karang sendiri.

Yang paling provokatif di buku ini adalah ketika Harari membongkar kedok Revolusi Pertanian. Selama ini, guru sejarah kita di sekolah selalu membual bahwa momen ketika manusia berhenti berburu dan mulai bercocok tanam adalah lompatan besar menuju kesejahteraan.

Bullshit, kata Harari dengan gaya akademis yang halus.

Yang terjadi justru sebaliknya: Gandum yang menjinakkan manusia, bukan manusia yang menjinakkan gandum. Sebelum ada pertanian, manusia purba itu hidup santai. Mereka berburu beberapa jam, makan makanan bervariasi, lalu sisa harinya dipakai untuk bersosialisasi dan bersenang-senang. Begitu gandum datang, manusia mendadak jadi budak tanah. Kita harus mencangkul dari subuh sampai malam, encok, memikirkan irigasi, dan cemas setengah mati kalau hujan tidak turun.

Lalu apa hadiahnya? Populasi meledak, penyakit menular bermunculan, dan lahirnya sistem kelas di mana ada segelintir orang yang duduk di singgasana emas sementara sisanya mati kelaparan di ladang gandum. Jadi, jika hari ini Anda stres memikirkan cicilan rumah, salahkan gandum.

Kita, si kera yang dulunya penakut, sekarang sudah bertransformasi menjadi "Tuhan". Kita bisa merekayasa genetika, menciptakan kecerdasan buatan, dan mengubah lanskap planet ini sesuka hati.

Namun, ironinya, kita adalah Tuhan yang sangat tidak bertanggung jawab. Kita memusnahkan mamut, membantai Neanderthal (sepupu kita sendiri yang lebih kekar tapi kurang jago bergosip), merusak atmosfer, dan mengurung miliaran ayam di peternakan industri demi kepuasan lidah kita.

Kita bergerak dari sabana menuju laboratorium ruang angkasa, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Kita mengumpulkan kenyamanan, tapi tidak pernah benar-benar mendapatkan kebahagiaan.

Jadi, setelah menutup halaman terakhir Sapiens, saya melihat kucing peliharaan saya yang sedang tidur siang dengan pulas di atas sofa. Dia tidak perlu tahu tentang inflasi, tidak peduli dengan batas negara, dan tidak stres memikirkan eksistensialisme. Pada titik itu, saya mendadak ragu: dalam bagan evolusi ini, sebenarnya siapa yang lebih cerdas? Kita, atau mereka yang berhasil membuat kita memberi mereka makan gratis setiap hari?

Jumat, 22 Mei 2026

28 Tahun Reformasi

Jika Anda membaca tulisan ini sambil rebahan, memegang gawai pintar yang cicilannya menyisakan dua bulan lagi, dan sesekali melirik harga beras di aplikasi belanja daring yang naiknya lebih cepat daripada kecepatan cahaya, selamat! Anda adalah produk sahih dari 28 tahun Reformasi Indonesia.

Mari kita ambil napas dalam-dalam, tiup lilin imajiner di atas kue ulang tahun demokrasi kita yang sudah berusia hampir kepala tiga ini, lalu tanyakan pada cermin di kamar mandi: “Kita ini sebenarnya makin sejahtera, atau cuma makin ahli berpura-pura bahagia?”

Saya masih ingat betul atmosfer tahun 1998. Pekat asap gas air mata, pekikan "KKN!" di jalanan, dan semangat membara untuk meruntuhkan rezim yang katanya bikin kita terkungkung. Waktu itu, premisnya sederhana dan sangat filosofis: Turunkan harga, turunkan Soeharto, maka kesejahteraan akan otomatis mengalir seperti air dispenser.

Dua puluh delapan tahun kemudian, mari kita hitung pencapaian kita.

• Kebebasan Berbicara: Dulu, mengkritik pemerintah bisa membuat Anda "hilang" atau mendadak pindah alamat ke tempat yang dirahasiakan. Sekarang? Anda bebas mengkritik apa saja di media sosial! Kebebasan yang luar biasa, bukan? Kebebasan yang hanya dibatasi oleh kuota internet, algoritma, dan ancaman jempol tetangga yang gemar melaporkan Anda dengan UU ITE. Kita tidak lagi takut pada intel yang menyamar jadi tukang bakso, kita cuma takut pada netizen yang salah paham.

• Pertumbuhan Ekonomi: Angka-angka statistik makro di televisi selalu tampak seksi. Katanya ekonomi kita tumbuh, investasi masuk, dan kita bersiap jadi raksasa dunia. Tapi entah kenapa, pertumbuhan ekonomi itu seperti jodoh orang lain: sering kita dengar kabarnya, tapi jarang kita rasakan langsung di dompet sendiri.

Reformasi berhasil mengubah kita dari bangsa yang terkekang menjadi bangsa yang... mandiri. Ya, mandiri dalam artian yang paling literal: Menderita Sendiri-sendiri.

Pemerintah membuka keran demokrasi seluas-luasnya, memberikan kita hak memilih pemimpin setiap lima tahun sekali—sebuah festival memilih siapa yang akan menaikkan pajak kita berikutnya. Kita diberikan ilusi pilihan, sementara struktur di atas sana tetap asyik bertukar kursi sambil menikmati pisang goreng hangat di ruang ber-AC yang dibayar oleh uang pajak kita.

Jika "sejahtera" diukur dari jumlah mal yang berdiri, panjangnya jalan tol yang bisa dilalui (kalau punya kartu e-toll dan mobilnya), atau jumlah artis yang mendadak jadi anggota dewan, maka jawabannya adalah: Ya, kita makmur luar biasa!

Namun, jika sejahtera diukur dari ketenangan pikiran saat menyambut masa tua, jaminan kesehatan yang tidak membuat kita mengantre dari subuh seperti mau menonton konser, atau kepastian bahwa hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke rekan separtai... jawabannya mungkin perlu Anda cari di kolom komentar akun gosip terdekat.

Reformasi tidak gagal. Ia hanya tumbuh menjadi remaja akhir yang agak bingung arah, sedikit narsistik, dan gemar melakukan gimmick politik demi mendapat 'likes' dari rakyatnya.

Jadi, sembari Anda bersiap-siap kembali bekerja demi memperkaya pemilik perusahaan tempat Anda mengabdi, mari kita angkat segelas kopi instan ini. Selamat 28 tahun Reformasi! Kita mungkin belum sepenuhnya sejahtera, tapi setidaknya, kita punya hak penuh untuk menertawakan nasib kita sendiri tanpa takut ditangkap. Bukankah itu sebuah kemajuan?