Minggu, 01 Juni 2025

Pendeta

Pendeta. Sebuah kata yang nyaris tak pernah berbisik. Ia hadir dengan jubah, kadang dengan Alkitab yang dibuka, kadang dengan tangan yang mengarah. Dalam liturgi ia berdiri di atas mimbar, dan umat duduk di bawahnya, mendengar. Ia bicara tentang kasih, tentang dosa, tentang pengampunan. Tapi siapa yang mengawasi suara-suara yang merasa datang dari Tuhan?

Tak semua pendeta haus kuasa, tentu. Tapi di zaman ketika agama kerap dipakai sebagai otoritas moral dan politik, jabatan rohani bisa menjelma alat yang menggoda. Di balik panggilan pelayanan, kadang tersembunyi kehendak untuk mengatur. Dan di balik senyum yang menyebut “jemaat”, ada yang melihatnya sebagai “umat yang bisa diarahkan.”

Kita pernah mengenal pendeta yang berjalan kaki, menumpang makan di rumah umat, menghibur yang sakit, memakamkan yang sepi. Tapi kini, tak sedikit pendeta yang disambut seperti duta besar: dengan kursi khusus, mobil khusus, bahkan pendamping khusus. Pendeta tak lagi sekadar gembala, tapi figur publik. Ia difoto, dikutip, disanjung—dan barangkali terlalu nyaman dengan semua itu.

Yang lebih mengganggu adalah ketika mimbar berubah menjadi panggung, dan khotbah menjadi pertunjukan. Firman Tuhan dipadatkan seperti slogan politik, penuh janji, penuh retorika, minim penggalian. Jemaat bukan lagi tubuh Kristus yang hidup, tapi audiens yang harus diyakinkan untuk tetap setia—pada gerejanya, pada pendetanya, dan kadang pada sistem yang diam-diam sudah mapan.

Lebih jauh lagi, pendeta hari ini tak jarang masuk ke dalam urusan-urusan negara. Ia bicara tentang pemilu, tentang calon pemimpin, tentang arah bangsa. Ia menolak untuk sekadar “rohaniwan” dan memilih menjadi “nabi”. Tapi bukankah seorang nabi—dalam kitab-kitab kuno—justru berdiri berhadapan dengan kekuasaan, bukan merayunya?

Maka ketika seorang pendeta sibuk dekat dengan para elit, kita patut bertanya: siapa yang sedang ia layani?

Tentu tak semua demikian. Ada yang masih setia pada panggilan sunyi. Yang mengunjungi penjara. Yang duduk bersama anak muda yang ragu akan Tuhan. Yang tak sibuk membangun gedung megah, tapi menampung luka umat. Namun sayangnya, suara mereka kalah dari yang bersuara keras—yang viral, yang penuh urapan dan euforia.

Kita hidup di zaman ketika gelar “pendeta” bisa menjadi profesi. Ada yang melihatnya sebagai karier. Bahkan ada sekolah yang menjanjikan “sertifikat kependetaan” dalam waktu singkat, lengkap dengan pelatihan retorika. Tapi siapa yang bisa melatih belas kasih?

Minggu, 25 Mei 2025

Tuhan

Tuhan. Kata yang pendek, tapi mengandung kedalaman yang tak kunjung selesai dijelajahi. Ia disebut dalam doa, diperdebatkan dalam filsafat, disembah dalam ritual, dan sering, tak sengaja, disalahgunakan dalam kekuasaan.
Tuhan, dalam banyak peradaban, adalah yang maha tak terlihat namun maha hadir. Ia tak bisa dijamah oleh logika, tapi terus didekati oleh tafsir. Ia tak bisa dipastikan oleh indera, tapi diyakini oleh jutaan hati. Dan justru karena itu, Tuhan adalah misteri yang tak pernah tuntas.
Kita menyebut-Nya dalam pelbagai nama: Allah, Yahweh, Elohim, Brahman, Sang Hyang, dan entah berapa lagi. Masing-masing nama membawa sejarah, luka, dan harapan. Tapi adakah nama yang benar-benar mewakili? Atau semua nama hanyalah cara manusia yang terbatas mencoba mengikat yang tak terbatas?
Sejak ribuan tahun, manusia mencoba menata hidup atas nama Tuhan. Lalu muncullah hukum-hukum, moral, larangan, dan anjuran. Muncul pula pendeta, kiai, pastor, dan pemuka yang mengambil peran sebagai penyambung antara langit dan bumi. Di sanalah dimulai problemnya: ketika suara manusia mulai terdengar lebih nyaring daripada sunyi yang melingkupi kehadiran Tuhan itu sendiri.
Tuhan lalu menjadi institusi. Ia dijaga, dikawal, diproteksi. Seolah Ia bisa diserang. Seolah Tuhan perlu pembela. Maka, mereka yang bertanya dijuluki sesat. Mereka yang ragu dianggap lemah. Padahal, tidakkah iman justru tumbuh dari keberanian untuk menggugat? Bukankah yang paling setia justru yang tetap mencari, bahkan saat sunyi panjang datang tanpa jawaban?
Ada paradoks dalam pencarian terhadap Tuhan. Kita ingin mendekat, tapi semakin dekat, semakin terasa bahwa Ia tak bisa dimiliki. Kita ingin tahu, tapi semakin tahu, semakin sadar bahwa kita hanya menebak. Dan mungkin itulah esensinya: bahwa Tuhan bukan untuk dimiliki, tapi untuk terus didekati. Bukan untuk disimpulkan, tapi untuk terus direnungkan.
Di zaman ini, Tuhan kadang terdengar seperti alat. Dipakai dalam politik. Diusung dalam perang. Diagungkan dalam ujaran kebencian. Ia dijadikan merek dagang keyakinan. “Tuhan kami lebih benar dari Tuhanmu,” kata sebagian. Padahal, apakah Tuhan pernah memilih satu sisi dan menolak yang lain, atas dasar bendera?
Kita sering lupa bahwa jika Tuhan adalah cinta, seperti banyak kitab menyebut, maka cinta itu tak mungkin menyuruh untuk membenci. Jika Tuhan adalah keadilan, maka keadilan itu tak mungkin lahir dari penindasan atas nama-Nya. Dan jika Tuhan adalah kebenaran, maka kebenaran itu tak mungkin butuh kekerasan agar diakui.
Lalu, di manakah Tuhan sesungguhnya?
Mungkin Ia hadir dalam air mata orang miskin yang tetap bersyukur. Dalam keheningan seorang narapidana yang berdoa diam-diam di sel. Dalam pelukan anak kecil kepada ibunya. Dalam sepasang tangan yang menolong tanpa syarat. Dalam kesediaan untuk meminta maaf. Dalam keberanian untuk mengampuni. Mungkin Tuhan lebih dekat kepada mereka yang tak mengucap nama-Nya setiap hari, tapi hidup dalam belas kasih.
Tentu, semua ini bisa salah. Karena siapa kita untuk memahami Tuhan? Tapi justru karena itulah—karena keterbatasan kita—iman menjadi perjalanan, bukan kepastian.

Kamis, 22 Mei 2025

Duda

Mungkin, dalam diamnya, duda bukan mencari pengganti. Ia hanya ingin dikenang bukan sebagai yang tinggal sendiri—tapi sebagai seseorang yang pernah mencintai, dan kini belajar hidup dengan kenangan.

Duda. Kata itu terdengar ganjil, dan entah mengapa terasa sunyi. Ia tak punya eufemisme. Ia datang tanpa lentik. Tidak seperti “janda” yang disisipkan dalam lirik lagu melayu, atau dipakai sebagai bahan kelakar politik, “duda” seperti bunyi pintu yang tertutup terlalu cepat. Ia ada, tapi jarang dibicarakan.
Dalam masyarakat kita, duda selalu diimajinasikan separuh. Seorang lelaki yang kehilangan, tapi diharapkan cepat pulih. Ia tidak boleh terlalu lama bersedih, karena kesedihan laki-laki dianggap tak elok. Ia juga tak boleh terlalu cepat mencari pengganti, karena itu akan disebut tak setia. Maka, di manakah seorang duda sebaiknya berdiri?

Kita terbiasa menempatkan lelaki sebagai yang kuat. Tapi ketika menjadi duda, kekuatan itu diuji dalam bentuk yang tak lazim: sepi yang diam, kesibukan yang tiba-tiba tak berarti, ruang makan yang terlalu luas untuk satu kursi.

Duda bukan hanya kehilangan pasangan. Ia adalah kehilangan ritme. Tak ada lagi yang bertanya apakah ia sudah makan, tak ada lagi yang mengingatkan untuk tidur lebih awal, tak ada lagi obrolan malam yang tak penting tapi terasa penting. Yang tersisa adalah jam, berputar tanpa arah.

Sosiologi kita lebih siap membicarakan janda. Ia dilabeli. Ia diawasi. Ia distereotipkan. Tapi duda, ia seperti hantu yang berjalan di tengah kota: ada, tapi tak pernah dianggap. Ia bukan tokoh utama dalam sinetron. Ia jarang muncul dalam lagu. Dan ketika ia bicara soal kehilangan, ia kadang dianggap cengeng.

Padahal, duka tak mengenal gender. Kesepian tak mengenal jenis kelamin.

Yang menarik, ketika seorang duda memutuskan untuk menikah lagi, tak ada yang heran. “Wajar,” kata orang. “Lelaki tak bisa hidup sendiri.” Tapi kalimat itu, bila direnungkan, justru menyedihkan. Seakan-akan seorang laki-laki tak boleh menjadikan kesendiriannya sebagai pilihan. Ia harus segera “menambal” hidupnya. Ia tak diberi ruang untuk sejenak diam dan meratap.

Barangkali kita terlalu terburu-buru menyuruh orang yang berduka untuk bangkit. Kita takut pada tangis, seolah itu pertanda lemah. Kita lupa, ada kehilangan yang tak bisa dipercepat pemulihannya. Dan menjadi duda bukan berarti membuka lembaran baru, kadang, itu hanya berarti belajar membaca halaman yang sudah tak lengkap.

Duda bukan status sipil. Ia adalah musim. Kadang kering, kadang mendung. Kadang hangat, tapi tak pernah sama. Ia bukan kutuk, tapi juga bukan kemerdekaan. Ia adalah peralihan, yang tak semua orang mampu maknai.