Kamis, 17 September 2026

Tuhan Hanya Konsep?

Pernahkah Anda bertanya-tanya, saat sedang terjebak macet total atau saat saldo ATM menunjukkan angka yang menghina akal sehat, apakah Tuhan sedang sibuk mengurus galaksi lain, atau Beliau sebenarnya hanyalah sebuah ide cemerlang yang kita ciptakan agar kita tidak merasa sendirian di alam semesta yang dingin ini?


Jika Anda mulai merasa bahwa doa-doa Anda lebih mirip seperti mengirim email ke alamat yang sudah non-aktif, selamat: Anda sedang memasuki lorong filosofis paling berdebu di dunia.


Di zaman sekarang, kita telah mengubah Tuhan menjadi sesuatu yang sangat praktis—semacam asisten pribadi digital yang hanya kita panggil saat butuh bantuan untuk menemukan kunci motor atau lulus ujian CPNS. Jika permintaan kita dikabulkan, kita sebut itu "Mujizat." Jika tidak, kita sebut itu "Konsep yang Belum Kita Pahami."


Kita menciptakan Tuhan sesuai selera kita masing-masing. Ada Tuhan versi "Hakim Galak" bagi mereka yang hobi menghakimi baju tetangga, dan ada Tuhan versi "Sahabat Curhat" bagi mereka yang butuh sandaran setelah putus cinta. Kita memperlakukan Tuhan seperti aplikasi smartphone: kita jarang membaca "Syarat dan Ketentuan"-Nya, tapi kita marah-marah kalau aplikasinya crash saat kita sedang sangat membutuhkannya.


Jika Tuhan hanyalah sebuah konsep, maka manusia adalah pemasar (marketer) paling sukses sepanjang sejarah. Kita menciptakan konsep ini untuk memberi makna pada penderitaan. Mengapa? Karena mengakui bahwa kemalangan kita terjadi karena murni kebodohan kita sendiri itu terlalu menyakitkan. Lebih mudah mengatakan, "Ini adalah ujian dari Yang Di Atas," daripada mengakui, "Saya terlalu banyak jajan padahal belum gajian."


Kita memproyeksikan sifat-sifat manusiawi kita ke langit. Kita pikir Tuhan punya rasa marah, rasa bangga, atau bahkan butuh disanjung setiap saat. Pertanyaannya: Apakah kita menyembah Pencipta, atau kita sebenarnya hanya menyembah pantulan diri kita sendiri di cermin yang sangat besar dan bercahaya?


Filsuf-filsuf besar sering bilang bahwa jika Tuhan tidak ada, manusia perlu menemukannya. Dan kita melakukannya dengan sangat baik. Kita menulis buku-buku tebal, membangun gedung-gedung megah, dan saling berperang hanya untuk membela "konsep" mana yang paling benar.


Ini adalah ironi kosmik yang luar biasa: Kita bersedia mati demi sebuah konsep yang seharusnya mengajarkan kita cara untuk hidup. Kita begitu sibuk memperdebatkan apakah Tuhan itu "Ada" secara zat atau hanya "Ada" secara ide, sampai-sampai kita lupa menjadi manusia yang baik bagi sesama manusia yang jelas-jelas "Ada" di depan mata kita.


Jadi, apakah Tuhan hanya sebuah konsep? Mungkin. Tapi jika memang benar begitu, maka itu adalah konsep paling berpengaruh yang pernah ada. Ia adalah "penulis bayangan" (ghostwriter) dari hampir semua peradaban kita. Tanpa konsep itu, mungkin kita semua sudah gila karena harus memikul beban tanggung jawab moral sendirian di pundak kita yang rapuh.


Jika besok pagi dipastikan bahwa Tuhan memang "hanya" sebuah konsep abstrak, apakah Anda akan tetap menjadi orang baik? Ataukah moralitas Anda sebenarnya hanya didorong oleh rasa takut pada "Polisi Langit" dan harapan akan "Bonus Surga"?


Silakan direnungkan sambil minum kopi. Tapi hati-hati, jangan sampai Anda mulai meragukan keberadaan kopi tersebut hanya karena Anda belum melihat pabriknya.


Selasa, 18 Agustus 2026

On the Brink

"Katanya kita tinggal selangkah lagi menjadi negara maju. Masalahnya, setiap kali melangkah, garis finisnya ikut bergeser."

Frasa on the brink of a developed country terdengar sangat menjanjikan. Seperti seseorang yang berkata, "Tunggu aku, sebentar lagi sukses." Kalimat itu indah. Sayangnya, "sebentar lagi" kadang bisa lebih panjang dari jarak ke matahari. Bisa seminggu, bisa sepuluh tahun, bahkan bisa terus menjadi alasan sampai kita lupa kapan pernah benar-benar tiba.

Kita sudah bertahun-tahun hidup di tepi. Di tepi status negara maju. Di tepi pertumbuhan ekonomi. Di tepi optimisme. Bahkan belakangan, lebih sering di tepi dompet.

Rupiah melemah. Harga kebutuhan pokok naik seperti balon yang lupa membawa tali. Daya beli masyarakat turun pelan-pelan, bukan karena rakyat mendadak hemat, tetapi karena isi dompet lebih dulu mengundurkan diri.

Lucunya, setiap kali ekonomi batuk, pidato-pidato resmi selalu terdengar sehat.

Katanya fundamental ekonomi kuat.

Mungkin benar. Yang tidak kuat adalah fundamen dapur.

Di meja makan, istilah "pertumbuhan ekonomi" diterjemahkan menjadi pertanyaan sederhana: "Besok masih bisa beli minyak goreng?"

Angka-angka makro memang sering tampak gagah. Grafik naik. Indeks membaik. Investor tersenyum. Tetapi ibu rumah tangga tidak pernah memasak grafik. Pedagang pasar tidak menerima pembayaran dengan indeks. Dan anak sekolah tidak bisa sarapan menggunakan optimisme.

Ekonomi memiliki satu kebiasaan buruk: ia sering dipotret dari langit, padahal rakyat menjalaninya dari trotoar.

Yang menarik, kita sangat pandai menciptakan slogan.

Indonesia Emas.

Lompatan besar.

Transformasi.

Negara maju.

Slogan memang penting. Tetapi slogan tidak pernah membuat harga cabai turun. Ia hanya membuat spanduk bertambah.

Di negeri kita, kadang humor bahkan kalah lucu dibanding kenyataan.

Bayangkan. Nilai tukar rupiah melemah, tetapi semangat kita diminta tetap menguat. Harga-harga naik, tetapi masyarakat diminta tetap optimistis. Daya beli turun, masyarakat disuruh bijak dalam berbelanja. Kita menjadi bangsa yang ahli membedakan antara "ingin membeli" dan "mampu membeli".

Inilah zaman ketika keranjang belanja digital selalu penuh, tetapi tombol checkout menjadi barang mewah.

Mungkin itulah definisi baru kelas menengah: sanggup memasukkan barang ke keranjang, tetapi tidak sanggup membayar semuanya.

Negara berkembang selalu sibuk mengejar predikat negara maju. Seolah-olah kebahagiaan berada tepat di balik papan nama itu. Padahal sejarah menunjukkan, banyak negara maju tetap bergulat dengan kesepian, ketimpangan, dan kecemasan.

Pertanyaannya bukan sekadar kapan kita menjadi negara maju.

Pertanyaannya adalah: siapa yang benar-benar ikut maju?

Kalau gedung-gedung semakin tinggi tetapi harapan rakyat semakin rendah, apakah itu kemajuan? Kalau statistik semakin indah tetapi meja makan semakin sederhana, apakah itu keberhasilan? Kalau kita terus berdiri on the brink, jangan-jangan yang kita bangun bukan jembatan menuju kemakmuran, melainkan balkon tempat rakyat diminta menikmati pemandangan sambil menunggu janji berikutnya.

Pada akhirnya, sebuah negara tidak menjadi maju ketika berhasil mencetak slogan yang indah. Negara menjadi maju ketika rakyatnya tidak lagi cemas membuka dompet di pasar, tidak takut melihat harga kebutuhan pokok setiap pagi, dan tidak perlu menghitung ulang mimpi hanya karena nilai rupiah kembali melemah.

Karena kemajuan sejati bukanlah soal berdiri di bibir jurang bernama developed country.

Kemajuan sejati adalah ketika rakyat tidak lagi hidup di bibir kekhawatiran.

Rabu, 27 Mei 2026

Belakangan ini, grafik Rupiah kita terlihat seperti wahana roller coaster di Dufan—bedanya, yang ini turun terus dan tidak ada tanda-tanda mau naik lagi.

Di Jakarta, atmosfernya mirip ruang ICU. Semua mata tertuju pada monitor hijau-merah bernama kurs dolar. Di sudut ruangan, kita bisa melihat Bank Indonesia (BI) sedang berkeringat dingin, melakukan CPR finansial, menyuntikkan cadangan devisa, dan menahan beban berat bernama "intervensi pasar." Pertanyaannya: sampai kapan otot BI kuat menahan beban ini sebelum akhirnya terkena encok monetere? Kita semua berdoa agar BI tidak kehabisan napas. Sebab kalau BI pingsan, kita semua ikut masuk angin.

Namun, mari kita geser kamera kita sedikit menjauh dari gedung-gedung pencakar langit di Jalan MH Thamrin. Mari kita tengok Pak Kumis di Desa Sukamaju yang sedang asyik memandikan kerbaunya.

Ada sebuah mitos urban yang romantis di negeri ini: Orang desa tidak terpengaruh krisis global. Mereka punya sawah, punya ayam, punya singkong. Secara filosofis, orang desa dianggap telah mencapai tingkatan zen finansial yang tidak bisa disentuh oleh Jerome Powell atau kebijakan suku bunga The Fed. Konon, selama matahari masih terbit dan cacing masih ada di dalam tanah, ekonomi desa akan aman-aman saja.

Benarkah demikian? Wah, tunggu dulu.

Mari kita bedah mi instan yang dimakan Pak Kumis saat ronda malam. Terigu dari mana? Impor. Kedelai untuk tempe goreng yang menemani kopinya? Impor. Pupuk kimia untuk sawahnya? Sebagian bahan bakunya dibeli pakai dolar. Jadi, ketika Rupiah kehabisan darah di Jakarta, dampaknya merayap pelan tapi pasti seperti hantu di malam jumat, mengetuk pintu dapur rumah-rumah panggung di pelosok desa.

Kita harus jujur: globalisasi telah berhasil menjajah lambung kita hingga ke tingkat RT. Tidak ada lagi isolasi yang benar-benar murni.

Situasi ini memperlihatkan betapa lucunya hidup kita hari ini. Kita menciptakan sistem yang begitu rumit di mana nasib seorang petani di pelosok desa bisa ditentukan oleh keputusan beberapa pria berjas di Washington yang bahkan tidak tahu cara menanam padi. Angka-angka digital di layar komputer Wall Street mendikte apakah seorang anak desa di pelosok Sulawesi bisa membeli buku sekolah baru atau tidak.

Jadi, apa kabar orang desa? Mereka sebenarnya sedang terpengaruh, hanya saja mereka terlalu sibuk bekerja dan terlalu tabah untuk mengeluh di FB (atau Meta, apa pun namanya sekarang). Sementara orang kota sibuk panik di kedai kopi mahal sambil memesan iced latte seharga setengah gram emas, orang desa menghadapi pelemahan Rupiah dengan cara terbaik yang mereka tahu: terus mencangkul, tetap tersenyum, dan berharap keajaiban panen berikutnya.

Mari kita angkat gelas kopi kita—yang harganya mungkin naik besok pagi—untuk kekuatan otot Bank Indonesia. Dan untuk orang desa? Semoga ketabahan mereka tidak ikut melemah seperti mata uang kita. Sebab kalau pertahanan terakhir itu runtuh, singkong pun mungkin harus kita beli pakai mencicil.