Pernahkah Anda bertanya-tanya, saat sedang terjebak macet total atau saat saldo ATM menunjukkan angka yang menghina akal sehat, apakah Tuhan sedang sibuk mengurus galaksi lain, atau Beliau sebenarnya hanyalah sebuah ide cemerlang yang kita ciptakan agar kita tidak merasa sendirian di alam semesta yang dingin ini?
Jika Anda mulai merasa bahwa doa-doa Anda lebih mirip seperti mengirim email ke alamat yang sudah non-aktif, selamat: Anda sedang memasuki lorong filosofis paling berdebu di dunia.
Di zaman sekarang, kita telah mengubah Tuhan menjadi sesuatu yang sangat praktis—semacam asisten pribadi digital yang hanya kita panggil saat butuh bantuan untuk menemukan kunci motor atau lulus ujian CPNS. Jika permintaan kita dikabulkan, kita sebut itu "Mujizat." Jika tidak, kita sebut itu "Konsep yang Belum Kita Pahami."
Kita menciptakan Tuhan sesuai selera kita masing-masing. Ada Tuhan versi "Hakim Galak" bagi mereka yang hobi menghakimi baju tetangga, dan ada Tuhan versi "Sahabat Curhat" bagi mereka yang butuh sandaran setelah putus cinta. Kita memperlakukan Tuhan seperti aplikasi smartphone: kita jarang membaca "Syarat dan Ketentuan"-Nya, tapi kita marah-marah kalau aplikasinya crash saat kita sedang sangat membutuhkannya.
Jika Tuhan hanyalah sebuah konsep, maka manusia adalah pemasar (marketer) paling sukses sepanjang sejarah. Kita menciptakan konsep ini untuk memberi makna pada penderitaan. Mengapa? Karena mengakui bahwa kemalangan kita terjadi karena murni kebodohan kita sendiri itu terlalu menyakitkan. Lebih mudah mengatakan, "Ini adalah ujian dari Yang Di Atas," daripada mengakui, "Saya terlalu banyak jajan padahal belum gajian."
Kita memproyeksikan sifat-sifat manusiawi kita ke langit. Kita pikir Tuhan punya rasa marah, rasa bangga, atau bahkan butuh disanjung setiap saat. Pertanyaannya: Apakah kita menyembah Pencipta, atau kita sebenarnya hanya menyembah pantulan diri kita sendiri di cermin yang sangat besar dan bercahaya?
Filsuf-filsuf besar sering bilang bahwa jika Tuhan tidak ada, manusia perlu menemukannya. Dan kita melakukannya dengan sangat baik. Kita menulis buku-buku tebal, membangun gedung-gedung megah, dan saling berperang hanya untuk membela "konsep" mana yang paling benar.
Ini adalah ironi kosmik yang luar biasa: Kita bersedia mati demi sebuah konsep yang seharusnya mengajarkan kita cara untuk hidup. Kita begitu sibuk memperdebatkan apakah Tuhan itu "Ada" secara zat atau hanya "Ada" secara ide, sampai-sampai kita lupa menjadi manusia yang baik bagi sesama manusia yang jelas-jelas "Ada" di depan mata kita.
Jadi, apakah Tuhan hanya sebuah konsep? Mungkin. Tapi jika memang benar begitu, maka itu adalah konsep paling berpengaruh yang pernah ada. Ia adalah "penulis bayangan" (ghostwriter) dari hampir semua peradaban kita. Tanpa konsep itu, mungkin kita semua sudah gila karena harus memikul beban tanggung jawab moral sendirian di pundak kita yang rapuh.
Jika besok pagi dipastikan bahwa Tuhan memang "hanya" sebuah konsep abstrak, apakah Anda akan tetap menjadi orang baik? Ataukah moralitas Anda sebenarnya hanya didorong oleh rasa takut pada "Polisi Langit" dan harapan akan "Bonus Surga"?
Silakan direnungkan sambil minum kopi. Tapi hati-hati, jangan sampai Anda mulai meragukan keberadaan kopi tersebut hanya karena Anda belum melihat pabriknya.


