Selasa, 03 November 2026

Besok Belum Tentu

Pernahkah Anda membayangkan bahwa suatu pagi Anda masih sibuk menyusun agenda hidup, lalu sore harinya justru menjadi agenda terakhir orang lain untuk mengenang Anda?

Kita ini makhluk yang luar biasa optimistis. Kalender sudah penuh sampai tahun depan. Cicilan masih panjang. Daftar keinginan belum selesai. Ada rumah yang ingin direnovasi, mobil yang ingin diganti, jabatan yang ingin diraih, dan dendam yang masih harus diselesaikan. Seolah-olah kita sudah menandatangani kontrak dengan kehidupan bahwa umur kita dijamin sampai tanggal yang tertera di kalender. Padahal, kematian tidak pernah mengirimkan surat pemberitahuan.

Tidak ada telepon dari kantor kematian yang berbunyi, "Selamat pagi, Bapak. Kami informasikan bahwa jadwal kepulangan Anda tinggal tiga hari lagi. Mohon selesaikan seluruh urusan, lunasi cicilan, dan jangan lupa berpamitan." Tidak ada.

Kematian tidak mengenal sistem reservasi. Ia tidak peduli apakah kita sedang rapat penting, menghadiri pesta pernikahan, menikmati kopi, atau baru saja merencanakan liburan. Ia juga tidak mengenal istilah mohon ditunda karena masih banyak pekerjaan.

Ironisnya, kita justru menghabiskan sebagian besar hidup untuk hal-hal yang seolah-olah akan berlangsung selamanya. Kita bertengkar karena warisan, saling menjatuhkan demi jabatan, mengumpulkan kekayaan sampai lupa menikmati hidup, dan menyimpan permintaan maaf seolah-olah kata "maaf" akan semakin mahal kalau diucapkan terlalu cepat.

Kita menunda mengunjungi orang tua. Menunda menelepon sahabat. Menunda mengungkapkan kasih sayang. Bahkan menunda kebahagiaan sampai semua urusan selesai. Padahal, urusan manusia tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada satu pekerjaan lagi, satu target lagi, satu ambisi lagi.

Lucunya, kita begitu takut kehilangan harta, tetapi sering tidak sadar sedang kehilangan waktu. Kita memasang alarm untuk bangun pagi, tetapi tidak pernah memasang alarm untuk mengingatkan bahwa hidup kita semakin berkurang.

Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita kejar?

Jangan salah paham. Merencanakan masa depan itu penting. Bekerja, membangun keluarga, mengejar cita-cita, dan mempersiapkan hari tua bukanlah kesalahan. Tetapi ada perbedaan antara mempersiapkan masa depan dan bertingkah seolah-olah masa depan sudah menjadi milik kita.

Kita boleh punya rencana lima tahun, sepuluh tahun, bahkan dua puluh tahun. Tetapi jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk mempersiapkan kehidupan yang belum tentu sempat kita jalani.

Mungkin sudah waktunya kita lebih sering mengatakan terima kasih, lebih mudah memaafkan, lebih berani mencintai, dan lebih sedikit menghabiskan energi untuk membuktikan bahwa kita selalu benar.

Sebab pada akhirnya, tidak seorang pun membawa pulang sertifikat jabatan, laporan kekayaan, daftar kemenangan debat, atau pujian dari orang-orang yang dulu kita kagumi.

Yang tertinggal adalah kenangan tentang bagaimana kita memperlakukan sesama.

Hidup ini singkat. Kematian bisa datang tanpa janji dan tanpa pemberitahuan. Jadi, jangan terlalu sibuk mempersiapkan hari esok sampai lupa menjalani hari ini.

Sebab kematian tidak pernah bertanya apakah kita sudah selesai hidup. Ia hanya datang ketika waktunya tiba.

Dan yang paling menyedihkan bukanlah ketika hidup berakhir, melainkan ketika kita baru menyadari betapa banyak kesempatan untuk hidup yang telah kita sia-siakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar