Pasar dibakar,
kampung dibakar,
Gubuk-gubuk gelandangan dibongkar,
tanpa ada gantinya.
Semua atas nama tahayul pembangunan.
Restoran dibakar,
toko dibakar,
gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar.
Apabila agama menjadi lencana politik,
maka,
erosi agama pasti terjadi.
Karna politik tidak punya kepala
Tidak punya telinga
Tidak punya hati
Politik hanya mengenal kalah dan menang
Kawan dan lawan.
Peradaban yang dangkal.
..................
Sepenggal karya WS Rendra ini mewakili suara orang-orang yang tertindas. Tertindas karena kemiskinan, tertindas karena kebodohan, bahkan tertindas karena minoritas di tengah raksasa mayoritas yang selalu mengatasnamakan kebenaran dan iman.
Sosok yang kukenal lewat karyanya memberikan inspirasi bahwa hati nurani harus tetap dibangkitkan dalam idealisme dan selalu diperjuangkan menjadi realisme. Menjadi bagian hidup yang nyata dan bukan hanya berada di tataran angan yang terus di dongengkan sebagai sebuah harapan.
Kamis, 6 Agustus 2009,burung merak itu telah pergi selamanya. Namun pekikannya akan terus menggema menembus pintu hati setiap orang, membangunkan nurani yang tidur, menikam nurani siapa saja yang telah menghianati kemanusian dan berpihak pada peradaban yang dangkal.
Selamat jalan W.S. Rendra, burung merak yang bersahaja,idealis dan berani. Terbanglah kau menembus langit dan kabarkan kepada DIA bahwa bangsa ini belum sesungguhnya merdeka, bahwa sebagian rakyat masih terjajah.
