Ini adalah pertanyaan yang membuat banyak sosiolog begadang semalaman, membuat para ekonom sakit mag, dan membuat masyarakat awam beralih ke obat sakit kepala dosis tinggi.
Jika Anda melihat berita utama setiap hari, Anda akan disuguhi sebuah tontonan komedi situasi tingkat tinggi. Di satu sisi, pemerintah selalu punya cetak biru ( blueprint ) yang tampak begitu megah. Kita punya visi menuju Indonesia Emas, swasembada pangan, digitalisasi birokrasi, hingga pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang estetik. Semuanya tampak rapi di atas kertas kerja PowerPoint yang penuh dengan grafik warna-warni berbau optimisme. Namun, begitu kita menengok ke luar jendela, realitasnya menyerupai arena sirkus yang kehilangan pawangnya.
Bayangkan skenario manajemen berikut: Sebuah kementerian sibuk meluncurkan aplikasi digital senilai miliaran rupiah untuk menyederhanakan pelayanan rakyat. Dua minggu kemudian, kementerian lain mendadak mengeluarkan aturan baru yang mewajibkan rakyat membawa fotokopi KTP rangkap tiga yang dilegalisir oleh RT/RW untuk mengakses aplikasi tersebut.
Secara komedi, ini seperti melihat seseorang yang sedang berusaha mengecat dinding rumahnya dengan kuas emas, sementara fondasi rumahnya sedang digerogoti oleh rayap-rayap korupsi secara massal. Kita melihat undang-undang direvisi secepat kilat di tengah malam, sementara urusan menurunkan harga minyak goreng membutuhkan waktu berbulan-bulan dan puluhan kali rapat koordinasi tingkat menteri.
Apakah semua kekacauan ini adalah sebuah ketidaksengajaan akibat kebodohan struktural, atau jangan-jangan ini adalah sebuah desain kehancuran yang terencana dengan sangat rapi?
Secara filosofis, batas antara "mengurus" dan "menghancurkan" di negeri ini memang setipis tisu yang dibagi dua. Ketika sebuah kebijakan dibuat bukan untuk menyelesaikan masalah rakyat, melainkan untuk menyenangkan hati para penyandang dana kampanye, maka proses "mengurus negara" sebenarnya telah berubah fungsi menjadi proses "mengurus kepentingan pribadi."
Negara tidak dihancurkan dengan bom atau invasi militer asing. Negara dihancurkan secara elegan dari dalam: lewat pembuatan aturan yang tumpang tindih, penempatan orang-orang tidak kompeten di posisi strategis demi balas budi politik, dan pembiasaan masyarakat untuk menganggap segala kegagalan sistem sebagai takdir yang harus diterima dengan ikhlas.
Ketika kritik dianggap sebagai tindakan makar dan humor satire dianggap sebagai pencemaran nama baik, kita tahu bahwa akal sehat telah resmi diasingkan dari koridor kekuasaan.
Jadi, berada di posisi manakah kita hari ini?
Secara optimistis-komis, mari kita anggap negeri ini memang sedang diurus. Hanya saja, para pengurusnya mungkin sedang membaca buku panduan manajemen dengan cara terbalik. Mereka berniat membangun jembatan, tapi yang jadi justru labirin tanpa jalan keluar.
Sebelum Anda membayar pajak atau tarif tol yang naik lagi bulan depan, silakan merenung sejenak di lampu merah yang durasinya tiga ratus detik: Apakah Anda sedang berpartisipasi dalam pembangunan sebuah bangsa, atau Anda sebenarnya sedang patungan membiayai sirkus kehancurannya sendiri?


