Kesetiaan lebih sulit daripada cinta.
Nikah. Kata yang pendek, tapi menyimpan muatan sejarah, sosial, teologis, dan tentu saja—emosi yang tak selalu bisa ditebak. Diucapkan dalam satu tarikan napas, tapi dijalani dalam puluhan tahun yang panjang. Ia bukan sekadar perayaan; ia adalah keberanian. Tapi keberanian untuk apa?Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu dirayakan, termasuk pernikahan. Akun Instagram penuh foto pre-wedding. Gaun putih, taman bunga, lilin-lilin romantis. Tapi pernikahan sering kali berhenti pada estetika. Kita menyentuh kulitnya, tapi lupa dagingnya. Kita mempersiapkan pesta, tapi bukan percakapan. Kita menata dekorasi, tapi bukan pengampunan.
Padahal nikah bukan puisi. Ia bukan hanya janji indah di altar, tapi keputusan yang diulang setiap hari—bahkan ketika cinta sedang tidak terasa. Bahkan ketika yang tersisa hanya pertengkaran tentang cucian piring atau saldo rekening yang kosong.
Nikah, di dalam banyak budaya, dikemas sebagai “penyatuan.” Tapi siapa yang benar-benar bersatu? Dua individu dengan latar berbeda, luka berbeda, mimpi berbeda—diharapkan hidup satu atap, satu dapur, satu kasur, dan satu visi. Itu bukan hal kecil. Itu nyaris mustahil. Tapi justru di sanalah letak keajaibannya: bukan pada kesamaan, tapi pada kesanggupan bertahan dalam perbedaan.
Dalam banyak agama, pernikahan disebut “kudus.” Tapi kekudusan bukan berarti steril dari konflik. Kudus bukan berarti tanpa cacat. Kudus, mungkin, justru berarti: kita tetap memilih tinggal, ketika pergi tampak lebih mudah.
Dan di balik semua itu, ada pertanyaan sosial yang lebih luas: siapa yang diuntungkan oleh pernikahan? Dalam banyak sistem patriarki, pernikahan justru menjadi alat untuk menundukkan perempuan. Seolah cinta adalah kontrak tak tertulis bahwa istri harus “melayani,” dan suami punya kuasa. Maka kata “istri yang baik” sering kali lebih berarti “yang patuh,” bukan “yang jujur.” Maka pertanyaannya bukan: apakah kamu menikah? Tapi: bagaimana kamu menikah?
Institusi manusia selalu menyimpan paradoks. Kita mencintai gagasannya, tapi tak siap menanggung realitasnya. Pernikahan, jika hanya dibayangkan sebagai kebahagiaan, akan mengecewakan. Tapi jika dilihat sebagai latihan kesetiaan—ia menjadi ruang spiritual.
Mungkin kita tak pernah benar-benar siap menikah. Tapi cinta bukan soal kesiapan. Ia soal keberanian. Dan keberanian yang sejati tidak bersuara keras. Ia hanya tinggal, di dapur, di ranjang, di ruang tamu yang sepi, dan berkata dalam hati: “Aku tetap di sini.”
Nikah bukan tempat untuk menjadi sempurna. Ia tempat untuk belajar mencintai yang tidak sempurna. Termasuk diri sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar