Elite Tak Habis Masalah, Rakyat Tak Kunjung Sejahtera.
Sampai kapan rakyat harus menunggu hidupnya membaik, sementara para elite tidak pernah kehabisan masalah untuk dipertengkarkan?
Rakyat punya masalah sederhana: mencari pekerjaan, membayar cicilan, membeli beras, membayar listrik, dan memastikan uang belanja cukup sampai akhir bulan. Sementara itu, para elite punya masalah yang jauh lebih rumit: masalah yang belum selesai melahirkan masalah baru, yang kemudian membutuhkan rapat, klarifikasi, konferensi pers, dan tentu saja pernyataan bahwa semuanya sedang ditangani.
Belum selesai satu kegaduhan, muncul kegaduhan berikutnya. Belum tuntas satu kontroversi, datang kontroversi baru. Seolah-olah negeri ini sedang mengikuti serial televisi yang tidak pernah tamat, hanya berganti judul setiap minggu.
Rakyat tentu berharap pemerintah punya cukup waktu untuk mengurus pekerjaan, harga kebutuhan pokok, pendidikan, dab kesehatan. Tetapi tampaknya perhatian elite sedang tersita oleh urusan yang lebih mendesak: siapa salah, siapa benar, siapa tersinggung, siapa harus meminta maaf, dan siapa yang harus diselamatkan dari pernyataannya sendiri.
Di tengah semua itu, rakyat tetap menjadi penonton setia. Bedanya, mereka tidak membeli tiket. Mereka membayar pajak.
Yang menarik, setiap kali muncul persoalan baru, selalu ada pejabat yang tampil dengan wajah serius dan kalimat optimistis. Katanya, pemerintah tidak tinggal diam. Benar juga. Mereka memang tidak diam. Mereka bicara, berdebat, membantah, menjelaskan, dan sesekali saling menyalahkan.
Sayangnya, harga kebutuhan pokok tidak bisa turun hanya karena konferensi pers. Pengangguran tidak bisa berkurang karena debat politik. Dan perut rakyat tidak bisa kenyang dengan janji bahwa persoalan sedang dalam proses penyelesaian.
Mungkin kita perlu mengingatkan para elite bahwa jabatan bukanlah hadiah untuk menikmati kekuasaan, melainkan tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Sebab, kalau masalah elite tidak pernah selesai, kapan masalah rakyat akan mendapat giliran?
Atau jangan-jangan, dalam kalender politik kita, kesejahteraan rakyat memang dijadwalkan belakangan—setelah semua elite selesai mengurus diri sendiri?
Rakyat tidak membutuhkan lebih banyak drama. Rakyat membutuhkan kehidupan yang lebih baik. Dan kalau para elite terlalu sibuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, jangan heran kalau suatu hari rakyat mulai bertanya: sebenarnya siapa yang sedang dilayani di negeri ini?


