Minggu, 03 Agustus 2025

Persembahan

Persembahan dalam ibadah. Sebuah momen yang sering kali membuat tangan ragu dan hati gelisah. Di tengah suasana doa dan nyanyian yang khusyuk, tiba-tiba datang pengumuman yang terasa seperti jeda bisnis dalam acara rohani: “Kini saatnya kita memberi persembahan.” Dan seketika, dompet pun jadi tempat kontemplasi terdalam: berapa yang pantas, berapa yang sisa, dan—yang tak jarang—berapa yang tidak ingin dilepas.

Di banyak gereja, persembahan bukan lagi semata soal iman, tapi kadang menjadi ajang manipulasi yang halus. Dibalut ayat-ayat Alkitab dan kesaksian-kesaksian yang memukau, jemaat digiring untuk percaya bahwa memberi lebih banyak akan membuka jalan berkat lebih lebar. Seolah Tuhan menjalankan ekonomi surgawi berdasarkan logika investasi dunia: semakin besar modalmu, semakin besar dividen yang kau terima dari langit.

Tentu, memberi itu baik. Bahkan esensial. Namun, persoalan muncul ketika persembahan kehilangan makna spiritualnya dan berubah menjadi transaksi rohani. Kita tak lagi memberi karena cinta, tapi karena harapan akan imbalan. Tuhan berubah dari Pribadi yang disembah menjadi semacam “manajer portofolio surgawi” yang harus menyetor keuntungan rohani dari persembahan kita.

Persembahan yang sejati bukan tentang jumlah, tapi tentang sikap. Dalam cerita perempuan miskin yang memberi dua peser di bait Allah, Yesus tidak memuji besar kecilnya nilai uang, tetapi besar kecilnya hati yang rela. Di mata-Nya, persembahan adalah cermin jiwa, bukan isi rekening. Ia bukan soal seberapa banyak yang kita berikan, tetapi seberapa dalam makna di balik pemberian itu.

Namun sayangnya, realitas kini justru membalikkan cermin itu. Kita hidup dalam zaman di mana persembahan dibungkus dengan label “dukungan terhadap pelayanan,” tapi kadang pelayanan itu sendiri kehilangan arah. Dana ibadah berubah menjadi dana proyek, dana operasional berubah menjadi dana pencitraan. Gedung gereja dibangun megah, tetapi relasi antarumat runtuh dalam diam. Maka, benarkah semua ini untuk Tuhan, atau hanya untuk kemuliaan manusia yang dibungkus rohani?

Persembahan mestinya menjadi bentuk perjumpaan yang tulus antara manusia dan ilahi. Sebuah ungkapan syukur, bukan strategi dagang. Sebuah pemberian sukarela, bukan kewajiban yang digeret rasa bersalah. Ia harus lahir dari hati yang penuh pengakuan: bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan, dan kita sedang belajar untuk tidak terlalu mencengkeram dunia.

Lebih jauh lagi, persembahan bukan hanya soal uang. Memberi waktu, perhatian, tenaga, pengampunan, bahkan kesabaran—semua itu adalah persembahan yang tak kalah berharga di hadapan Tuhan. Kita terlalu sering menyempitkan makna “memberi” hanya pada isi dompet, padahal Tuhan lebih tertarik pada isi hidup kita. Persembahan sejati terjadi saat kita meletakkan ego, bukan sekadar uang, di altar pengabdian.

Pertanyaannya kini: apakah persembahan kita masih menyentuh langit, atau hanya memuaskan urusan bumi? Apakah Tuhan benar-benar menerima, atau hanya kita yang merasa telah “menyenangkan-Nya” padahal sesungguhnya sedang membayar ketenangan hati kita sendiri?

Maka, barangkali inilah saatnya kita bertanya ulang—bukan pada dompet, tapi pada nurani: apa yang sedang kita persembahkan, dan untuk siapa sebenarnya kita memberi? Sebab bisa jadi, persembahan yang tak mengubah hati adalah pemberian yang tak pernah sampai ke Surga.

Sabtu, 02 Agustus 2025

Kubur

Kubur selalu diam. Ia tidak banyak bicara, tidak berteriak, tidak membela diri. Tapi justru dalam diamnya, ia menyimpan gema yang panjang, lebih panjang dari usia siapa pun yang terbaring di dalamnya. Kubur bukan sekadar tanah yang ditumpuk, bukan pula sekadar tanda perpisahan. Ia adalah monumen keheningan, titik perhentian terakhir dari segala ambisi, cinta, dendam, dan harapan yang pernah menyala.

Namun benarkah kubur itu akhir?

Kita sering diajarkan untuk menghormati kubur, tapi jarang diajarkan untuk memaknai kehadirannya. Kubur, bagi sebagian orang, hanyalah ruang transisi antara dunia dan alam berikutnya. Tapi dalam perspektif yang lebih filosofis, kubur bisa menjadi cermin bagi yang masih hidup—refleksi tentang kefanaan, tentang waktu yang terlalu cepat, tentang kata-kata yang tak sempat diucapkan.

Ketika seseorang mati dan dikubur, dunia kita berubah. Tapi yang lebih menyakitkan bukan sekadar kehilangan raganya, melainkan kehilangan kesempatan: kesempatan untuk memeluk lebih lama, untuk meminta maaf, untuk mengatakan “aku sayang kamu” tanpa menunda. Kubur lalu menjadi simbol dari semua yang tak sempat—dari percakapan yang tertunda, pelukan yang terlupa, atau senyum yang tidak pernah kita kembalikan.

Dan uniknya, kubur tak pernah menilai. Ia menerima siapa saja. Yang kaya, yang miskin, yang setia, yang berdosa, semua akan menyatu di sana—dalam kesetaraan paling mutlak yang tidak mungkin diwujudkan di dunia. Di kubur, gelar dan jabatan meleleh, reputasi tak berarti, dan pencapaian hanya tinggal catatan. Satu-satunya yang tersisa adalah kenangan, dan itu pun bukan yang kita simpan, melainkan yang orang lain simpan tentang kita.

Dalam budaya modern, kubur sering dijauhkan dari percakapan sehari-hari. Kematian dianggap tabu. Orang berlomba untuk terlihat muda, hidup lama, dan sebisa mungkin menghindari bayang-bayang fana. Tapi dengan menghindari kubur, kita sebenarnya sedang menjauh dari kesadaran paling dasar bahwa hidup ini rapuh. Kita mengejar banyak hal—uang, popularitas, pengakuan—tanpa pernah benar-benar bertanya: kalau esok aku dikubur, apa yang akan tersisa dari diriku?

Kubur juga punya sisi sosial-politik. Ia tidak netral. Ada orang yang dikubur dengan upacara negara dan pidato-pidato muluk. Ada pula yang dikubur tergesa, tanpa nama, tanpa batu nisan, bahkan tanpa ada yang menangis. Dalam banyak kasus sejarah, kubur menjadi arena kekuasaan: siapa yang berhak dimakamkan di mana, siapa yang disembunyikan, siapa yang dihapus dari ingatan. Bahkan dalam kematian pun, ketidakadilan bisa tetap hidup.

Namun, yang paling menyentuh adalah bagaimana kubur membuat kita mengingat cinta. Banyak orang datang ke kubur bukan untuk berdoa semata, tapi untuk berbicara. Seolah batu nisan itu telinga. Seolah tanah itu masih bisa mendengar. Kita tahu mereka yang kita cintai telah tiada, tapi ada bagian dari diri kita yang menolak menerima bahwa segalanya sudah selesai. Maka kubur menjadi titik temu antara yang hidup dan yang pergi—bukan untuk menghidupkan kembali, tapi untuk tetap merasa dekat, meski dalam kehilangan.

Dan di sanalah letak keajaiban dari kubur. Ia tidak hanya menyimpan kematian, tapi juga merawat kehidupan—dalam bentuk ingatan, penyesalan, pengampunan, bahkan cinta yang tak kunjung padam.

Pada akhirnya, kubur tidak menakutkan. Yang menakutkan adalah hidup yang dijalani tanpa sadar bahwa kita akan ke sana. Bukan untuk membuat hidup penuh kecemasan, tapi untuk membuat setiap hari lebih bermakna. Karena kita tidak tahu kapan giliran kita akan datang. Bisa jadi, satu-satunya hal yang benar-benar milik kita di dunia ini… hanyalah tanah seukuran tubuh, yang diam-diam menunggu kita kembali.

Dan sebelum itu tiba, mari bertanya: sudahkah kita hidup sebagaimana layaknya orang yang akan mati—bukan dengan putus asa, tapi dengan penuh rasa?

Maka jika kubur adalah satu-satunya kepastian yang kita miliki, mengapa kita masih hidup seolah-olah kita abadi—menunda kebaikan, menumpuk kesombongan, memburu hal-hal yang tak bisa kita bawa mati? Barangkali, justru di hadapan tanah yang diam itu, kita harus mempertanyakan kembali bukan hanya apa yang telah kita capai, tapi juga: untuk siapa, dan untuk apa kita hidup. Beranikah kita hidup dengan cara yang akan membuat kematian kita pantas dikenang, bukan hanya didoakan?

Selasa, 29 Juli 2025

KONOHA

Saya pernah mendengar nama itu pertama kali dari seorang anak muda yang tertawa getir di pinggir meja kopi. “KONOHA,” katanya, “bukan lagi desa ninja. Tapi kerajaan.” Ia tak sedang membicarakan anime. Ia menunjuk ke sekelilingnya: lembaga-lembaga yang dikunci oleh nama-nama marga, pertemuan rapat yang hanya mengulang suara yang sama, dan ambisi yang tumbuh di balik doa-doa rohani.

KONOHA, singkatan yang nakal—Kingdom of Nepotism, Oligarchy and Hidden Ambition. Nakal karena ia berani menyindir dengan main-main, tapi juga getir karena ia menunjuk ke arah yang tak ingin dilihat.

Boleh jadi istilah itu tak muncul dalam naskah resmi. Tapi jejaknya ada. Dalam setiap pewarisan kekuasaan yang tak berbasis pada kompetensi, tapi pada kedekatan. Dalam elitisme terselubung yang menyamar dalam nama “pengabdian.” Dalam ambisi yang dikubur dalam senyum, tapi membakar dari dalam.

Nepotisme, katanya, adalah cinta yang salah alamat. Ia mencintai yang dekat, tapi melupakan yang layak. Kita pernah diajarkan bahwa meritokrasi adalah landasan dunia modern—bahwa yang terbaiklah yang mestinya memimpin. Tapi dalam Konoha, yang naik adalah mereka yang lahir dalam lingkaran, bukan yang berjalan dari pinggir. Jabatan diturunkan seperti warisan, bukan diperebutkan oleh mereka yang layak.

Seorang kawan berkata, “di sini, meritokrasi adalah mitos yang dibacakan dalam pelantikan, lalu dibuang ke tong sampah ketika pintu ditutup.” Mungkin ia berlebihan. Tapi kita tahu, berlebihan kadang hanya berarti jujur secara emosional.

Oligarki, lebih halus. Ia tidak selalu menunjuk. Ia cukup membisik. Ia tidak mengambil alih, hanya mengatur arah. Ia seperti bayangan yang tak pernah bisa disentuh, tapi mengatur cahaya. Dalam banyak sistem, termasuk yang bernama “komunitas rohani” sekalipun, kita melihat tangan-tangan tak kasat mata yang lebih menentukan dibanding suara mayoritas.

Lalu ambisi. Ah, ini yang paling tersembunyi. Karena ia bisa dikemas dalam frasa “melayani,” “mengabdi,” bahkan “berkorban.” Tapi di dalamnya, ada hasrat untuk diakui, dipilih, dicatat. Ambisi tak selalu buruk. Tapi yang tersembunyi, yang menipu dengan wajah rohani, itulah yang berbahaya.

Maka kita punya pemimpin yang tampaknya rendah hati, tapi sebenarnya sedang merancang peta kekuasaan. Kita punya panitia yang katanya melayani, tapi diam-diam menjaring suara untuk pemilihan berikutnya. Kita punya gereja yang terlihat bersinar, tapi dibangun dengan agenda yang tak pernah dibicarakan di altar.

Maka Konoha, pada akhirnya, bukan cuma tempat dalam komik Jepang. Ia adalah metafora tentang kekuasaan yang terlalu akrab dengan keluarga, terlalu sempit untuk dibagi, terlalu licik untuk jujur. Ia bisa berwujud dalam lembaga, organisasi, atau gereja. Ia bisa memakai jubah ninja, toga sarjana, atau bahkan seragam pelayanan.

Apa yang salah dari sistem seperti ini? Barangkali bukan sekadar moralitas. Tapi karena ia membuat kita percaya bahwa perubahan hanya mungkin lewat garis keturunan, bukan lewat ketulusan. Bahwa suara minoritas akan selalu diredam oleh tawa akrab mereka yang duduk dalam meja bundar kekuasaan.

Yang tertinggal dari Konoha adalah ironi: bahwa bahkan dalam dunia fiksi, kita bisa membaca kenyataan. Dan kenyataan itu tak selalu menyenangkan. Ia bisa mengecewakan—atau justru menyadarkan.

Mungkin, suatu hari, KONOHA akan berubah. Tapi bukan karena mereka yang berkuasa akhirnya tercerahkan. Melainkan karena mereka yang diam, akhirnya bersuara.

Karena yang paling tersembunyi bukan jurus rahasia. Tapi niat yang dikubur di balik senyum.