Aku melakukan persiapan untuk berangkat ke Tentena-Poso tepatnya ke Tolambo desa kelahiran Papa. Kemarin aku menghubungi Is, sopir kendaraan Manado-Tentena dan ia janji untuk menjemput kami pukul 10.00 pagi. Kendaraan tersebut akan kami pakai tanpa penumpang lain kecuali aku, papa dan mama.Aku akan menemani papa dan mama pulang ke Tolambo, desa tempat mereka mengungsi setelah pecahnya kerusuhan Poso yang ke dua tahun 2000. Pada kerusuhan itu rumah papa dan mama di Kelurahan Lombugia turut dibakar bersama rumah-rumah yang lain (dapat dikatakan seluruh kelurahan).
Kami (aku, adik Sherly & Noula) beberapa bulan yang lalu menjemput papa di RSU Poso untuk di bawah ke Manado (RSUP Dr. Kandouw-Malalayang) karena sakit (Liver) yang cukup parah, sebab itu kami memakai 1 kendaraan dan seorang suster/perawat. Ada ambulance tapi biayanya cukup mahal, ada juga Puskesmas Keliling yang coba dipinjam tapi kata dokter akan digunakan.
Papa pensiunan PNS, mantan Kepala Urusan Kepegawaian Kabupaten Poso belasan tahun. Bukan memuji-muji tetapi salah seorang pejabat rendahan yang jujur. Selama menjabat tidak pernah mendapat fasilitas Negara (rumah dinas, kendaraan dinas) yang digunakan hanya sepeda motor buntut Yamaha bebek 75 cc, sementara pejabat yang lain mendapatkan fasilitas negara. Papa juga termasuk PNS pekerja keras (gila kerja) berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Di kantor sering kali karena pekerjaan ia tidak memperhatikan bel/peringatan pulang dan seringkali diingatkan oleh Piket (Pol PP) bahwa jam kantor sudah habis, tidak puas, semua berkas di angkut dan pekerjaan diselesaikan di rumah. Banyak cerita tentang komitmennya terhadap Negara/pekerjaanya walaupun tidak sehebat pahlawan nasional. Karena itulah aku yakin Tuhan akan menolong Papa, ia akan sembuh walau usianya memasuki 69 tahun. Dan benar ia sembuh!Karena segalanya sudah dipersiapkan (papa sudah siap dari kemarin), begitu mobil tiba kami langsung membawa barang-barang ke mobil dan berangkat.
Kami berangkat dari rumah di Tinoor (desa yang indah di kaki gunung Empung samping gunung Lokon) pukul 11.30 menuju ke Tataaran-Tondano namun sebelumnya singgah di Tomohon membeli buah Apel di super market Grand Central untuk “ole-ole”.
Tiba di Tataaran pkl.12.05, mama rene (yang akan menumpang, termasuk keluarga) belum siap. Rene masih di kampus karena akan mendaftar sebagai mahasiswa baru. Tempat kost cukup ramai, kebanyakan anak-anak dari Poso/Tentena kedengaran dari dialek dan lagu-lagu yang mereka nyanyiankan.
Setelah siap kami melanjutkan perjalanan dan singgah di Rumah Makan pkl.15.10 untuk beristrahat sebentar dan makan. Harga makanan Rp.12.500/org, sopir dan pembantunya gratis.
Dalam perjalanan mendekati Desa Sangkup sekitar pukul 17.45, kami bertemu dengan mobil box rokok yang terbalik, banyak kendaraan yang berhenti karena terhambat mobil box tesebut. Aku bergabung dengan mereka yang sedang mendorong mobil tersebut untuk mengembalikan posisinya (berdiri). Dan berhasil, mobil berdiri, namun kerena kuatnya dorongan mobil tersebut terus berguling/terbalik ke sisi yang lain. Ini agak lucu namum tragis. Aku melihat posisi ini lebih sulit dari dari posisi awal karena mobil tersebut telah jatuh di samping jalan/rerumputan yang lebih rendah dari jalan.
Karena waktu, kami tidak menunggu, kami melanjutkan perjalanan lagi. Pukul 21.15 Singgah makan di Atinggola (RM Dengi). Menu khasnya adalah ikan bakar. Kami sendiri yang memilih kemudian mereka yang membakarnya. Kami harus sabar menunggu, karena prosesnya agak lama. Papa dan Mama beristirahat/berbaring di bangku panjang, tempat duduk untuk makan. Cukup lama juga kami menunggu. Hanya nasi putih, ikan “bobara” bakar dan sayur kangkung “tumis” serta “dabu-dabu” (sambal) namun cukup lezat, kata papa ia akan kembali untuk makan ikan bakar di sini. Sopir (pengemudi) lagi-lagi gratis. Kami membayar Rp.12.500/org.
Selesai makan melanjutkan lagi perjalanan. Pukul 21.55 kami mengisi minyak di kuandang. Sudah mulai larut malam, aku tertidur karena kelelahan diguncang-guncang perjalanan.
Kami (aku, adik Sherly & Noula) beberapa bulan yang lalu menjemput papa di RSU Poso untuk di bawah ke Manado (RSUP Dr. Kandouw-Malalayang) karena sakit (Liver) yang cukup parah, sebab itu kami memakai 1 kendaraan dan seorang suster/perawat. Ada ambulance tapi biayanya cukup mahal, ada juga Puskesmas Keliling yang coba dipinjam tapi kata dokter akan digunakan.
Papa pensiunan PNS, mantan Kepala Urusan Kepegawaian Kabupaten Poso belasan tahun. Bukan memuji-muji tetapi salah seorang pejabat rendahan yang jujur. Selama menjabat tidak pernah mendapat fasilitas Negara (rumah dinas, kendaraan dinas) yang digunakan hanya sepeda motor buntut Yamaha bebek 75 cc, sementara pejabat yang lain mendapatkan fasilitas negara. Papa juga termasuk PNS pekerja keras (gila kerja) berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Di kantor sering kali karena pekerjaan ia tidak memperhatikan bel/peringatan pulang dan seringkali diingatkan oleh Piket (Pol PP) bahwa jam kantor sudah habis, tidak puas, semua berkas di angkut dan pekerjaan diselesaikan di rumah. Banyak cerita tentang komitmennya terhadap Negara/pekerjaanya walaupun tidak sehebat pahlawan nasional. Karena itulah aku yakin Tuhan akan menolong Papa, ia akan sembuh walau usianya memasuki 69 tahun. Dan benar ia sembuh!Karena segalanya sudah dipersiapkan (papa sudah siap dari kemarin), begitu mobil tiba kami langsung membawa barang-barang ke mobil dan berangkat.
Kami berangkat dari rumah di Tinoor (desa yang indah di kaki gunung Empung samping gunung Lokon) pukul 11.30 menuju ke Tataaran-Tondano namun sebelumnya singgah di Tomohon membeli buah Apel di super market Grand Central untuk “ole-ole”.
Tiba di Tataaran pkl.12.05, mama rene (yang akan menumpang, termasuk keluarga) belum siap. Rene masih di kampus karena akan mendaftar sebagai mahasiswa baru. Tempat kost cukup ramai, kebanyakan anak-anak dari Poso/Tentena kedengaran dari dialek dan lagu-lagu yang mereka nyanyiankan.
Setelah siap kami melanjutkan perjalanan dan singgah di Rumah Makan pkl.15.10 untuk beristrahat sebentar dan makan. Harga makanan Rp.12.500/org, sopir dan pembantunya gratis.
Dalam perjalanan mendekati Desa Sangkup sekitar pukul 17.45, kami bertemu dengan mobil box rokok yang terbalik, banyak kendaraan yang berhenti karena terhambat mobil box tesebut. Aku bergabung dengan mereka yang sedang mendorong mobil tersebut untuk mengembalikan posisinya (berdiri). Dan berhasil, mobil berdiri, namun kerena kuatnya dorongan mobil tersebut terus berguling/terbalik ke sisi yang lain. Ini agak lucu namum tragis. Aku melihat posisi ini lebih sulit dari dari posisi awal karena mobil tersebut telah jatuh di samping jalan/rerumputan yang lebih rendah dari jalan.Karena waktu, kami tidak menunggu, kami melanjutkan perjalanan lagi. Pukul 21.15 Singgah makan di Atinggola (RM Dengi). Menu khasnya adalah ikan bakar. Kami sendiri yang memilih kemudian mereka yang membakarnya. Kami harus sabar menunggu, karena prosesnya agak lama. Papa dan Mama beristirahat/berbaring di bangku panjang, tempat duduk untuk makan. Cukup lama juga kami menunggu. Hanya nasi putih, ikan “bobara” bakar dan sayur kangkung “tumis” serta “dabu-dabu” (sambal) namun cukup lezat, kata papa ia akan kembali untuk makan ikan bakar di sini. Sopir (pengemudi) lagi-lagi gratis. Kami membayar Rp.12.500/org.
Selesai makan melanjutkan lagi perjalanan. Pukul 21.55 kami mengisi minyak di kuandang. Sudah mulai larut malam, aku tertidur karena kelelahan diguncang-guncang perjalanan.