
Masih agak pagi aku tiba di rumahnya Pak Pek. Ketika aku duduk, Nescafe Panas disuguhkan. Dan setelah memberi penjelasan singkat ia berkata “Jus ngana musti brangkat”, aku kaget juga, karena apa yang dibutuhkan mereka sudah kusiapkan, sesuai kesepaktan aku tidak akan ke lokasi proyek, disana ada yang akan menangani. Dengan banyak pertimbangan, kuputuskan untuk berangkat. Kebetulan aku belum pernah ke Sitaro. Tujuan kami Siau, ibukota kabupaten baru itu.
Cuaca cerah berawan, laut tenang sore itu ketika kami bertiga (aku, pak pek dan pak Alfrets) tiba di pelabuhan
Akhirnya setelah beberapa lama di atas geladak sambil mondar-mandir kapalpun meniupkan terompetnya lalu berangkat. Jam menunjukan pukul 18.00 itu artinya molor 1 jam dari rencana. Cuaca baik, cerah berawan dan laut tenang membuat hati ini tenang. Aku tak bisa berdiam di kamar, keluar melihat pemandangan laut yang indah. Hari menjelang malam, pantai
Pukul 19.30 listrik padam, suasana pun jadi gelap gulita. Mesin kapalpun mati. Aku melihat ke samping kapal sepertinya hanya berputar-putar di tempat. Aku agak kuatir, untung laut tenang. Bule (turis) asal Prancis yang tidur-tiduran di buritan bergerak ke depan menggunakan senter di kepala, bolak-balik dari ruang kemudi kembali keburitan dan kembali lagi keruang kemudi, sepertinya tidak tenang.
Pukul 19.43 listrik kembali dinyalakan, suasana menjadi terang, mesin terdengar dihidupkan. Perjalanan dilanjutkan. Namun tak lama kemudian listrik kembali padam dan mesin mati, ini berulang sampai tiga kali. Untung cuaca baik, laut tenang. Kalau cuaca buruk, laut bergelora, mungkin kami terombang ambing di lautan pasifik atau diam di dasar samudera selamanya.
Aku keluar masuk kamar, beberapa saat di luar, beberapa saat di dalam. Pak pek dengan usianya 60-an tahun itu kulihat asik ngobrol dengan beberapa orang dan hanya menggunakan kaus tanpa jaket. Sekeliling di kejauhan kulihat lampu-lampu nelayan maklum jalur ini kawasan dengan beberapa pulau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar