Kamis, 05 November 2026

Makanya, Mikir!

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa orang yang paling keras berteriak belum tentu paling benar, orang yang paling percaya diri belum tentu paling pintar, dan orang yang paling banyak bicara sering kali justru paling sedikit berpikir?

Selamat datang di zaman ketika semua orang punya pendapat, tetapi tidak semua orang merasa perlu memeriksa apakah pendapatnya masuk akal.

Di media sosial, setiap orang mendadak menjadi ahli politik, ekonomi, kesehatan, bahkan teologi. Modalnya sederhana: satu potongan video, dua kalimat kutipan, dan kepercayaan diri yang tidak mengenal batas. Kalau argumennya habis, tinggal serang pribadi lawan bicara. Kalau faktanya tidak cocok, salahkan fakta. Selesai!

Di tengah kegaduhan semacam itulah buku "Makanya, Mikir!" karya Abigail Limuria dan Cania Citta menjadi menarik. Buku ini mengajak kita merapikan cara berpikir, mulai dari membedakan realitas dan preferensi, memahami pola pikir ilmiah, mengenali sesat pikir, menentukan prioritas, hingga mengambil keputusan dan membangun kecerdasan sosial.

Pesannya sederhana, tetapi tidak selalu menyenangkan: jangan hanya berpikir, belajarlah berpikir dengan benar.

Sebab, banyak persoalan hidup bukan muncul karena kita kekurangan informasi, melainkan karena kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kita sering mencampuradukkan apa yang kita inginkan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kita menganggap keyakinan pribadi sebagai kebenaran universal. Bahkan, kadang-kadang kita lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari kebenaran.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin banyak pula orang yang malas berpikir. Jempol bekerja lebih cepat daripada otak. Membagikan berita hanya butuh satu detik, memeriksa kebenarannya bisa membutuhkan lima menit. Rupanya, bagi sebagian orang, lima menit adalah pengorbanan intelektual yang terlalu mahal.

Buku ini juga mengingatkan kita bahwa berpikir kritis bukan berarti gemar membantah. Bukan pula merasa diri paling rasional sambil memandang orang lain sebagai sekumpulan manusia kurang pendidikan. Berpikir kritis justru menuntut kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa salah. Dan mungkin inilah bagian yang paling sulit.

Kita senang mengoreksi orang lain, tetapi alergi dikoreksi. Kita meminta orang lain membuka pikiran, tetapi pintu pikiran sendiri digembok dari dalam. Kita ingin didengar, tetapi tidak selalu bersedia mendengarkan.

Tentu saja, membaca satu buku tidak otomatis membuat seseorang menjadi Socrates. Apalagi kalau setelah membacanya kita hanya sibuk memamerkan bahwa kita sudah membaca buku tentang cara berpikir.

Pada akhirnya, "Makanya, Mikir!" bukan sekadar ajakan untuk menjadi lebih pintar, melainkan pengingat agar kita tidak menjadi sumber masalah bagi diri sendiri dan orang lain karena cara berpikir yang berantakan.

Sebab, dunia ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Dunia hanya terlalu sering dibuat repot oleh orang-orang yang merasa dirinya selalu benar.

Jadi, sebelum sibuk mengajari orang lain berpikir, ada baiknya kita mulai dari diri sendiri.

Makanya, mikir! Jangan sampai otak hanya menjadi aksesori di dalam kepala.

Rabu, 04 November 2026

The Life Impossible

Bagaimana jika keajaiban bukan sesuatu yang turun dari langit, melainkan sesuatu yang muncul ketika kita berhenti merasa paling tahu tentang kehidupan?

Kita hidup di zaman ketika manusia sibuk mencari cara mengendalikan segalanya. Mengatur masa depan, menghitung keuntungan, mengejar kesuksesan, bahkan mencoba mengatur kebahagiaan. Kita punya aplikasi untuk mengukur langkah kaki, jam untuk menghitung kualitas tidur, dan seminar untuk menemukan tujuan hidup. Sayangnya, belum ada aplikasi yang bisa memberi tahu mengapa hidup kadang-kadang terasa begitu melelahkan.

Dalam novel The Life Impossible (Hidup Tanpa Batas), Matt Haig mengajak kita bertemu Grace Winters, seorang pensiunan guru matematika yang mewarisi sebuah rumah di Ibiza dari seorang teman lama. Perjalanan yang awalnya tampak seperti urusan sederhana tentang warisan berubah menjadi petualangan yang penuh misteri, keajaiban, dan pertanyaan tentang kehidupan.

Grace menemukan bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada apa yang bisa dijelaskan oleh rumus-rumus matematika. Ada hal-hal yang tidak masuk akal, tetapi bukan berarti tidak memiliki makna.

Di sinilah Matt Haig seperti sedang menyindir manusia modern: kita terlalu sibuk mencari penjelasan sampai lupa menikmati kehidupan.

Kita ingin semuanya masuk akal. Cinta harus punya alasan, kebahagiaan harus punya ukuran, kesuksesan harus punya grafik, dan bahkan penderitaan kadang-kadang dituntut memiliki hikmah secepat mungkin. Seolah-olah kehidupan adalah laporan tahunan perusahaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemegang saham. Padahal, hidup tidak selalu bekerja seperti itu.

Ada kehilangan yang tidak bisa diganti. Ada kesedihan yang tidak selesai hanya dengan membaca kutipan motivasi. Ada perjalanan yang tidak pernah kita rencanakan, tetapi justru mengubah seluruh cara kita memandang dunia.

Novel ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak harus selalu sempurna untuk menjadi luar biasa. Bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Bahwa kesempatan kedua terkadang datang ketika kita sudah berhenti menunggunya.

Dan mungkin, keajaiban terbesar bukanlah menemukan sesuatu yang luar biasa di luar diri kita, melainkan menemukan kembali keberanian untuk menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.

Sebab, pada akhirnya, kita semua sedang menghadapi sesuatu yang mustahil: hidup tanpa pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi besok.

Jadi, berhentilah sebentar mengatur kehidupan. Sesekali biarkan kehidupan mengejutkan Anda.

Siapa tahu, ternyata hidup masih punya beberapa kejutan yang belum sempat dimasukkan ke dalam kalender Google Anda.

Selasa, 03 November 2026

Besok Belum Tentu

Pernahkah Anda membayangkan bahwa suatu pagi Anda masih sibuk menyusun agenda hidup, lalu sore harinya justru menjadi agenda terakhir orang lain untuk mengenang Anda?

Kita ini makhluk yang luar biasa optimistis. Kalender sudah penuh sampai tahun depan. Cicilan masih panjang. Daftar keinginan belum selesai. Ada rumah yang ingin direnovasi, mobil yang ingin diganti, jabatan yang ingin diraih, dan dendam yang masih harus diselesaikan. Seolah-olah kita sudah menandatangani kontrak dengan kehidupan bahwa umur kita dijamin sampai tanggal yang tertera di kalender. Padahal, kematian tidak pernah mengirimkan surat pemberitahuan.

Tidak ada telepon dari kantor kematian yang berbunyi, "Selamat pagi, Bapak. Kami informasikan bahwa jadwal kepulangan Anda tinggal tiga hari lagi. Mohon selesaikan seluruh urusan, lunasi cicilan, dan jangan lupa berpamitan." Tidak ada.

Kematian tidak mengenal sistem reservasi. Ia tidak peduli apakah kita sedang rapat penting, menghadiri pesta pernikahan, menikmati kopi, atau baru saja merencanakan liburan. Ia juga tidak mengenal istilah mohon ditunda karena masih banyak pekerjaan.

Ironisnya, kita justru menghabiskan sebagian besar hidup untuk hal-hal yang seolah-olah akan berlangsung selamanya. Kita bertengkar karena warisan, saling menjatuhkan demi jabatan, mengumpulkan kekayaan sampai lupa menikmati hidup, dan menyimpan permintaan maaf seolah-olah kata "maaf" akan semakin mahal kalau diucapkan terlalu cepat.

Kita menunda mengunjungi orang tua. Menunda menelepon sahabat. Menunda mengungkapkan kasih sayang. Bahkan menunda kebahagiaan sampai semua urusan selesai. Padahal, urusan manusia tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada satu pekerjaan lagi, satu target lagi, satu ambisi lagi.

Lucunya, kita begitu takut kehilangan harta, tetapi sering tidak sadar sedang kehilangan waktu. Kita memasang alarm untuk bangun pagi, tetapi tidak pernah memasang alarm untuk mengingatkan bahwa hidup kita semakin berkurang.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita kejar?

Jangan salah paham. Merencanakan masa depan itu penting. Bekerja, membangun keluarga, mengejar cita-cita, dan mempersiapkan hari tua bukanlah kesalahan. Tetapi ada perbedaan antara mempersiapkan masa depan dan bertingkah seolah-olah masa depan sudah menjadi milik kita.

Kita boleh punya rencana lima tahun, sepuluh tahun, bahkan dua puluh tahun. Tetapi jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk mempersiapkan kehidupan yang belum tentu sempat kita jalani.

Mungkin sudah waktunya kita lebih sering mengatakan terima kasih, lebih mudah memaafkan, lebih berani mencintai, dan lebih sedikit menghabiskan energi untuk membuktikan bahwa kita selalu benar.

Sebab pada akhirnya, tidak seorang pun membawa pulang sertifikat jabatan, laporan kekayaan, daftar kemenangan debat, atau pujian dari orang-orang yang dulu kita kagumi.

Yang tertinggal adalah kenangan tentang bagaimana kita memperlakukan sesama.

Hidup ini singkat. Kematian bisa datang tanpa janji dan tanpa pemberitahuan. Jadi, jangan terlalu sibuk mempersiapkan hari esok sampai lupa menjalani hari ini.

Sebab kematian tidak pernah bertanya apakah kita sudah selesai hidup. Ia hanya datang ketika waktunya tiba.

Dan yang paling menyedihkan bukanlah ketika hidup berakhir, melainkan ketika kita baru menyadari betapa banyak kesempatan untuk hidup yang telah kita sia-siakan.