Rabu, 22 April 2026

Gembala

Gembala, dalam bayangan kita, adalah sosok yang hangat. Ia mengenal setiap domba, tahu mana yang lemah, mana yang tersesat. Ia berjalan di depan, bukan untuk dipuja, tetapi untuk menunjukkan jalan.

Tapi bayangan itu mulai retak.

Hari ini, “gembala” sering kali lebih dikenal dari panggungnya daripada dari jalannya. Suaranya lantang, pesannya rapi, pengikutnya banyak. Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan yang jarang ditanyakan: apakah ia masih menggembalakan, atau sekadar memimpin kerumunan?

Ada pergeseran yang halus tapi nyata. Dari pelayanan menjadi posisi. Dari panggilan menjadi profesi. Dari pengorbanan menjadi pencitraan.

Dan seperti semua pergeseran yang tidak disadari, ia terasa wajar—padahal tidak.

Gembala sejati seharusnya akrab dengan kesunyian: mendengar, memperhatikan, bahkan menderita bersama yang ia layani. Tapi dalam dunia yang serba cepat dan serba terlihat, kesunyian tidak menarik. Yang menarik adalah sorotan.

Maka lahirlah paradoks: semakin besar panggung, semakin kecil relasi.

Domba tidak lagi dikenal satu per satu. Mereka menjadi angka. Statistik. Bukti keberhasilan. Kita mulai mengukur “pelayanan” dengan jumlah, bukan dengan kedalaman. Dengan keramaian, bukan dengan perubahan.

Padahal, satu domba yang benar-benar dipulihkan mungkin lebih berarti daripada seribu yang hanya hadir.

Ada juga sisi lain yang lebih mengganggu: ketika gembala tidak lagi berjalan di depan, tetapi berdiri di atas. Ia tidak lagi menjadi penunjuk jalan, melainkan pusat perhatian. Kata-katanya tidak lagi mengarahkan, tetapi mengikat.

Dan di titik itu, relasi berubah menjadi ketergantungan.

Domba tidak diajar untuk berpikir, tetapi untuk mengikuti. Tidak diajak bertumbuh, tetapi diminta setia—tanpa pertanyaan. Sebuah kesetiaan yang, ironisnya, lebih dekat dengan kontrol daripada kasih.

Tentu, tidak semua gembala seperti itu. Masih ada mereka yang diam-diam setia, yang bekerja tanpa sorotan, yang menangis bersama mereka yang terluka. Tapi justru karena mereka sunyi, mereka sering tak terlihat.

Yang terlihat justru yang paling berisik.

Mungkin kita perlu mengingat kembali: gembala bukanlah tentang kuasa, melainkan tanggung jawab. Bukan tentang dihormati, tetapi tentang melayani. Dan yang paling penting—bukan tentang dirinya sendiri.

Sebab gembala sejati tidak membuat domba bergantung padanya. Ia justru menuntun mereka agar suatu hari bisa berjalan tanpa takut, bahkan tanpa dirinya.

Jadi pertanyaannya sederhana, tapi tidak nyaman:

Apakah gembala hari ini masih memimpin dengan hati, atau hanya memimpin dengan suara?

Karena di antara keduanya, hanya satu yang benar-benar tahu arah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar