Mimbar Tanpa Kaki
Di sebuah kedai kopi yang riuh, atau mungkin di linimasa yang tak pernah tidur, setiap orang kini memegang pengeras suara. Dulu, kebenaran adalah sebuah bangunan yang disusun bata demi bata oleh mereka yang menghabiskan umur di laboratorium, perpustakaan, atau medan laga yang spesifik. Hari ini, bangunan itu roboh bukan karena gempa, melainkan karena setiap orang merasa berhak membawa palu godam atas nama "kebebasan berpendapat".
Kita sedang merayakan, sekaligus meratapi, apa yang disebut Tom Nichols sebagai Matinya Kepakaran.
Demokrasi yang Salah Kaprah
Ada kesalahpahaman yang akut dalam cara kita memaknai kesetaraan. Kita sering mencampuradukkan hak politik dengan kapasitas intelektual. Benar bahwa dalam kotak suara, suara seorang profesor astrofisika bernilai sama dengan seorang pembenci sains yang percaya bumi itu datar. Itulah demokrasi. Namun, di luar bilik suara, ketika kita bicara tentang cara kerja virus atau stabilitas moneter, kedua suara itu tidak bisa dianggap setara.
Kini, kepakaran dianggap sebagai bentuk elitisme yang menyebalkan. Ada semacam kecurigaan purba bahwa mereka yang belajar lebih lama sedang berusaha "mengatur" hidup kita. Akibatnya, validasi ilmiah kalah telak oleh narasi yang "terasa benar" di hati ( post-truth). Kita lebih percaya pada testimoni seorang pemengaruh (influencer) yang berbicara dengan penuh keyakinan daripada seorang ahli yang berbicara dengan penuh kehati-hatian dan data.
"Ketidaktahuan kini bukan lagi sesuatu yang memalukan, melainkan sebuah lencana keberanian untuk melawan arus utama."
Algoritma: Sang Kurator Kebodohan
Internet, yang awalnya digadang-gadang sebagai perpustakaan Alexandria digital, justru berubah menjadi ruang gema (echo chamber). Algoritma tidak peduli pada kebenaran; ia hanya peduli pada keterlibatan (engagement).
Jika Anda mencari "bahaya vaksin", mesin pencari tidak akan memberikan jurnal medis sebagai menu utama, melainkan blog-blog konspirasi yang sesuai dengan ketakutan Anda. Di sini, kepakaran mati karena ia terlalu membosankan. Kebenaran seringkali rumit, penuh syarat, dan tidak memiliki twist yang mengejutkan. Sementara itu, kebohongan selalu punya desain yang seksi dan mudah dikunyah.
Secara filosofis, kita sedang mengalami pengikisan terhadap Otoritas Epistemik. Kita tidak lagi memiliki standar bersama tentang apa yang disebut "fakta".
Tragedi Sang Spesialis
Kritik terhadap kepakaran memang perlu. Sejarah mencatat para ahli pun bisa keliru—dan seringkali arogan. Namun, menolak kepakaran secara total adalah bentuk bunuh diri peradaban. Tanpa rasa hormat pada mereka yang menekuni satu bidang secara mendalam, kita akan kembali ke zaman kegelapan di mana keputusan diambil berdasarkan intuisi buta atau suara paling keras di pasar.
Matinya kepakaran bukan berarti para ahli itu menghilang. Mereka masih ada, namun suara mereka tenggelam dalam kebisingan kolektif. Kita sedang membangun kapal besar tanpa nakhoda yang mengerti kompas, karena kita merasa semua orang di atas kapal punya hak yang sama untuk memutar kemudi ke arah mana pun yang mereka suka.
Mungkin, yang kita butuhkan bukan sekadar ahli yang lebih pintar, melainkan publik yang lebih rendah hati. Bahwa mengakui "saya tidak tahu" adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang berakal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar