Sabtu, 09 Mei 2009

Delapan Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Menurut cerita. Setelah tentara Belanda berhasil melumpuhkan benteng di “Kandela” (benteng suku pribumi/asli), ± 6 orang tentara Belanda menggunakan perahu yang di dayung/dikemudikan oleh pribumi namanya “N’gkai Jelo” mengantar mereka ke Tentena.

Saat tiba di tempat yang namanya “Tanjung Tolambo”, orang tua yang mengantar mereka itu berkata bawa jangan memukul batu yang di pinggiran danau di tanjung tersebut. Tetapi tentara Belanda itu tidak memperdulikan kata-katanya. Mereka memukul batu di tanjung itu dengan popor senapan mereka dan batu itu patah masuk ke dalam danau.

Tepat di ujung tanjung itu datang ombak besar yang masyarakat di sana menyebutnya “Dongi”. Orang tua itu mengguncangkan perahu yang mereka tumpangi tersebut sampai tentara-tentara belanda itu jatuh ke dalam danau. Mereka yang mengapung minta tolong dipukul dengan dayung oleh orang tua tersebut sampai semuanya tewas. Orang tua itu mengumpulkan mayat-mayat tentara Belanda tersebut dan meletakkannya di batu yang sampai sekarang masih ada walaupun tidak lengkap lagi. Tulang-tulang itu memang seperti tulang orang eropah. Anehnya tempat tulang-tulang itu diletakkan tidak terdapat daun-daun kering dan rambut kepala masih ada walau hanya sedikit.

Ternyata banyak kisah-kisah heroik perjungan anak negeri ini di bagian timur Indonesia khususnya di Poso yang tidak terpublikasikan, yang menonjol memang dari pulau jawa.

Setelah makan siang aku dan adikku menuju ke tanjung Tolambo untuk melihat kuburan-kuburan yang lain lagi. Kami menemukan tumpukan-tumpukan tengkorak di sana. Ada yang masih di tempatnya, ada yang sudah beserakkan di sekitarnya bahkan di dalam danau. Kata adik, tulang-tulang yang beserakan itu karena dimainkan oleh monyet-monyet liar di daerah itu.

Dulu, pernah ada yang memancing di tanjung tersebut dan menemukan sebilah pedang komando (“klewang”) tentara Belanda yang masih utuh.

Pukul 13.30 kami ke tepi danau untuk memancing. Kami mendapatkan ikan mujair, mas dan nilam serta kabos. Kami tidak menemukan yang besar, rata-rata hanya selebar 3 jari saja. Kata adik dahulu ikannya banyak yang besar, tetapi karena di setrum dan dipukat “dampar”, maka ikan-ikan tersebut mulai berkurang. Bias mendapatkan yang besar jika menggunakan pukat.

Pulang sudah agak malam.

Orang-orang yang hidup di desa Tolambo dan desa Dulumai ini disebut “to Longkea”.

Kamis, 07 Mei 2009

Tujuh Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Hari ini tidak ke mana-mana. Ngobrol di rumah. Aku lebih banyak bertanya tentang kuburan-kuburan itu. Memang tidak terlalu penting berbicara tentang kematian, tetapi betapa pentingnya masa lalu sebagai dasar pijakan ke masa depan.

Peti yang di atasnya di ukir buaya bertanda bahwa itu hanya tinggal tulang-tulang yang dikumpulkan. Jika tidak ada ukiran buaya, berarti tulang-tulang itu asli yang dimasukkan ke dalam peti itu. Aku belum tahu lebih jauh tentang buaya ini. Mungkin saja mereka menganggap buaya yang akan membawa mereka ke tempat peristirahatan kekal mereka.

Ada pula kuburan kera, kata mereka. Tempatnya di tebing batu dan dijaga oleh kera. Kera yang mati dibawa ke kuburan itu. Itulah sebabnya sampai sekarang tidak ada menemukan mayat monyet atau tulang- tulang monyet yang berserakan begitu saja di hutan. Ada benarnya juga, tapi aku belum melihatnya.

Senin, 04 Mei 2009

Enam Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Memori stik pada kameraku sudah hampir penuh. Kapasitasnya kecil, maklum kamera keluaran terdahulu, belum secanggih saat ini. Jika isinya tidak dipindahkan ke flashdisk maka aku tidak dapat lagi mengambil indahnya tepian Danau Poso.
Aku berencana akan ke Pendolo untuk memindahkan file dari memori stik kamera ke flashdisk, agar memori di kamera dapat dikonsongkan.
Pukul 15.50 kami ( aku dan papa) berangkat menggunakan sepeda motor adik Jefry, aku yang mengendarai. Tujuan kami Pendolo, ibu kota Kecamatan Pamona Selatan. Jalan masih pengerasan berbatu kerikil. Jalan ini beberapa waktu yang lalu diperbaiki, mungkin peningkatan, tapi tetap saja seperti ini walaupun katanya anggaran miliyaran rupiah. Malah kata papa, jalan ini memang sudah seperti ini, pengerasannya sejak jaman belanda dan jepang, sepertinya tidak terlalu banyak berubah, memang ada yang telah di aspal ± 15% itu pun yang mendekati Pendolo.
Aku memacu motor Yamaha bebek ini dan kecepatan penuhnya hanya mencapai 40 Km/jam sedangkan kecepatan rata-rata 25 Km/jam. Tiga desa yang harus kami lewati untuk tiba di Pendolo, desa Tindoli, Tokilo dan Korobono.
Setelah kami tiba di desa Tokilo, aku teringat flashdisk, dan setelah kuperiksa di saku, ternyata tidak ada, itu berarti tidak terbawa dan masih di Tolambo. Aku harus kembali untuk mengambilnya, karena percuma ke Pendolo jika tidak membawa flashdisk. Papa menunggu di Pos Kamling dan aku kembali ke Tolambo. Dari Tokilo ke Tolambo memakan waktu ± 20 menit.
Hampir pukul 16.00 kami tiba di Pendolo. Kata adik, ada dua tempat yang dapat memindahkan file tersebut.
Tempat pertama di samping lapangan sepak bola, kami ke sana, tapi menurut yang punya studio tersebut tidak bias, operatornya tidak ada. Kami lanjutkan ke tempat yang kedua (di depan Gereja) di perampatan/tugu. Kata “ko” di toko tersebut, operatornya sedang pergi memancing di danau, refreshing.
Untuk menunggu operator tiba kami ke pelabuhan Pendolo. Ada tempat berteduh yang memang dibuat untuk siapa saja yang ingin berteduh. Di daerah ini pantainya mamanjang dengan pasir putihnya yang indah. Ada penginapan di bibir pantai, namun aku melihat kurang dan bahkan hampir tidak ada wisatawan. Memprihatinkan, mesin pemerintah khususnya di Kabupaten Poso ini kurang memberikan perhatian pada dunia pariwisata, padahal Poso, lebih khusus Danau Poso memiliki nilai
jual yang tinggi untuk pariwisata. Tahun-tahun sebelum kerusuhan
Poso pecah pariwisata cukup berkembang, tetapi setelah pecahnya kerusuhan Poso, pariwisata mulai menurun. Apa lagi jika jika arus tegangan extra tinggi telah aktif berfungsi dan melewati sepanjang tepian danau Poso, maka lengkaplah sudah pembunuhan dunia Pariwisata di Danau Poso.
Kami menghabiskan waktu sampai pukul 18.00, sambil melihat anak-anak yang bermain di sepanjang pantai, ada orang-orang yang memancing di dermaga, ada perahu yang bertolak meninggalkan pantai dan ada yang merapat, papa juga bercerita banyak tentang masa kecilnya di Pendolo, ketika bersekolah.
Pukul 18.00 listrik dihidupkan. Di Pendolo lampu listrik hanya menyala mulai pukul 18.00 sampai pukul 24.00 (00.00). Sangat memprihatinkan, Pendolo yang adalah Ibu Kota Kecamatan Pamona Selatan itu hanya diterangi lampu (PLN) 6 jam dalam sehari, ironis memang namun itulah kenyataan.
Entah kali yang ke berapa aku kembali untuk menanyakan tentang operator itu, tetapi belum datang juga. Kami memutuskan untuk menunggu di studionya. Ada juga seorang bapak yang katanya guru, menunggu di situ.
Tidak lama beselang operator tersebut tiba. Ia lalu memindahkan semua isi memori ke flashdisk. Aku menanyakan spesifikasi komputernya, ternyata cukup bagus, tetapi aku melihat tampilan grafisnya agak lambat.
Pukul 18.30 kami kembali ke Tolambo. Aku pertama kali mengendarai motor di daerah ini pada malam hari. Yang kutakuti bukan setan tetapi manusia, apalagi ini daerah konflik. Kami melewati hutan, sawah dan dua desa disepanjang ± 15 Km. Di daerah persawahan Tolambo kami terhalang oleh kerbau yang tidur melintang di jalan. Papa coba mengusirnya, dan kerbau itupun berlalu, dengan matanya yang tajam menatap kami. Ada kerbau liar yang jika diusir bukannya pergi malah mengejar yang mengusirnya.
Akhirnya kami tiba di rumah, mereka kuatir jangan-jangan terjadi sesuatu di jalan.