Selasa, 29 September 2026

Kita Akan Pergi

Bayangkan suatu pagi kita bangun, membuka jendela, melihat matahari, mendengar burung, mencium aroma kopi—lalu tiba-tiba sadar: suatu hari nanti semua ini akan menjadi tontonan tanpa kita. Agak menyebalkan, bukan?

Kita sudah susah payah membeli rumah, mencicil mobil, mengejar jabatan, mengumpulkan uang, memperdebatkan politik di Facebook, bahkan marah karena tetangga parkir sembarangan. Tetapi pada akhirnya, kita akan meninggalkan semuanya.

Rumah tetap berdiri. Mobil akan berpindah tangan. Rekening bank akan diwariskan. Jabatan akan segera dilupakan. Bahkan foto kita di media sosial mungkin suatu hari hanya menjadi benda yang membuat algoritma bertanya: “Apakah Anda ingin mengenang postingan ini?” Terima kasih, Facebook. Bahkan setelah mati pun kita masih bisa dijadikan konten.

Yang paling aneh adalah kita sering hidup seolah-olah dunia ini adalah kontrak seumur hidup. Kita berkata, “Nanti saja.” Nanti kalau sudah kaya, saya akan menikmati hidup. Nanti kalau sudah pensiun, saya akan bepergian. Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan lebih sering bersama keluarga. Nanti kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan menikmati matahari terbenam. Masalahnya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada email baru, tagihan baru, rapat baru, cicilan baru, dan seseorang yang mengirim pesan, “Bisa bicara sebentar?”—yang biasanya berarti tiga jam.

Kita begitu sibuk mempersiapkan masa depan sampai lupa bahwa masa depan itu tidak pernah dijamin datang dalam keadaan kita masih menjadi pemeran utamanya.

Art Buchwald, yang terkenal karena menjadikan absurditas kehidupan sebagai bahan humor, juga pernah menghadapi kematian dengan cara yang tidak biasa: ia bahkan menjadikan proses menjelang kematiannya sebagai bahan tulisan dan lelucon. Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang sering kita lewatkan.

Kematian tidak selalu harus membuat kita takut. Kadang-kadang ia justru harus membuat kita lebih sadar untuk hidup.

Sebab suatu hari nanti kita tidak akan lagi melihat hujan turun di halaman rumah. Tidak akan lagi merasakan angin sore. Tidak akan lagi mencium aroma masakan dari dapur. Tidak akan lagi mendengar suara orang yang kita cintai memanggil nama kita.

Tidak akan lagi melihat laut, gunung, bunga, langit merah menjelang malam, atau secangkir kopi yang terlalu pahit tetapi tetap kita habiskan. Semua keindahan itu akan terus berlangsung. Hanya kita yang tidak. Dan mungkin justru karena itulah kehidupan menjadi indah.

Kalau semuanya abadi, tidak ada yang mendesak. Kalau matahari terbit setiap hari untuk selamanya, kita mungkin tidak akan pernah berhenti untuk melihatnya. Tetapi karena waktu terbatas, sebuah pagi biasa sebenarnya adalah kemewahan.

Lalu apa yang harus kita lakukan hari ini? Mungkin tidak perlu sesuatu yang heroik. Teleponlah orang yang kita cintai. Minta maaf kepada seseorang. Peluk anak kita. Duduk bersama pasangan tanpa memegang telepon. Minumlah kopi perlahan. Pergilah melihat laut. Tertawalah lebih banyak.

Berhentilah bertengkar hanya karena perbedaan pendapat politik dengan orang yang lima tahun lagi mungkin bahkan tidak kita ingat mengapa kita marahi.

Dan sesekali, berhentilah mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak akan kita bawa ke mana-mana. Karena pada akhirnya kita semua akan meninggalkan panggung.

Pertanyaannya bukan berapa lama kita berada di atas panggung. Pertanyaannya: Ketika tirai akhirnya turun, apakah kita benar-benar sempat menikmati pertunjukannya?

Jadi hari ini, jangan hanya bertanya: “Apa yang harus saya capai?” Cobalah bertanya: “Apa yang masih bisa saya nikmati sebelum semuanya menjadi kenangan?”

Karena hidup mungkin bukan tentang memiliki waktu sebanyak-banyaknya. Hidup adalah tentang menyadari bahwa waktu yang sedang kita miliki sekarang adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita punya.

Senin, 28 September 2026

Penjara Bernama FYP

Pernahkah Anda merasa bahwa smartphone Anda sebenarnya adalah penjaga tahanan, dan jempol Anda adalah narapidana yang menjalani hukuman kerja paksa tanpa remisi?

Selamat datang di For You Page (FYP)—sebuah fasilitas tahanan super-maksimum berkedok hiburan, tempat kita semua secara sukarela menyerahkan kebebasan berkehendak demi menyaksikan kucing joget berdurasi 15 detik.

Kemarin, seorang teman saya mencoba keluar dari penjara ini. Dia mematikan aplikasi selama tiga puluh menit. Hasilnya? Dia mengalami kecemasan hebat karena takut melewatkan tren terbaru: resep mie instan yang dicampur selai kacang dan es krim cokelat.

"Aku tidak bisa meninggalkannya," bisiknya dengan mata merah berair. "FYP-ku tahu aku sedang sedih, lalu dia memberiku video bebek pakai sepatu bot. Siapa lagi yang mengerti jiwaku kalau bukan algoritma?"

Di situlah letak kejeniusan sipir kita. Penjara zaman dulu butuh tembok beton tinggi, kawat berduri, dan menara pengawas. Penjara modern hanya butuh algoritma yang dilatih untuk mempelajari bahwa Anda suka melihat orang gagal masak pada pukul dua pagi.

Sipir algoritma ini sangat perhatian. Dia tidak memukuli kita dengan tongkat besi. Dia memanjakan kita.

“Kau lelah bekerja hari ini?” bisik FYP dengan lembut. “Ini, tontonlah sepuluh video tentang konspirasi Bumi Berbentuk Donat. Jangan khawatir soal tugas kantor besok pagi. Tidurlah jam empat subuh, aku akan setia menunggumu.”

Yang membuat saya kagum adalah tingkat kepasrahan kita. Kita menyebutnya "For You Page"—seolah-olah ada tim editor jenius di markas besar teknologi yang bergadang khusus meracik konten terbaik untuk kehidupan kita yang membosankan. Padahal kenyataannya, algoritma itu hanya memuji rentang perhatian kita yang kini lebih pendek daripada ingatan ikan mas.

Kita merayakan kebebasan di dunia modern, tetapi di saat yang sama, kita membiarkan mesin mengatur apa yang membuat kita tertawa, apa yang membuat kita marah, dan produk kecantikan ajaib apa yang harus kita beli minggu ini. Kita ditahan dalam sel isolasi berupa layar 6 inci, lengkap dengan hiburan tak terbatas agar kita lupa cara berpikir mandiri.

Jadi, ketika nanti malam jempol Anda kembali melakukan scrolling tanpa henti hingga ketiduran dan ponsel Anda jatuh menimpa hidung—ingatlah satu hal: Anda tidak sedang bersantai. Anda sedang menjalani masa tahanan.

Pertanyaannya sekarang: apakah Anda berani menutup aplikasi itu dan melarikan diri, atau Anda terlalu takut kehilangan episode berikutnya dari kucing yang bisa mengetik?

Sabtu, 26 September 2026

Majelis Jemaat

Majelis Jemaat. Sebuah frasa yang tampak tenang, tapi menyimpan dinamika yang tak selalu terlihat di permukaan. Ia terdengar seperti lembaga, seperti struktur. Tapi sesungguhnya, ia adalah cermin. Sebab di dalamnya, terekam bagaimana gereja memutuskan berjalan, atau berdiam.

Majelis—yang terdiri dari Penatua, Diaken, Guru Agama, dan Pendeta (beberapa organisasi mungkin berbeda) — secara harfiah adalah “yang mulia.” Tapi kemuliaan di sini bukan soal gelar atau jabatan. Atau setidaknya, seharusnya begitu. Sebab sejarah gereja, sejak mula, tidak dibangun oleh kemegahan. Ia lahir dari perjamuan sederhana, dari tangan-tangan yang membasuh kaki, dari komunitas yang menanggung satu sama lain dalam perbedaan.

Namun waktu bergerak. Gereja tumbuh. Struktur dibentuk. Aturan disusun. Dan majelis pun menemukan dirinya berada di antara dua dunia: yang rohani dan yang administratif. Yang pastoral dan yang birokratis. Maka rapat-rapat pun diadakan, suara diangkat, notulen dibukukan. Tapi apakah kasih juga turut dicatat?

Di banyak tempat, majelis menjadi wajah gereja yang pertama dilihat umat. Mereka menyambut di pintu gereja, mengatur kursi, memimpin liturgi, menyampaikan laporan. Tapi wajah bisa menjadi topeng. Sebab terkadang, di balik senyum hangat dan salam liturgis, tersembunyi ketegangan: antara visi dan gengsi, antara pelayanan dan kendali.

Majelis Jemaat, dalam praktiknya, kerap terjebak dalam logika kuasa—meskipun dalam kemasan pelayanan. Ada yang duduk bukan karena panggilan, tapi karena pengaruh. Ada yang memilih diam bukan karena damai, tetapi karena takut disingkirkan. Ada yang merasa mewakili jemaat, tapi lupa mendengar suara mereka.

Maka kita pun bertanya: siapa yang sebetulnya diwakili oleh Majelis Jemaat? Apakah jemaat yang rapuh, yang kadang datang hanya untuk duduk dan menangis? Ataukah sistem, yang lebih peduli pada stabilitas dan tradisi?

Ironisnya, banyak Majelis Jemaat lebih sibuk menjaga "ketertiban rohani" daripada menyelami keretakan batin umat. Mereka lebih cepat membentuk panitia daripada menemani keluarga yang dalam pergumulan. Lebih sigap mengatur jadwal Natal daripada menyapa anak muda yang mulai enggan ke gereja.

Padahal gereja bukan hanya soal ibadah minggu. Ia adalah tubuh yang hidup—yang terluka, bertumbuh, mencintai, dan terkadang berkonflik. Dan Majelis seharusnya menjadi bagian dari tubuh itu, bukan menara pengawas di atasnya.

Sejarah gereja mula-mula tidak dimulai dari rapat pleno, tapi dari meja makan. Dari berbagi roti dan anggur. Dari mendengar, bukan hanya memutuskan. Barangkali kita perlu kembali ke sana: ke kesederhanaan yang tidak birokratis, ke pelayanan yang tidak tergantung rotasi jabatan, ke kasih yang tidak memakai seragam.

Mungkin kita tidak butuh majelis yang sempurna. Tapi kita sangat butuh majelis yang rendah hati. Yang tidak selalu tahu jawabannya, tapi mau duduk bersama dalam pergumulan. Karena dalam gereja, seperti dalam hidup, yang paling dibutuhkan bukan sistem yang rapi, tapi hati yang terbuka.