Kita tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita hanya sedang mengalami kelebihan orang yang merasa pintar, tetapi alergi menggunakan akal sehat.
Ironisnya, mereka yang membuat masalah sering tampil paling percaya diri menjelaskan cara menyelesaikannya. Mereka yang seharusnya meminta maaf justru menggelar konferensi pers. Dan mereka yang seharusnya diperiksa malah sibuk memeriksa siapa yang berani bertanya.
Kalau ini bukan negara kehilangan akal, lalu apa namanya?
Ada yang salah dengan negara ini. Bukan karena kita kekurangan orang pintar, tetapi karena terlalu banyak orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dijelaskan.
Kita hidup di negara yang semakin sulit membedakan antara kenyataan dan sandiwara. Harga kebutuhan pokok naik, rakyat diminta bersabar. Korupsi terbongkar, pejabat tampil dengan wajah prihatin. Hukum dipertontonkan dengan gagah berani, tetapi entah mengapa keberaniannya sering kali memiliki ukuran berbeda, tergantung siapa yang sedang duduk di kursi terdakwa.
Di negara ini, masalah bukan lagi bagaimana menyelesaikan persoalan, melainkan bagaimana membuat persoalan terlihat seolah-olah sudah diselesaikan.
Jalan rusak diperbaiki dengan spanduk. Kemiskinan diatasi dengan konferensi pers. Korupsi dilawan dengan seminar antikorupsi yang biaya penyelenggaraannya mungkin cukup untuk membeli satu mobil mewah. Sementara itu, para pejabat sibuk membicarakan keberhasilan pembangunan di hadapan rakyat yang masih sibuk menghitung uang belanja.
Politik pun berubah menjadi pertunjukan komedi. Mereka yang kemarin saling menyerang hari ini duduk berdampingan sambil tersenyum. Rupanya permusuhan dalam politik memiliki masa kedaluwarsa yang sangat pendek, terutama ketika ada kepentingan yang lebih besar menunggu di belakang pintu.
Rakyat? Jangan khawatir. Rakyat selalu mendapat peran penting: menjadi penonton, membayar tiket, dan sesekali diminta bertepuk tangan.
Yang lebih menarik, setiap kritik dianggap sebagai kebencian, setiap pertanyaan dianggap sebagai ancaman, dan setiap orang yang meminta penjelasan dicurigai tidak memiliki rasa nasionalisme. Seolah-olah mencintai negara berarti harus menyetujui semua yang dilakukan pemerintah, termasuk ketika sesuatu berjalan ke arah yang salah.
Padahal, mencintai negara bukan berarti harus memuji semua kebodohannya.
Kita juga mulai terbiasa dengan hal-hal yang seharusnya membuat kita terkejut. Kebohongan menjadi strategi komunikasi. Ketidakmampuan disebut dinamika. Kegagalan disebut proses pembelajaran. Dan ketika semuanya berantakan, selalu ada seseorang yang tampil meyakinkan untuk menjelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada yang berantakan.
Mungkin inilah prestasi terbesar kita: berhasil membuat ketidakmasukakalan terasa begitu biasa sehingga orang yang masih menggunakan akal sehat justru dianggap aneh.
Tetapi sebuah negara tidak kehilangan akal ketika rakyatnya tidak tahu apa-apa. Negara kehilangan akal ketika orang-orang yang tahu kebenaran memilih diam, sementara mereka yang seharusnya malu justru sibuk memberi ceramah tentang moralitas.
Dan barangkali, yang paling berbahaya bukanlah ketika negara ini dipimpin oleh orang-orang yang salah. Melainkan ketika kita sudah terlalu terbiasa dengan kesalahan sehingga tidak lagi merasa perlu mencari yang benar.
Sebab, sebuah negara masih bisa bertahan tanpa banyak orang pintar. Tetapi sulit diselamatkan ketika akal sehat sudah menjadi barang langka.


