Minggu, 25 Mei 2025

Tuhan

Tuhan. Kata yang pendek, tapi mengandung kedalaman yang tak kunjung selesai dijelajahi. Ia disebut dalam doa, diperdebatkan dalam filsafat, disembah dalam ritual, dan sering, tak sengaja, disalahgunakan dalam kekuasaan.
Tuhan, dalam banyak peradaban, adalah yang maha tak terlihat namun maha hadir. Ia tak bisa dijamah oleh logika, tapi terus didekati oleh tafsir. Ia tak bisa dipastikan oleh indera, tapi diyakini oleh jutaan hati. Dan justru karena itu, Tuhan adalah misteri yang tak pernah tuntas.
Kita menyebut-Nya dalam pelbagai nama: Allah, Yahweh, Elohim, Brahman, Sang Hyang, dan entah berapa lagi. Masing-masing nama membawa sejarah, luka, dan harapan. Tapi adakah nama yang benar-benar mewakili? Atau semua nama hanyalah cara manusia yang terbatas mencoba mengikat yang tak terbatas?
Sejak ribuan tahun, manusia mencoba menata hidup atas nama Tuhan. Lalu muncullah hukum-hukum, moral, larangan, dan anjuran. Muncul pula pendeta, kiai, pastor, dan pemuka yang mengambil peran sebagai penyambung antara langit dan bumi. Di sanalah dimulai problemnya: ketika suara manusia mulai terdengar lebih nyaring daripada sunyi yang melingkupi kehadiran Tuhan itu sendiri.
Tuhan lalu menjadi institusi. Ia dijaga, dikawal, diproteksi. Seolah Ia bisa diserang. Seolah Tuhan perlu pembela. Maka, mereka yang bertanya dijuluki sesat. Mereka yang ragu dianggap lemah. Padahal, tidakkah iman justru tumbuh dari keberanian untuk menggugat? Bukankah yang paling setia justru yang tetap mencari, bahkan saat sunyi panjang datang tanpa jawaban?
Ada paradoks dalam pencarian terhadap Tuhan. Kita ingin mendekat, tapi semakin dekat, semakin terasa bahwa Ia tak bisa dimiliki. Kita ingin tahu, tapi semakin tahu, semakin sadar bahwa kita hanya menebak. Dan mungkin itulah esensinya: bahwa Tuhan bukan untuk dimiliki, tapi untuk terus didekati. Bukan untuk disimpulkan, tapi untuk terus direnungkan.
Di zaman ini, Tuhan kadang terdengar seperti alat. Dipakai dalam politik. Diusung dalam perang. Diagungkan dalam ujaran kebencian. Ia dijadikan merek dagang keyakinan. “Tuhan kami lebih benar dari Tuhanmu,” kata sebagian. Padahal, apakah Tuhan pernah memilih satu sisi dan menolak yang lain, atas dasar bendera?
Kita sering lupa bahwa jika Tuhan adalah cinta, seperti banyak kitab menyebut, maka cinta itu tak mungkin menyuruh untuk membenci. Jika Tuhan adalah keadilan, maka keadilan itu tak mungkin lahir dari penindasan atas nama-Nya. Dan jika Tuhan adalah kebenaran, maka kebenaran itu tak mungkin butuh kekerasan agar diakui.
Lalu, di manakah Tuhan sesungguhnya?
Mungkin Ia hadir dalam air mata orang miskin yang tetap bersyukur. Dalam keheningan seorang narapidana yang berdoa diam-diam di sel. Dalam pelukan anak kecil kepada ibunya. Dalam sepasang tangan yang menolong tanpa syarat. Dalam kesediaan untuk meminta maaf. Dalam keberanian untuk mengampuni. Mungkin Tuhan lebih dekat kepada mereka yang tak mengucap nama-Nya setiap hari, tapi hidup dalam belas kasih.
Tentu, semua ini bisa salah. Karena siapa kita untuk memahami Tuhan? Tapi justru karena itulah—karena keterbatasan kita—iman menjadi perjalanan, bukan kepastian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar