Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa mengubah tata letak kursi di gereja terkadang lebih sulit daripada menegosiasikan perdamaian di Timur Tengah? Jika Anda mengira birokrasi hanya milik kantor pajak atau kelurahan, berarti Anda belum pernah mencicipi kopi dingin di lobi ruang sidang Sinode.
Dunia mengenal banyak singkatan hebat—FBI, CIA, FIFA—tapi dalam ekosistem rohani kita, BPMS adalah "Maha-Segalanya". Secara teori, mereka adalah pelayan. Namun secara praktik, mereka adalah gabungan antara Mahkamah Agung, dewan direksi perusahaan, dan wasit garis yang sangat sensitif terhadap aturan.
Menulis tentang BPMS itu seperti mencoba menjelaskan cara kerja mesin jet kepada seekor merpati; banyak suara bising, penuh asap, dan pada akhirnya sang merpati tetap terbang ke arah yang dia mau. BPMS adalah bukti bahwa manusia, bahkan saat mencoba mengurus hal-hal surgawi, tetap tidak bisa lepas dari godaan untuk membuat bagan organisasi yang panjangnya melebihi daftar silsilah di Kitab Kejadian.
BPMS adalah pengingat bahwa "tertib administrasi" sering kali menjadi sepupu jauh dari "kekakuan spiritual". Kita sering terjebak dalam logika bahwa semakin banyak rapat yang digelar, semakin suci keputusan yang dihasilkan. Padahal, sering kali yang terjadi adalah: Tuhan sudah pindah ke desa sebelah, sementara kita masih sibuk memperdebatkan Pasal Z Ayat 0 tentang tata cara penggunaan stempel resmi.
Ada paradoks yang lucu di sini. Kita diajarkan bahwa "Elang terbang sendirian" dan keberanian iman itu bersifat personal. Namun, begitu masuk ke ranah organisasi, tiba-tiba semua orang berubah menjadi domba yang sangat peduli pada prosedur.
BPMS menjadi penjaga arus. Jika Anda mencoba berenang melawan arus dengan ide-ide revolusioner, mereka akan dengan sopan mengingatkan bahwa ide Anda sangat bagus, tapi "belum sesuai dengan mekanisme yang berlaku." Itu adalah bahasa halus untuk mengatakan: "Tunggu sampai kami pensiun, ya."
"Hanya bangkai yang hanyut mengikuti arus, tapi di dalam organisasi, bangkai yang mengikuti arus itulah yang biasanya terpilih kembali di periode berikutnya."
Apakah kita membutuhkan BPMS? Tentu saja. Tanpa mereka, siapa lagi yang akan mengurus mutasi pendeta yang tidak populer atau memutuskan merek cat untuk gedung serba guna? Masalahnya bukan pada keberadaannya, tapi pada kecenderungan kita untuk menyembah sistem lebih dari menyembah Sang Pencipta Sistem.
Kita butuh BPMS yang lebih banyak menggunakan telinga daripada palu sidang. Kita butuh birokrat yang sadar bahwa iman tidak bisa dipenjara dalam kertas laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang dijilid rapi dengan lakban hitam.
Jadi, untuk Anda para anggota majelis yang terhormat: Teruslah bekerja. Susunlah aturan itu. Tapi ingat, di gerbang surga nanti, Petrus kemungkinan besar tidak akan menanyakan nomor surat keputusan (SK) Anda. Dia mungkin hanya akan bertanya, "Sudahkah kamu memanusiakan manusia, atau kamu terlalu sibuk dengan rapat anggaran?"


