Ada manusia yang rela diet, berlari setiap pagi, menghitung kalori, menelan berbagai suplemen, bahkan membayar mahal agar tubuhnya terlihat seperti belum pernah mengenal usia. Kita tampaknya tidak sekadar ingin hidup sehat. Kita ingin menipu kalender.
Di sinilah buku Why We Die: The New Science of Ageing and the Quest for Immortality karya Venki Ramakrishnan menjadi menarik. Ramakrishnan, peraih Nobel Kimia, tidak menjual ramuan keabadian. Ia justru mengajak kita melihat kematian dari tempat yang agak tidak romantis: laboratorium, sel, DNA, protein, dan kerusakan biologis. Dan kabar buruknya sederhana: tubuh kita memang rusak.
Seiring waktu, kerusakan molekuler menumpuk. Sel-sel kehilangan kemampuan memperbaiki diri dengan sempurna. Mekanisme regenerasi melemah. Sel-sel yang menua menumpuk dan dapat mengganggu jaringan tubuh. Singkatnya, tubuh manusia bukan mobil Toyota yang tinggal ganti oli lalu bisa dipakai sampai kiamat.
Yang menarik, Ramakrishnan juga membongkar industri anti-aging yang sering menjual harapan lebih cepat daripada menjual bukti ilmiah. Ada obat, diet, pembatasan kalori, terapi gen, young blood, sampai cryonics—membekukan tubuh setelah mati dengan harapan suatu hari nanti teknologi akan cukup pintar untuk menghidupkannya kembali. Masalahnya, ilmu pengetahuan belum memberikan tiket pulang dari kuburan.
Kita punya AI yang bisa menulis puisi, roket yang bisa mendarat kembali, dan komputer yang tahu wajah kita—tetapi belum punya cara yang terbukti untuk membuat seorang nenek kembali berusia 25 tahun.
Ironisnya, solusi paling masuk akal untuk memperpanjang hidup justru terdengar sangat membosankan: makan dengan baik, tidur cukup, berolahraga, dan menjaga kesehatan. Bukan kapsul rahasia dari Silicon Valley. Bukan darah anak muda. Bukan freezer miliaran rupiah.
Tetapi buku ini sebenarnya mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: Kalau kita bisa hidup 200 tahun, apakah kita benar-benar ingin?
Bayangkan seorang politisi berusia 180 tahun masih berkata, “Saya siap mengabdi kepada rakyat.” Mungkin rakyat akan menjawab, “Pak, mengabdi boleh. Tapi kapan regenerasinya?”
Ramakrishnan mengingatkan bahwa umur yang terlalu panjang bukan hanya persoalan biologi. Ada persoalan sosial. Jika teknologi memperpanjang hidup hanya bisa dibeli orang kaya, maka ketimpangan tidak lagi sekadar soal siapa memiliki rumah lebih besar atau mobil lebih mahal. Kita bisa memasuki zaman ketika orang kaya membeli lebih banyak waktu.
Dan di situlah Why We Die menjadi lebih dari sekadar buku tentang kematian. Ia sebenarnya adalah buku tentang bagaimana kita menjalani kehidupan yang terbatas. Sebab mungkin masalah terbesar manusia bukan bahwa kita akan mati. Masalahnya adalah kita sering bertindak seolah-olah kita tidak akan pernah mati.
Kita menunda meminta maaf. Menunda mencintai. Menunda membaca. Menunda bertemu orang tua. Menunda mengatakan, “Aku sayang kamu.” Kita sibuk mengumpulkan uang untuk masa depan yang belum tentu sempat kita nikmati.
Barangkali kematian bukan musuh kehidupan. Kematian adalah alarm yang membuat kehidupan terasa mendesak. Kalau manusia benar-benar abadi, mungkin kita tidak akan berkata, “Besok saya kerjakan.” Sebab dalam keabadian, besok tidak pernah habis. Dan justru karena hidup kita terbatas, satu hari menjadi berharga.
Jadi, setelah membaca Why We Die, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi: “Bagaimana supaya saya tidak mati?” Melainkan: “Kalau saya memang akan mati, apa yang sedang saya lakukan dengan hidup yang saya punya hari ini?” Dan itu pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab daripada sekadar mencari obat awet muda.


