Minggu, 05 Oktober 2025

GMIM

GMIM—Gereja Masehi Injili di Minahasa—telah berdiri lebih dari seabad. Ia bukan hanya sebuah lembaga keagamaan; ia adalah lanskap kultural, politik, bahkan psikologis dari sebuah komunitas. Dalam tubuhnya, terkandung sejarah panjang tentang kolonialisme, misi, modernitas, dan cara suatu masyarakat membaca Injil dalam bahasa lokal.

Di antara dominasi arsitektur beton dan bunyi lonceng minggu pagi, GMIM menyimpan kisah panjang perjumpaan antara Belanda dan Minahasa. Tapi tak seperti perjumpaan yang netral, yang ini sarat dengan asimetri: para zending membawa Alkitab dan disiplin, sementara tanah ini memberikan jiwa, adat, dan luka. Maka lahirlah GMIM sebagai hasil dari tarik-menarik antara misi dan lokalitas—antara gereja dan tanah.

Yang menarik: GMIM memilih nama “Injili,” bukan “Reformasi.” Ini bukan perkara semantik. Kata “Injili” seolah menekankan kabar, bukan sistem. Tapi justru di situlah paradoks muncul. Sebab dalam praktiknya, GMIM sering lebih sibuk membenahi sistem ketimbang menyelami kabar itu sendiri. Struktur jemaat dirancang nyaris seperti birokrasi negara: ada jemaat, wilayah, sinode, lengkap dengan badan pekerja, komisi, dan prosedur pemilihan yang kadang lebih panas dari pemilu legislatif.

Dan di tengah sistem yang rapi itu, Injil—yang kabarnya lembut dan subversif—sering kali tenggelam. Pelayanan dibungkus dalam rutinitas, ibadah menjadi agenda, dan kepemimpinan bergeser dari panggilan menjadi posisi. Maka pertanyaan penting pun muncul: apakah GMIM masih gereja yang mengabarkan kabar baik, atau sudah menjadi institusi yang sibuk mengatur dirinya sendiri?

Kita tahu, GMIM punya pengaruh sosial yang luar biasa di Minahasa. Ia bukan sekadar otoritas spiritual, tetapi juga kekuatan budaya dan politik. Di banyak desa, ketua BPMJ bisa lebih dihormati daripada camat. Pendeta bisa lebih dipercaya daripada legislatif. Tapi di sinilah godaannya: ketika gereja lebih menikmati posisinya sebagai kekuasaan ketimbang kehadirannya sebagai pelayanan.

GMIM juga sering bicara tentang “berbasis jemaat,” tetapi dalam praktik, suara jemaat tak selalu terdengar. Jemaat yang duduk diam di barisan belakang, pemuda-pemudi yang mulai malas hadir, atau umat yang hanya datang saat Natal—mereka sering hanya jadi statistik, bukan subjek dalam percakapan teologis.

Apakah GMIM siap mendengar suara yang tak sejalan? Atau ia hanya nyaman dengan harmoni palsu yang lahir dari keseragaman?

Apakah gereja ini masih menjadi tempat bertanya? Atau hanya tempat menjawab? Apakah ia masih menghidupi krisis sebagai jalan iman, atau sudah mengubah krisis menjadi ancaman yang harus dibungkam?

GMIM bukan hanya soal organisasi. Ia adalah narasi. Dan seperti setiap narasi yang besar, ia harus ditulis ulang—bukan untuk melupakan masa lalu, tapi agar masa depan punya tempat bernafas.

Dan di tengah dunia yang berubah cepat—dengan teknologi, mobilitas, dan ideologi baru—GMIM kadang masih bertahan dalam cara lama: liturgi yang kaku, pelayanan yang administratif, relasi yang hierarkis. Seolah Injil adalah museum, bukan berita yang hidup.

Mungkin GMIM tidak perlu menjadi gereja yang besar, tapi gereja yang hadir. Tidak perlu menjadi suara mayoritas, tapi gema kasih. Karena pada akhirnya, gereja bukan tentang betapa luasnya wilayah, atau berapa banyak jumlah kolom. Tapi tentang satu pertanyaan yang sunyi tapi mendalam: di manakah kasih itu, dan mengapa kita tidak lagi merasakannya dari mereka yang paling sering menyebut nama-Nya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar