Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tuntutan: harus kuat, harus bahagia, harus produktif. Kita diajarkan untuk tidak mengeluh, untuk "bersyukur", bahkan ketika batin kita sekarat. Maka tidak heran jika banyak orang menyembunyikan pikirannya tentang kematian di balik senyum tipis, status motivasional, atau rutinitas kerja. Mereka tertawa di luar, tapi tenggelam di dalam.
Dalam pemikiran filsuf Albert Camus, hidup adalah absurditas. Ia menyebut bunuh diri sebagai satu-satunya pertanyaan filosofis yang serius. Mengapa kita tidak mengakhiri hidup ketika semuanya terasa tak masuk akal? Namun Camus justru menemukan keberanian di titik itu. Ia menolak menyerah. Baginya, menyadari bahwa hidup itu absurd bukan alasan untuk mengakhirinya, tetapi undangan untuk memberontak — bukan dengan peluru, tetapi dengan makna yang diciptakan sendiri.
Sayangnya, masyarakat modern kita cenderung salah kaprah. Ketika seseorang mengaku punya pikiran bunuh diri, respons paling umum adalah menyuruhnya “berpikir positif” atau “jangan lebay”. Padahal, itu seperti menyuruh orang yang tenggelam untuk berenang lebih kuat, tanpa memberinya pelampung. Pikiran bunuh diri bukan kelemahan. Ia adalah sinyal: bahwa sistem kita—baik sosial, ekonomi, maupun spiritual—sedang gagal merengkuh manusia pada titik paling rapuhnya.
Kita sering membayangkan bahwa orang yang ingin bunuh diri pasti terlihat murung, tertutup, atau menangis sepanjang hari. Nyatanya, banyak dari mereka adalah teman-teman kita yang paling ceria, paling ringan tangannya, paling rajin hadir. Mereka pandai menyembunyikan luka, karena merasa bahwa dunia tak cukup aman untuk menampungnya.
Apa yang bisa kita lakukan? Mungkin yang paling mendasar adalah belajar mendengar — sungguh-sungguh mendengar. Bukan untuk membalas, bukan untuk menasihati, tetapi untuk hadir. Kadang, seseorang tidak ingin diselamatkan. Ia hanya ingin tahu bahwa ada seseorang di dunia ini yang peduli cukup untuk duduk bersamanya dalam gelap, tanpa menghakimi.
Pikiran bunuh diri tidak akan hilang hanya dengan kata-kata semangat. Tapi ia bisa melemah ketika seseorang merasa dipahami. Dan barangkali, dalam dunia yang terlalu cepat berlalu, kehadiran yang tulus adalah satu-satunya obat yang tak bisa dijual dalam botol, namun menyelamatkan lebih banyak jiwa daripada yang kita bayangkan.
Jika hari ini terasa berat, ingatlah: keberanian bukan hanya tentang menaklukkan dunia, tapi juga tentang tetap hidup satu hari lagi, bahkan ketika semua terasa tak masuk akal. Karena esok, siapa tahu, langit bisa berubah. Dan hidup — meski hancur — masih bisa dirakit kembali. Pelan-pelan. Bersama.


