![]() |
Tapi realita dalam
perkembangannya bangunan dengan nama kelas pembantu itu bukan untuk rakyat
jelata. Barang-barang mewah, McDonald, Hoka hoka bento, Starbucks Coffee.
Roda-roda kapitalisme itu kini berkuasa walau dulu pernah dilawan Sukarno.
Nama bukan jaminan
keberpihakkan, apa lagi tujuan. Nama hanyalah simbolisme seakan-akan demikian
adanya. Nama hanyalah sebuah mimpi untuk masa depan, sebagaimana mimpi Sukarno
agar rakyat jelata mendapat penghidupan yang layak dengan pendirian Sarinah. “Kalau kita bisa menjual satu bahan kebaya di
department store dengan harga sepuluh rupiah, di luar orang tidak berani
menjual bahan kebaya dengan dua puluh rupiah,…” kata Sukarno pada pindatonya.
Mimpi Sukarno itu tak pernah terwujud di tengah hiruk pikuk merek impor dan
lokal yang melangit.
Dari kursi hitam
sisi luar Starbucks Coffee di tengah nyamuk-nyamuk dan kebisingan kendaraan
Jalan Thamrin sore itu, kunikmati saja riak kapitalisme yang menghanyutkan. Di
sampingku kelompok anak muda sedang mempresentasikan bangunan minimalis dua
lantai. Perempuan-perempuan setengah baya dan lelaki setengah buaya dengan asap
rokok dan kopi hitam bercanda habiskan hari. Entrepreneur muda dalam gelak tawa
mereka, ku mipikan harapan Sukarno untuk rakyat jelata. Harapan yang selalu
dimainkan seperti orkes dalam setiap ruang diskusi, merdu terdengar namun hanya
berhenti di telinga. Kata orang Manado, "sorga talinga", hanya indah
didengar namun tak mewujud.
My nationalism is
humanity... atas nama kemanusiaan, yang punya kuasa selalu bicara, namun
kemanusiaan selalu dipertaruhkan hanya untuk kuasa.
Dari balik kabut
kapitalisme di pelataran Sarinah Plaza aku sependapat dengan Jesse, “I love my
country, not my government.”
.png)