Bangsa ini seperti tubuh yang mengenakan pakaian pahlawan, tapi di baliknya demam, batuk, dan napasnya sesak. Kita masih merayakan kemerdekaan dengan lomba makan kerupuk, tapi di meja makan rumah banyak keluarga, nasi dan lauknya tetap seadanya. Kita masih mengibarkan bendera setinggi-tingginya, tapi keadilan dan kesejahteraan kita pasang setengah tiang. Kita seperti orang yang bangga memamerkan rumah megahnya, padahal fondasinya retak dan rayapnya menggerogoti.
Sakit kita bukan sekadar soal ekonomi atau politik—meskipun itu jelas kronis. Sakit kita ada di kepala dan hati. Kita mudah dipecah oleh berita palsu, gampang tersulut oleh perbedaan, dan senang mencurigai sesama hanya karena keyakinan atau pandangan politiknya tak sama. Kita senang mengutuk korupsi, tapi ketika ada kesempatan, kita meraih amplop “sekadar tanda terima kasih.” Kita mencemooh pejabat yang tidak becus, tapi di lingkup kecil, kita juga sering bermain licik demi kepentingan diri sendiri.
Ironisnya, teriakan “Merdeka!” kita hari ini sering terdengar seperti penyangkalan. Kita berteriak untuk meyakinkan diri bahwa kita masih berdaulat, padahal dalam banyak hal kita tunduk pada logika pasar global, kebijakan internasional, dan mentalitas konsumtif yang membuat kita tergantung pada bangsa lain. Kita merasa bebas, padahal sebagian besar pikiran kita dikendalikan algoritma media sosial. Kita pikir kita memilih sendiri, padahal kita sedang dipandu oleh sistem yang memahami kita lebih baik daripada kita mengenali diri sendiri.
Mungkin, kita ini seperti pasien yang menolak mengakui penyakitnya. Kita lebih suka menghibur diri dengan pesta kemerdekaan ketimbang menatap cermin dan melihat bahwa wajah kita pucat. Kita bertepuk tangan di upacara bendera, tapi enggan duduk bersama untuk membicarakan bagaimana memperbaiki sekolah yang roboh, rumah sakit yang sepi obat, dan petani yang kalah harga dari produk impor.
Kemerdekaan yang sejati bukan hanya tentang lepas dari penjajahan fisik, tapi juga dari penjajahan mental, moral, dan ketergantungan yang melemahkan daya kita. Merdeka berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menjual harga diri. Merdeka berarti bisa berpikir jernih tanpa diikat propaganda atau uang sogokan. Merdeka berarti menegakkan keadilan bukan hanya untuk kelompok kita, tapi untuk semua warga tanpa kecuali.
Kalau tubuh bangsa ini sakit, kita tidak bisa berharap sembuh hanya dengan teriak lebih keras. Kita butuh keberanian untuk mengobati luka, membuang racun, dan memperbaiki cara kita berpikir. Sebab, bangsa yang sakit tetapi terus teriak “Merdeka!” tanpa mau berobat—pada akhirnya hanya sedang menipu dirinya sendiri.
Dan mungkin, kemerdekaan sejati akan datang bukan saat kita berhenti berteriak, tapi saat kita bisa berbisik pelan: “Kami sungguh merdeka, di pikiran, di hati, dan di tindakan.”


