Kamis, 19 Februari 2026

Langit

Pernahkah Anda menatap langit cukup lama sampai sadar bahwa ia tak pernah mengulang dirinya sendiri?

Kita sering menganggap langit sebagai latar belakang—sekadar atap biru yang pasrah dipandangi. Padahal ia aktor utama yang tak pernah tampil dua kali dengan kostum yang sama. Pagi ini cerah dan jinak, sore nanti bisa murung dan gelap. Ia berubah tanpa minta izin, tanpa perlu persetujuan.

Dan mungkin, di situlah pelajaran pertamanya: yang paling luas justru tak bisa diatur.

Manusia modern punya obsesi yang sama: mengontrol. Kita ingin cuaca hati stabil, karier menanjak linear, relasi tanpa badai. Kita mengatur jadwal, target, bahkan perasaan. Seolah hidup bisa diprogram seperti aplikasi. Tapi langit tertawa pelan—ia berubah tanpa notifikasi.

Langit tidak pernah sama setiap hari. Dan kita pun sebenarnya demikian. Hanya saja, kita sering memaksa diri untuk konsisten dalam citra. Kita ingin terlihat kuat setiap waktu, bahagia setiap unggahan, sukses setiap tahun. Padahal seperti langit, kita punya musim.

Masalahnya, kita menganggap perubahan sebagai ancaman. Awan gelap membuat panik. Padahal tanpa mendung, kita tak pernah mengenal pelangi. Tanpa malam, kita tak tahu arti cahaya. Langit mengajarkan bahwa perubahan bukan kerusakan; ia bagian dari ritme.

Secara filosofis, langit adalah metafora kebebasan. Ia tak bisa disuruh selalu biru. Ia tak tunduk pada ekspektasi. Ia tidak berusaha menyenangkan siapa pun. Ia hanya menjadi dirinya—bergerak mengikuti hukum yang lebih besar dari keinginan manusia.

Betapa ironisnya: kita hidup di bawah langit setiap hari, tapi jarang belajar darinya.

Mungkin hidup memang tak pernah dimaksudkan untuk selalu cerah. Mungkin kita tak perlu panik saat mendung datang. Sebab yang tak bisa diatur bukan berarti tak bisa dipahami. Ia hanya mengajak kita berdamai dengan ketidakpastian.

Langit tidak pernah sama setiap hari—dan itu bukan masalah. Justru di sanalah keindahannya. Sebab jika ia selalu biru, kita akan berhenti menengadah.

Dan mungkin, sesekali kita memang perlu menengadah—bukan untuk meminta langit berubah, tetapi untuk mengingat bahwa perubahan adalah bagian paling jujur dari kehidupan.

Sabtu, 14 Februari 2026

Valentine Day

Mengapa kita butuh satu hari khusus untuk mengingat bahwa kita bisa mencintai?

Setiap 14 Februari, etalase berubah menjadi panggung perasaan. Bunga dirangkai, cokelat dibungkus rapi, kata-kata manis diproduksi massal. Valentine menjadi semacam festival resmi bagi cinta romantis—lengkap dengan standar visualnya: pasangan, senyum, makan malam, dan foto yang layak diunggah.

Namun di balik perayaan itu, ada pertanyaan kecil yang sering terlewat: apakah cinta hanya sah jika ia berpasangan?

Kita cenderung menyederhanakan cinta menjadi satu bentuk—romantis, eksklusif, dua orang saling memiliki. Padahal cinta jauh lebih luas dan lebih rumit dari itu. Ada cinta yang tak memerlukan lilin makan malam: cinta orang tua yang bangun paling pagi, cinta sahabat yang setia mendengar, cinta pada pekerjaan yang ditekuni diam-diam, bahkan cinta pada diri sendiri yang belajar memaafkan.

Valentine sering membuat cinta tampak seperti pencapaian. Jika Anda punya pasangan, Anda dianggap “lengkap”. Jika tidak, Anda dianggap menunggu. Di sinilah romantisme berubah menjadi tekanan sosial. Kita lupa bahwa kesendirian bukan kekurangan, dan relasi bukan jaminan kebahagiaan.

Cinta bukan sekadar rasa, melainkan sikap. Ia adalah keputusan untuk peduli, untuk hadir, untuk mengutamakan kebaikan orang lain tanpa kehilangan diri sendiri. Cinta bukan hanya “aku dan kamu”, tetapi juga “aku dan dunia”.

Ironisnya, di tengah kampanye “love is in the air”, banyak orang justru merasa terasing. Mereka yang patah hati merasa diingatkan. Mereka yang sendiri merasa disisihkan. Padahal jika setiap bentuk cinta layak dirayakan, maka tak ada yang seharusnya merasa di luar perayaan.

Barangkali Valentine bukan soal pasangan, melainkan momentum untuk bertanya: sudahkah kita mencintai dengan cukup luas? Sudahkah kita merawat persahabatan, menghargai keluarga, berdamai dengan diri sendiri?

Cinta tidak pernah tunggal. Ia tidak hanya hadir dalam pelukan, tetapi juga dalam perhatian kecil yang tak diabadikan. Ia tidak selalu dramatis, tetapi sering kali sederhana.

Dan mungkin, perayaan terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling romantis, melainkan yang paling tulus. Karena pada akhirnya, dunia ini bertahan bukan hanya karena cinta sepasang kekasih, melainkan karena jutaan bentuk cinta lain yang bekerja diam-diam setiap hari.

Memang pada akhirnya, setiap bentuk cinta layak dirayakan. Bukan karena tanggalnya, tetapi karena tanpanya, dunia ini benar-benar kehilangan denyutnya.

Senin, 02 Februari 2026

Kekuasaan dan Keadilan

Kekuasaan selalu datang lebih dulu. Keadilan biasanya menyusul—itu pun jika tidak tersesat di jalan. Sejak awal sejarah, manusia tampaknya lebih piawai merebut kuasa ketimbang merawat keadilan. Yang pertama menjanjikan hasil cepat; yang kedua menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk membatasi diri. Tiga hal yang jarang disukai oleh mereka yang sedang berkuasa.

Pertanyaannya terdengar sederhana, nyaris naif: mungkinkah kekuasaan dan keadilan hidup berdampingan? Atau memang takdir keduanya adalah hubungan yang selalu tegang—seperti dua orang yang tinggal serumah tapi saling curiga?

Kekuasaan, pada dasarnya, adalah kemampuan memaksakan kehendak. Ia bekerja lewat aturan, ancaman, imbalan, dan kadang senjata. Keadilan sebaliknya: ia menuntut pengekangan. Ia meminta agar kekuasaan tidak digunakan semaunya, agar yang kuat menahan diri, agar yang lemah tidak dilindas. Dalam arti ini, keadilan adalah musuh alami kekuasaan yang tak terkendali.

Maka tidak heran jika kekuasaan sering mengklaim dirinya adil—tanpa benar-benar menjadi adil. Penguasa jarang berkata, “Saya berkuasa demi kepentingan saya sendiri.” Mereka lebih suka mengatakan, “Ini demi stabilitas,” atau “demi keamanan,” atau “demi rakyat.” Keadilan dijadikan kata hiasan, semacam bunga plastik di ruang kekuasaan: terlihat indah, tapi tidak hidup.

Di ruang pengadilan, kita sering menyaksikan drama yang sama. Hukum berdiri tegak, bersuara lantang, dan tampak netral. Namun di baliknya, relasi kuasa bekerja diam-diam. Siapa yang punya akses ke pengacara mahal? Siapa yang suaranya didengar media? Siapa yang bisa menunda proses, menekan saksi, atau menafsirkan aturan? Keadilan, yang seharusnya buta, justru sering kali tajam memilih siapa yang akan ia lihat dengan jelas.

Keadilan jarang kalah telak. Ia lebih sering kalah halus.

Kekuasaan tidak selalu jahat. Itu juga mitos yang terlalu mudah. Tanpa kekuasaan, hukum hanyalah kalimat di atas kertas. Tanpa kewenangan, keadilan tidak punya gigi. Masalahnya bukan pada keberadaan kekuasaan, melainkan pada siapa yang mengawasinya dan sejauh mana ia mau diawasi.

Di sinilah paradoksnya: agar keadilan hidup, kekuasaan harus bersedia dibatasi. Tapi justru ketika seseorang atau sebuah institusi mencapai puncak kuasa, godaan terbesar adalah menyingkirkan batas. Sejarah penuh dengan contoh ketika hukum diubah agar sesuai dengan kepentingan penguasa, bukan sebaliknya. Keadilan dipelintir, bukan dilanggar terang-terangan—karena pelintiran jauh lebih aman dari kritik.

Apakah mungkin keduanya berdampingan? Mungkin. Tapi bukan sebagai sahabat karib. Lebih tepat sebagai dua tetangga yang terus saling mengawasi. Keadilan membutuhkan kekuasaan agar bisa bekerja; kekuasaan membutuhkan keadilan agar tidak berubah menjadi tirani. Hubungan mereka bukan romantis, melainkan fungsional—dan selalu rapuh.

Masyarakat sering berharap terlalu besar pada figur kuat yang “adil”. Padahal keadilan yang bergantung pada kebaikan hati penguasa adalah keadilan yang rapuh. Hari ini ia adil, besok bisa berubah. Keadilan yang tahan lama justru lahir dari sistem yang memungkinkan penguasa salah, dikritik, dan dikoreksi—tanpa harus tumbang dalam kekerasan.

Barangkali kita perlu berhenti bertanya, “Apakah penguasa ini adil?” dan mulai bertanya, “Apa yang terjadi jika penguasa ini tidak adil?” Pertanyaan kedua lebih jujur, karena mengakui sifat manusia yang mudah tergoda kuasa.

Kekuasaan dan keadilan bisa hidup berdampingan, tapi hanya jika jarak di antara mereka dijaga. Terlalu dekat, keadilan akan dipeluk sampai kehabisan napas. Terlalu jauh, kekuasaan akan berjalan tanpa arah moral. Di antara keduanya, diperlukan institusi, kritik publik, pers yang bebas, dan warga yang tidak malas berpikir.

Pada akhirnya, keadilan bukanlah hadiah dari kekuasaan. Ia adalah tuntutan terhadap kekuasaan. Dan selama tuntutan itu terus disuarakan—meski pelan, meski sering diabaikan—harapan akan keadilan belum sepenuhnya padam.
Mungkin itulah satu-satunya cara agar keduanya tetap satu atap: bukan dengan saling percaya, melainkan dengan saling membatasi.