Kamis, 01 Januari 2026
Tahun Baru
Selasa, 04 November 2025
Pulang Tanpamu Bukan Pulang
Kita sering berpikir “pulang” adalah tempat. Sebuah rumah di ujung jalan, kursi tua yang pernah kita duduki, atau aroma kopi yang mengambang di pagi hari. Tapi sebenarnya, pulang bukan soal ruang, melainkan tentang seseorang. Pulang adalah arah di mana hati merasa diterima. Dan ketika orang itu tiada, arah itu hilang — dunia tiba-tiba menjadi datar dan tanpa peta.
Kematian, atau kepergian yang lebih sunyi dari kematian, selalu meninggalkan sesuatu yang tak bisa didefinisikan: kekosongan yang penuh. Rumah masih sama, tapi suaranya berbeda. Angin masih berhembus, tapi membawa dingin yang lain. Semua benda yang dulu hidup kini menjadi saksi yang membisu.
Lalu, orang-orang datang. Mereka mengucap belasungkawa, mengutip ayat, memeluk dengan hangat. Tapi tak ada pelukan yang bisa menutup celah di dada seseorang yang kehilangan. Setelah mereka pergi, hanya ada satu yang tersisa: kesadaran bahwa tidak ada cara untuk “benar-benar pulang” lagi.
Waktu, kata orang, akan menyembuhkan. Tapi waktu bukan tabib, ia hanya saksi yang diam. Ia tidak menghapus luka, ia hanya mengubah bentuknya — dari darah yang menetes menjadi bekas yang terus terasa bila disentuh.
Namun kehilangan, bila dipandang lama-lama, juga punya wajah lain: wajah pengertian. Bahwa cinta yang sejati bukan yang selalu hadir, melainkan yang tetap bertahan ketika kehadiran diambil. Bahwa pulang sejati tidak selalu berarti kembali ke rumah, tapi menemukan potongan dirimu di dalam kenangan seseorang yang pernah kamu cintai.
Mungkin karena itu, sebagian orang terus berbicara dengan yang tiada. Mereka berdoa bukan kepada langit, tapi kepada bayangan di kursi kosong. Mereka menyiapkan dua cangkir kopi di pagi hari, lalu menatap salah satunya lama-lama. Seakan berharap waktu bisa melunak dan mengembalikan seseorang yang telah pergi.
Dan mungkin, Tuhan memahami ritual kecil itu — karena Ia tahu, duka yang paling manusiawi bukan yang berteriak, tapi yang memilih diam.
Diam kadang bukan tanda kehilangan kata, tapi bentuk paling dalam dari percakapan. Dalam diam, seseorang berbicara dengan kenangan. Dalam diam, seseorang mendengar yang sudah tak bisa bersuara.
Itulah yang membuat kalimat karena pulang tanpamu bukan pulang terasa begitu berat — karena ia bukan sekadar kalimat cinta, tapi kesaksian eksistensial tentang kehilangan makna hidup. Ia adalah pengakuan bahwa seseorang bisa terus berjalan, bekerja, tertawa, tapi bagian terdalam dari dirinya tetap tinggal di suatu tempat — bersama yang telah pergi.
Lalu, apa artinya pulang bila orang yang menjadi “rumah” sudah tiada?
Mungkin jawabannya bukan di bumi ini. Mungkin pulang, dalam bentuk yang paling sejati, bukan perjalanan kembali ke tempat, melainkan pertemuan kembali dengan jiwa yang dulu melengkapi kita.
Sampai saat itu tiba, manusia hanya bisa meniru bentuk pulang. Ia membuka pintu yang sama, menyalakan lampu yang sama, duduk di kursi yang sama — sambil tahu bahwa yang hilang tak akan menjawab. Tapi tetap melakukannya, karena begitulah cinta bekerja: ia tak bisa berhenti hanya karena waktu mengatakan “selesai.”
Dan barangkali, justru di situlah iman berdiam: dalam keteguhan seseorang yang tetap mencintai walau kehilangan. Dalam keberanian untuk pulang setiap hari ke rumah yang kini sunyi, dengan hati yang masih percaya, bahwa suatu hari nanti — di tempat yang tak lagi mengenal waktu — ia akan menemukanmu lagi.
Sampai saat itu tiba, pulang memang masih berarti: kembali ke ruang yang kosong. Tapi di balik kesunyian itu, masih ada cinta yang menolak padam. Karena pulang tanpamu, memang bukan pulang.
Senin, 06 Oktober 2025
Intoleransi
Ketika Nama Tuhan Dipakai Untuk Menutup Telinga
Intoleransi. Kata yang tak asing, tapi tetap terasa asing setiap kali ia datang. Ia sering bersembunyi di balik sorak sorai massa, kadang di balik pakaian yang rapi, kadang di balik dalil yang dikutip setengah. Ia tak selalu berteriak. Kadang ia hanya menatap, mencibir, memalingkan wajah.Di negeri yang katanya bhinneka, intoleransi tumbuh bukan karena kita lupa semboyan. Tapi karena kita membacanya hanya sebagai dekorasi. Ia dicetak pada baliho, disebut dalam pidato, tapi tak pernah benar-benar meresap dalam tubuh.
Intoleransi bukan sekadar soal mayoritas dan minoritas. Ia bukan hanya soal agama atau suku. Ia adalah cara pandang yang menolak mendengar, yang alergi pada yang tak serupa. Ia adalah keputusan untuk menutup pintu sebelum sempat menyapa. Ia adalah ketakutan yang dibungkus moralitas.
Fanatisme, sebagaimana bentuk lain dari penutupan pikiran, lahir dari rasa takut. Takut pada pertanyaan. Takut pada kemungkinan bahwa yang lain bisa juga benar. Maka, yang tak sama, harus dilabel. Harus dibungkam. Harus disingkirkan dengan cara yang kadang lembut, kadang brutal.
Di negeri ini, kita sudah terlalu akrab dengan kisah-kisah tempat ibadah yang ditolak, diskusi buku yang dibatalkan, pakaian adat yang dipermasalahkan, dan doa-doa yang hanya boleh dinaikkan dalam satu bahasa langit. Kita menyaksikan orang dicurigai hanya karena nama keluarganya. Atau cara ia berdoa. Atau bahkan karena ia memilih diam.
Yang mengkhawatirkan dari intoleransi hari ini bukan ledakannya, tapi justru normalisasinya. Ia menjadi wajar. Ia diam-diam dipelihara oleh sistem, oleh birokrasi yang tak berpihak, oleh aparat yang takut bertindak, oleh media yang menyamarkan kekerasan dengan kalimat “kericuhan kecil.”
Kita menyebutnya “aspirasi umat.” Tapi apa arti umat jika isinya hanya satu suara? Apa arti aspirasi jika ia menginjak yang lain?
Kita hidup dalam masyarakat yang gemar mengklaim “toleransi,” tapi mudah terguncang hanya karena beda salam pembuka. Toleransi, bukan soal menerima yang kita suka. Tapi justru tentang merawat ruang bagi yang kita tak mengerti—dan mungkin tak akan pernah sepenuhnya setujui.
Intoleransi bukan sekadar kebencian. Ia adalah kemalasan untuk mengenal. Sebab mengenal memerlukan waktu. Memerlukan percakapan. Memerlukan keberanian untuk tidak selalu merasa paling benar.
Dan mungkin itulah sebabnya intoleransi mudah tumbuh di dunia yang serba cepat. Di mana kita lebih suka kesimpulan instan, daripada pemahaman yang menyakitkan. Kita lebih cepat membagikan hoaks tentang agama lain, daripada duduk minum teh bersama mereka.
Padahal yang membedakan manusia dari mesin bukan logika, tapi empati. Dan empati tidak tumbuh dari pengetahuan, tapi dari perjumpaan. Dari makan bersama. Dari tertawa bersama. Dari melihat bahwa yang berbeda pun bisa menangis dalam bahasa yang sama.
Mungkin dunia tak akan hancur oleh perbedaan. Tapi ia bisa mati perlahan oleh rasa takut yang terus diberi pupuk. Oleh dinding-dinding yang terus ditinggikan. Dan oleh kita, yang terlalu sibuk mengutip ayat, sampai lupa bahwa Tuhan pun memberi ruang bagi mereka yang berbeda.


