Dengan jemari pada keyboard dan mata menatap screen monitor yang dipenuhi angka, rasa kantuk menyerang kesadaranku pagi itu. Tiba-tiba anak-anak di PosPAUD (Pos Pelayanan Anak Usia Dini) garasi mobil samping ruang kerjaku (maksudku milik bosku) menyanyikan lagu “Aku Anak Indonesia”.
Aku anak Indonesia
Anak yag merdeka
Satu nusaku
Satu bangsaku
Satu bahasaku
Indonesia
Aku bangga
Menjadi, anak Indonesia
Dengan bangga dan merdeka mereka nyanyikan lagu itu dari garasi mobil. Ceria tanpa beban anak-anak itu bertepuk tangan, menetapkan kesungguhan mereka untuk Indonesia. Apa yang membuat mereka merasa merdeka? Apa yang membuat mereka merasa bangga? Adakah semangat ini bisa bertahan setelah mereka menjadi pribadi dewasa? Rasa ngantukku pun hilang.
Bagaimana mereka bisa merdeka dengan belajar di garasi sempit seperti itu? Apa yang mereka banggakan dengan pelayanan dan fasilitas pendidikan paspasan seperti itu?
Mengapa anak-anak itu tidak berunjuk rasa memprotes keberadaan mereka yang hanya mampu meminjam sebuah garasi dengan para relawan?. Mengapa mereka harus lahir dari orang tua yang paspasan karena upah yang rendah sementera harga kebutuhan hidup naik berlipat-lipat?. Mengapa mereka hanya di sini dengan alat bermain seadanya sementara teman mereka di tempat lain merdeka penuh dengan fasilitas bermain yang lengkap?. Aku pun merenung.
Dari kepolosan dan kejujuran anak-anak itu, “mengapa” tidaklah begitu penting tapi “tekad”. Bertanya tidak terlalu penting tapi tindakan. Bertanya akan membuat masalah menjadi kusut dan tak terurai, tapi tekad yang baik akan melapangkan jalan menuju tujuan. Merdeka dan bangga menjadi anak Indonesia bagi mereka bukanlah pilihan tapi tekad.
Walau semalaman berjaga menatap monitor yang penuh angka, semangat tetap di dada. Anak-anak itu mengajarkan tekad, pribadi yang berketetapan dan komitmen bukan pengecut. Berdirilah dan nyatakan tekadmu. Aku memang anak yang merdeka, aku bangga menjadi anak Indonesia. Mari kita berjuang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar