Minggu, 14 Desember 2008

Empat Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Subuh aku bangun. Mengadakan persiapan untuk melihat kuburan-kuburan tua. Tidak banyak yang dipersiapkan, hanya kamera, “labu” (pedang) dan air minum. Kuburan ini tidak terlalu jauh dari permukiman ± 2 Km.

Aku, adik Jeffry (Papa Ria) dan saudara/kakak sepupu kami Sengko (Papa Idu) sebagai penunjuk jalan. Kami menuju bukit kecil kebun dari Papa dan Mama. Dari sana ujung selatan Danau Poso nampak jelas. Bukit-bukit hijau disekeliling yang mungkin belum terjamah. Kemudian kami menuruni bukit itu melewati kebun-kebun coklat, ada jalan dimana kami harus memutar karena di pohon yang ketinggiannya ± 2 m menggantung sarang lebah berwarna hitam memanjang yang sangat berbahaya dan mematikan. Tak lama kemudia kami bertemu dengan sekelompok kerbau, ada induk dan anak-anaknya yang sedang merumput, aku takut mendekat karena sepertinya ia waspada sebab merasa terusik karena kami.

Pulul 9.00 kami tiba di pekuburan tua yang diberi nama “Dayo Tiloe” (Kubur Tiloe). Memprihatinkan tempat ini. Peti-peti jenazah berserakan di mana-mana dan tidak tertata dengan baik. Dibiarkan terbuka, dan pasti isi dari peti-peti tersebut berupa barang-barang antik (piring dari cina, emas, perak, karya seni, dll) telah di curi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan keuntungan mereka sendiri.

Peti-peti kecil dengan ukuran ± 1 m yang di dalamnya penuh tulang belulang ± 3-5 mayat yang dimasukkan ke sana.

Menurut penuturan orang-orang tua bahwa orang tua dahulu yang membuat kuburan ini, mereka yang meninggal tidak langsung di kuburkan tetapi disimpan dahulu sampai tinggal tulang-belulang baru kemudian dimasukkan kedalam peti dan di dikuburkan di tempat ini, di letakkan di batu-batu yang terlindung. Ritual pemakaman saat itu mungkin seperti di Toraja, karena memang katanya orang “Tolambo” asalnya mungkin dari Toraja.

Kayu yang digunakan pada peti mayat tersebut namanya “Lako”, kayu yang biasa digunakan untuk membuat perahu dan memang terkenal ketahanannya terhadap air.

Kayu tersebut di klam menggunakan plat besi yang katanya juga dibuat oleh orang tua dahulu dari biji-biji besi yang diambil dari batu-batu.

Kami menemukan gelang berwarna putih susu dengan sambungan (pertemuan ujung gelang yang satu dengan yang lainnya) yang halus hamper tidak kelihatan, terbuat dari gading, mereka menamakannya “yoku”. Gelang ini digunakan untuk tarian perang. Dikenakan di tangan dan kaki. Ada juga tulang paha yang panjangnya hanya 3 cm, kami tak bias pastikan kalau tulang tersebut tulang manusia atau hewan lain. Jika itu manusia, manusia macam apa ? Mungkin manusia terkecil di dunia yang pernah ada.

Tiga Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Di rumah saja ngobrol bersama adik, papa, mama, saudara-saudara yang lain dan para tetangga. Fisik masih lemah/lelah karena perjalanan panjang, dan juga aku harus menyesuaikan dengan keadaan alam Tolambo ini.

Di depan rumah lapangan terbentang. Digunakan untuk bermain sepak bola tapi kali ini aku melihat ada tiga ekor sapi yang ditambat di sana. Lapangan ini agak bergelombang dan rerumputan agak tinggi. Pemandangan ini masih seperti puluhan tahun yang lalu ketika aku datang. Belum ada perubahan yang berarti selain sekolah agak lebih baik fisiknya, penerangan PLN (listrik) sudah masuk walaupun hanya 6 jam (pukul 18.00 – 00.00), lepas tengah malam dan siang hari listrik dipadamkan, bahkan aku mendengar sama seperti di ibu kota kecamatannya (Pendolo). Ini memprihatinkan, ibu kota kecamatan penerangan listriknya hanya 6 jam sehari bukan 1 x 24 jam.

Senin, 18 Agustus 2008

Dua Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Aku melihat jam, pukul 4.45 subuh. Udara masih dingin, di daerah Moutong. Mampir di Rumah Makan "Gorontalo" Puncak Pas untuk minum kopi. Ada beberapa kendaraan yang di parkir, penuh angkutan, sopirnya istirahat. Ada yang tidur di bangku, ada yang duduk-duduk sambil ngobrol dan minum kopi, mereka sedang mempersiapkan lagi tenaga untuk perjalanan yang panjang.
Selesai minum kopi perjalanan dilanjutkan. Pukul 6.15 kami singgah untuk mengisi bahan bakar di Tinombo, tapi masih ditutup. Ada juga kendaraan lain yang menunggu. Kami keluar dari kendaraan untuk sekedar melemaskan otot-otot. Kuranglebih 25 menit kami menunggu namun belum ada tanda-tanda kehidupan yang keluar dari pangkalan bahan bakar tersebut, kami pun berangkat untu melanjutkan lagi perjalan.
Memasuki Sausu pukul 10.25. Desa yang dihuni oleh transmigrasi dari bali ini 25 tahun yang lalu sekarang sudah menjadi ibukota kecamatan. Luar biasa perkembangan daerah ini. Sawah membentang sejauh pandangan mata, cacao/coklat sepanjang jalan sepertinya tak akan pernah berakhir. Di depan rumah "pura-pura" (tempat sembayang umat Hindu) dan bogenville yang sedang mekar memberikan daya tarik tersendiri dari daerah ini, sepertinya aku merasa bukan di Sulawesi. Suasana Bali terasa sepajang jalan.
Pukul 12.55 kami memasuki Kota Poso. Ini daerah yang membesarkan aku. Di sini fisik dan mentalku dibangun untuk menjadi manusia seperti sekarang ini. Aku harus menahan airmata kesedihan dengan pemandangan rumah-rumah yang tinggal penghuninya karena dibakar pada konflik poso yang lalu. Tembok-tembok yang menghitam, rumput dan pepohonan liar tumbuh disekitarnya.
Aku lahir dan besar di sini tapi akupun merasa asing di tempat ini. Sepertinya tempat ini telah dihuni makhluk asing dari planet lain. Komunikasi tidak lagi sebebas dahulu, orang-orang di sini rasanya seperti curiga dengan orang lain. Aku tak tahu apa teman-temanku yang dulu, apa masih ada di sini. Apakah aku masih sebebas dahulu jika berada di rumah mereka. Samliok Ndobe sahabat karibku (yang terakhir ku tahu ia sedang belajar tentang ikan di Unisversitas Sam Ratulangi), Ridwan Podungge, Azis, dll, yang di "Moengko", di "Bonesompe" dan di mana saja. Pak Arnold Lumentut Wali Kelasku di SMA Neg.1 Poso, ahli biologi, dan pandangannya tentang Tuhan yang menurutnya tidak rugi jika dipercaya dan melakukan Fiman-Nya karena justru kita akan rugi jika tidak percaya seandainya ternyata benar Ia ada. Ini memang spekulasi tentang untung rugi, tetapi benar dalam pandangan ilmu logika. Aku tak kenal apa masih di sana rumah Pak Arnold tempat kami pernah makan ubi bakar dan jagung bakar yang diambil dari hasil kebunnya. Aku merindukan suasana seperti dahulu, suasana tanpa perbedaan, curiga dan dendam.
Mendekati simpang empat Tentena (Prampatan Tentena) dalam padangan lurus ke depan kulihat Gereja Peniel berdiri kokoh. Sebelum sopir membelokkan kendaraan ke kanan menuju Tentena, aku meminta agar kami pergi dulu melihat lokasi rumah kami yang telah musnah terbakar karena konflik Poso tahun 2000. Kendaraan dipacu lurus ke depan. Aku melihat Gereja Peniel baru selesai di perbaiki. Gereja ini turut dibakar. Di depan Gereja, kami berbelok ke kanan, suasana semakin asing. Mama berkata, "kage ada yang ba temba kamari" (jangan-jangan ada yang akan menembak kita). Namun kami yakin tidak. Poso sudah kondusif, tetapi kami harus berhati-hati. Aku melihat ada 3 rumah di samping kanan yang baru dibuat, bentuknya sama dan sangat sederhana, ini mungkin dibuat oleh pemerintah. Berbelok ke kiri, sepanjang jalan lurus itu aku melihat kiri dan kanan tanaman liar (pohon) tumbuh, bahkan aku tidak dapat menentukan di mana posisi reruntuhan rumah kami. Kami berhenti di depan lokasi rumah kami, papa berpedoman pada pohon kelapa dan mangga. Ada sisa-sisa bangunan namun tidak kelihatan kecuali menerobos ke dalam. Jalan yang lebarnya ± 3,5 m aspal yang terlihat hanya sekitar 1,5 m, sebahagian jalan ditutupi rerumputan liar. Suasana seperti di hutan. Sepi namun mencekam, aku merasa seperti di intai oleh pasangan-pasangan mata yang siap melepaskan peluru.
Sebelum konflik poso, Lombugia (lokasi rumahku) adalah tempat yang tenang, aman, dan masyarakatnya ramah serta terbuka dalam pergaulan. Daerah ini dihuni oleh mayoritas beragama Kristen. Salah satu daerah yang banyak rumah-rumahnya dibakar saat konflik poso. Dapat dikatakan hampir semua rumah di Kelurahan Lombugia ini dibakar dan dijarah, mereka tidak tahu mengapa mereka diperlakukan seperti itu. Di negeri yang merdeka ini ternyata kemerdekaan hannyalah harapan. Negaranya merdeka tetapi masyarakatnya belum sepenuhnya merdeka, bahkan masih mengalami tekanan dari golongan/kelompok lain yang merasa paling besar dan paling benar. Pemerintah belum mampu memberikan perlindungan bagi masyarakatnya. Ironis justru hal seperti ini terjadi di zaman ini bukan di zaman penjajahan.
Aku melihat sekitar, tetangga kami entah kemana. Teman-temanku yang dulu; ungke, uci, obo, budi, dei, ua, joni, osi, dll, entah mereka dimana. Jika liburan kami semua terkumpul di tempat ini, bermain, ngobrol, artinya melepaskan diri dari rutinitas belajar. Mengembalikan suasana seperti dulu rasanya tidak mungkin tanpa kepastian keamanan dari pemerintah.
Kami tidak berlama-lama di sini, karena mungkin saja kami sedang diintai oleh penembak jitu. Kami melanjutkan perjalanan ke Tentena. Pukul 14.50 singgah di Desa Sulewana karena sopir pembantu tempat tinggalnya di sini, ia sudah akan turun untuk istirahat. Sulewana mulai ramai. Di sinilah mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air akan dibangun. Sulewana memiliki wisata air terjun yang cukup besar. Air terjun di sini sudutnya tidak 90 derajat, dapat dikatakan airnya meluncur, namun tenaganya luarbiasa. Kalau ada jagoan arung jeram, dapat mencoba jeram ini.
Kami tiba di Tentena. Perahu Motor yang memang sudah dipesan telah menunggu. Mama dan Papa berbelanja di pasar yang kebetulan hanya di depan pelabuhan. Tentena berbeda dengan tentena dulu, saat ini aktivitas masyarakatnya meningkat layaknya kota, dan tentu jumlah penduduknya bertambah karena ketika konflik Poso terjadi, banyak yang mengungsi ke Tentena. Sayang pasarnya meluas hingga menggunakan pinggiran jalan utama yang tentu mengganggu lalulintas.
Pukul 16.00 kami berangkat menuju Tolambo. Perahu Motor ini dinakodai oleh Tadali dengan menggunakan mesin Honda (masyarakat di sini menyebut "katinting"). Memasuki danau Poso kami dijemput oleh ombak yang rasanya cukup besar untuk ukuran danau. Di depan belum tampak daratan atau bukit hanya cakrawala dan beberapa tanjung yang kelihatan menonjol, yang jelas tanjung bone ("tando bone"). Di samping kiri perkebunan dan hutan luas menyimpan sumber daya yang cukup besar. Namun keindahan tepian danau sebelah timur ini pudar dengan bedirinya Tower-tower listrik tegangan ekstra tinggi yang jaraknya hanya beberapa meter dari tepian danau. Memprihatinkan, ini akan mematikan pariwisata yang prospek ke depannya sangat baik. Aku tak tahu apa maksud semua ini, aku tak mengerti mengapa pemerintah merencanakan seperti itu, aku heran semua diam!
Danau poso tetap menyimpan keindahan. Airnya yang jernih, di tepian batu-batu besar menjorok bahkan pantai berpasir yang luas, hutan di tepi danau yang hijau, dan lainnya yang masih menyimpan misteri.
Pukul 17.30 tiba di Tolambo. Di desa ini papa lahir dan besar. Kami dijemput oleh adik dan saudara di sini. Tiba di rumah, listrik belum dinyalakan. Listrik dinyalakan nanti pada saat pukul 18.00 dan dimatikan pada pukul 00.00, jadi listrik ada hanya 5 jam.
Kami bercerita hingga larut malam, dan tidur.

Kamis, 31 Juli 2008

Sebelas Juli Dua Ribu Tujuh

Aku melakukan persiapan untuk berangkat ke Tentena-Poso tepatnya ke Tolambo desa kelahiran Papa. Kemarin aku menghubungi Is, sopir kendaraan Manado-Tentena dan ia janji untuk menjemput kami pukul 10.00 pagi. Kendaraan tersebut akan kami pakai tanpa penumpang lain kecuali aku, papa dan mama.
Aku akan menemani papa dan mama pulang ke Tolambo, desa tempat mereka mengungsi setelah pecahnya kerusuhan Poso yang ke dua tahun 2000. Pada kerusuhan itu rumah papa dan mama di Kelurahan Lombugia turut dibakar bersama rumah-rumah yang lain (dapat dikatakan seluruh kelurahan).
Kami (aku, adik Sherly & Noula) beberapa bulan yang lalu menjemput papa di RSU Poso untuk di bawah ke Manado (RSUP Dr. Kandouw-Malalayang) karena sakit (Liver) yang cukup parah, sebab itu kami memakai 1 kendaraan dan seorang suster/perawat. Ada ambulance tapi biayanya cukup mahal, ada juga Puskesmas Keliling yang coba dipinjam tapi kata dokter akan digunakan.
Papa pensiunan PNS, mantan Kepala Urusan Kepegawaian Kabupaten Poso belasan tahun. Bukan memuji-muji tetapi salah seorang pejabat rendahan yang jujur. Selama menjabat tidak pernah mendapat fasilitas Negara (rumah dinas, kendaraan dinas) yang digunakan hanya sepeda motor buntut Yamaha bebek 75 cc, sementara pejabat yang lain mendapatkan fasilitas negara. Papa juga termasuk PNS pekerja keras (gila kerja) berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Di kantor sering kali karena pekerjaan ia tidak memperhatikan bel/peringatan pulang dan seringkali diingatkan oleh Piket (Pol PP) bahwa jam kantor sudah habis, tidak puas, semua berkas di angkut dan pekerjaan diselesaikan di rumah. Banyak cerita tentang komitmennya terhadap Negara/pekerjaanya walaupun tidak sehebat pahlawan nasional. Karena itulah aku yakin Tuhan akan menolong Papa, ia akan sembuh walau usianya memasuki 69 tahun. Dan benar ia sembuh!Karena segalanya sudah dipersiapkan (papa sudah siap dari kemarin), begitu mobil tiba kami langsung membawa barang-barang ke mobil dan berangkat.
Kami berangkat dari rumah di Tinoor (desa yang indah di kaki gunung Empung samping gunung Lokon) pukul 11.30 menuju ke Tataaran-Tondano namun sebelumnya singgah di Tomohon membeli buah Apel di super market Grand Central untuk “ole-ole”.
Tiba di Tataaran pkl.12.05, mama rene (yang akan menumpang, termasuk keluarga) belum siap. Rene masih di kampus karena akan mendaftar sebagai mahasiswa baru. Tempat kost cukup ramai, kebanyakan anak-anak dari Poso/Tentena kedengaran dari dialek dan lagu-lagu yang mereka nyanyiankan.
Setelah siap kami melanjutkan perjalanan dan singgah di Rumah Makan pkl.15.10 untuk beristrahat sebentar dan makan. Harga makanan Rp.12.500/org, sopir dan pembantunya gratis.
Dalam perjalanan mendekati Desa Sangkup sekitar pukul 17.45, kami bertemu dengan mobil box rokok yang terbalik, banyak kendaraan yang berhenti karena terhambat mobil box tesebut. Aku bergabung dengan mereka yang sedang mendorong mobil tersebut untuk mengembalikan posisinya (berdiri). Dan berhasil, mobil berdiri, namun kerena kuatnya dorongan mobil tersebut terus berguling/terbalik ke sisi yang lain. Ini agak lucu namum tragis. Aku melihat posisi ini lebih sulit dari dari posisi awal karena mobil tersebut telah jatuh di samping jalan/rerumputan yang lebih rendah dari jalan.
Karena waktu, kami tidak menunggu, kami melanjutkan perjalanan lagi. Pukul 21.15 Singgah makan di Atinggola (RM Dengi). Menu khasnya adalah ikan bakar. Kami sendiri yang memilih kemudian mereka yang membakarnya. Kami harus sabar menunggu, karena prosesnya agak lama. Papa dan Mama beristirahat/berbaring di bangku panjang, tempat duduk untuk makan. Cukup lama juga kami menunggu. Hanya nasi putih, ikan “bobara” bakar dan sayur kangkung “tumis” serta “dabu-dabu” (sambal) namun cukup lezat, kata papa ia akan kembali untuk makan ikan bakar di sini. Sopir (pengemudi) lagi-lagi gratis. Kami membayar Rp.12.500/org.
Selesai makan melanjutkan lagi perjalanan. Pukul 21.55 kami mengisi minyak di kuandang. Sudah mulai larut malam, aku tertidur karena kelelahan diguncang-guncang perjalanan.