Minggu, 04 Januari 2026

Gembala Yang Baik Memberikan Nyawanya

Di sebuah padang yang jauh dari riuh rendah algoritma, ada sebuah metafora tua yang menolak mati: seorang gembala dan domba-dombanya. Kita sering mendengarnya dalam nada yang pastoral, tenang, dan sedikit sentimental. Namun, ada satu kalimat yang menghentikan ketenangan itu dengan bunyi retakan tulang: "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."

Di sini, romantisme berakhir dan tragedi dimulai.

Dalam dunia yang waras—dunia pasar, dunia politik, dunia transaksional—domba ada untuk memberi makan gembala. Bulunya dicukur, dagingnya dipotong, susunya diperas. Domba adalah komoditas; gembala adalah pemilik modal. Tapi dalam narasi ini, hierarki itu runtuh. Sang subjek (gembala) meluruhkan dirinya demi sang objek (domba).

Kita mungkin bertanya dengan nada skeptis: apakah ini tindakan kepahlawanan, atau sekadar bunuh diri yang luhur?

Dalam sejarah kekuasaan, "gembala" sering kali menjadi kedok bagi serigala yang pandai berpidato. Kita melihat pemimpin bangsa, pemimpin agama, hingga pemimpin korporasi yang mengeklaim diri sebagai pelindung, namun saat badai datang, merekalah yang pertama-tama melompat ke sekoci, meninggalkan "kawanan" tenggelam dalam ketidakpastian.

Gembala yang asli, dalam esensi tulisan ini, adalah antitesis dari ego. Memberikan nyawa bukan berarti sekadar mati secara biologis. Dalam konteks modern, itu berarti mematikan ambisi pribadi demi integritas komunal. Ia adalah keberanian untuk menjadi yang terakhir kenyang agar yang lain tidak lapar.

Namun, ada paradoks yang mengusik. Jika sang gembala mati, bukankah kawanan itu akan kocar-kacir? Di sinilah letak poin kritisnya: nyawa yang diberikan bukanlah sebuah kehilangan, melainkan sebuah benih.

Secara filosofis, tindakan memberikan nyawa adalah bentuk tertinggi dari kebebasan. Seseorang yang tidak lagi takut kehilangan nyawanya adalah satu-satunya orang yang benar-benar merdeka. Ia tidak bisa disuap oleh ancaman, tidak bisa ditekuk oleh rasa takut. Kematian sang gembala menjadi mitos yang menghidupkan keberanian domba-dombanya untuk berhenti menjadi sekadar "pengikut yang dungu" dan mulai menjadi "pewaris nilai".

Mungkin kita sedang krisis gembala karena kita terlalu memuja serigala yang berpakaian necis. Kita lebih suka pemimpin yang menjanjikan kemenangan daripada yang bersedia menanggung luka. Padahal, pada akhirnya, sejarah tidak mengingat mereka yang menimbun nyawa orang lain demi kekuasaan, melainkan mereka yang meletakkan nyawanya sendiri di atas altar pengabdian.

Di padang yang sunyi itu, sang gembala tetap berdiri. Bukan karena ia kuat, tapi karena ia sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Sabtu, 03 Januari 2026

Matinya Kepakaran

Mimbar Tanpa Kaki

Di sebuah kedai kopi yang riuh, atau mungkin di linimasa yang tak pernah tidur, setiap orang kini memegang pengeras suara. Dulu, kebenaran adalah sebuah bangunan yang disusun bata demi bata oleh mereka yang menghabiskan umur di laboratorium, perpustakaan, atau medan laga yang spesifik. Hari ini, bangunan itu roboh bukan karena gempa, melainkan karena setiap orang merasa berhak membawa palu godam atas nama "kebebasan berpendapat".
Kita sedang merayakan, sekaligus meratapi, apa yang disebut Tom Nichols sebagai Matinya Kepakaran.

Demokrasi yang Salah Kaprah

Ada kesalahpahaman yang akut dalam cara kita memaknai kesetaraan. Kita sering mencampuradukkan hak politik dengan kapasitas intelektual. Benar bahwa dalam kotak suara, suara seorang profesor astrofisika bernilai sama dengan seorang pembenci sains yang percaya bumi itu datar. Itulah demokrasi. Namun, di luar bilik suara, ketika kita bicara tentang cara kerja virus atau stabilitas moneter, kedua suara itu tidak bisa dianggap setara.
Kini, kepakaran dianggap sebagai bentuk elitisme yang menyebalkan. Ada semacam kecurigaan purba bahwa mereka yang belajar lebih lama sedang berusaha "mengatur" hidup kita. Akibatnya, validasi ilmiah kalah telak oleh narasi yang "terasa benar" di hati ( post-truth). Kita lebih percaya pada testimoni seorang pemengaruh (influencer) yang berbicara dengan penuh keyakinan daripada seorang ahli yang berbicara dengan penuh kehati-hatian dan data.
"Ketidaktahuan kini bukan lagi sesuatu yang memalukan, melainkan sebuah lencana keberanian untuk melawan arus utama."
Algoritma: Sang Kurator Kebodohan
Internet, yang awalnya digadang-gadang sebagai perpustakaan Alexandria digital, justru berubah menjadi ruang gema (echo chamber). Algoritma tidak peduli pada kebenaran; ia hanya peduli pada keterlibatan (engagement).
Jika Anda mencari "bahaya vaksin", mesin pencari tidak akan memberikan jurnal medis sebagai menu utama, melainkan blog-blog konspirasi yang sesuai dengan ketakutan Anda. Di sini, kepakaran mati karena ia terlalu membosankan. Kebenaran seringkali rumit, penuh syarat, dan tidak memiliki twist yang mengejutkan. Sementara itu, kebohongan selalu punya desain yang seksi dan mudah dikunyah.
Secara filosofis, kita sedang mengalami pengikisan terhadap Otoritas Epistemik. Kita tidak lagi memiliki standar bersama tentang apa yang disebut "fakta".

Tragedi Sang Spesialis

Kritik terhadap kepakaran memang perlu. Sejarah mencatat para ahli pun bisa keliru—dan seringkali arogan. Namun, menolak kepakaran secara total adalah bentuk bunuh diri peradaban. Tanpa rasa hormat pada mereka yang menekuni satu bidang secara mendalam, kita akan kembali ke zaman kegelapan di mana keputusan diambil berdasarkan intuisi buta atau suara paling keras di pasar.
Matinya kepakaran bukan berarti para ahli itu menghilang. Mereka masih ada, namun suara mereka tenggelam dalam kebisingan kolektif. Kita sedang membangun kapal besar tanpa nakhoda yang mengerti kompas, karena kita merasa semua orang di atas kapal punya hak yang sama untuk memutar kemudi ke arah mana pun yang mereka suka.
Mungkin, yang kita butuhkan bukan sekadar ahli yang lebih pintar, melainkan publik yang lebih rendah hati. Bahwa mengakui "saya tidak tahu" adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang berakal.

Kamis, 01 Januari 2026

Tahun Baru

Tahun Baru selalu datang dengan suara. Dentuman kembang api, teriakan hitung mundur, dering pesan yang serempak masuk ke gawai. Ia jarang hadir dalam diam. Padahal, waktu sendiri tak pernah ribut. Ia melangkah pelan, tak minta dirayakan, tak menuntut ucapan selamat.
“Tahun baru” adalah konstruksi yang kita sepakati bersama. Angka di kalender berubah, dan kita menyebutnya permulaan. Seakan-akan hidup, yang sesungguhnya bergerak tanpa jeda, bisa dipotong rapi oleh garis tipis bernama tanggal.
Namun mengapa kita membutuhkannya?
Barangkali karena manusia gemar percaya pada kemungkinan. Tahun Baru memberi ilusi awal—sebuah jeda imajiner dari kesalahan lama, kegagalan lama, juga luka lama. Ia seperti pintu yang dibuka perlahan, meski ruangan di baliknya sering kali masih sama.

Ada sesuatu yang optimistis, sekaligus naif, dalam cara kita menyambut Tahun Baru. Kita menulis resolusi, seolah hidup bisa disederhanakan menjadi daftar. Kita berjanji pada diri sendiri, pada orang lain, bahkan pada waktu: akan lebih baik, lebih sabar, lebih berani. Tapi janji-janji itu sering tak bertahan lebih lama dari kalender meja.
Masalahnya bukan pada niat, melainkan pada cara kita memperlakukan waktu. Kita menaruh harapan berlebihan pada angka, padahal perubahan menuntut keberanian—bukan sekadar pergantian.
Tahun Baru sering menjadi tempat kita memarkir keberanian yang tertunda. Nanti, kata kita. Nanti setelah ini. Nanti ketika situasi lebih memungkinkan. Nanti ketika tahun berganti. Waktu dijadikan kambing hitam: jika sesuatu tak berubah, itu karena belum waktunya.
Padahal, waktu tak pernah melarang siapa pun untuk berubah. Kita sendiri yang ragu.

Di sisi lain, Tahun Baru juga menyingkap ketimpangan. Tidak semua orang menyambutnya dengan pesta. Ada yang masuk tahun baru dengan kecemasan yang sama, utang yang sama, kesepian yang sama. Pada detik pertama Januari, dunia tidak otomatis menjadi lebih adil.
Kalender tidak menyentuh struktur. Ia tak membongkar ketidaksetaraan. Ia tak menghapus kekerasan. Ia hanya menandai—dan penandaan itu netral. Manusialah yang memberi makna, atau membiarkannya kosong.
Karena itu, ucapan “selamat” kadang terdengar ganjil. Selamat bagi siapa? Selamat dari apa? Tidak semua orang merasa selamat hanya karena bertahan hidup hingga hari ini.
Namun justru di sanalah Tahun Baru menemukan sisi jujurnya: ia bukan perayaan kemenangan, melainkan pengakuan akan keberlangsungan. Kita masih di sini—meski tidak selalu tahu untuk apa.

Waktu bukan penyembuh, hanya ruang. Yang menyembuhkan adalah kerja ingatan, penerimaan, dan keberanian menghadapi kenyataan. Tahun Baru tanpa refleksi hanyalah pengulangan dengan kemasan baru.
Maka mungkin yang kita perlukan bukan resolusi, melainkan pertanyaan. Bukan “apa yang ingin saya capai?”, melainkan “apa yang selama ini saya hindari?” Bukan “apa yang ingin saya miliki?”, tetapi “apa yang perlu saya lepaskan?”
Tahun Baru, jika dibaca lebih dalam, adalah momen jeda—bukan untuk lupa, melainkan untuk mengingat dengan cara yang berbeda. Mengingat tanpa terjebak. Mengingat tanpa membeku.

Ada paradoks di sini. Kita tahu Tahun Baru hanyalah simbol, namun kita tetap membutuhkannya. Kita tahu ia tidak menjanjikan apa pun, namun kita tetap berharap. Mungkin karena manusia hidup bukan hanya dari kepastian, tetapi dari kemungkinan.
Dan kemungkinan, betapapun rapuh, memberi alasan untuk melangkah.
Maka Tahun Baru tidak perlu dirayakan dengan gegap gempita. Ia cukup disambut dengan kesadaran: bahwa hidup tidak otomatis berubah, bahwa waktu tidak berutang apa pun pada kita, dan bahwa setiap awal—jika sungguh awal—menuntut keberanian untuk bertindak sekarang, bukan nanti.
Tahun Baru bukan soal angka yang bertambah. Ia soal apakah kita berani menjadi sedikit lebih jujur terhadap diri sendiri.
Jika tidak, maka tahun akan berganti, berkali-kali.
Dan kita tetap sama—hanya lebih tua.