Luther memakukan 95 dalil di pintu gereja Wittenberg, bukan karena ia ingin memecah belah, tapi karena ia percaya bahwa iman harus bisa dipertanyakan. Bahwa kebenaran tidak diwariskan dari tahta, melainkan dari pencarian. Maka sejak mula, Protestanisme adalah keberanian untuk tidak tunduk—pada dogma, pada institusi, bahkan pada kenyamanan iman itu sendiri.
Tapi hari ini, berabad-abad setelah suara protes itu menggema di Eropa, kita bertanya: apakah Protestan masih menyimpan semangat memprotes?
Atau ia sudah menjadi institusi baru yang tak kalah mapan? Gereja-gereja Protestan, dengan struktur dan sistemnya, kini berdiri kokoh di banyak sudut kota. Ada sinode, ada tata gereja, ada sidang tahunan—mirip parlemen rohani yang kadang lebih sibuk mengatur kursi dari pada menggali makna.
Protestan pernah menolak hirarki. Tapi kini sebagian gerejanya tumbuh dalam pola yang tak jauh dari yang ditolak dahulu: struktur vertikal, pemimpin yang tak tersentuh kritik, bahkan jemaat yang semakin dijauhkan dari keputusan. Ironis, bahwa iman yang lahir dari protes kini tak selalu terbuka pada suara yang bertanya.
Dan di tengah semangat penginjilan, tak jarang Protestanisme menjelma jadi pabrik-pabrik ibadah. Khotbah jadi tayangan, pendeta jadi selebritas, gereja jadi merek. Yang diperjuangkan bukan lagi pembebasan batin, tapi angka pertumbuhan jemaat. Iman dikemas rapi dalam strategi komunikasi, tapi kehilangan kekuatan untuk mengguncang struktur sosial yang tak adil.
Barangkali karena itu, Protestan perlu mengingat dirinya. Bukan sekadar sebagai denominasi, tapi sebagai sikap. Sikap yang tak nyaman dengan kemapanan, yang selalu gelisah jika iman tak lagi menyentuh kehidupan sehari-hari. Protestan adalah warisan spiritual dari kegelisahan yang sehat—gugatan terhadap sistem, sekaligus panggilan untuk kembali pada suara sunyi Tuhan yang bisa berbicara dari semak terbakar.
Kita hidup dalam dunia yang penuh kebisingan. Dunia di mana gereja bisa sibuk mengurus dirinya sendiri, lupa bahwa ada orang miskin di luar pagar. Dunia di mana struktur ibadah sangat rapi, tapi ketidakadilan tetap berjalan di samping mimbar. Maka pertanyaannya: apakah Protestan hari ini masih bisa memprotes hal-hal yang benar-benar penting?
Protes yang sejati bukan tentang menolak untuk berbeda. Tapi tentang mencintai dengan kesungguhan: mencintai kebenaran lebih dari kenyamanan. Mencintai keadilan lebih dari doktrin. Mencintai sesama lebih dari organisasi.


