Senin, 02 Februari 2026
Kekuasaan dan Keadilan
Selasa, 20 Januari 2026
Stand Up Comedy
Stand up comedy lahir sebagai seni perlawanan. Ia menggugat kuasa dengan tawa, menyentil yang mapan, mengusik yang sok suci. Tertawa, dalam tradisi itu, adalah senjata orang kecil. Tapi seperti semua senjata yang laris, ia mudah berpindah tangan. Kini, tawa sering dipakai bukan untuk menantang kekuasaan, melainkan untuk mengumpulkan penonton.
Di situlah ambiguitasnya bermula.
Lelucon bekerja dengan cara menyederhanakan. Ia memotong kompleksitas agar cepat dipahami. Namun yang dipotong seringkali manusia itu sendiri. Identitas diperas jadi stereotip; pengalaman diringkas jadi karikatur. Kita tertawa karena mengenali pola, bukan karena memahami kenyataan. Yang lain dijadikan bahan bakar: lucu karena ia bukan kita.
Komika akan berkata: “Ini hanya bercanda.” Kalimat itu terdengar ringan, tapi mengandung kekuasaan. Sebab yang menentukan batas candaan biasanya yang memegang mikrofon, bukan yang jadi objek. Ketika tawa sudah jadi komoditas, sensitivitas menjadi biaya produksi yang ingin ditekan.
Pasar punya logikanya sendiri. Algoritma menyukai yang provokatif. Penonton menyukai yang cepat dan menohok. Maka lahirlah humor yang mengandalkan kejutan paling murah: merendahkan. Menertawakan yang miskin, yang gemuk, yang minoritas, yang dianggap aneh. Bukan untuk membuka mata, tapi untuk memicu reaksi.
Di titik ini, stand up comedy berisiko kehilangan etosnya. Ia tak lagi menertawakan kekuasaan, melainkan mengulangnya. Tawa berubah arah: bukan ke atas, tapi ke bawah. Dan seperti semua tawa yang menendang ke bawah, ia terasa aman—dan laku.
Tentu, tidak semua stand up demikian. Masih ada komika yang menertawakan dirinya sendiri, mengakui luka, merayakan kerentanan. Humor semacam itu bekerja sebaliknya: ia menyamakan, bukan memisahkan. Kita tertawa bukan karena merasa lebih tinggi, melainkan karena merasa sama-sama rapuh.
Masalahnya bukan pada tawa, melainkan pada niat dan arah. Apakah humor membuka ruang refleksi, atau sekadar memanen klik? Apakah ia mengganggu yang berkuasa, atau menghibur yang nyaman? Pertanyaan ini jarang diajukan ketika panggung sudah penuh sponsor.
Etika tawa terletak pada siapa yang menanggung akibatnya. Jika yang ditertawakan pulang dengan beban tambahan, sementara yang menertawakan pulang dengan bayaran, ada yang perlu dipikirkan ulang.
Stand up comedy tak harus berhenti lucu untuk menjadi bertanggung jawab. Ia hanya perlu ingat asalnya: tawa sebagai cara memahami hidup, bukan menginjak sesama. Sebab jika tawa hanya alat untuk cuan, ia mungkin sukses di pasar—tapi gagal di nurani.
Minggu, 18 Januari 2026
Ketika Agama Lupa Sunyi
Tapi dunia berubah. Agama tak lagi disampaikan dalam bisik-bisik doa. Ia kini hadir dalam spanduk, dalam algoritma, dalam politik. Ia bersuara nyaring, kadang berteriak. Ia tak lagi sekadar iman pribadi; ia menjadi identitas sosial. Bukan lagi laku batin, tapi lencana.
Kita menyaksikan orang memamerkan kesalehan di depan kamera, tapi memaki dalam kolom komentar. Kita melihat doa-doa dikurasi untuk media, bukan untuk langit. Kita hidup di zaman di mana agama bisa ditukar dengan like, bisa dijual sebagai merek.
Kita diingatkan akan bahaya fanatisme yang lembut. Fanatisme yang tidak selalu membawa pedang, tapi membawa tafsir tunggal. Ia tak melarangmu berpikir, tapi membisikkan bahwa berpikir adalah tanda kelemahan iman. Di sinilah agama kehilangan dirinya: ketika ia lebih sibuk menjaga aturan, ketimbang menyentuh luka.
Agama yang hidup terlalu lama dalam kuasa, sering lupa bahwa ia lahir dari penderitaan. Musa bukan raja, tapi pengungsi. Yesus bukan pejabat, tapi tukang kayu. Muhammad bukan penguasa, tapi yatim. Tapi kini, banyak yang menggunakan nama mereka untuk mendirikan kerajaan kecil di bumi. Kerajaan yang dijaga oleh tembok eksklusifitas, dipagari jargon-jargon suci, dan dibungkus rasa benar yang tak tergoyahkan.
Agama, dalam bentuknya yang paling murni, seharusnya merangkul. Tapi terlalu sering ia digunakan untuk memilah. Untuk menyebut siapa “kita” dan siapa “mereka.” Untuk mengukur siapa lebih dekat ke surga. Padahal surga—kalau pun ada—tak pernah meminta bukti unggahan kita.
Tentu agama tetap penting. Ia adalah sumber harapan bagi jutaan jiwa. Tapi yang penting bukan hanya bahwa ia ada, tapi bagaimana ia hadir. Apakah ia membawa cahaya atau sekadar sorotan? Apakah ia membebaskan atau justru menundukkan?
Hari ini, kita butuh agama yang kembali rendah hati. Yang tak tergesa menyalahkan. Yang tak merasa cukup hanya dengan doktrin. Yang mau mendengar tangis orang yang berbeda iman, dan tetap menganggapnya manusia.
Karena jika agama kehilangan kasih, ia hanya tinggal ritual. Jika agama kehilangan rasa malu, ia berubah menjadi alat kekuasaan. Dan jika agama kehilangan sunyi, ia tak lebih dari pertunjukan.


