Sabtu, 03 Oktober 2026

Standar Bahagia Semu

Pernahkah Anda terbangun di suatu pagi yang cerah, merasa hidup Anda lumayan oke, sampai akhirnya Anda membuka ponsel dan mendapati bahwa di umur yang sama, seseorang di internet baru saja membeli pulau pribadi sambil meminum es kopi literan? Selamat, Anda baru saja menjadi korban terbaru dari Olahraga Nasional Abad Ini: Perlombaan Standar Bahagia Semu.

Dahulu kala, ukuran kebahagiaan seseorang sangatlah sederhana dan manusiawi. Jika tetangga Anda membeli seekor kambing baru, pencapaian tertinggi Anda minggu itu adalah memastikan kambing Anda tidak kalah gemuk. Selesai. Dunia tenang, tidur nyenyak.

Namun, datanglah sebuah penemuan agung bernama media sosial—sebuah tempat ajaib di mana semua orang mendadak menjadi CEO di usia 22 tahun, pengusaha properti di usia 25 tahun, dan pensiun sejahtera di usia 30 tahun.

Tiba-tiba saja, standar bahagia tidak lagi berada di tangan Anda, melainkan dipegang oleh seorang influencer yang menyuruh Anda bangun jam 4 pagi, bermeditasi di atas es, minum jus kangkung, dan memiliki lima 'pasif income' sebelum sarapan. Jika Anda bangun jam 7 pagi dan kebahagiaan terbesar Anda hari ini hanyalah menemukan gorengan yang masih hangat, maaf sekali: menurut algoritma, Anda sedang mengalami krisis eksistensial.

Kita semua terjebak dalam teater pencapaian. Foto liburan yang tampak begitu damai di Bali sebenarnya diambil setelah tiga jam bertengkar mencari sudut kamera yang pas. Mobil mewah yang diunggah dengan caption religius sering kali datang bersama tagihan cicilan yang membuat pemiliknya mual setiap akhir bulan. Tapi tentu saja, yang ditampilkan hanya kilau emasnya, bukan surat tagihannya.

Lucunya, kita dengan sukarela mendaftarkan diri dalam perlombaan marathon tanpa garis akhir ini. Kita mengukur keberhasilan dapur kita dengan ruang tamu orang lain. Kita merasa harus membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, demi mengesankan orang-orang yang bahkan tidak kita sukai.

Mungkin sudah saatnya kita merebut kembali hak prerogatif kita untuk menentukan arti bahagia. Jika bahagia bagi Anda adalah berhasil menyelesaikan satu bab buku tanpa tergoda melihat notifikasi ponsel, atau sekadar menikmati mi instan pakai telur di kala hujan tanpa perlu mengunggahnya ke Insta Story—maka selamat! Anda telah menang.

Lagi pula, buat apa sibuk berlari di lintasan orang lain, kalau ternyata hadiah di garis finisnya cuma rasa lelah dan kuota internet yang habis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar