Selasa, 14 April 2009

Lima Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Hari ini hari minggu. Lonceng gereja berbunyi pertanda ibadah minggu pagi di gereja tidak lama lagi dimulai. Mulai ibadah ± pukul 10.00. Sebelum ibadah dimulai dilakukan pelelangan bahan natura berupa hasil kebun jemaat yang ada di tolambo. Juga ada Vocal Group dari Kompi Senapan 714 Pendolo, mereka akan membangun Gereja di kompleks Kompi Senapan 714 dan tentu membutuhkan biaya.

Rasanya suasana desa ini telah berubah dari ± 20 tahun yang lalu. Mungkin karena banyak juga genarasi baru sehingga memang belum saling kenal. Tidak ada lagi sapaan rasa rindu, karena lama tak ketemu, masing-masing dengan kesibukannya sendiri. Peradaban selalu bergerak, dalam pergerakannya dia berubah.

Aku dan papa mampir sebentar di rumah tante (kakak papa). Mereka baik-baik saja, seperti dulu saja walaupun sudah lanjut. Kami tak terlalu lama di situ, aku mohon diri untuk kembali ke rumah.

Om Tabudo datang ke rumah. Ia banyak bercerita tentang masa lalunya. Katanya dulu kerja hanya dibayar 7 rupiah. “Di antara Tolambo dan Dulumai banyak hasil tambang terutama batu marmer yang belum diolah.

Tiba-tiba suasana agak ribut. Anak-anak SD dalam asuhan ADP sedang mendapat pembagian radio, agar mereka nanti mendengarkan siaran pendidikan yang dipancarkan dari ibu kota kecamatan.

Lokasi kuburan-kuburan tua antara lain : tiloe, tarongko, tangkasi, kauraura, ngoyo mbusu, lalambatu, kawani, dan masih banyak lagi tempat, kata Om Tabudo.

Katanya To Longkea (orang longkea) atau orang di sebelah timur (Tolambo, Peyura, Dulumai, Tindoli, Tokilo) Danau Poso itu berasal dari Toraja. Itulah sebabnya banyak kuburan-kuburan tua di sini yang bentuk dan cara penguburannya/meletakannya mirip dengan yang ada di Toraja, yaitu diletakkan di celah-celah tebing bartu. Kuburan-kuburan ini hanya ada di seputar Tolambo, tidak ada di sekitarnya atau di seberang danau.

Hari ini sepulang dari ibadah di gereja kami hanya ngobrol saja hingga malam. Lagi-lagi listrik dipadamkan pukul 00.00.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar