Di banyak gereja, persembahan bukan lagi semata soal iman, tapi kadang menjadi ajang manipulasi yang halus. Dibalut ayat-ayat Alkitab dan kesaksian-kesaksian yang memukau, jemaat digiring untuk percaya bahwa memberi lebih banyak akan membuka jalan berkat lebih lebar. Seolah Tuhan menjalankan ekonomi surgawi berdasarkan logika investasi dunia: semakin besar modalmu, semakin besar dividen yang kau terima dari langit.
Tentu, memberi itu baik. Bahkan esensial. Namun, persoalan muncul ketika persembahan kehilangan makna spiritualnya dan berubah menjadi transaksi rohani. Kita tak lagi memberi karena cinta, tapi karena harapan akan imbalan. Tuhan berubah dari Pribadi yang disembah menjadi semacam “manajer portofolio surgawi” yang harus menyetor keuntungan rohani dari persembahan kita.
Persembahan yang sejati bukan tentang jumlah, tapi tentang sikap. Dalam cerita perempuan miskin yang memberi dua peser di bait Allah, Yesus tidak memuji besar kecilnya nilai uang, tetapi besar kecilnya hati yang rela. Di mata-Nya, persembahan adalah cermin jiwa, bukan isi rekening. Ia bukan soal seberapa banyak yang kita berikan, tetapi seberapa dalam makna di balik pemberian itu.
Namun sayangnya, realitas kini justru membalikkan cermin itu. Kita hidup dalam zaman di mana persembahan dibungkus dengan label “dukungan terhadap pelayanan,” tapi kadang pelayanan itu sendiri kehilangan arah. Dana ibadah berubah menjadi dana proyek, dana operasional berubah menjadi dana pencitraan. Gedung gereja dibangun megah, tetapi relasi antarumat runtuh dalam diam. Maka, benarkah semua ini untuk Tuhan, atau hanya untuk kemuliaan manusia yang dibungkus rohani?
Persembahan mestinya menjadi bentuk perjumpaan yang tulus antara manusia dan ilahi. Sebuah ungkapan syukur, bukan strategi dagang. Sebuah pemberian sukarela, bukan kewajiban yang digeret rasa bersalah. Ia harus lahir dari hati yang penuh pengakuan: bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan, dan kita sedang belajar untuk tidak terlalu mencengkeram dunia.
Lebih jauh lagi, persembahan bukan hanya soal uang. Memberi waktu, perhatian, tenaga, pengampunan, bahkan kesabaran—semua itu adalah persembahan yang tak kalah berharga di hadapan Tuhan. Kita terlalu sering menyempitkan makna “memberi” hanya pada isi dompet, padahal Tuhan lebih tertarik pada isi hidup kita. Persembahan sejati terjadi saat kita meletakkan ego, bukan sekadar uang, di altar pengabdian.
Pertanyaannya kini: apakah persembahan kita masih menyentuh langit, atau hanya memuaskan urusan bumi? Apakah Tuhan benar-benar menerima, atau hanya kita yang merasa telah “menyenangkan-Nya” padahal sesungguhnya sedang membayar ketenangan hati kita sendiri?
Maka, barangkali inilah saatnya kita bertanya ulang—bukan pada dompet, tapi pada nurani: apa yang sedang kita persembahkan, dan untuk siapa sebenarnya kita memberi? Sebab bisa jadi, persembahan yang tak mengubah hati adalah pemberian yang tak pernah sampai ke Surga.


