Kamis, 17 Juli 2025

Suicidal Thought

Ada saat dalam hidup manusia ketika malam terasa terlalu panjang dan pagi tak menawarkan harapan. Saat-saat di mana pikiran tentang kematian tidak datang sebagai ancaman, melainkan sebagai pelarian yang terlihat logis. Pikiran bunuh diri — atau suicidal thought — bukan sekadar gejala kejiwaan. Ia adalah jeritan sunyi dari jiwa yang kelelahan, dari hati yang merasa tak lagi punya tempat di dunia yang terus bergerak, seolah-olah tanpa peduli.

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tuntutan: harus kuat, harus bahagia, harus produktif. Kita diajarkan untuk tidak mengeluh, untuk "bersyukur", bahkan ketika batin kita sekarat. Maka tidak heran jika banyak orang menyembunyikan pikirannya tentang kematian di balik senyum tipis, status motivasional, atau rutinitas kerja. Mereka tertawa di luar, tapi tenggelam di dalam.

Dalam pemikiran filsuf Albert Camus, hidup adalah absurditas. Ia menyebut bunuh diri sebagai satu-satunya pertanyaan filosofis yang serius. Mengapa kita tidak mengakhiri hidup ketika semuanya terasa tak masuk akal? Namun Camus justru menemukan keberanian di titik itu. Ia menolak menyerah. Baginya, menyadari bahwa hidup itu absurd bukan alasan untuk mengakhirinya, tetapi undangan untuk memberontak — bukan dengan peluru, tetapi dengan makna yang diciptakan sendiri.

Sayangnya, masyarakat modern kita cenderung salah kaprah. Ketika seseorang mengaku punya pikiran bunuh diri, respons paling umum adalah menyuruhnya “berpikir positif” atau “jangan lebay”. Padahal, itu seperti menyuruh orang yang tenggelam untuk berenang lebih kuat, tanpa memberinya pelampung. Pikiran bunuh diri bukan kelemahan. Ia adalah sinyal: bahwa sistem kita—baik sosial, ekonomi, maupun spiritual—sedang gagal merengkuh manusia pada titik paling rapuhnya.

Kita sering membayangkan bahwa orang yang ingin bunuh diri pasti terlihat murung, tertutup, atau menangis sepanjang hari. Nyatanya, banyak dari mereka adalah teman-teman kita yang paling ceria, paling ringan tangannya, paling rajin hadir. Mereka pandai menyembunyikan luka, karena merasa bahwa dunia tak cukup aman untuk menampungnya.

Apa yang bisa kita lakukan? Mungkin yang paling mendasar adalah belajar mendengar — sungguh-sungguh mendengar. Bukan untuk membalas, bukan untuk menasihati, tetapi untuk hadir. Kadang, seseorang tidak ingin diselamatkan. Ia hanya ingin tahu bahwa ada seseorang di dunia ini yang peduli cukup untuk duduk bersamanya dalam gelap, tanpa menghakimi.

Pikiran bunuh diri tidak akan hilang hanya dengan kata-kata semangat. Tapi ia bisa melemah ketika seseorang merasa dipahami. Dan barangkali, dalam dunia yang terlalu cepat berlalu, kehadiran yang tulus adalah satu-satunya obat yang tak bisa dijual dalam botol, namun menyelamatkan lebih banyak jiwa daripada yang kita bayangkan.

Jika hari ini terasa berat, ingatlah: keberanian bukan hanya tentang menaklukkan dunia, tapi juga tentang tetap hidup satu hari lagi, bahkan ketika semua terasa tak masuk akal. Karena esok, siapa tahu, langit bisa berubah. Dan hidup — meski hancur — masih bisa dirakit kembali. Pelan-pelan. Bersama.

Rabu, 16 Juli 2025

Metaverse

Lima tahun silam, “Metaverse” didengungkan Mark Zuckerberg bak Injil baru teknologi: sebuah jagat tiga‑dimensi tempat kita bekerja, berbelanja, dan jatuh cinta—tanpa meninggalkan sofa. Tetapi 2025 menunjukkan pemandangan yang lebih kusut. Unit Reality Labs Meta tetap merugi belasan miliar dolar tiap tahun, namun perusahaan justru menggandakan investasi pada kacamata pintar Ray‑Ban dan Oakley demi “konvergensi AI‑Metaverse” yang konon akan menggusur ponsel satu dekade lagi. Ibarat mengganti atap ketika pondasi retak, ambisi itu menegaskan satu hal: mitos belum selesai, meski realitas tertatih.

Di lapangan, angka‑angka bicara getir. Hanya 14 % bisnis yang benar‑benar mengadopsi solusi AR/VR penuh; sisanya terganjal harga perangkat, infrastruktur komputasi, dan ongkos pelatihan karyawan yang bisa tembus puluhan ribu dolar per kepala. Sementara itu Horizon Worlds—“kota pertama” versi Meta—masih dihantui bug dan tingkat retensi pengguna yang tipis, sampai perlu menyiapkan studio gim internal demi menyelamatkan daya tariknya. Visi kota kosmik ternyata gampang runtuh oleh banalitas lag, latency, dan dompet membengkak.

Secara filosofis, Metaverse menghidupkan ulang alegori gua Plato dalam resolusi 8K. Manusia modern duduk terpaku pada bayang‑bayang digital, mengira cahaya headset sebagai matahari. Dalam gua baru ini, identitas bisa diganti sekali klik, tetapi kuasa platform menjadi maha‑pencipta: merekam gerak mata, memonetisasi ekspresi wajah, bahkan merekayasa gravitasi demi iklan. Tak heran, 55 % pengguna lebih takut pada pelacakan data ketimbang monster VR mana pun; 44 % resah terhadap perundungan, dan 38 % cemas soal pelecehan seksual di ruang imersif. Ketika segala sudut tubuh disensor, privasi menjadi fosil kenangan.

Problem mendasar Metaverse bukan sekadar teknologi belum matang, melainkan jawaban keliru atas pertanyaan salah. Ia berangkat dari keyakinan bahwa pengalaman manusia setara piksel—bahwa kehadiran dapat diserahkan kepada bandwidth. Namun Intel sendiri memperkirakan butuh seribu kali efisiensi komputasi agar “dunia persistensi miliaran orang” benar‑benar mungkin. Bahkan bila hambatan itu terpecahkan, kita masih dihadang dilema etika: siapa pemilik ruang, hukum apa yang berlaku, dan bagaimana menakar dosa dalam semesta terprogram?

Kiranya inilah saat kita menghidupkan filosofi epoche—menahan diri sebelum menilai. Metaverse bisa menjadi laboratorium empati, memungkinkan dokter melatih operasi kompleks atau arkeolog menelusuri kota purba tanpa merusak situs asli. Tetapi ia juga dapat mengekspor kapitalisme pengawasan ke ranah yang lebih intim: detak jantung, pupil menyusut, lirikan rindu. Simpul moralnya sederhana: teknologi hanyalah amplifier; ia membesarkan kebijaksanaan atau kebodohan, tergantung stok nilai yang kita sematkan.

Maka daripada sibuk menjawab apakah Metaverse akan “sukses”, lebih urgen bertanya: masa depan macam apa yang layak kita sukseskan? Barangkali kita perlu jeda kontemplasi di trotoar dunia fisik—mendengar angin, menatap wajah tanpa avatar, meraba tanah tanpa haptic glove—agar ingat bahwa realitas bukan cacat desain yang harus ditambal piksel. Bila tidak, kita berisiko menjadi Homo Avatar: makhluk yang rela melepas daging demi cahaya neon, menukar makna panjang dengan sensasi instan, dan—ironisnya—kehilangan tempat berpijak, baik di bumi maupun di server awan.

Metaverse, pada akhirnya, bukan sekadar soal kemajuan teknologi, tetapi ujian bagi kedewasaan moral kita: apakah kita sedang menciptakan ruang baru untuk merayakan kemanusiaan, atau justru menggali kubur bagi realitas itu sendiri? Maka pertanyaannya kini bukan lagi bisa atau tidak, tetapi sebaiknya untuk apa—dan apakah kita cukup bijak untuk tak menjadi tamu abadi di dunia semu yang kita bangun sendiri.

Sabtu, 12 Juli 2025

Dilupakan

Ada yang lebih sunyi dari ditinggalkan: dilupakan.

Setiap orang ingin dikenang. Tapi tak satu pun dari kita bisa memilih ingatan macam apa yang akan tinggal, atau siapa yang akan tetap mengingat.

Mungkin karena itu, “dilupakan” terdengar lebih sunyi daripada “kehilangan.” Kehilangan masih mengandung luka yang hidup; ada jejak yang belum kering. Tapi dilupakan—adalah ketika nama kita tak lagi dipanggil, bahkan bayangan kita pun tak sempat dikenali. Ia bukan kepergian, melainkan penghapusan. Dilupakan adalah keheningan yang utuh. Ia seperti debu yang tak pernah sempat diingat pernah menempel.

“Kita hanya ingin dikenang agar tak punah.” Barangkali itu yang membuat manusia menulis buku, membangun tugu, berdoa, mencinta, bahkan berperang. Semua demi satu perkara yang samar: agar jejak kita tak lenyap tanpa gema.

Tapi dunia, seperti air yang terus mengalir, tidak peduli.

Ada orang-orang yang pernah jadi pahlawan. Tapi kini, tak satu pun yang menaruh bunga di nisannya. Ada penyair yang pernah memukau masa—tapi kini hanya tinggal catatan kaki. Ada ibu-ibu yang merawat malam demi anaknya, tapi tak satu pun dari mereka sempat bertanya: “Apa Ibu bahagia?”

Kita hidup di zaman ketika yang cepat lebih diingat daripada yang dalam. Yang viral lebih dirayakan daripada yang setia. Maka siapa yang peduli pada kesunyian yang lama? Pada kerja-kerja diam? Pada nama yang tak tertera dalam riwayat?

Namun, yang lebih menyesakkan adalah ketika yang dilupakan bukan hanya orang, tapi nilai. Tentang kejujuran. Tentang rasa malu. Tentang menghormati tanpa kamera. Kita lupa bahwa dalam kebudayaan yang bising, diam adalah bentuk keberanian. Dalam zaman yang haus eksistensi, menghilang bisa jadi sikap politik.

Barangkali inilah tragedi terbesar: ketika dilupakan menjadi kebiasaan kolektif. Ketika sejarah hanya menghafal yang kuat. Ketika yang kecil hanya menjadi angka, dan yang bisu hanya jadi bunyi yang terhapus algoritma.

Ada kekuatan justru dalam dilupakan. Seperti akar yang tak pernah tampak tapi menopang pohon. Seperti doa yang tak pernah terdengar tapi mengubah arah hidup seseorang. Seperti cinta yang tak disebut, tapi menahan runtuhnya seseorang di ambang putus asa.

Dilupakan adalah bentuk kehadiran yang paling jujur: ia tidak menuntut dikenang. Ia cukup tahu bahwa ia pernah ada. Yang abadi bukanlah nama yang terpahat di prasasti. Yang abadi adalah kebaikan kecil yang tak disebut, keputusan sulit yang tak dikisahkan, pelukan yang tak sempat difoto.

Karena yang paling menggetarkan dari manusia bukan kemauannya untuk diingat, tetapi kesediaannya untuk menghilang tanpa menyisakan dendam.

Maka jika suatu hari kau merasa telah dilupakan, namamu tak lagi disebut, dan wajahmu tak dikenali bahkan di rumah sendiri, jangan tergesa marah.

Barangkali justru di situlah engkau bebas—tak lagi menjadi tokoh, tak lagi ditonton, tak lagi ditakar. Engkau tinggal menjadi: senyap, tapi utuh. Itu cukup. Meski dunia lupa, semesta tidak.