Eh, tiba-tiba sang sutradara politik mengganti naskah di tengah jalan. Masuklah isu baru yang jauh lebih krusial bagi masa depan bangsa: polemik ijazah.
Seketika itu juga, dolar yang kemarin dipamerkan di layar kaca mendadak menguap, emas batangan berubah wujud jadi kerupuk kaleng, dan kasus korupsi triliunan rupiah sebelumnya langsung masuk ke dalam kotak arsip berlabel "Harap Dilupakan".
Hebat benar kemampuan magis para elit kita. Masalah riil yang menggerogoti lambung rakyat setiap hari—mulai dari harga beras dan cabai yang terus naik, daya beli yang menciut mirip kulit jeruk purut, hingga lapangan kerja yang lebih langka dicari daripada kejujuran seorang calo—mendadak dianggap angin lalu.
Bagaimana rakyat bisa memikirkan perut yang keroncongan, jika para pemikir di senayan sedang sibuk memperdebatkan apakah tinta ijazah tahun 80-an dulu pakai merek Pelikan atau Standard? Apakah Certivicate (luar negeri) sama dengan Sertifikat (Indonesia)? Rakyat seolah disuruh memilih: mau mati kelaparan karena harga kebutuhan pokok naik, atau mati kebingungan karena Ijazah vs Certivicate?
Mungkin ke depan, pemerintah tidak perlu lagi repot-repot membuat program pengentasan kemiskinan atau membuka lapangan kerja baru. Cukup dirikan satu kementerian baru saja: Kementerian Pengalihan Isu dan Sulap Ingatan. Dijamin, rakyat bakal lupa kalau mereka sebenarnya sedang lapar.
Bagaimana menurut Anda? Apakah dompet Anda sudah ikut hilang ingatan juga?


