Minggu, 10 Juni 2012

Sarinah Dalam Kabut Kapitalisme


"Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya," kata mbok sarinah kepada Sukarno kecil. Ungkapan perempuan yang diakui telah mendidiknya itu melahirkan harapan besarnya dari pemikiran besar Gandhi "My nationalism is humanity". Atas nama rakyat jelata pula ia membangun pusat perbelanjaan moderen terbesar pertama di Indonesia dan dinamai "Sarinah", agar rakyat mendapatkan barang-barang murah dengan mutu bagus.
Tapi realita dalam perkembangannya bangunan dengan nama kelas pembantu itu bukan untuk rakyat jelata. Barang-barang mewah, McDonald, Hoka hoka bento, Starbucks Coffee. Roda-roda kapitalisme itu kini berkuasa walau dulu pernah dilawan Sukarno.

Nama bukan jaminan keberpihakkan, apa lagi tujuan. Nama hanyalah simbolisme seakan-akan demikian adanya. Nama hanyalah sebuah mimpi untuk masa depan, sebagaimana mimpi Sukarno agar rakyat jelata mendapat penghidupan yang layak dengan pendirian Sarinah.  “Kalau kita bisa menjual satu bahan kebaya di department store dengan harga sepuluh rupiah, di luar orang tidak berani menjual bahan kebaya dengan dua puluh rupiah,…” kata Sukarno pada pindatonya. Mimpi Sukarno itu tak pernah terwujud di tengah hiruk pikuk merek impor dan lokal yang melangit.

Dari kursi hitam sisi luar Starbucks Coffee di tengah nyamuk-nyamuk dan kebisingan kendaraan Jalan Thamrin sore itu, kunikmati saja riak kapitalisme yang menghanyutkan. Di sampingku kelompok anak muda sedang mempresentasikan bangunan minimalis dua lantai. Perempuan-perempuan setengah baya dan lelaki setengah buaya dengan asap rokok dan kopi hitam bercanda habiskan hari. Entrepreneur muda dalam gelak tawa mereka, ku mipikan harapan Sukarno untuk rakyat jelata. Harapan yang selalu dimainkan seperti orkes dalam setiap ruang diskusi, merdu terdengar namun hanya berhenti di telinga. Kata orang Manado, "sorga talinga", hanya indah didengar namun tak mewujud.
My nationalism is humanity... atas nama kemanusiaan, yang punya kuasa selalu bicara, namun kemanusiaan selalu dipertaruhkan hanya untuk kuasa.

Dari balik kabut kapitalisme di pelataran Sarinah Plaza aku sependapat dengan Jesse, “I love my country, not my government.”