Subuh aku bangun. Mengadakan persiapan untuk melihat kuburan-kuburan tua. Tidak banyak yang dipersiapkan, hanya kamera, “labu” (pedang) dan air minum. Kuburan ini tidak terlalu jauh dari permukiman ± 2 Km.Aku, adik Jeffry (Papa Ria) dan saudara/kakak sepupu kami Sengko (Papa Idu) sebagai penunjuk jalan. Kami menuju bukit kecil kebun dari Papa dan Mama. Dari sana ujung selatan Danau Poso nampak jelas. Bukit-bukit hijau disekeliling yang mungkin belum terjamah. Kemudian kami menuruni bukit itu melewati kebun-kebun coklat, ada jalan dimana kami harus memutar karena di pohon yang ketinggiannya ± 2 m menggantung sarang lebah berwarna hitam memanjang yang sangat berbahaya dan mematikan. Tak lama kemudia kami bertemu dengan sekelompok kerbau, ada induk dan anak-anaknya yang sedang merumput, aku takut mendekat karena sepertinya ia waspada sebab merasa terusik karena kami.
Pulul 9.00 kami tiba di pekuburan tua yang diberi nama “Dayo Tiloe” (Kubur Tiloe). Memprihatinkan tempat ini. Peti-peti jenazah berserakan di mana-mana dan tidak tertata dengan baik. Dibiarkan terbuka, dan pasti isi dari peti-peti tersebut berupa barang-barang antik (piring dari cina, emas, perak, karya seni, dll) telah di curi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan keuntungan mereka sendiri.
Peti-peti kecil dengan ukuran ± 1 m yang di dalamnya penuh tulang belulang ± 3-5 mayat yang dimasukkan ke sana.
Menurut penuturan orang-orang tua bahwa orang tua dahulu yang membuat kuburan ini, mereka yang meninggal tidak langsung di kuburkan tetapi disimpan dahulu sampai tinggal tulang-belulang baru kemudian dimasukkan kedalam peti dan di dikuburkan di tempat ini, di letakkan di batu-batu yang terlindung. Ritual pemakaman saat itu mungkin
seperti di Toraja, karena memang katanya orang “Tolambo” asalnya mungkin dari Toraja.
Kayu yang digunakan pada peti mayat tersebut namanya “Lako”, kayu yang biasa digunakan untuk membuat perahu dan memang terkenal ketahanannya terhadap air.
Kayu tersebut di klam menggunakan plat besi yang katanya juga dibuat oleh orang tua dahulu dari biji-biji besi yang diambil dari batu-batu.
Kami menemukan gelang berwarna putih susu dengan sambungan (pertemuan ujung gelang yang satu dengan yang lainnya) yang halus hamper tidak kelihatan, terbuat dari gading, mereka menamakannya “yoku”. Gelang ini digunakan untuk tarian perang. Dikenakan di tangan dan kaki. Ada juga tulang paha yang panjangnya hanya 3 cm, kami tak bias pastikan kalau tulang tersebut tulang manusia atau hewan lain. Jika itu manusia, manusia macam apa ? Mungkin manusia terkecil di dunia yang pernah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar