Lalu datang pertanyaan paling menyakitkan yang bisa muncul dari ruang duka: "Tuhan, mengapa tidak Engkau sembuhkan dia? Bukankah aku telah memohon dengan iman? Bukankah Engkau mendengar?"
Pertanyaan ini adalah salah satu jeritan paling manusiawi yang pernah menggema dari ruang-ruang duka: “Kami sudah berdoa, memohon, menangis, berharap... tapi mengapa dia tetap pergi?” Dan di balik pertanyaan itu, sesungguhnya terhampar rasa patah, ketidakmengertian, bahkan amarah yang sunyi kepada langit yang tak memberi jawaban seperti yang kita harapkan.
Dalam pengalaman kehilangan seperti ini, doa terasa seperti gagal. Seolah tidak ada kuasa yang menjangkau jerit kita. Tapi barangkali, kita perlu menggeser cara pandang: bahwa doa bukanlah alat transaksi spiritual untuk menunda kematian, melainkan ruang batin tempat kita berserah, mencintai, dan mengikhlaskan—meski harus melalui air mata.
Selama ini, kita sering menganggap doa sebagai sarana untuk mengubah realitas: memohon agar sakit disembuhkan, penderitaan diangkat, kematian dijauhkan. Tapi bagaimana jika doa justru adalah cara Tuhan untuk mengubah kita, bukan keadaan? Bagaimana jika doa bukan sekadar alat untuk menghindari luka, tapi jalan menuju penerimaan?
Tuhan memang Mahakuasa. Ia bisa saja menyembuhkan, dan terkadang memang melakukan itu. Tapi ketika kesembuhan tidak datang, bukan berarti doa kita sia-sia. Bisa jadi, jawaban Tuhan bukan "Ya" atau "Tidak", melainkan: "Aku bersamamu melalui ini semua." Dan kehadiran-Nya bukan selalu tampak dalam kesembuhan jasmani, melainkan dalam kekuatan batin yang membuat kita tetap berdiri, meski hati hancur berkeping-keping.
Kematian adalah kenyataan pahit yang tidak bisa selalu kita tolak, bahkan dengan doa yang paling tulus sekalipun. Kita berdoa agar yang kita kasihi tetap hidup, tapi Tuhan menjawab dalam bentuk kehidupan yang lain—yang tidak lagi mengenal sakit, tidak lagi terbatasi waktu. Kita ingin ia tetap tinggal, tapi mungkin Tuhan memanggilnya pulang karena kasih yang tak bisa kita pahami sekarang.
Lalu untuk apa kita berdoa jika toh akhirnya ia tetap pergi?
Karena dalam doa, kita pernah menyentuh langit. Kita mencintai dengan segenap jiwa. Kita menyerahkan orang yang paling kita kasihi kepada tangan yang lebih besar dari tangan kita. Doa adalah pelukan jiwa yang melepaskan, bukan sekadar memaksa.
Dan ketika semuanya telah usai—ketika tubuh telah dikuburkan, dan duka menyisakan sunyi—doa tetap menjadi jembatan. Di dalamnya, kenangan hidup. Cinta tetap berdenyut. Dan iman pun, perlahan-lahan, membimbing kita untuk memahami bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari kisah yang lebih besar, yang belum selesai.
Jadi jika hari ini kita masih bertanya: “Mengapa dia tidak disembuhkan meski aku telah berdoa?” —mungkin jawabannya bukan di langit, tapi di kedalaman hati kita sendiri. Di sana, Tuhan sedang membisikkan: “Aku tidak menyelamatkannya dari kematian, tapi Aku menjemputnya untuk hidup kekal.”


