Jumat, 02 Oktober 2026

Keramaian Virtual

Selamat datang di era Keramaian Virtual—sebuah pesta raksasa tanpa batas tempat semua orang diundang, semua orang bicara, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar mendengarkan.

Seorang kenalan saya dengan bangga memamerkan bahwa dia baru saja mencapai sepuluh ribu pengikut di media sosial. Dia merasa seperti seorang kaisar kecil yang dicintai rakyatnya. Namun, ketika dia membutuhkan seseorang untuk membantunya memindahkan sofa seberat lima puluh kilogram pada hari Minggu pagi, sepuluh ribu pengikut itu mendadak hilang bagaikan ditelan bumi.

"Paling tidak mereka memberi tanda Like pada foto sofaku," katanya terhibur, sambil mencoba menggeser furnitur itu sendirian hingga pinggangnya terkilir.

Di situlah letak keajaiban dunia digital modern. Kita berhasil menciptakan ilusi kebersamaan yang paling canggih sepanjang sejarah manusia. Kita bisa menyapa seseorang di New York sambil buang air besar di Jakarta, tetapi kita tidak tahu siapa nama tetangga sebelah rumah yang sudah tinggal di sana selama lima tahun.

Sipir algoritma kita telah merancang tempat berkumpul yang sangat ajaib:

• Kita punya 1.000 teman Facebook, tetapi memesan makanan instan untuk satu porsi setiap malam.

• Kita bergabung di 20 grup WhatsApp, tetapi ponsel kita hanya bergetar saat penagih utang atau penawaran pinjaman online masuk.

• Kita mengirim seratus emoji tertawa sampai menangis setiap hari, padahal wajah kita di depan layar datar-datar saja seperti papan cuci baju.

Kita terjebak dalam kerumunan yang makin hari makin bising. Semua orang berteriak minta diperhatikan melalui foto makanan, liburan buatan, dan kutipan motivasi yang dicuri dari internet. Namun, makin keras kita berteriak di ruang hampa itu, makin sunyi rasanya ketika kita mematikan layar ponsel.

Kita merayakan konektivitas tanpa batas, padahal yang sebenarnya kita lakukan adalah mengisolasi diri di dalam kotak kaca berukuran lima inci. Kita dikelilingi oleh jutaan sinyal, tetapi kelaparan akan satu sentuhan manusia yang nyata.

Jadi, ketika nanti malam Anda merasa begitu populer karena unggahan Anda disukai oleh ratusan akun anonim—ingatlah satu hal: jempol yang menekan tombol Love itu tidak akan ada di sana untuk memegang tangan Anda saat Anda kesepian.

Pertanyaannya sekarang: apakah Anda berani menaruh ponsel Anda di meja, menatap mata orang di depan Anda, dan memulai percakapan nyata—atau Anda terlalu takut menemukan bahwa hidup tanpa sinyal ternyata jauh lebih ramai?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar