Rabu, 12 Agustus 2009

Mengenang W.S. Rendra

............
Kekuasaan kekerasan merajalela.
Pasar dibakar,
kampung dibakar,
Gubuk-gubuk gelandangan dibongkar,
tanpa ada gantinya.
Semua atas nama tahayul pembangunan.
Restoran dibakar,
toko dibakar,
gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar.
Apabila agama menjadi lencana politik,
maka,
erosi agama pasti terjadi.
Karna politik tidak punya kepala
Tidak punya telinga
Tidak punya hati
Politik hanya mengenal kalah dan menang
Kawan dan lawan.
Peradaban yang dangkal.
..................
Sepenggal karya WS Rendra ini mewakili suara orang-orang yang tertindas. Tertindas karena kemiskinan, tertindas karena kebodohan, bahkan tertindas karena minoritas di tengah raksasa mayoritas yang selalu mengatasnamakan kebenaran dan iman.
Sosok yang kukenal lewat karyanya memberikan inspirasi bahwa hati nurani harus tetap dibangkitkan dalam idealisme dan selalu diperjuangkan menjadi realisme. Menjadi bagian hidup yang nyata dan bukan hanya berada di tataran angan yang terus di dongengkan sebagai sebuah harapan.

Kamis, 6 Agustus 2009,burung merak itu telah pergi selamanya. Namun pekikannya akan terus menggema menembus pintu hati setiap orang, membangunkan nurani yang tidur, menikam nurani siapa saja yang telah menghianati kemanusian dan berpihak pada peradaban yang dangkal.

Selamat jalan W.S. Rendra, burung merak yang bersahaja,idealis dan berani. Terbanglah kau menembus langit dan kabarkan kepada DIA bahwa bangsa ini belum sesungguhnya merdeka, bahwa sebagian rakyat masih terjajah.

Selasa, 04 Agustus 2009

Jadilah Teladan

“Jadilah teladan”, kalimat perintah pendek yang dibangkitkan pada Konser dan Launching Album Rohani Pemuda dan Remaja GMIM “Solafide” Tinoor pada 28 Juli 2009 malam itu, menggelitik kesadaranku. Aku ingat bahwa teladan hanya ada dalam lomba, seperti lomba murid teladan, guru teladan, karyawan teladan, bahkan beberapa minggu yang lalu aku melihat di sebuah instansi ada pegawai honor teladan.

Salut dan bangga, bagi seluruh remaja dan pemuda yang kreativ ini, walau ini hanyalah sepenggal kalimat yang masih berada di tataran pertunjukan, tapi setidaknya telah membangunkan kesadaran kita tentang pentingnya keteladanan. Sayang konser ini tidak sepenuhnya dihadiri oleh mereka yang diharapkan menjadi teladan.

Aku tahu bahwa malam itu keteladanan hanyalah judul sebuah lagu, belum menjadi bagian kehidupan sesungguhnya. Artinya keteladanan masih menjadi sebuah harapan anak muda untuk menjadi realita hidupnya, yang saat ini menjadi sesuatu yang langka dan sulit di temukan.

Banyak pejabat yang memang pantas di teladani dalam berpakaian dan kewibawaannya, tapi sayang moralitasnya hanya pantas ditelanjangi.

Banyak pelayan Tuhan yang patut di teladani ucapannya, tapi sayang prilakunya hanya patut menjadi kayu bakar di neraka.

Teladan diharapkan menjadi sebuah prilaku dan tidak hanya berhenti menjadi sebuah slogan yang luar biasa kibaran dan penampilannya tetapi dari hari kehari tercabik-cabik oleh badai. Ia tidak mampu bertahan dan akhirnya pergi bersama badai.

Teladan tidak selalu datang dari luar, tidak juga selalu dari yang tua, tetapi ia bisa lahir dari dalam, dari sebuah keyakinan iman yang sungguh, dari generasi muda yang dinamis dan kreativ. Seperti kata Paulus “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. (I Timotius 4 : 12).


Teladan adalah kehidupan!

Kamis, 23 Juli 2009

Hentikan Bom dengan Persatuan, Tekad, dan Kasih

Pagi 17 Juli 2009, hal yang sama 6 tahun lalu terulang kembali. Bom meledek di Restoran dua hotel mewah Jakarta, Marriot dan Ritz-Calton. Rintihan dan erangan dari balik debu dan asap hitam pekat seiring dengan bunyi benda-benda yang tercabik dan berjatuhan. Sayatannya tidak hanya terasa oleh korban Bom tetapi oleh seluruh anak negeri ini. Dirasakan oleh bangsa ini, yang sedang didera badai krisis dunia. Itu berarti mereka tidak saja mematikan kesempatan hidup saudara kita yang ada di Marriot dan Ritz-Calton, tetapi juga menghabat kesempatan bangsa ini untuk berkembang dan maju.

Aku tak mempunyai hak mengatakan mereka yang telah menjadi korban adalah orang-orang yang tidak berdosa. Manusia selalu saja berdosa, karena manusia mewarisi itu. Tapi manusia mempunyai kesempatan untuk tidak berdosa, untuk itu ia diberi kesempatan hidup. Manusia sipapun mereka tetaplah manusia, yang dalam keyakinan imanku mempunyai nilai yang sama; “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Tapi ada kelompok orang yang selalu menganggap dirinya tidak berdosa dan merasa lebih suci dari yang lain bahkan mendapat hak untuk melenyapkan orang lain dari muka bumi ini. Menggunakan agama sebagai pembenaran tindakan, sekaligus jalan pintas harapan menuju sorga.

Aku tak diberihak untuk mengutuk perbuatan ini. Kutukan juga tak akan mengembalikan kehidupan saudara-saudara kita yang menjadi korban. Kutukan juga tak akan membuat mereka yang berbuat dan merencanakan itu semua berhenti. Yang bisa menghentikan semua ini hanyalah persatuan, tekad dan Kasih.

Bersatunya bangsa ini dalam segala hal untuk memerangi terorisme dan jangan ada yang sengaja membiaskannya kearah politik untuk mendapatkan manfaat politis dari situasi yang baru saja berlalu.

Tekad bangsa ini untuk memerangi terorisme dan jangan ada yang sengaja membela mereka dengan berbagai dalil penafsiran ajaran yang nyata telah menyimpang dari yang sesungguhnya dan mengancam nilai kemanusiaan.

Kasih bangsa ini terhadap anak-anaknya. Jangan biarkan anak bangsa ini meratap, bingung, bodoh, miskin, terpinggirkan, teraniaya, teracam, tertindas, oleh bangsanya sendiri. Kejahatan ditindak tegas, kebaikan di beri ruang untuk berkembang agar berbuah. Kita pasti bisa.