Senin, 18 Agustus 2008

Dua Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Aku melihat jam, pukul 4.45 subuh. Udara masih dingin, di daerah Moutong. Mampir di Rumah Makan "Gorontalo" Puncak Pas untuk minum kopi. Ada beberapa kendaraan yang di parkir, penuh angkutan, sopirnya istirahat. Ada yang tidur di bangku, ada yang duduk-duduk sambil ngobrol dan minum kopi, mereka sedang mempersiapkan lagi tenaga untuk perjalanan yang panjang.
Selesai minum kopi perjalanan dilanjutkan. Pukul 6.15 kami singgah untuk mengisi bahan bakar di Tinombo, tapi masih ditutup. Ada juga kendaraan lain yang menunggu. Kami keluar dari kendaraan untuk sekedar melemaskan otot-otot. Kuranglebih 25 menit kami menunggu namun belum ada tanda-tanda kehidupan yang keluar dari pangkalan bahan bakar tersebut, kami pun berangkat untu melanjutkan lagi perjalan.
Memasuki Sausu pukul 10.25. Desa yang dihuni oleh transmigrasi dari bali ini 25 tahun yang lalu sekarang sudah menjadi ibukota kecamatan. Luar biasa perkembangan daerah ini. Sawah membentang sejauh pandangan mata, cacao/coklat sepanjang jalan sepertinya tak akan pernah berakhir. Di depan rumah "pura-pura" (tempat sembayang umat Hindu) dan bogenville yang sedang mekar memberikan daya tarik tersendiri dari daerah ini, sepertinya aku merasa bukan di Sulawesi. Suasana Bali terasa sepajang jalan.
Pukul 12.55 kami memasuki Kota Poso. Ini daerah yang membesarkan aku. Di sini fisik dan mentalku dibangun untuk menjadi manusia seperti sekarang ini. Aku harus menahan airmata kesedihan dengan pemandangan rumah-rumah yang tinggal penghuninya karena dibakar pada konflik poso yang lalu. Tembok-tembok yang menghitam, rumput dan pepohonan liar tumbuh disekitarnya.
Aku lahir dan besar di sini tapi akupun merasa asing di tempat ini. Sepertinya tempat ini telah dihuni makhluk asing dari planet lain. Komunikasi tidak lagi sebebas dahulu, orang-orang di sini rasanya seperti curiga dengan orang lain. Aku tak tahu apa teman-temanku yang dulu, apa masih ada di sini. Apakah aku masih sebebas dahulu jika berada di rumah mereka. Samliok Ndobe sahabat karibku (yang terakhir ku tahu ia sedang belajar tentang ikan di Unisversitas Sam Ratulangi), Ridwan Podungge, Azis, dll, yang di "Moengko", di "Bonesompe" dan di mana saja. Pak Arnold Lumentut Wali Kelasku di SMA Neg.1 Poso, ahli biologi, dan pandangannya tentang Tuhan yang menurutnya tidak rugi jika dipercaya dan melakukan Fiman-Nya karena justru kita akan rugi jika tidak percaya seandainya ternyata benar Ia ada. Ini memang spekulasi tentang untung rugi, tetapi benar dalam pandangan ilmu logika. Aku tak kenal apa masih di sana rumah Pak Arnold tempat kami pernah makan ubi bakar dan jagung bakar yang diambil dari hasil kebunnya. Aku merindukan suasana seperti dahulu, suasana tanpa perbedaan, curiga dan dendam.
Mendekati simpang empat Tentena (Prampatan Tentena) dalam padangan lurus ke depan kulihat Gereja Peniel berdiri kokoh. Sebelum sopir membelokkan kendaraan ke kanan menuju Tentena, aku meminta agar kami pergi dulu melihat lokasi rumah kami yang telah musnah terbakar karena konflik Poso tahun 2000. Kendaraan dipacu lurus ke depan. Aku melihat Gereja Peniel baru selesai di perbaiki. Gereja ini turut dibakar. Di depan Gereja, kami berbelok ke kanan, suasana semakin asing. Mama berkata, "kage ada yang ba temba kamari" (jangan-jangan ada yang akan menembak kita). Namun kami yakin tidak. Poso sudah kondusif, tetapi kami harus berhati-hati. Aku melihat ada 3 rumah di samping kanan yang baru dibuat, bentuknya sama dan sangat sederhana, ini mungkin dibuat oleh pemerintah. Berbelok ke kiri, sepanjang jalan lurus itu aku melihat kiri dan kanan tanaman liar (pohon) tumbuh, bahkan aku tidak dapat menentukan di mana posisi reruntuhan rumah kami. Kami berhenti di depan lokasi rumah kami, papa berpedoman pada pohon kelapa dan mangga. Ada sisa-sisa bangunan namun tidak kelihatan kecuali menerobos ke dalam. Jalan yang lebarnya ± 3,5 m aspal yang terlihat hanya sekitar 1,5 m, sebahagian jalan ditutupi rerumputan liar. Suasana seperti di hutan. Sepi namun mencekam, aku merasa seperti di intai oleh pasangan-pasangan mata yang siap melepaskan peluru.
Sebelum konflik poso, Lombugia (lokasi rumahku) adalah tempat yang tenang, aman, dan masyarakatnya ramah serta terbuka dalam pergaulan. Daerah ini dihuni oleh mayoritas beragama Kristen. Salah satu daerah yang banyak rumah-rumahnya dibakar saat konflik poso. Dapat dikatakan hampir semua rumah di Kelurahan Lombugia ini dibakar dan dijarah, mereka tidak tahu mengapa mereka diperlakukan seperti itu. Di negeri yang merdeka ini ternyata kemerdekaan hannyalah harapan. Negaranya merdeka tetapi masyarakatnya belum sepenuhnya merdeka, bahkan masih mengalami tekanan dari golongan/kelompok lain yang merasa paling besar dan paling benar. Pemerintah belum mampu memberikan perlindungan bagi masyarakatnya. Ironis justru hal seperti ini terjadi di zaman ini bukan di zaman penjajahan.
Aku melihat sekitar, tetangga kami entah kemana. Teman-temanku yang dulu; ungke, uci, obo, budi, dei, ua, joni, osi, dll, entah mereka dimana. Jika liburan kami semua terkumpul di tempat ini, bermain, ngobrol, artinya melepaskan diri dari rutinitas belajar. Mengembalikan suasana seperti dulu rasanya tidak mungkin tanpa kepastian keamanan dari pemerintah.
Kami tidak berlama-lama di sini, karena mungkin saja kami sedang diintai oleh penembak jitu. Kami melanjutkan perjalanan ke Tentena. Pukul 14.50 singgah di Desa Sulewana karena sopir pembantu tempat tinggalnya di sini, ia sudah akan turun untuk istirahat. Sulewana mulai ramai. Di sinilah mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air akan dibangun. Sulewana memiliki wisata air terjun yang cukup besar. Air terjun di sini sudutnya tidak 90 derajat, dapat dikatakan airnya meluncur, namun tenaganya luarbiasa. Kalau ada jagoan arung jeram, dapat mencoba jeram ini.
Kami tiba di Tentena. Perahu Motor yang memang sudah dipesan telah menunggu. Mama dan Papa berbelanja di pasar yang kebetulan hanya di depan pelabuhan. Tentena berbeda dengan tentena dulu, saat ini aktivitas masyarakatnya meningkat layaknya kota, dan tentu jumlah penduduknya bertambah karena ketika konflik Poso terjadi, banyak yang mengungsi ke Tentena. Sayang pasarnya meluas hingga menggunakan pinggiran jalan utama yang tentu mengganggu lalulintas.
Pukul 16.00 kami berangkat menuju Tolambo. Perahu Motor ini dinakodai oleh Tadali dengan menggunakan mesin Honda (masyarakat di sini menyebut "katinting"). Memasuki danau Poso kami dijemput oleh ombak yang rasanya cukup besar untuk ukuran danau. Di depan belum tampak daratan atau bukit hanya cakrawala dan beberapa tanjung yang kelihatan menonjol, yang jelas tanjung bone ("tando bone"). Di samping kiri perkebunan dan hutan luas menyimpan sumber daya yang cukup besar. Namun keindahan tepian danau sebelah timur ini pudar dengan bedirinya Tower-tower listrik tegangan ekstra tinggi yang jaraknya hanya beberapa meter dari tepian danau. Memprihatinkan, ini akan mematikan pariwisata yang prospek ke depannya sangat baik. Aku tak tahu apa maksud semua ini, aku tak mengerti mengapa pemerintah merencanakan seperti itu, aku heran semua diam!
Danau poso tetap menyimpan keindahan. Airnya yang jernih, di tepian batu-batu besar menjorok bahkan pantai berpasir yang luas, hutan di tepi danau yang hijau, dan lainnya yang masih menyimpan misteri.
Pukul 17.30 tiba di Tolambo. Di desa ini papa lahir dan besar. Kami dijemput oleh adik dan saudara di sini. Tiba di rumah, listrik belum dinyalakan. Listrik dinyalakan nanti pada saat pukul 18.00 dan dimatikan pada pukul 00.00, jadi listrik ada hanya 5 jam.
Kami bercerita hingga larut malam, dan tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar