Kamis, 01 Oktober 2026

Kebebasan yang Menakutkan

Jika Tuhan mati, apakah kita benar-benar bebas, atau kita hanya sedang menggali kubur bagi kemanusiaan kita sendiri?

Dostoevsky tidak menulis The Brothers Karamazov sebagai khotbah Minggu yang membosankan. Ia menulisnya sebagai sebuah interogasi. Di pusat badai itu, duduklah Ivan Karamazov—si intelektual dingin yang melempar bom atom filosofis yang masih menggetarkan dinding moralitas kita hingga hari ini: "Jika Tuhan tidak ada, maka segala sesuatu diperbolehkan."

Ivan adalah cermin bagi manusia modern. Ia muak pada penderitaan anak-anak yang tak berdosa dan skema dunia yang karut-marut. Baginya, jika "Pencipta" mengizinkan kekejaman itu, maka tiket masuk ke surga lebih baik dikembalikan saja. Namun, di sinilah letak ironi yang mematikan:

• Kebebasan Mutlak: Tanpa otoritas transenden (Tuhan), moralitas hanyalah kontrak sosial yang rapuh. Benar dan salah menjadi soal selera, bukan nilai abadi.

• Beban Menjadi Tuhan: Jika tidak ada Tuhan, maka manusiadalah Tuhan. Masalahnya, manusia adalah "Tuhan" yang sangat buruk—mudah lapar, penuh dendam, dan seringkali dungu.

Dostoevsky secara provokatif menunjukkan bahwa tanpa "jangkar" di luar diri manusia, kita tidak sedang menuju kebebasan, melainkan menuju kekacauan (nihilisme). Tokoh Smerdyakov—si pelayan yang licin—mengambil logika Ivan secara harfiah: jika semuanya boleh, maka membunuh ayah sendiri pun hanyalah masalah teknis, bukan masalah dosa.

Mungkin kita sering merasa sok jagoan dengan ateisme atau sekularisme kita. Kita merasa "bebas" dari dogma. Tapi coba pikirkan: di dunia tanpa Tuhan, siapa yang menjamin bahwa kasih sayang lebih bernilai daripada kekejaman? Evolusi? Kimia otak?

Dostoevsky melalui sosok Alyosha—adik Ivan yang religius namun membumi—menawarkan jawaban yang tidak logis tapi organik: Cinta yang aktif. Bukan argumen di atas kertas, tapi tindakan mencintai sesama meski dunia terasa busuk.

"Segala sesuatu diperbolehkan" adalah sebuah jurang. Kita bisa melompat ke dalamnya dan hancur, atau kita bisa berdiri di tepinya dan menyadari bahwa jika memang tidak ada Tuhan, maka tanggung jawab kita terhadap sesama justru menjadi jauh lebih berat—karena tidak ada siapa pun di atas sana yang akan membereskan kekacauan yang kita buat.

Jadi, kawan, jika besok pagi kau bangun dan yakin Tuhan itu fiksi, apakah kau akan tetap menjadi orang baik, atau kau hanya sedang menunggu kesempatan untuk menjadi iblis yang paling logis?

Apakah menurut Anda moralitas tetap bisa berdiri kokoh tanpa fondasi agama, ataukah kita sebenarnya hanya sedang berpura-pura baik karena takut pada hukum manusia?

Rabu, 30 September 2026

92 Tahun GMIM Bersinode

Di Indonesia, kita mengenal berbagai jenis mukjizat. Tetapi bagi warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), mukjizat terbesar yang berulang tiap beberapa tahun sekali bukanlah air menjadi anggur, melainkan fakta bahwa 92 tahun setelah menyatakan diri "Bersinode", ribuan pendeta dan pelsus masih bisa duduk bersama dalam satu aula tanpa perlu memanggil pasukan anti-huru-hara.

Sejak tahun 1934, GMIM memutuskan bahwa mengurus rumah tangga gereja secara mandiri adalah ide yang luar biasa. Konsepnya sungguh indah: persatuan, persekutuan, dan kepemimpinan bersama. Namun, siapa pun yang pernah menghadiri sidang sinode tahu betul bahwa kata "musyawarah" dalam konteks gerejani sering kali berarti: “Mari kita berdoa bersama agar Anda semua menyetujui pendapat saya.”

Memasuki usia ke-92, perayaan "Bersinode" ini menjadi momentum yang sangat terhormat. Semua orang mengenakan pakaian terbaik, tersenyum lebar, dan mengucapkan selamat satu sama lain. Namun di balik kehangatan itu, ada tradisi luhur yang tidak tercantum dalam tata gereja: seni berdebat soal tata tertib selama tiga jam penuh, sebelum akhirnya menyadari bahwa mikrofon ruang sidang ternyata belum dinyalakan.

Ada keindahan tersendiri dalam birokrasi suci ini. Di satu sisi, kita merayakan kemandirian teologis dan struktur gereja yang telah bertahan menembus melintasi zaman, rezim politik, hingga era serba-digital. Di sisi lain, kita kadang lupa bahwa menjadi "Satu dalam Sinode" tidak harus berarti menjadi "Satu dalam Pendapat Soal Rencana dan Anggaran".

Sering kali, ujian terberat dari semangat bersinode bukanlah menghadapi tantangan zaman atau sekularisme global, melainkan bagaimana tetap tersenyum ramah pada syamas atau penatua dari kolom sebelah yang baru saja menolak usulan program kerja Anda dengan alasan "belum ada petunjuk teknis dari wilayah".

Namun bagaimanapun rumitnya pasal-pasal, intrik komisi, dan panjangnya sambutan pejabat, 92 tahun adalah bukti ketangguhan yang tak terbantahkan. Jika GMIM mampu bertahan melewati hampir satu abad persidangan, rapat evaluasi, dan dinamika pemilihan pengurus tanpa kehilangan rasa kebersamaan—serta tanpa kehabisan konsumsi—maka gereja ini sungguh-sungguh dibangun di atas batu karang yang sangat kokoh.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-92 GMIM Bersinode. Semoga roh persekutuan tetap lebih nyaring daripada ketukan palu sidang, dan semoga perdebatan di ruang sidang selalu berakhir manis di meja makan.

Semoga gereja tidak hanya semakin kuat dalam struktur, tetapi juga semakin rendah hati dalam pelayanan. Semoga kita tidak hanya memiliki cerita panjang tentang sejarah organisasi, tetapi juga jutaan cerita tentang manusia yang pernah merasakan kasih Tuhan melalui kehadiran gereja.

Miskin di Lumbung

Bagaimana kalau seseorang mengambil semua uang di dompet Anda, lalu menyuruh Anda belajar hidup mandiri? Selamat datang di ekonomi desentralisasi versi kita.

Katanya daerah harus mandiri. Jangan terlalu bergantung kepada pemerintah pusat. Daerah harus kreatif mencari pendapatan sendiri, meningkatkan pelayanan publik, membangun infrastruktur, dan mengurus rakyatnya dengan anggaran yang sehat.

Masalahnya sederhana: kalau sumber uangnya dibawa pergi, mandirinya pakai apa?

Tambang ada di daerah, tetapi pengelolaannya bisa ditentukan dari jauh. Gas keluar dari perut bumi daerah, tetapi sebagian besar keputusan dan manfaat ekonominya berputar di tingkat nasional. Lautnya luas, ikannya banyak, mineralnya melimpah, tetapi ketika pemerintah daerah mulai menghitung potensi pendapatannya, tiba-tiba muncul kalimat sakti: efisiensi.

Efisiensi memang kata yang indah. Dengan kata “efisiensi”, anggaran bisa dipotong. Dengan “efisiensi”, kewenangan bisa dirapikan. Dengan “efisiensi”, kantor-kantor bisa diminta berhemat. Bahkan mungkin suatu hari rakyat diminta efisien dalam mengeluh: cukup mengeluh satu kali setahun agar tidak boros energi. Tetapi ada pertanyaan yang agak mengganggu: efisiensi untuk siapa?

Kita sering memperlakukan negara seperti keluarga besar. Kalau satu rumah tangga punya lima anak dan satu anak memegang semua uang, kemudian empat anak lainnya disuruh mandiri, itu bukan pendidikan kemandirian. Itu namanya distribusi uang saku yang sangat kreatif.

Daerah akhirnya berada dalam posisi yang aneh. Mereka diminta membangun jalan, menyediakan pelayanan kesehatan, memperbaiki sekolah, mengurus sampah, mengembangkan ekonomi lokal, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tetapi ketika berbicara tentang sumber daya ekonomi terbesar, daerah sering hanya kebagian peran sebagai lokasi geografis.

Tanahnya di daerah. Tambangnya di daerah. Pelabuhannya di daerah. Lautnya di daerah. Tetapi uangnya bisa berjalan jauh sekali.

Ironisnya, ketika daerah kekurangan anggaran, mereka kembali diminta kreatif. Seolah-olah kreativitas adalah mesin ATM yang belum ditemukan pemerintah daerah.

Ini adalah eksperimen sosial yang luar biasa. Pusat bertindak seperti magnet raksasa yang menyedot segala hal bernilai ekonomis, lalu melemparkan buku panduan Cara Menjadi Wirausaha Sukses Tanpa Modal ke muka pemerintah daerah. "Ayo, bikin inovasi! Naikkan PAD! Jangan cuma bergantung pada APBN!" seru para pejabat pusat dari balik meja jati mereka yang berkilau.

Tentu pemerintah pusat memiliki alasan: pemerataan nasional, stabilitas fiskal, efisiensi birokrasi, kepentingan strategis, dan sebagainya. Semua itu masuk akal. Negara memang membutuhkan kebijakan nasional. Tetapi sentralisasi tidak otomatis menjadi efisiensi, sebagaimana desentralisasi tidak otomatis menjadi pemborosan.

Yang perlu dipertanyakan bukan sekadar siapa yang memegang uang, melainkan siapa yang menanggung akibat ketika uang itu pergi.

Sebab ketika sebuah tambang dibuka, daerah menerima bukan hanya royalti dan angka statistik. Daerah juga menghadapi jalan rusak, perubahan lingkungan, tekanan sosial, urbanisasi, kebutuhan layanan publik, dan berbagai konsekuensi ekonomi lainnya.

Kalau keuntungan menjadi urusan nasional sementara bebannya menjadi urusan lokal, kita sedang membangun sebuah sistem yang sangat efisien—efisien dalam memindahkan keuntungan ke atas dan tanggung jawab ke bawah.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengatakan kepada daerah, “Jadilah mandiri.” Pertanyaan yang lebih jujur adalah: “Apakah kita sudah memberikan daerah cukup alasan, kewenangan, dan sumber daya untuk benar-benar mandiri?”

Sebab menyuruh orang mandiri setelah mengambil sumber penghidupannya bukanlah filosofi pembangunan. Itu hanya cara yang sopan untuk mengatakan: “Uangnya kami bawa. Kamu urus sendiri sisanya.”

Jika pola ini terus berlanjut, jangan kaget kalau suatu hari nanti daerah-daerah akan belajar cara paling efisien untuk membalasnya. Lagipula, bukankah pusat juga harus belajar mandiri?