Dalam Sapiens, Yuval Noah Harari menelanjangi sejarah kita bukan sebagai deretan pahlawan, melainkan sebagai rentetan kebetulan biologi dan kekuatan imajinasi.
Bayangkan, 150.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita itu bukan siapa-siapa. Di sabana Afrika, kita hanyalah makhluk rapuh yang kerjaannya ketakutan setengah mati pada singa, memungut sisa-sisa sumsum tulang yang ditinggalkan oleh hewan pemburu sejati, dan tidak punya kontribusi apa pun bagi ekosistem selain menjadi camilan macan purba.
Lalu, bum! Terjadilah apa yang disebut Harari sebagai Revolusi Kognitif.
Kekuatan super kita bukanlah otot yang kekar atau taring yang tajam, melainkan kemampuan untuk bergosip. Ya, Anda tidak salah baca. Kita adalah satu-satunya spesies yang bisa berkumpul dalam jumlah ribuan hanya karena kita memercayai "mitos bersama". Singa tidak bisa Anda ajak bekerja sama dengan janji bahwa jika mereka tidak memakan Anda, mereka akan masuk surga singa yang penuh dengan daging rusa. Tapi manusia? Kita bisa menciptakan agama, negara, korporasi, hingga konsep "Hak Asasi Manusia"—yang semuanya, menurut Harari, sebenarnya hanya ada di dalam kepala kita. Kita adalah spesies yang menguasai dunia lewat fiksi ilmiah yang kita karang sendiri.
Yang paling provokatif di buku ini adalah ketika Harari membongkar kedok Revolusi Pertanian. Selama ini, guru sejarah kita di sekolah selalu membual bahwa momen ketika manusia berhenti berburu dan mulai bercocok tanam adalah lompatan besar menuju kesejahteraan.
Bullshit, kata Harari dengan gaya akademis yang halus.
Yang terjadi justru sebaliknya: Gandum yang menjinakkan manusia, bukan manusia yang menjinakkan gandum. Sebelum ada pertanian, manusia purba itu hidup santai. Mereka berburu beberapa jam, makan makanan bervariasi, lalu sisa harinya dipakai untuk bersosialisasi dan bersenang-senang. Begitu gandum datang, manusia mendadak jadi budak tanah. Kita harus mencangkul dari subuh sampai malam, encok, memikirkan irigasi, dan cemas setengah mati kalau hujan tidak turun.
Lalu apa hadiahnya? Populasi meledak, penyakit menular bermunculan, dan lahirnya sistem kelas di mana ada segelintir orang yang duduk di singgasana emas sementara sisanya mati kelaparan di ladang gandum. Jadi, jika hari ini Anda stres memikirkan cicilan rumah, salahkan gandum.
Kita, si kera yang dulunya penakut, sekarang sudah bertransformasi menjadi "Tuhan". Kita bisa merekayasa genetika, menciptakan kecerdasan buatan, dan mengubah lanskap planet ini sesuka hati.
Namun, ironinya, kita adalah Tuhan yang sangat tidak bertanggung jawab. Kita memusnahkan mamut, membantai Neanderthal (sepupu kita sendiri yang lebih kekar tapi kurang jago bergosip), merusak atmosfer, dan mengurung miliaran ayam di peternakan industri demi kepuasan lidah kita.
Kita bergerak dari sabana menuju laboratorium ruang angkasa, tetapi kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Kita mengumpulkan kenyamanan, tapi tidak pernah benar-benar mendapatkan kebahagiaan.
Jadi, setelah menutup halaman terakhir Sapiens, saya melihat kucing peliharaan saya yang sedang tidur siang dengan pulas di atas sofa. Dia tidak perlu tahu tentang inflasi, tidak peduli dengan batas negara, dan tidak stres memikirkan eksistensialisme. Pada titik itu, saya mendadak ragu: dalam bagan evolusi ini, sebenarnya siapa yang lebih cerdas? Kita, atau mereka yang berhasil membuat kita memberi mereka makan gratis setiap hari?


