Kemajuan tak selalu searah dengan kebijaksanaan.
Nuklir. Kata yang lahir dari laboratorium fisika dan tumbuh menjadi mitos geopolitik. Ia adalah anak kandung dari sains dan kekuasaan, dari rasa ingin tahu dan rasa takut. Di tangan yang satu, ia menjadi energi bersih. Di tangan yang lain, ia menjadi senjata pemusnah massal. Tapi di antara kedua tangan itu, yang tercecer adalah nurani.Dari Hiroshima dan Nagasaki, kita belajar bahwa satu kilatan cahaya bisa menghapus seluruh kota. Tapi lebih menyakitkan dari kehancuran fisik adalah keheningan setelahnya. Tak ada lagi jeritan, hanya debu dan bayangan tubuh yang membatu di dinding. Di situlah nuklir menjadi paradoks: ia begitu kuat, sampai-sampai dunia takut menggunakannya lagi.
Namun, takut tidak berarti mundur. Dunia justru semakin merayunya. Negara-negara berlomba mengayunkan centrifuge. Bukan untuk perang, katanya, melainkan untuk "penjagaan". Dan di sinilah yang menggelikan—dan mengerikan. Energi nuklir dipromosikan sebagai penyelamat iklim, tapi di bawah tanah, hulu ledaknya disimpan rapi, cukup untuk menghanguskan dunia berkali-kali.
Ketika manusia menciptakan sesuatu yang terlalu besar untuk dikendalikan, tapi terlalu menggoda untuk dilepaskan. Seperti Faust yang menjual jiwanya pada setan, kita menukar ketakutan akan kiamat dengan stabilitas politik. Maka, yang disebut “deteren nuklir” sebenarnya adalah ancaman yang disepakati.
Apakah kita masih bisa percaya pada rasionalitas negara-negara pemilik senjata nuklir? Atau sebenarnya yang menguasai bukan nalar, tapi rasa gentar kolektif? Ketakutan itu membuat kita menunduk pada logika kekuatan. “Kalau bukan kita yang punya, mereka yang punya,” begitu kata diplomasi. Dan di situlah moralitas disingkirkan, diganti strategi.
Tentu kita bisa bicara soal teknologi nuklir yang ramah: pembangkit listrik tenaga nuklir, terapi radiasi untuk kanker, pengawetan pangan, dan sebagainya. Tapi nuklir, seperti semua kekuatan besar, menyimpan ambiguitas yang tak bisa diseterilkan. Dalam satu partikel yang dibelah, tersimpan janji terang dan potensi kiamat.
Dan hari ini, nuklir tidak lagi hanya berada di bawah kunci dan sandi peluncuran. Ia bisa jadi target serangan, bisa bocor karena kelalaian, bisa jatuh ke tangan yang salah. Dunia menyimpan teknologi ini di lemari besi, tapi lupa bahwa besi pun bisa berkarat. Seperti di Chernobyl dan Fukushima, yang dibutuhkan bukan niat jahat, tapi hanya satu kesalahan manusia—dan sejarah pun berubah.
Kita sering berkata bahwa kekuatan besar membutuhkan tanggung jawab besar. Tapi tanggung jawab tak cukup dalam bentuk perjanjian internasional. Ia butuh kesadaran bahwa ada batas yang tak layak dilanggar—meski secara teknis mungkin. Dan barangkali, yang tak kalah penting, adalah kemampuan untuk berhenti.
Mungkin karena itu, nuklir bukan sekadar teknologi. Ia adalah cermin. Tentang sejauh mana manusia berani menatap hasil ciptaannya, dan berkata: cukup.
Mungkin dunia tak akan kiamat karena nuklir. Tapi bisa saja ia perlahan membusuk dalam ketakutan yang abadi—di mana damai bukan karena kasih, tapi karena semua orang memegang pelatuk yang sama.


