"Katanya kita tinggal selangkah lagi menjadi negara maju. Masalahnya, setiap kali melangkah, garis finisnya ikut bergeser."
Frasa on the brink of a developed country terdengar sangat menjanjikan. Seperti seseorang yang berkata, "Tunggu aku, sebentar lagi sukses." Kalimat itu indah. Sayangnya, "sebentar lagi" kadang bisa lebih panjang dari jarak ke matahari. Bisa seminggu, bisa sepuluh tahun, bahkan bisa terus menjadi alasan sampai kita lupa kapan pernah benar-benar tiba.
Kita sudah bertahun-tahun hidup di tepi. Di tepi status negara maju. Di tepi pertumbuhan ekonomi. Di tepi optimisme. Bahkan belakangan, lebih sering di tepi dompet.
Rupiah melemah. Harga kebutuhan pokok naik seperti balon yang lupa membawa tali. Daya beli masyarakat turun pelan-pelan, bukan karena rakyat mendadak hemat, tetapi karena isi dompet lebih dulu mengundurkan diri.
Lucunya, setiap kali ekonomi batuk, pidato-pidato resmi selalu terdengar sehat.
Katanya fundamental ekonomi kuat.
Mungkin benar. Yang tidak kuat adalah fundamen dapur.
Di meja makan, istilah "pertumbuhan ekonomi" diterjemahkan menjadi pertanyaan sederhana: "Besok masih bisa beli minyak goreng?"
Angka-angka makro memang sering tampak gagah. Grafik naik. Indeks membaik. Investor tersenyum. Tetapi ibu rumah tangga tidak pernah memasak grafik. Pedagang pasar tidak menerima pembayaran dengan indeks. Dan anak sekolah tidak bisa sarapan menggunakan optimisme.
Ekonomi memiliki satu kebiasaan buruk: ia sering dipotret dari langit, padahal rakyat menjalaninya dari trotoar.
Yang menarik, kita sangat pandai menciptakan slogan.
Indonesia Emas.
Lompatan besar.
Transformasi.
Negara maju.
Slogan memang penting. Tetapi slogan tidak pernah membuat harga cabai turun. Ia hanya membuat spanduk bertambah.
Di negeri kita, kadang humor bahkan kalah lucu dibanding kenyataan.
Bayangkan. Nilai tukar rupiah melemah, tetapi semangat kita diminta tetap menguat. Harga-harga naik, tetapi masyarakat diminta tetap optimistis. Daya beli turun, masyarakat disuruh bijak dalam berbelanja. Kita menjadi bangsa yang ahli membedakan antara "ingin membeli" dan "mampu membeli".
Inilah zaman ketika keranjang belanja digital selalu penuh, tetapi tombol checkout menjadi barang mewah.
Mungkin itulah definisi baru kelas menengah: sanggup memasukkan barang ke keranjang, tetapi tidak sanggup membayar semuanya.
Negara berkembang selalu sibuk mengejar predikat negara maju. Seolah-olah kebahagiaan berada tepat di balik papan nama itu. Padahal sejarah menunjukkan, banyak negara maju tetap bergulat dengan kesepian, ketimpangan, dan kecemasan.
Pertanyaannya bukan sekadar kapan kita menjadi negara maju.
Pertanyaannya adalah: siapa yang benar-benar ikut maju?
Kalau gedung-gedung semakin tinggi tetapi harapan rakyat semakin rendah, apakah itu kemajuan? Kalau statistik semakin indah tetapi meja makan semakin sederhana, apakah itu keberhasilan? Kalau kita terus berdiri on the brink, jangan-jangan yang kita bangun bukan jembatan menuju kemakmuran, melainkan balkon tempat rakyat diminta menikmati pemandangan sambil menunggu janji berikutnya.
Pada akhirnya, sebuah negara tidak menjadi maju ketika berhasil mencetak slogan yang indah. Negara menjadi maju ketika rakyatnya tidak lagi cemas membuka dompet di pasar, tidak takut melihat harga kebutuhan pokok setiap pagi, dan tidak perlu menghitung ulang mimpi hanya karena nilai rupiah kembali melemah.
Karena kemajuan sejati bukanlah soal berdiri di bibir jurang bernama developed country.
Kemajuan sejati adalah ketika rakyat tidak lagi hidup di bibir kekhawatiran.


