Kita tidak lagi datang kepada Tuhan untuk berubah—kita datang untuk membenarkan diri.
Di ruang-ruang digital yang riuh, agama tak lagi terdengar seperti doa, melainkan seperti vonis. Ayat-ayat beredar bukan sebagai pengingat, tetapi sebagai peluru. Dan kita, dengan jari di atas layar, merasa punya otoritas untuk menentukan siapa yang layak disebut beriman dan siapa yang pantas disingkirkan.
Di titik ini, sesuatu yang sunyi telah berubah menjadi sesuatu yang bising.
Kita telah menggeser fungsi agama secara diam-diam. Dari cermin menjadi senjata. Dari ruang refleksi menjadi arena kompetisi moral. Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang salah dalam diriku?” melainkan, “Apa yang salah dalam dirimu?”
Dan anehnya, pertanyaan kedua selalu terasa lebih mudah.
Ada kenikmatan yang sulit diakui ketika kita merasa lebih suci dari orang lain. Sebuah sensasi halus yang membisikkan bahwa kita berada di sisi yang benar. Bahwa kita lebih dekat dengan Tuhan. Bahwa kita, entah bagaimana, lebih layak.
Padahal mungkin itu bukan iman—itu hanya ego yang menemukan bahasa religiusnya.
Hari ini, Tuhan sering kali tidak lagi disembah dengan kerendahan hati, tetapi dipinjam namanya untuk menguatkan posisi kita. Kita mengutip-Nya untuk menang dalam perdebatan. Kita membawa-Nya masuk ke dalam konflik, seolah-olah Ia butuh pembelaan dari kita.
Padahal, yang sebenarnya kita bela adalah diri sendiri.
Ironinya, semakin sering kita merasa berhak menghakimi, semakin kita menjauh dari inti ajaran yang kita klaim bela. Sebab hampir semua tradisi iman berbicara tentang kerendahan hati, tentang kasih, tentang kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam posisi yang tidak sempurna.
Tapi kesadaran itu tidak populer. Ia tidak viral. Ia tidak memberi kita panggung.
Lebih mudah menjadi “polisi moral” daripada menjadi manusia yang jujur pada kelemahannya sendiri.
Lebih mudah menunjuk daripada bercermin.
Dan di sanalah letak tragedinya: ketika agama yang seharusnya membebaskan, justru kita gunakan untuk membelenggu—bukan hanya orang lain, tapi juga diri kita sendiri.
Kita lupa bahwa iman sejati tidak membutuhkan penonton. Ia tumbuh dalam keheningan, dalam pergulatan pribadi, dalam kesediaan untuk terus dikoreksi. Ia tidak sibuk membandingkan, apalagi menghakimi.
Ia cukup tahu satu hal: bahwa di hadapan Tuhan, semua orang berdiri di tempat yang sama—rapuh.
Mungkin yang perlu kita hentikan bukanlah perdebatan, tetapi kesombongan yang menyertainya.
Sebab ketika Tuhan hanya kita jadikan alat untuk meninggikan diri, kita tidak sedang mendekat kepada-Nya—kita sedang menciptakan versi Tuhan yang nyaman bagi ego kita sendiri.
Dan itu, barangkali, adalah bentuk penyembahan yang paling sunyi… sekaligus paling berbahaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar