Di masa lalu, mungkin FOMO berarti tidak diajak duduk di bale desa. Atau tak diberi kabar ketika tetangga mengadakan syukuran. Kini ia bermigrasi ke layar 6 inci di tangan kita. Kawan-kawan merayakan liburan dengan wajah penuh tawa di Instagram, sementara kita berada di kamar dengan dinding yang sama, lampu yang sama, dan rasa bosan yang sama.
Teknologi, barangkali, hanya mempercepat rasa ini. Ia membuat perbandingan hidup begitu telanjang: siapa makan malam di restoran mahal, siapa menghadiri konser, siapa baru saja membeli sepatu edisi terbatas. Dunia maya memberi etalase tanpa kaca—kita bisa menempelkan wajah sedekat mungkin, dan menyaksikan betapa hidup orang lain tampak lebih penuh, lebih indah, lebih menyenangkan.
Tetapi apakah betul mereka yang kita pandang itu benar-benar bahagia? Ataukah mereka pun, setelah foto diunggah, merasa hampa—karena pesta yang mereka datangi tidak semeriah yang dibayangkan, atau karena mereka pun sibuk membandingkan diri dengan pesta orang lain?
FOMO, dengan kata lain, adalah ketakutan yang tidak pernah selesai. Ia seperti lingkaran setan. Ketika kita merasa tertinggal, kita berusaha hadir. Tetapi kehadiran itu tidak pernah utuh. Kita hadir dengan mata yang separuh ke layar, mencari lagi pesta lain yang mungkin lebih gemerlap.
Dalam masyarakat yang dipenuhi logika pasar, FOMO pun dijadikan komoditas. Perusahaan memanfaatkan rasa takut ketinggalan ini dengan label “limited edition,” “flash sale 24 jam,” atau “diskon terakhir.” Kita dipancing untuk membeli bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut kehilangan kesempatan yang katanya tidak akan datang lagi.
Barangkali ini yang dimaksud Kierkegaard ketika menulis tentang despair, keputusasaan yang muncul karena manusia terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. FOMO adalah bentuk keputusasaan yang dikemas rapi, diberi filter, diberi musik latar. Ia tampak indah, tapi di dalamnya adalah jurang.
Namun bukankah rasa takut ketinggalan itu juga cermin dari kerinduan manusia untuk tidak sendiri? Untuk merasa menjadi bagian dari arus yang lebih besar? Mungkin itu sebabnya FOMO begitu kuat: ia bukan hanya soal iri, tapi juga soal identitas. Kita ingin diyakinkan bahwa hidup kita penting karena disaksikan.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Ada yang mengatakan: JOMO—Joy of Missing Out. Sebuah kebahagiaan karena tidak ikut serta. Karena memilih menyepi, membaca buku, atau sekadar duduk menatap langit malam. Tetapi kebahagiaan itu pun kini dipromosikan. Foto-foto orang yang “bahagia menyendiri” juga beredar, dan anehnya, bisa memicu FOMO baru.
Mungkin yang lebih jujur adalah menerima bahwa hidup memang selalu penuh kehilangan. Kita tak akan bisa hadir di semua pesta, membaca semua buku, mencintai semua orang. Dan barangkali, kehilangan itu bukan ancaman, melainkan bagian dari keberadaan kita yang terbatas.
Dalam keterbatasan itulah kita bisa menyelamatkan diri dari kegilaan layar. Bahwa dunia tetap bergerak meski kita tak ikut berlari. Bahwa ada kebahagiaan yang tak perlu diumumkan. Dan bahwa ketidakhadiran pun bisa menjadi ruang bagi kita untuk benar-benar hadir—kepada diri sendiri.
Sebab pada akhirnya, FOMO bukanlah soal takut ketinggalan pesta orang lain, melainkan tanda bahwa kita diam-diam sudah kehilangan pesta kita sendiri: hidup yang nyata, yang tak membutuhkan penonton, dan tak menunggu validasi dari layar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar