Move on terdengar seperti tindakan yang sehat: sebuah langkah keluar dari trauma, luka, atau kegagalan. Tapi apakah manusia bisa begitu mudah bergerak dari sesuatu yang telah menorehkan makna? Apakah luka bisa disembuhkan hanya dengan mengganti pemandangan?
Di zaman yang serba cepat, move on adalah semacam tuntutan etis. Jangan terlalu lama sedih. Jangan terlalu lama marah. Jangan terlalu lama menyesal. Kesedihan yang berlarut dianggap tidak produktif. Padahal mungkin ada kebenaran yang hanya bisa ditemukan dalam diam yang panjang, dalam duka yang tak buru-buru ditutup.
Move on juga punya dimensi sosial. Ia bukan hanya soal cinta yang kandas. Ia bisa berarti berpaling dari sejarah yang tak nyaman. Melupakan kesalahan kolektif. Menyapu tragedi di bawah karpet nasionalisme baru. Bangsa ini, misalnya, sering diminta untuk “melupakan masa lalu”—dengan alasan demi pembangunan. Tapi bisakah kita membangun sesuatu di atas fondasi yang belum selesai dipertanggungjawabkan?
Kita diminta move on dari 1965. Dari Mei 1998. Dari pelanggaran HAM yang belum diadili. Tapi adakah move on tanpa pengakuan? Apakah melangkah ke depan tidak membutuhkan keberanian untuk menoleh ke belakang, dan menatap luka tanpa menutupinya?
Barangkali yang perlu kita pertanyakan adalah: move on untuk siapa? Kadang yang menyuruh move on adalah mereka yang tidak terluka. Yang tidak kehilangan. Yang tidak tertinggal. Maka nasihat itu menjadi alat untuk meredam, bukan untuk menyembuhkan. Ia bukan pelukan, tapi perintah.
Move on juga bisa menjadi bentuk penyangkalan. Kita berpura-pura pulih, padahal hanya memindahkan luka ke ruang yang lebih dalam. Kita menyebutnya kedewasaan, tapi kadang itu hanya topeng untuk menghindari rasa. Kita berjalan terus, tapi tanpa arah.
Tapi tentu tidak semua bentuk move on keliru. Ada saat ketika seseorang harus melangkah, bukan karena ingin melupakan, tapi karena ingin memberi ruang bagi hidup yang terus berubah. Ada perpisahan yang perlu diterima agar kita tidak tinggal dalam rumah yang telah kosong.
Sebab hidup memang tak bisa menunggu. Tapi ia juga tak akan penuh jika kita menyeret masa lalu dalam koper yang tak pernah dibuka. Move on, barangkali, bukan tentang berpaling dari yang lama—melainkan berdamai dengannya. Bukan tentang melupakan, melainkan mengizinkan kenangan menjadi bagian dari kita, tanpa menguasai kita.


