Ia digambarkan sederhana: suka menjadi yang terkemuka. Menolak otoritas rasuli. Menjelek-jelekkan orang lain. Bahkan menghalangi mereka yang ingin berbuat baik. Sebuah daftar yang, kalau jujur, terasa lebih kontemporer daripada kuno.
Diotrefes bukan penjahat besar. Ia tidak memimpin pemberontakan, tidak menulis ajaran sesat yang spektakuler. Ia hanya melakukan satu hal—yang diam-diam berbahaya: menjadikan posisi sebagai panggung, bukan pelayanan.
Dan mungkin di situlah masalahnya.
Kita sering membayangkan dosa sebagai sesuatu yang dramatis. Padahal, sering kali ia hadir dalam bentuk yang sangat “normal”: ingin dihormati, ingin diakui, ingin didengar lebih dari yang lain. Sesuatu yang tampak manusiawi—sampai ia mulai menguasai.
Diotrefes mengingatkan bahwa gereja pun tidak kebal dari penyakit itu. Bahwa struktur rohani bisa berubah jadi struktur kekuasaan. Bahwa lidah yang seharusnya memberkati bisa dipakai untuk menjatuhkan—dengan alasan yang terdengar saleh.
Dan yang lebih mengganggu: semua itu bisa terjadi sambil tetap terlihat “rohani.”
Ia tidak menolak Tuhan secara terang-terangan. Ia hanya menolak orang lain—dan itu cukup.
Di zaman sekarang, kita mungkin tidak menyebut diri “Diotrefes.” Kita punya istilah yang lebih halus: pemimpin, pelayan, influencer rohani. Tapi pertanyaannya tetap sama: apakah kita membangun orang lain, atau justru menyaring siapa yang boleh berdiri di dekat kita?
Ada godaan halus dalam setiap bentuk kepemimpinan: untuk mengontrol, untuk menentukan siapa yang layak, untuk merasa bahwa tanpa kita, segalanya tidak berjalan. Dan dari sana, pelayanan berubah jadi kepemilikan.
Diotrefes mungkin tidak sadar bahwa ia sedang menjadi masalah. Itulah yang membuatnya berbahaya. Karena dosa yang paling sulit dilawan adalah yang terasa benar.
Maka ayat itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia seperti cermin kecil—yang memantulkan sesuatu yang kita lebih suka tidak lihat.
Dan mungkin, yang paling perlu kita takutkan bukanlah Diotrefes di luar sana.
Melainkan kemungkinan bahwa, dalam situasi tertentu, kita bisa menjadi dia—tanpa pernah menyadarinya.


