Pagi 17 Juli 2009, hal yang sama 6 tahun lalu terulang kembali. Bom meledek di Restoran dua hotel mewah Jakarta, Marriot dan Ritz-Calton. Rintihan dan erangan dari balik debu dan asap hitam pekat seiring dengan bunyi benda-benda yang tercabik dan berjatuhan. Sayatannya tidak hanya terasa oleh korban Bom tetapi oleh seluruh anak negeri ini. Dirasakan oleh bangsa ini, yang sedang didera badai krisis dunia. Itu berarti mereka tidak saja mematikan kesempatan hidup saudara kita yang ada di Marriot dan Ritz-Calton, tetapi juga menghabat kesempatan bangsa ini untuk berkembang dan maju.
Aku tak mempunyai hak mengatakan mereka yang telah menjadi korban adalah orang-orang yang tidak berdosa. Manusia selalu saja berdosa, karena manusia mewarisi itu. Tapi manusia mempunyai kesempatan untuk tidak berdosa, untuk itu ia diberi kesempatan hidup. Manusia sipapun mereka tetaplah manusia, yang dalam keyakinan imanku mempunyai nilai yang sama; “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
Tapi ada kelompok orang yang selalu menganggap dirinya tidak berdosa dan merasa lebih suci dari yang lain bahkan mendapat hak untuk melenyapkan orang lain dari muka bumi ini. Menggunakan agama sebagai pembenaran tindakan, sekaligus jalan pintas harapan menuju sorga.
Aku tak diberihak untuk mengutuk perbuatan ini. Kutukan juga tak akan mengembalikan kehidupan saudara-saudara kita yang menjadi korban. Kutukan juga tak akan membuat mereka yang berbuat dan merencanakan itu semua berhenti. Yang bisa menghentikan semua ini hanyalah persatuan, tekad dan Kasih.
Bersatunya bangsa ini dalam segala hal untuk memerangi terorisme dan jangan ada yang sengaja membiaskannya kearah politik untuk mendapatkan manfaat politis dari situasi yang baru saja berlalu.
Tekad bangsa ini untuk memerangi terorisme dan jangan ada yang sengaja membela mereka dengan berbagai dalil penafsiran ajaran yang nyata telah menyimpang dari yang sesungguhnya dan mengancam nilai kemanusiaan.
Kasih bangsa ini terhadap anak-anaknya. Jangan biarkan anak bangsa ini meratap, bingung, bodoh, miskin, terpinggirkan, teraniaya, teracam, tertindas, oleh bangsanya sendiri. Kejahatan ditindak tegas, kebaikan di beri ruang untuk berkembang agar berbuah. Kita pasti bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar