Selasa, 05 Agustus 2025

Kapitalisme Jiwa

Di era ini, bukan hanya tubuh kita yang dijadikan komoditas. Jiwa kita—perasaan, hasrat, ketakutan, bahkan luka terdalam—telah menjadi ladang emas bagi pasar yang tak pernah kenyang. Kapitalisme, yang dulu hanya mengincar tenaga dan waktu, kini masuk lebih dalam: ia ingin hati kita. Inilah kapitalisme jiwa, wajah baru dari sistem lama yang kian lihai mengeksploitasi manusia dari dalam.

Kita menyebutnya "ekonomi perhatian", tapi sejatinya ia adalah ekonomi manipulasi emosi. Setiap kali kita membuka media sosial, algoritma bekerja seperti pawang emosi: ia menyuguhkan kemarahan, kesedihan, kegembiraan, iri hati—semua dalam takaran yang dirancang untuk membuat kita bertahan lebih lama, scroll lebih jauh, klik lebih banyak. Emosi kita dijadikan bahan bakar mesin raksasa bernama kapital digital. Dan ironisnya, kita ikut menikmatinya—bahkan ketagihan.

Coba perhatikan: mengapa iklan skincare sekarang tidak hanya menjanjikan kulit bersih, tapi juga “self-love”? Mengapa iklan minuman bersoda tidak hanya bicara soal rasa, tapi juga “kebahagiaan”? Karena yang dijual bukan lagi produk semata, tapi citra emosi. Kita membeli bukan karena butuh, tapi karena ingin merasa seperti yang mereka janjikan. Dalam dunia ini, cinta diri bisa dibeli, kesuksesan bisa disemprotkan, dan kepercayaan diri bisa dioleskan tiap pagi. Emosi telah diubah menjadi transaksi.

Lebih dalam lagi, kapitalisme jiwa memaksa kita menjadi pemasar diri sendiri. Kita membentuk identitas di dunia maya seperti membangun merek dagang. Kita susun caption dengan strategi, kita pilih filter wajah dengan cermat, kita tampilkan momen “bahagia” meski hati remuk. Emosi menjadi pertunjukan, bukan pengalaman. Kita tidak lagi merasakan, tapi mempresentasikan rasa. Bahkan kesedihan pun kini harus estetik agar layak dapat perhatian.

Fenomena ini juga menjangkiti dunia kerja. Perusahaan menuntut karyawan untuk “positif”, “antusias”, “berjiwa tim”, seolah emosi adalah bagian dari kontrak kerja. Kita dituntut selalu tersenyum, meski hati sedang beku. Kita dipaksa menelan rasa lelah, frustrasi, dan amarah, karena profesionalisme kini berarti kemampuan mengelola emosi sesuai ekspektasi pasar. Kapitalisme jiwa telah menciptakan pekerja bukan hanya dari tangan dan otak, tapi dari perasaan.

Dan yang paling menyedihkan: kita mulai percaya bahwa nilai diri kita tergantung pada seberapa “terlihat” kita di dunia digital, seberapa “bahagia” kita dalam unggahan, seberapa “produktif” kita setiap hari. Kita terus mengejar validasi eksternal sebagai pengganti keutuhan internal. Jiwa kita dijual perlahan, potong demi potong, dan kita menyebutnya kemajuan.

Namun haruskah kita tunduk?

Barangkali kita butuh revolusi sunyi: menolak menyamakan perasaan dengan konten, menolak menjadikan duka sebagai bahan pemasaran, menolak menjual diri hanya untuk eksistensi. Kita perlu merebut kembali kedaulatan emosi—bahwa menangis tidak harus ditonton, bahwa bahagia tak perlu dikurasi, bahwa cinta tidak harus ditayangkan.

Kapitalisme jiwa hanya akan tumbuh subur jika kita terus memberi pupuk berupa atensi tanpa refleksi. Maka satu-satunya cara melawannya bukan dengan kebisingan, tapi dengan keheningan yang sadar. Dengan menolak dikendalikan oleh algoritma yang tahu terlalu banyak tentang kita, tapi tak tahu apa-apa tentang makna hidup.

Karena pada akhirnya, jiwa bukan untuk dijual. Ia bukan pasar, bukan layar, bukan konten. Ia adalah ruang paling intim tempat manusia menjadi manusia—dan tempat terakhir yang seharusnya tetap bebas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar