Jumat, 15 Agustus 2025

Bangsa Yang Sakit Teriak Merdeka

Kita adalah bangsa yang lahir dari jeritan, darah, dan mimpi. Tujuh puluh sekian tahun yang lalu, kata “merdeka” bukan sekadar slogan; ia adalah napas terakhir yang kita hembuskan dalam perang, harga yang dibayar dengan nyawa, dan janji yang disegel dengan darah. Tapi kini, di jalan-jalan, di televisi, di media sosial, kita masih berteriak “Merdeka!” — sambil pelan-pelan membusuk dari dalam.

Bangsa ini seperti tubuh yang mengenakan pakaian pahlawan, tapi di baliknya demam, batuk, dan napasnya sesak. Kita masih merayakan kemerdekaan dengan lomba makan kerupuk, tapi di meja makan rumah banyak keluarga, nasi dan lauknya tetap seadanya. Kita masih mengibarkan bendera setinggi-tingginya, tapi keadilan dan kesejahteraan kita pasang setengah tiang. Kita seperti orang yang bangga memamerkan rumah megahnya, padahal fondasinya retak dan rayapnya menggerogoti.

Sakit kita bukan sekadar soal ekonomi atau politik—meskipun itu jelas kronis. Sakit kita ada di kepala dan hati. Kita mudah dipecah oleh berita palsu, gampang tersulut oleh perbedaan, dan senang mencurigai sesama hanya karena keyakinan atau pandangan politiknya tak sama. Kita senang mengutuk korupsi, tapi ketika ada kesempatan, kita meraih amplop “sekadar tanda terima kasih.” Kita mencemooh pejabat yang tidak becus, tapi di lingkup kecil, kita juga sering bermain licik demi kepentingan diri sendiri.

Ironisnya, teriakan “Merdeka!” kita hari ini sering terdengar seperti penyangkalan. Kita berteriak untuk meyakinkan diri bahwa kita masih berdaulat, padahal dalam banyak hal kita tunduk pada logika pasar global, kebijakan internasional, dan mentalitas konsumtif yang membuat kita tergantung pada bangsa lain. Kita merasa bebas, padahal sebagian besar pikiran kita dikendalikan algoritma media sosial. Kita pikir kita memilih sendiri, padahal kita sedang dipandu oleh sistem yang memahami kita lebih baik daripada kita mengenali diri sendiri.

Mungkin, kita ini seperti pasien yang menolak mengakui penyakitnya. Kita lebih suka menghibur diri dengan pesta kemerdekaan ketimbang menatap cermin dan melihat bahwa wajah kita pucat. Kita bertepuk tangan di upacara bendera, tapi enggan duduk bersama untuk membicarakan bagaimana memperbaiki sekolah yang roboh, rumah sakit yang sepi obat, dan petani yang kalah harga dari produk impor.

Kemerdekaan yang sejati bukan hanya tentang lepas dari penjajahan fisik, tapi juga dari penjajahan mental, moral, dan ketergantungan yang melemahkan daya kita. Merdeka berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menjual harga diri. Merdeka berarti bisa berpikir jernih tanpa diikat propaganda atau uang sogokan. Merdeka berarti menegakkan keadilan bukan hanya untuk kelompok kita, tapi untuk semua warga tanpa kecuali.

Kalau tubuh bangsa ini sakit, kita tidak bisa berharap sembuh hanya dengan teriak lebih keras. Kita butuh keberanian untuk mengobati luka, membuang racun, dan memperbaiki cara kita berpikir. Sebab, bangsa yang sakit tetapi terus teriak “Merdeka!” tanpa mau berobat—pada akhirnya hanya sedang menipu dirinya sendiri.

Dan mungkin, kemerdekaan sejati akan datang bukan saat kita berhenti berteriak, tapi saat kita bisa berbisik pelan: “Kami sungguh merdeka, di pikiran, di hati, dan di tindakan.”

Sabtu, 09 Agustus 2025

Bunga

Bunga selalu dipuja. Ia adalah simbol cinta, tanda belasungkawa, penghias pesta, bahkan hiasan di altar pernikahan. Di pasar, bunga dijual dalam ikatan rapi; di taman, bunga menjadi bintang yang diam-diam memaksa mata untuk berhenti. Kita mengagumi kelopaknya, mencium aromanya, memotretnya untuk dibagikan di media sosial. Tapi jarang kita bertanya: mengapa kita begitu mudah terpikat oleh sesuatu yang hidupnya singkat?

Kecantikan bunga adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, ia menawarkan keindahan yang murni; di sisi lain, ia adalah janji yang rapuh. Bunga mengajarkan kita tentang kefanaan dengan cara yang nyaris kejam: ketika ia sedang paling cantik, itulah saat ia paling dekat dengan layu. Inilah pelajaran yang sering kita abaikan—bahwa puncak keindahan hampir selalu beriringan dengan awal kehancuran.

Jika manusia mau jujur, kita sering memperlakukan sesama seperti bunga. Kita memetik ketika sedang mekar, memamerkannya, lalu membuangnya ketika warnanya pudar. Budaya kita memuja yang segar, muda, dan wangi; tapi enggan berurusan dengan kelopak yang gugur. Dalam hal ini, bunga bukan sekadar tanaman; ia adalah cermin dari cara kita mencintai—sementara, dangkal, dan mudah bosan.

Di balik pesona bunga, ada ekosistem yang bekerja keras. Tangkainya berjuang mencari air, akarnya menembus tanah, dan daunnya menyerap cahaya. Tapi semua itu jarang kita perhatikan. Kita hanya mau hasil akhirnya: mekarnya kelopak. Sama seperti kita yang lebih sering merayakan keberhasilan seseorang tanpa peduli pada perjalanan panjang yang penuh keringat, air mata, dan luka yang membentuknya.

Bunga juga adalah politik. Di dunia ekonomi global, bunga bukan hanya tumbuh di tanah, tapi juga di pasar saham. Ada industri miliaran dolar yang berdiri di atas ladang-ladang bunga potong. Ironisnya, bunga yang kita beli untuk mengekspresikan cinta sering dipanen oleh tangan-tangan yang dibayar murah di negeri jauh, lalu diterbangkan melintasi benua hanya untuk mati di meja ruang tamu kita. Keindahan di sini dibayar oleh keringat dan ketidakadilan.

Bunga mengundang kita untuk bertanya: apakah nilai sesuatu terletak pada ketahanannya atau pada momen singkatnya yang mempesona? Bunga tak pernah menyesali hidupnya yang sebentar; ia hanya mekar dengan segenap dirinya, lalu menyerah pada waktu. Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang kita, manusia modern, sulit terima. Kita ingin segalanya abadi—cinta, kesehatan, karier—padahal sebagian dari keindahan justru ada pada kepastian bahwa ia akan berakhir.

Bunga adalah peringatan yang lembut tapi tegas: bahwa keindahan bukanlah milik yang selamanya, melainkan milik yang berani hadir sepenuhnya di saatnya. Dan mungkin, jika kita mau belajar darinya, kita akan berhenti mengejar ilusi bahwa yang indah harus bertahan, dan mulai menghargai yang sementara dengan rasa syukur yang lebih dalam.

Karena pada akhirnya, seperti bunga, kita semua adalah mekar yang sedang menunggu gugur—dan yang membuat hidup ini berarti bukanlah berapa lama kita mekar, tapi seberapa tulus kita memberi keindahan pada dunia sebelum kelopak terakhir jatuh.

Jumat, 08 Agustus 2025

Cantik Itu Luka

Ketika Keindahan Menjadi Kutukan yang Terbungkam.

“Cantik itu luka,” tulis Eka Kurniawan dalam novelnya yang mengguncang itu. Kalimat itu terdengar paradoksal, bahkan menggugat. Bukankah cantik seharusnya identik dengan pujian, kekaguman, keistimewaan? Tapi dalam dunia yang kita huni—yang dipenuhi standar visual, iklan kosmetik, algoritma media sosial, dan mitos tubuh ideal—kecantikan bisa menjelma menjadi beban, bahkan kutukan. Maka, mari kita telanjangi konsep "cantik" yang selama ini didandani oleh pasar dan patriarki.

Kita hidup dalam era di mana wajah lebih dahulu dinilai sebelum pikiran. Di mana kulit mulus, tubuh langsing, dan hidung mancung lebih bernilai daripada empati, kecerdasan, atau keberanian. Industri kecantikan mencetak standar yang begitu sempit namun menjanjikan dunia. Cantik menjadi paspor sosial: membuka pintu karier, cinta, bahkan penerimaan. Tapi di balik itu, tersembunyi jerat yang sunyi—kecantikan membuat seseorang dipuja dan sekaligus dikekang.

Perempuan yang cantik tak selalu lebih bebas. Justru sering kali mereka menjadi objek: dinikmati, ditafsir, diatur. Mereka menjadi layar proyeksi dari keinginan orang lain, bukan subjek dengan narasi sendiri. Lihatlah bagaimana media menampilkan tubuh perempuan—dari iklan sabun hingga politik negara. Cantik menjadi alat kontrol sosial: siapa yang dianggap layak tampil, siapa yang harus diperbaiki, dan siapa yang boleh dihapus dari perhatian.

Tak sedikit perempuan yang menjadi korban dari “anugerah” kecantikan mereka sendiri. Mereka dinilai bukan karena isi pikirannya, tapi karena penampilan luarnya. Banyak pula yang mengalami pelecehan, penghakiman moral, atau bahkan kekerasan hanya karena dianggap terlalu menarik atau "mengundang". Di titik ini, kecantikan berhenti menjadi berkah—ia menjadi luka yang dalam, yang tak tampak tapi terus menganga.

Namun, luka ini tidak hanya dimiliki mereka yang "cantik" secara konvensional. Justru sebagian besar dari kita menderita karena tidak dianggap cukup cantik. Kita hidup dalam bayang-bayang perbandingan yang tak kunjung usai—dari cermin, dari layar ponsel, dari komentar netizen. Kita mencubit perut, memutihkan kulit, menyisir rambut dengan kegelisahan eksistensial. Semua demi masuk ke dalam kerangka sempit bernama "ideal".

Kita perlu mencabut akar persoalan ini dari dalam-dalam. Mulai dari pertanyaan sederhana: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari standar kecantikan ini? Jawabannya bukan perempuan. Tapi mereka yang menjual mimpi dalam kemasan 30ml, mereka yang mengontrol narasi tubuh, dan mereka yang merasa berhak menentukan siapa yang layak disebut menarik.

Lalu, di mana letak pembebasannya?

Pertama, kita harus menyadari bahwa cantik itu bukan entitas objektif, melainkan konstruksi sosial. Ia berubah-ubah, tergantung zaman, budaya, dan siapa yang memegang kuasa. Dengan demikian, kita bisa mengambil jarak dari tirani standar kecantikan. Kita bisa mulai melihat tubuh bukan sebagai barang pamer, tapi rumah yang dirawat dengan kasih.

Kedua, kita perlu menggeser percakapan dari “apakah aku cantik?” menjadi “apakah aku merdeka?” Karena kecantikan sejati bukanlah tampilan, tapi keberanian untuk menjadi diri sendiri, meski dunia terus memaksa untuk berubah.

“Cantik itu luka,” karena ia terlalu sering dijadikan alat untuk menilai harga seseorang. Tapi luka itu juga bisa menjadi pintu untuk kesadaran baru—bahwa menjadi manusia jauh lebih penting daripada sekadar menjadi cantik. Dan mungkin, justru di dalam keberanian merangkul luka itu, kita menemukan makna kecantikan yang paling jujur: bukan yang membuat orang lain terpesona, tapi yang membuat kita sendiri merasa utuh.

Maka, apakah kamu masih ingin disebut cantik? Atau kamu ingin lebih dari itu: bebas, sadar, dan tak lagi tunduk pada luka yang dilapisi glitter?