Di Jakarta, atmosfernya mirip ruang ICU. Semua mata tertuju pada monitor hijau-merah bernama kurs dolar. Di sudut ruangan, kita bisa melihat Bank Indonesia (BI) sedang berkeringat dingin, melakukan CPR finansial, menyuntikkan cadangan devisa, dan menahan beban berat bernama "intervensi pasar." Pertanyaannya: sampai kapan otot BI kuat menahan beban ini sebelum akhirnya terkena encok monetere? Kita semua berdoa agar BI tidak kehabisan napas. Sebab kalau BI pingsan, kita semua ikut masuk angin.
Namun, mari kita geser kamera kita sedikit menjauh dari gedung-gedung pencakar langit di Jalan MH Thamrin. Mari kita tengok Pak Kumis di Desa Sukamaju yang sedang asyik memandikan kerbaunya.
Ada sebuah mitos urban yang romantis di negeri ini: Orang desa tidak terpengaruh krisis global. Mereka punya sawah, punya ayam, punya singkong. Secara filosofis, orang desa dianggap telah mencapai tingkatan zen finansial yang tidak bisa disentuh oleh Jerome Powell atau kebijakan suku bunga The Fed. Konon, selama matahari masih terbit dan cacing masih ada di dalam tanah, ekonomi desa akan aman-aman saja.
Benarkah demikian? Wah, tunggu dulu.
Mari kita bedah mi instan yang dimakan Pak Kumis saat ronda malam. Terigu dari mana? Impor. Kedelai untuk tempe goreng yang menemani kopinya? Impor. Pupuk kimia untuk sawahnya? Sebagian bahan bakunya dibeli pakai dolar. Jadi, ketika Rupiah kehabisan darah di Jakarta, dampaknya merayap pelan tapi pasti seperti hantu di malam jumat, mengetuk pintu dapur rumah-rumah panggung di pelosok desa.
Kita harus jujur: globalisasi telah berhasil menjajah lambung kita hingga ke tingkat RT. Tidak ada lagi isolasi yang benar-benar murni.
Situasi ini memperlihatkan betapa lucunya hidup kita hari ini. Kita menciptakan sistem yang begitu rumit di mana nasib seorang petani di pelosok desa bisa ditentukan oleh keputusan beberapa pria berjas di Washington yang bahkan tidak tahu cara menanam padi. Angka-angka digital di layar komputer Wall Street mendikte apakah seorang anak desa di pelosok Sulawesi bisa membeli buku sekolah baru atau tidak.
Jadi, apa kabar orang desa? Mereka sebenarnya sedang terpengaruh, hanya saja mereka terlalu sibuk bekerja dan terlalu tabah untuk mengeluh di FB (atau Meta, apa pun namanya sekarang). Sementara orang kota sibuk panik di kedai kopi mahal sambil memesan iced latte seharga setengah gram emas, orang desa menghadapi pelemahan Rupiah dengan cara terbaik yang mereka tahu: terus mencangkul, tetap tersenyum, dan berharap keajaiban panen berikutnya.
Mari kita angkat gelas kopi kita—yang harganya mungkin naik besok pagi—untuk kekuatan otot Bank Indonesia. Dan untuk orang desa? Semoga ketabahan mereka tidak ikut melemah seperti mata uang kita. Sebab kalau pertahanan terakhir itu runtuh, singkong pun mungkin harus kita beli pakai mencicil.


