Kamis, 07 Agustus 2025

Ketika Doa Tak Menghentikan Kematian

Memahami kehilangan di tengah Iman.

Kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita menangis di ujung malam, menyebut nama yang kita kasihi, memohon kesembuhan, berharap pada mukjizat. Kita mengetuk langit, mengutip ayat-ayat, mempercayakan tubuh yang lemah kepada Tuhan yang Mahakuasa. Kita yakin bahwa cinta kita, dikalikan dengan iman kita, akan mengubah takdir. Tapi nyatanya, ia tetap pergi. Tubuhnya menjadi dingin. Nafasnya berhenti. Dunia runtuh seketika.

Lalu datang pertanyaan paling menyakitkan yang bisa muncul dari ruang duka: "Tuhan, mengapa tidak Engkau sembuhkan dia? Bukankah aku telah memohon dengan iman? Bukankah Engkau mendengar?"

Pertanyaan ini adalah salah satu jeritan paling manusiawi yang pernah menggema dari ruang-ruang duka: “Kami sudah berdoa, memohon, menangis, berharap... tapi mengapa dia tetap pergi?” Dan di balik pertanyaan itu, sesungguhnya terhampar rasa patah, ketidakmengertian, bahkan amarah yang sunyi kepada langit yang tak memberi jawaban seperti yang kita harapkan.

Dalam pengalaman kehilangan seperti ini, doa terasa seperti gagal. Seolah tidak ada kuasa yang menjangkau jerit kita. Tapi barangkali, kita perlu menggeser cara pandang: bahwa doa bukanlah alat transaksi spiritual untuk menunda kematian, melainkan ruang batin tempat kita berserah, mencintai, dan mengikhlaskan—meski harus melalui air mata.

Selama ini, kita sering menganggap doa sebagai sarana untuk mengubah realitas: memohon agar sakit disembuhkan, penderitaan diangkat, kematian dijauhkan. Tapi bagaimana jika doa justru adalah cara Tuhan untuk mengubah kita, bukan keadaan? Bagaimana jika doa bukan sekadar alat untuk menghindari luka, tapi jalan menuju penerimaan?

Tuhan memang Mahakuasa. Ia bisa saja menyembuhkan, dan terkadang memang melakukan itu. Tapi ketika kesembuhan tidak datang, bukan berarti doa kita sia-sia. Bisa jadi, jawaban Tuhan bukan "Ya" atau "Tidak", melainkan: "Aku bersamamu melalui ini semua." Dan kehadiran-Nya bukan selalu tampak dalam kesembuhan jasmani, melainkan dalam kekuatan batin yang membuat kita tetap berdiri, meski hati hancur berkeping-keping.

Kematian adalah kenyataan pahit yang tidak bisa selalu kita tolak, bahkan dengan doa yang paling tulus sekalipun. Kita berdoa agar yang kita kasihi tetap hidup, tapi Tuhan menjawab dalam bentuk kehidupan yang lain—yang tidak lagi mengenal sakit, tidak lagi terbatasi waktu. Kita ingin ia tetap tinggal, tapi mungkin Tuhan memanggilnya pulang karena kasih yang tak bisa kita pahami sekarang.

Lalu untuk apa kita berdoa jika toh akhirnya ia tetap pergi?

Karena dalam doa, kita pernah menyentuh langit. Kita mencintai dengan segenap jiwa. Kita menyerahkan orang yang paling kita kasihi kepada tangan yang lebih besar dari tangan kita. Doa adalah pelukan jiwa yang melepaskan, bukan sekadar memaksa.

Dan ketika semuanya telah usai—ketika tubuh telah dikuburkan, dan duka menyisakan sunyi—doa tetap menjadi jembatan. Di dalamnya, kenangan hidup. Cinta tetap berdenyut. Dan iman pun, perlahan-lahan, membimbing kita untuk memahami bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari kisah yang lebih besar, yang belum selesai.

Jadi jika hari ini kita masih bertanya: “Mengapa dia tidak disembuhkan meski aku telah berdoa?” —mungkin jawabannya bukan di langit, tapi di kedalaman hati kita sendiri. Di sana, Tuhan sedang membisikkan: “Aku tidak menyelamatkannya dari kematian, tapi Aku menjemputnya untuk hidup kekal.”


Selasa, 05 Agustus 2025

Kapitalisme Jiwa

Di era ini, bukan hanya tubuh kita yang dijadikan komoditas. Jiwa kita—perasaan, hasrat, ketakutan, bahkan luka terdalam—telah menjadi ladang emas bagi pasar yang tak pernah kenyang. Kapitalisme, yang dulu hanya mengincar tenaga dan waktu, kini masuk lebih dalam: ia ingin hati kita. Inilah kapitalisme jiwa, wajah baru dari sistem lama yang kian lihai mengeksploitasi manusia dari dalam.

Kita menyebutnya "ekonomi perhatian", tapi sejatinya ia adalah ekonomi manipulasi emosi. Setiap kali kita membuka media sosial, algoritma bekerja seperti pawang emosi: ia menyuguhkan kemarahan, kesedihan, kegembiraan, iri hati—semua dalam takaran yang dirancang untuk membuat kita bertahan lebih lama, scroll lebih jauh, klik lebih banyak. Emosi kita dijadikan bahan bakar mesin raksasa bernama kapital digital. Dan ironisnya, kita ikut menikmatinya—bahkan ketagihan.

Coba perhatikan: mengapa iklan skincare sekarang tidak hanya menjanjikan kulit bersih, tapi juga “self-love”? Mengapa iklan minuman bersoda tidak hanya bicara soal rasa, tapi juga “kebahagiaan”? Karena yang dijual bukan lagi produk semata, tapi citra emosi. Kita membeli bukan karena butuh, tapi karena ingin merasa seperti yang mereka janjikan. Dalam dunia ini, cinta diri bisa dibeli, kesuksesan bisa disemprotkan, dan kepercayaan diri bisa dioleskan tiap pagi. Emosi telah diubah menjadi transaksi.

Lebih dalam lagi, kapitalisme jiwa memaksa kita menjadi pemasar diri sendiri. Kita membentuk identitas di dunia maya seperti membangun merek dagang. Kita susun caption dengan strategi, kita pilih filter wajah dengan cermat, kita tampilkan momen “bahagia” meski hati remuk. Emosi menjadi pertunjukan, bukan pengalaman. Kita tidak lagi merasakan, tapi mempresentasikan rasa. Bahkan kesedihan pun kini harus estetik agar layak dapat perhatian.

Fenomena ini juga menjangkiti dunia kerja. Perusahaan menuntut karyawan untuk “positif”, “antusias”, “berjiwa tim”, seolah emosi adalah bagian dari kontrak kerja. Kita dituntut selalu tersenyum, meski hati sedang beku. Kita dipaksa menelan rasa lelah, frustrasi, dan amarah, karena profesionalisme kini berarti kemampuan mengelola emosi sesuai ekspektasi pasar. Kapitalisme jiwa telah menciptakan pekerja bukan hanya dari tangan dan otak, tapi dari perasaan.

Dan yang paling menyedihkan: kita mulai percaya bahwa nilai diri kita tergantung pada seberapa “terlihat” kita di dunia digital, seberapa “bahagia” kita dalam unggahan, seberapa “produktif” kita setiap hari. Kita terus mengejar validasi eksternal sebagai pengganti keutuhan internal. Jiwa kita dijual perlahan, potong demi potong, dan kita menyebutnya kemajuan.

Namun haruskah kita tunduk?

Barangkali kita butuh revolusi sunyi: menolak menyamakan perasaan dengan konten, menolak menjadikan duka sebagai bahan pemasaran, menolak menjual diri hanya untuk eksistensi. Kita perlu merebut kembali kedaulatan emosi—bahwa menangis tidak harus ditonton, bahwa bahagia tak perlu dikurasi, bahwa cinta tidak harus ditayangkan.

Kapitalisme jiwa hanya akan tumbuh subur jika kita terus memberi pupuk berupa atensi tanpa refleksi. Maka satu-satunya cara melawannya bukan dengan kebisingan, tapi dengan keheningan yang sadar. Dengan menolak dikendalikan oleh algoritma yang tahu terlalu banyak tentang kita, tapi tak tahu apa-apa tentang makna hidup.

Karena pada akhirnya, jiwa bukan untuk dijual. Ia bukan pasar, bukan layar, bukan konten. Ia adalah ruang paling intim tempat manusia menjadi manusia—dan tempat terakhir yang seharusnya tetap bebas.

Senin, 04 Agustus 2025

Pasca-Kebenaran

Kita hidup di zaman yang aneh. Di satu sisi, informasi tersedia dalam jumlah yang nyaris tak terbatas. Segala hal bisa dicari dalam hitungan detik—dari teori gravitasi hingga teori konspirasi. Tapi anehnya, di tengah melimpahnya data, kebenaran justru menjadi barang langka. Fakta tak lagi punya kuasa absolut; ia kini harus bersaing dengan opini, intuisi, bahkan ilusi. Inilah era yang disebut banyak pemikir sebagai pasca-kebenaran (post-truth), sebuah masa di mana emosi lebih dipercaya ketimbang bukti.

Istilah “pasca-kebenaran” bukan berarti kebenaran telah mati, tetapi lebih tepatnya: kebenaran telah dipinggirkan. Orang tak lagi tertarik pada apa yang benar, melainkan pada apa yang terasa benar. Perasaan menjadi kompas moral, dan narasi yang menyenangkan menjadi lebih penting daripada realitas yang menyakitkan. Kita tidak lagi mencari apa yang sebenarnya terjadi, tetapi apa yang ingin kita percayai telah terjadi.

Contohnya berlimpah: dari politik yang dibentuk oleh hoaks, sains yang dilawan oleh opini Facebook, hingga agama yang disandera oleh dogma emosional. Pemimpin tak lagi harus jujur, cukup tampil meyakinkan. Pengetahuan tak lagi harus diuji, cukup viral. Di dunia pasca-kebenaran, popularitas adalah validasi tertinggi, dan kenyataan menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Fenomena ini tentu tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari kelelahan manusia terhadap kompleksitas. Kebenaran seringkali rumit, ambigu, dan tak nyaman. Butuh waktu, logika, dan kerendahan hati untuk mencapainya. Sebaliknya, kebohongan yang dibungkus dengan rasa aman jauh lebih mudah diterima. Manusia memilih narasi yang menghibur daripada realitas yang menggugah. 

Namun bahaya dari pasca-kebenaran bukan sekadar kekacauan informasi, melainkan pembusukan nalar publik. Ketika logika tidak lagi dihargai dan fakta hanya menjadi pilihan alternatif, maka diskusi menjadi mustahil, dialog berubah jadi debat kosong, dan demokrasi merosot menjadi kompetisi retorika. Tak ada lagi dasar bersama untuk berdiri, karena setiap orang merasa memiliki versinya masing-masing tentang “kebenaran.”

Lantas, apa yang bisa kita lakukan di tengah atmosfer pasca-kebenaran ini? Haruskah kita menyerah dan ikut larut dalam banjir informasi yang manipulatif?

Jawabannya: tidak. Justru di zaman inilah kita perlu lebih radikal dalam mencintai kebenaran. Bukan sebagai slogan moral, tetapi sebagai cara hidup. Kita harus belajar untuk tidak langsung percaya pada apa yang kita sukai, dan tidak otomatis menolak apa yang menyakitkan. Kebenaran sering tidak nyaman, tapi di sanalah integritas manusia diuji.

Kita juga harus menghidupkan kembali kebajikan intelektual: keraguan yang sehat, keberanian untuk bertanya, dan kesabaran untuk menimbang. Kritis bukan berarti sinis, skeptis bukan berarti apatis.

Dan di atas semua itu, kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: apakah aku mencintai kebenaran, atau hanya mencintai apa yang membuatku merasa benar?

Karena pada akhirnya, zaman pasca-kebenaran bukan hanya soal kebohongan yang beredar di luar sana, tapi tentang keberanian kita menolak menjadi bagian dari kebohongan itu—meski itu berarti kita harus berhadapan dengan kenyataan yang tak kita sukai. Sebab tanpa kebenaran, kita hanya akan menjadi gema dari gema lain, hidup dalam ilusi yang disepakati bersama, tapi tak pernah benar-benar menyentuh hakikat yang sejati.