Kamis, 21 Agustus 2025

FOMO

Ada sebuah ketakutan baru, yang sesungguhnya bukan baru. Ia disebut Fear of Missing Out, atau singkatnya FOMO. Namanya modern, berbahasa Inggris, tapi kegelisahannya kuno. Ia adalah kegelisahan manusia yang takut ditinggalkan perayaan, takut ketinggalan kabar, takut tak hadir di pesta yang diam-diam ia inginkan.

Di masa lalu, mungkin FOMO berarti tidak diajak duduk di bale desa. Atau tak diberi kabar ketika tetangga mengadakan syukuran. Kini ia bermigrasi ke layar 6 inci di tangan kita. Kawan-kawan merayakan liburan dengan wajah penuh tawa di Instagram, sementara kita berada di kamar dengan dinding yang sama, lampu yang sama, dan rasa bosan yang sama.

Teknologi, barangkali, hanya mempercepat rasa ini. Ia membuat perbandingan hidup begitu telanjang: siapa makan malam di restoran mahal, siapa menghadiri konser, siapa baru saja membeli sepatu edisi terbatas. Dunia maya memberi etalase tanpa kaca—kita bisa menempelkan wajah sedekat mungkin, dan menyaksikan betapa hidup orang lain tampak lebih penuh, lebih indah, lebih menyenangkan.

Tetapi apakah betul mereka yang kita pandang itu benar-benar bahagia? Ataukah mereka pun, setelah foto diunggah, merasa hampa—karena pesta yang mereka datangi tidak semeriah yang dibayangkan, atau karena mereka pun sibuk membandingkan diri dengan pesta orang lain?

FOMO, dengan kata lain, adalah ketakutan yang tidak pernah selesai. Ia seperti lingkaran setan. Ketika kita merasa tertinggal, kita berusaha hadir. Tetapi kehadiran itu tidak pernah utuh. Kita hadir dengan mata yang separuh ke layar, mencari lagi pesta lain yang mungkin lebih gemerlap.

Dalam masyarakat yang dipenuhi logika pasar, FOMO pun dijadikan komoditas. Perusahaan memanfaatkan rasa takut ketinggalan ini dengan label “limited edition,” “flash sale 24 jam,” atau “diskon terakhir.” Kita dipancing untuk membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut kehilangan kesempatan yang katanya tidak akan datang lagi.

Barangkali ini yang dimaksud Kierkegaard ketika menulis tentang despair, keputusasaan yang muncul karena manusia terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. FOMO adalah bentuk keputusasaan yang dikemas rapi, diberi filter, diberi musik latar. Ia tampak indah, tapi di dalamnya adalah jurang.

Namun bukankah rasa takut ketinggalan itu juga cermin dari kerinduan manusia untuk tidak sendiri? Untuk merasa menjadi bagian dari arus yang lebih besar? Mungkin itu sebabnya FOMO begitu kuat: ia bukan hanya soal iri, tapi juga soal identitas. Kita ingin diyakinkan bahwa hidup kita penting karena disaksikan.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Ada yang mengatakan: JOMO—Joy of Missing Out. Sebuah kebahagiaan karena tidak ikut serta. Karena memilih menyepi, membaca buku, atau sekadar duduk menatap langit malam. Tetapi kebahagiaan itu pun kini dipromosikan. Foto-foto orang yang “bahagia menyendiri” juga beredar, dan anehnya, bisa memicu FOMO baru.

Mungkin yang lebih jujur adalah menerima bahwa hidup memang selalu penuh kehilangan. Kita tak akan bisa hadir di semua pesta, membaca semua buku, mencintai semua orang. Dan barangkali, kehilangan itu bukan ancaman, melainkan bagian dari keberadaan kita yang terbatas.

Dalam keterbatasan itulah kita bisa menyelamatkan diri dari kegilaan layar. Bahwa dunia tetap bergerak meski kita tak ikut berlari. Bahwa ada kebahagiaan yang tak perlu diumumkan. Dan bahwa ketidakhadiran pun bisa menjadi ruang bagi kita untuk benar-benar hadir—kepada diri sendiri.

Sebab pada akhirnya, FOMO bukanlah soal takut ketinggalan pesta orang lain, melainkan tanda bahwa kita diam-diam sudah kehilangan pesta kita sendiri: hidup yang nyata, yang tak membutuhkan penonton, dan tak menunggu validasi dari layar.

Jumat, 15 Agustus 2025

Bangsa Yang Sakit Teriak Merdeka

Kita adalah bangsa yang lahir dari jeritan, darah, dan mimpi. Tujuh puluh sekian tahun yang lalu, kata “merdeka” bukan sekadar slogan; ia adalah napas terakhir yang kita hembuskan dalam perang, harga yang dibayar dengan nyawa, dan janji yang disegel dengan darah. Tapi kini, di jalan-jalan, di televisi, di media sosial, kita masih berteriak “Merdeka!” — sambil pelan-pelan membusuk dari dalam.

Bangsa ini seperti tubuh yang mengenakan pakaian pahlawan, tapi di baliknya demam, batuk, dan napasnya sesak. Kita masih merayakan kemerdekaan dengan lomba makan kerupuk, tapi di meja makan rumah banyak keluarga, nasi dan lauknya tetap seadanya. Kita masih mengibarkan bendera setinggi-tingginya, tapi keadilan dan kesejahteraan kita pasang setengah tiang. Kita seperti orang yang bangga memamerkan rumah megahnya, padahal fondasinya retak dan rayapnya menggerogoti.

Sakit kita bukan sekadar soal ekonomi atau politik—meskipun itu jelas kronis. Sakit kita ada di kepala dan hati. Kita mudah dipecah oleh berita palsu, gampang tersulut oleh perbedaan, dan senang mencurigai sesama hanya karena keyakinan atau pandangan politiknya tak sama. Kita senang mengutuk korupsi, tapi ketika ada kesempatan, kita meraih amplop “sekadar tanda terima kasih.” Kita mencemooh pejabat yang tidak becus, tapi di lingkup kecil, kita juga sering bermain licik demi kepentingan diri sendiri.

Ironisnya, teriakan “Merdeka!” kita hari ini sering terdengar seperti penyangkalan. Kita berteriak untuk meyakinkan diri bahwa kita masih berdaulat, padahal dalam banyak hal kita tunduk pada logika pasar global, kebijakan internasional, dan mentalitas konsumtif yang membuat kita tergantung pada bangsa lain. Kita merasa bebas, padahal sebagian besar pikiran kita dikendalikan algoritma media sosial. Kita pikir kita memilih sendiri, padahal kita sedang dipandu oleh sistem yang memahami kita lebih baik daripada kita mengenali diri sendiri.

Mungkin, kita ini seperti pasien yang menolak mengakui penyakitnya. Kita lebih suka menghibur diri dengan pesta kemerdekaan ketimbang menatap cermin dan melihat bahwa wajah kita pucat. Kita bertepuk tangan di upacara bendera, tapi enggan duduk bersama untuk membicarakan bagaimana memperbaiki sekolah yang roboh, rumah sakit yang sepi obat, dan petani yang kalah harga dari produk impor.

Kemerdekaan yang sejati bukan hanya tentang lepas dari penjajahan fisik, tapi juga dari penjajahan mental, moral, dan ketergantungan yang melemahkan daya kita. Merdeka berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menjual harga diri. Merdeka berarti bisa berpikir jernih tanpa diikat propaganda atau uang sogokan. Merdeka berarti menegakkan keadilan bukan hanya untuk kelompok kita, tapi untuk semua warga tanpa kecuali.

Kalau tubuh bangsa ini sakit, kita tidak bisa berharap sembuh hanya dengan teriak lebih keras. Kita butuh keberanian untuk mengobati luka, membuang racun, dan memperbaiki cara kita berpikir. Sebab, bangsa yang sakit tetapi terus teriak “Merdeka!” tanpa mau berobat—pada akhirnya hanya sedang menipu dirinya sendiri.

Dan mungkin, kemerdekaan sejati akan datang bukan saat kita berhenti berteriak, tapi saat kita bisa berbisik pelan: “Kami sungguh merdeka, di pikiran, di hati, dan di tindakan.”

Sabtu, 09 Agustus 2025

Bunga

Bunga selalu dipuja. Ia adalah simbol cinta, tanda belasungkawa, penghias pesta, bahkan hiasan di altar pernikahan. Di pasar, bunga dijual dalam ikatan rapi; di taman, bunga menjadi bintang yang diam-diam memaksa mata untuk berhenti. Kita mengagumi kelopaknya, mencium aromanya, memotretnya untuk dibagikan di media sosial. Tapi jarang kita bertanya: mengapa kita begitu mudah terpikat oleh sesuatu yang hidupnya singkat?

Kecantikan bunga adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, ia menawarkan keindahan yang murni; di sisi lain, ia adalah janji yang rapuh. Bunga mengajarkan kita tentang kefanaan dengan cara yang nyaris kejam: ketika ia sedang paling cantik, itulah saat ia paling dekat dengan layu. Inilah pelajaran yang sering kita abaikan—bahwa puncak keindahan hampir selalu beriringan dengan awal kehancuran.

Jika manusia mau jujur, kita sering memperlakukan sesama seperti bunga. Kita memetik ketika sedang mekar, memamerkannya, lalu membuangnya ketika warnanya pudar. Budaya kita memuja yang segar, muda, dan wangi; tapi enggan berurusan dengan kelopak yang gugur. Dalam hal ini, bunga bukan sekadar tanaman; ia adalah cermin dari cara kita mencintai—sementara, dangkal, dan mudah bosan.

Di balik pesona bunga, ada ekosistem yang bekerja keras. Tangkainya berjuang mencari air, akarnya menembus tanah, dan daunnya menyerap cahaya. Tapi semua itu jarang kita perhatikan. Kita hanya mau hasil akhirnya: mekarnya kelopak. Sama seperti kita yang lebih sering merayakan keberhasilan seseorang tanpa peduli pada perjalanan panjang yang penuh keringat, air mata, dan luka yang membentuknya.

Bunga juga adalah politik. Di dunia ekonomi global, bunga bukan hanya tumbuh di tanah, tapi juga di pasar saham. Ada industri miliaran dolar yang berdiri di atas ladang-ladang bunga potong. Ironisnya, bunga yang kita beli untuk mengekspresikan cinta sering dipanen oleh tangan-tangan yang dibayar murah di negeri jauh, lalu diterbangkan melintasi benua hanya untuk mati di meja ruang tamu kita. Keindahan di sini dibayar oleh keringat dan ketidakadilan.

Bunga mengundang kita untuk bertanya: apakah nilai sesuatu terletak pada ketahanannya atau pada momen singkatnya yang mempesona? Bunga tak pernah menyesali hidupnya yang sebentar; ia hanya mekar dengan segenap dirinya, lalu menyerah pada waktu. Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang kita, manusia modern, sulit terima. Kita ingin segalanya abadi—cinta, kesehatan, karier—padahal sebagian dari keindahan justru ada pada kepastian bahwa ia akan berakhir.

Bunga adalah peringatan yang lembut tapi tegas: bahwa keindahan bukanlah milik yang selamanya, melainkan milik yang berani hadir sepenuhnya di saatnya. Dan mungkin, jika kita mau belajar darinya, kita akan berhenti mengejar ilusi bahwa yang indah harus bertahan, dan mulai menghargai yang sementara dengan rasa syukur yang lebih dalam.

Karena pada akhirnya, seperti bunga, kita semua adalah mekar yang sedang menunggu gugur—dan yang membuat hidup ini berarti bukanlah berapa lama kita mekar, tapi seberapa tulus kita memberi keindahan pada dunia sebelum kelopak terakhir jatuh.