Sabtu, 13 Juni 2009

Sembilan Belas Juli Dua Ribu Tujuh

Lagi-lagi memori stik di kameraku penuh. Kutitipkan memori stik itu kepada adikku yang kebetulan ia akan berangkat kerja di Pendolo.

Pagi ini tidak ada rencana untuk keluar, maklum adikku harus masuk kerja karena banyak pekerjaan yang menumpuk.

Sorenya aku jalan-jalan ke rumah keluarga-keluarga papa terutama orang-orang tua. Ketemu dengan papa Ros di warungnya. Setelah pensiun dari guru, ia memilih berdagang dengan membuka warung kecil-kecilan. Anak-anaknya membuka usaha di Tentena, yang satu sedang di Hongkong. Banyak kenangan dengan mereka, dapat saya katakana kakak, karena kami atau aku ketika liburan dan hendak ke kampung menikmati tepian danau poso sering nginap dulu di Tentena (rumah mereka) sambil menunggu motor danau yang akan berangkat. Sebaliknya jika kembali ke Poso.

Aku ketemu juga dengan Papa Ning, saudara sepupuku. Pendidikannya mungkin tidak selesai SD, tapi ia mampu menyelesaikan anaknya di perguruan tinggi. Aku kagum terhadap tekat dan perjuangannya. Dulu jika liburan ke kampung, ia sering bersama-sama dengan aku pergi memancing ikan “bungu” ikan khas danau Poso yang sekarang menghilang entah ke mana, dan menyelam menelusuri tepian danau memanah ikan mas yang mungkin sekarang sulit untuk dilakukan lagi karena pukat merajalela.

Sementara kami becakap-cakap, datang Ndolu adik dari papa Ning, kerjanya di kantor camat Pendolo. Ia ketika masih bersekolah dulu tinggal bersama kami di Poso.

Aku ke rumahnya Papa Ropo. Ini termasuk orang tua, usianya sudah di atas 80-an. Penglihatannya sudah tidak jelas akibat katarak, demikian juga dengan pendengarannya yang sudah mulai bekurang. Garis-garis keperkasaannya masih jelas, ia seorang pemberani.

Aku juga ke rumah papa Oce. Ia bercerita bahwa ia baru dari Mangkutana, pergi membeli TV dan Parabola. Aku kagum dengan pribadi ini. Selalu ceria dan tidak menampakan kesusahan. Ia memang pribadi yang menarik jika bertutur, senyum dan tawa menjadi bagian kehidupannya. Ia memang pernah menjadi ketua adat di desa Tolambo.

Sudah agak larut malam, rasanya banyak hal yang hendak di ceritakan. Aku harus kembali untuk tidur sebab akan mempersiapkan diri untuk besok hari untuk kembali ke Tomohon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar