Selasa, 04 Agustus 2009

Jadilah Teladan

“Jadilah teladan”, kalimat perintah pendek yang dibangkitkan pada Konser dan Launching Album Rohani Pemuda dan Remaja GMIM “Solafide” Tinoor pada 28 Juli 2009 malam itu, menggelitik kesadaranku. Aku ingat bahwa teladan hanya ada dalam lomba, seperti lomba murid teladan, guru teladan, karyawan teladan, bahkan beberapa minggu yang lalu aku melihat di sebuah instansi ada pegawai honor teladan.

Salut dan bangga, bagi seluruh remaja dan pemuda yang kreativ ini, walau ini hanyalah sepenggal kalimat yang masih berada di tataran pertunjukan, tapi setidaknya telah membangunkan kesadaran kita tentang pentingnya keteladanan. Sayang konser ini tidak sepenuhnya dihadiri oleh mereka yang diharapkan menjadi teladan.

Aku tahu bahwa malam itu keteladanan hanyalah judul sebuah lagu, belum menjadi bagian kehidupan sesungguhnya. Artinya keteladanan masih menjadi sebuah harapan anak muda untuk menjadi realita hidupnya, yang saat ini menjadi sesuatu yang langka dan sulit di temukan.

Banyak pejabat yang memang pantas di teladani dalam berpakaian dan kewibawaannya, tapi sayang moralitasnya hanya pantas ditelanjangi.

Banyak pelayan Tuhan yang patut di teladani ucapannya, tapi sayang prilakunya hanya patut menjadi kayu bakar di neraka.

Teladan diharapkan menjadi sebuah prilaku dan tidak hanya berhenti menjadi sebuah slogan yang luar biasa kibaran dan penampilannya tetapi dari hari kehari tercabik-cabik oleh badai. Ia tidak mampu bertahan dan akhirnya pergi bersama badai.

Teladan tidak selalu datang dari luar, tidak juga selalu dari yang tua, tetapi ia bisa lahir dari dalam, dari sebuah keyakinan iman yang sungguh, dari generasi muda yang dinamis dan kreativ. Seperti kata Paulus “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. (I Timotius 4 : 12).


Teladan adalah kehidupan!

Kamis, 23 Juli 2009

Hentikan Bom dengan Persatuan, Tekad, dan Kasih

Pagi 17 Juli 2009, hal yang sama 6 tahun lalu terulang kembali. Bom meledek di Restoran dua hotel mewah Jakarta, Marriot dan Ritz-Calton. Rintihan dan erangan dari balik debu dan asap hitam pekat seiring dengan bunyi benda-benda yang tercabik dan berjatuhan. Sayatannya tidak hanya terasa oleh korban Bom tetapi oleh seluruh anak negeri ini. Dirasakan oleh bangsa ini, yang sedang didera badai krisis dunia. Itu berarti mereka tidak saja mematikan kesempatan hidup saudara kita yang ada di Marriot dan Ritz-Calton, tetapi juga menghabat kesempatan bangsa ini untuk berkembang dan maju.

Aku tak mempunyai hak mengatakan mereka yang telah menjadi korban adalah orang-orang yang tidak berdosa. Manusia selalu saja berdosa, karena manusia mewarisi itu. Tapi manusia mempunyai kesempatan untuk tidak berdosa, untuk itu ia diberi kesempatan hidup. Manusia sipapun mereka tetaplah manusia, yang dalam keyakinan imanku mempunyai nilai yang sama; “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Tapi ada kelompok orang yang selalu menganggap dirinya tidak berdosa dan merasa lebih suci dari yang lain bahkan mendapat hak untuk melenyapkan orang lain dari muka bumi ini. Menggunakan agama sebagai pembenaran tindakan, sekaligus jalan pintas harapan menuju sorga.

Aku tak diberihak untuk mengutuk perbuatan ini. Kutukan juga tak akan mengembalikan kehidupan saudara-saudara kita yang menjadi korban. Kutukan juga tak akan membuat mereka yang berbuat dan merencanakan itu semua berhenti. Yang bisa menghentikan semua ini hanyalah persatuan, tekad dan Kasih.

Bersatunya bangsa ini dalam segala hal untuk memerangi terorisme dan jangan ada yang sengaja membiaskannya kearah politik untuk mendapatkan manfaat politis dari situasi yang baru saja berlalu.

Tekad bangsa ini untuk memerangi terorisme dan jangan ada yang sengaja membela mereka dengan berbagai dalil penafsiran ajaran yang nyata telah menyimpang dari yang sesungguhnya dan mengancam nilai kemanusiaan.

Kasih bangsa ini terhadap anak-anaknya. Jangan biarkan anak bangsa ini meratap, bingung, bodoh, miskin, terpinggirkan, teraniaya, teracam, tertindas, oleh bangsanya sendiri. Kejahatan ditindak tegas, kebaikan di beri ruang untuk berkembang agar berbuah. Kita pasti bisa.

Kamis, 16 Juli 2009

Dua Puluh Tujuh September Dua Ribu Delapan

Bangun pagi dengan persiapan untuk kembali ke Manado. Kebetulan Expres Bahari akan tiba dan berangkat siang ini. Kata mereka tiket sudah terjual habis sejak kemarin hari. Tertunda lagi rencana untuk pulang.

Tidak lama kemudian ada yang datang membawa 2 tiket, kata mereka kami tidak akan duduk di dalam tapi di luar (diburitan kapal). Mereka menyerahkan pada kami, dan kuperiksa ternyata nama yang ada dalam tiket tersebut tidak sama dengan kami. Tiket sebenarnya sudah habis, dan yang ini tinggal tiket orang lain, taka apa yang penting pulang.

Kupersiapkan semua kelengkapan, hanya satu tas gendong yang kubawa. Sudah agak siang sekitar pukul 11.00. Kami ke tempat 30 langkah dari penginapan, posisi tempat ini agak tinggi dengan tempat duduk untuk istirahat bahkan tidur juga bisa. Di tiup angin yang sepoi-sepoi kering, nampak di bawah pelabuhan Siau. Kata pak Bun kita duduk di sini dulu nanti kalau KM Express Bahari sudah tiba (berlabuh) baru kemudian pergi ke Pelabuhan. Pelabuhan masih kosong, belum nampak kapal di sana.

Tak lama kemudian nampak di kejauhan sebuah kapal mendekat ke pelabuhan dan kata mereka into kapal yang akan kita tumpangi. Tak lama kemudian dia merapat ke pelabuhan. Kami pun bergegas menuruni bukit kecil ini dan ke pelabuhan.

Suasana di pelabuhan Siau sudah ramai. Aku membeli aqua botol untuk minum di kapal. Penumpang sudah mulai turun, penumpan yang akan naik sudah betumpuk antri. Bupati Sitaro juga bersama penumpang antri. Aku melihat ia berdesakan dengan para penumpang. Aku tak tahu ini kemauan sang Bupati atau kelalaian Protokolernya, yang pasti sang Bupati juga antri. Prilaku yang baik tapi sebenarnya sangat berbahaya, sebab bisa saja ada yang iseng mendorong dan bupati bisa kecebur ke laut atau tindakan yang lebih ekstrim dari itu. Mungkin sang Bupati percaya betul dengan warganya dan yakin tak akan berbuat sejauh itu.

Aku menaiki tangga kapal dari arah depan, berjalan dan naik ke dek di atasnya lagi kemudian berjalan terus ke belakang kapal. Pandangan di tempat ini terbuka. Dari sini aku boleh melihat samping dan belakang dengan leluasa.

Pak Alfrets sudah tiba lebih dulu dan ia sudah duduk di kursi plastik. Tempat ini memang hanya menyediakan tempat duduk plastic. Sementara aku masih kebingungan mencari tempat duduk, bule di sampingku menawarkan kursi untukku, aku mengucapkan terima kasih, kemudian ia berkata: “bayar”. Beberapa kali ia mengulang dengan menambahkan: “dua puluh lima ribu”. Aku kaget juga. Bule ini bercanda atau serius? Aku memjawab: “Ini di negeri anda bayar tapi di negeri kami gratis”. Tapi jawaban ku itu sepertinya tidak dimengerti. Rupanya bule ini hanya tau “bayar” dan “dua puluh lima ribu”, dasar bule. Dengan inggris kira-kira ku coba menjawab kembali: “This chair payee in your country but free in our country”. Bule itu terkekeh-kekeh dengan teman di sampingnya.

Pukul 12.30 kami berangkat. Laut tenang, kapal melaju dengan cepat. Suasana di buritan ini memang ramai. Penumpangnya sebagian bule. Ada Prancis, amerika, jerman. Kelompok bule Prancis ini sudah agak tua, usia mereka mungkin di atas 55 thn bahkan ada mungkin sudah diatas 65 thn. Mereka yang kemarin berada di batu-batu lahar. Mungkin mereka peneliti, dari kalangan akademisi.

Bule di depanku, yang tadi menjual kursi, mengeluarkan kameranya kemudian masang lensa telenya dan mulai mengambil gambar. Kamera yang satu dengan lensa zoomnya digantung di pundak. Aku pikir bule ini mungkin fotografer. Bule di sampingku gondrong dengan anting di bibirnya. Ia diam terus dan hanya mengelus-elus janggutnya yang panjang sambil membaca sebuah buku tebal dan kulihat itu buku sastra. Mungkin ia sastrawan/seniman. Ia sudah mengunjungi bebarapa tempat/pulau, aku sendiri tidak tau nama daerah lain yang ia sebutkan. Bahkan ia sudah dari aceh. Ketika aku bertanya apa tujuannya, ia menjawab tidak tau. Aneh juga.

Ombak mulai membesar, kapal terasa sedikit oleng. Suasana di sini semakin ramai karena kursi plastik yang ringan selalu bergerak bahkan ada bule yang terguling ke samping untung ada temannya yang menahan. Dari samping pancaran air laut mulai terasa, bahkan dari depan air laut dapat naik sampai ke atap kapal dan meluncur ke belakang di mana kami berada, lagi-lagi ada bule yang basah dan ditertawakan teman-temannya.

Pukul. 14.33 kami tiba di tagulandang. Kapal hanya merapat di kapal yang lain tidak lansung di dermaga. Suasana bedesak-desakkan, momen ini di tangkap oleh kamera si bule penjual kursi tadi.

Pukul 15.15 kami berangkat dari tagulandang. Laut agak tenang bukan seperti dari Siau tadi. Menjelang memasuki Manado, matahari mulai terbenam. Bule penjual kursi itu nekat memanjat atap kapal sementara kapal malaju karena ingin mengambil foto saat matahari terbenam (Sunset). Temannya juga ikut naik.

Pukul 18.05 kapal merapat di pelabuhan Manado. Pak Alfrets akan ke tempat pertemuan partai karena ia temasuk calon legislative, aku langsung pulang ke Tinoor.