Kamis, 08 Januari 2026

Kebencian Dijual

Kebencian hari ini tak lagi disembunyikan. Ia dipajang rapi, diberi judul provokatif, dikemas singkat, lalu dijual. Anehnya, ia laris. Pembelinya banyak. Bahkan setia. Setiap hari mereka menunggu pasokan baru: siapa yang harus dibenci hari ini, dan mengapa.

Kebencian menemukan rumahnya di pasar atensi. Ia bekerja cepat, menular, dan murah. Tak perlu argumen panjang; cukup isyarat. Satu potongan video, satu kalimat setengah, satu musuh bersama. Sisanya dikerjakan emosi. Dalam hitungan menit, kebencian beredar—dibagikan, dibenarkan, diproduksi ulang.

Ada logika ekonomi di baliknya. Kebencian adalah konten yang efisien. Ia menghemat waktu berpikir dan memberi kepuasan instan: rasa benar, rasa unggul, rasa berada di pihak yang tepat. Tak heran ia menjadi komoditas. Siapa pun yang mampu memproduksinya—politikus, influencer, media—akan selalu menemukan pasar.

Yang dijual sering bukan fakta, melainkan identitas. “Kita” versus “mereka”. Batas ditarik tebal, nuansa dihapus. Dalam skema ini, kompleksitas adalah gangguan. Yang berbeda dipersempit jadi ancaman. Kebencian menawarkan kejelasan palsu di dunia yang serba rumit—dan banyak orang membelinya karena lelah.

Ironisnya, kebencian kerap dibungkus moral. Ia datang atas nama kebenaran, agama, nasionalisme, atau keadilan. Dengan begitu, ia tak lagi terasa kotor. Membenci menjadi kewajiban. Menyerang menjadi ibadah. Dan nurani, yang seharusnya mengerem, justru diajak bertepuk tangan.

Kita juga tahu: kebencian jarang diarahkan ke yang benar-benar berkuasa. Ia lebih suka sasaran yang aman—minoritas, kelompok lemah, mereka yang tak punya mikrofon. Tawa sinis, hinaan, dan ancaman bergerak ke bawah. Kebencian yang menendang ke atas berisiko; yang menendang ke bawah mendatangkan cuan.

Kebencian adalah bentuk kemalasan berpikir. Ia menutup kemungkinan dialog, menyingkat jalan menuju kesimpulan. Dengan membenci, kita tak perlu memahami. Dengan memahami, kita tak mudah membenci. Tapi memahami butuh waktu; membenci cukup satu klik. Lalu mengapa banyak pembelinya? Karena kebencian menawarkan rasa memiliki. Ia memberi komunitas instan: mereka yang marah bersama. Di dunia yang terfragmentasi, kemarahan menjadi perekat. Dan perekat yang paling kuat sering terbuat dari musuh bersama.

Namun setiap transaksi punya harga. Kebencian yang dibeli hari ini akan ditagih besok—dalam bentuk polarisasi, ketakutan, dan kelelahan moral. Kita mungkin merasa lebih benar, tapi juga lebih sempit. Lebih berisik, tapi kurang memahami.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya sebelum membeli: siapa yang diuntungkan dari kemarahan ini? Apa yang disembunyikan oleh kebisingan ini? Dan yang terpenting: apa yang kebencian ini lakukan pada kemampuan kita untuk melihat manusia sebagai manusia?

Kebencian bisa dijual, dan memang laku. Tapi ia tak pernah gratis. Yang membayar akhirnya bukan hanya mereka yang dibenci, melainkan kita semua.

Selasa, 06 Januari 2026

Semua Ingin Memimpin

Tak pernah sebanyak ini orang ingin menjadi pemimpin. Di panggung politik, di organisasi, di ruang kerja, bahkan di linimasa media sosial—semua berlomba berada di depan. Mikrofon direbut, kamera dicari, sorotan dipelihara. Seolah memimpin adalah satu-satunya cara untuk diakui ada.

Ironisnya, justru di tengah banjir calon pemimpin itulah negeri terasa limbung.
Memimpin telah direduksi menjadi posisi, bukan tanggung jawab. Jabatan, bukan pengabdian. Kata “pemimpin” kehilangan sunyinya—padahal dari sunyi itulah keputusan berat seharusnya lahir. Kita lupa bahwa memimpin bukan soal berbicara paling keras, melainkan mendengar paling lama.

Di zaman citra, pemimpin yang baik adalah yang tampak tegas, bukan yang benar-benar berpikir. Keraguan—yang dalam filsafat adalah tanda keseriusan—dipersepsikan sebagai kelemahan. Maka lahirlah pemimpin tanpa jeda: cepat memutuskan, lambat mempertimbangkan. Negeri dijalankan seperti status media sosial: singkat, emosional, dan mudah dihapus jika keliru.

Semua ingin memimpin karena tak ada yang ingin dipimpin. Kata “dipimpin” terdengar seperti kehilangan martabat. Padahal, kemampuan mengikuti dengan sadar adalah prasyarat memimpin dengan adil. Tanpa itu, kepemimpinan berubah menjadi perebutan ego, bukan pengelolaan bersama.

Kita pun ikut bersalah. Kita mengidolakan figur, bukan kerja. Kita memilih yang pandai menjanjikan, bukan yang berani membatasi. Kita menuntut solusi instan untuk masalah yang dibangun puluhan tahun. Lalu kecewa ketika pemimpin—yang kita angkat karena slogan—tak sanggup mengurai kerumitan.

Filsafat lama mengingatkan: kekuasaan adalah ujian karakter. Tapi di negeri yang semua ingin memimpin, kekuasaan justru menjadi tujuan. Ia dikejar bukan untuk melayani, melainkan untuk membuktikan. Membuktikan bahwa diri penting, bahwa suara layak didengar, bahwa nama pantas diingat. Kepemimpinan berubah menjadi autobiografi.

Akibatnya, kebijakan lahir dari kepentingan jangka pendek. Keputusan diukur dari tepuk tangan, bukan dampak. Yang tak populer ditunda; yang sulit dihindari dengan retorika. Negeri pun hancur bukan karena kekurangan pemimpin, melainkan karena kelebihan ambisi.

Mungkin kita perlu membalik pertanyaan: bukan siapa yang ingin memimpin, tetapi siapa yang bersedia menanggung akibat. Bukan siapa yang paling yakin, tetapi siapa yang paling siap dikoreksi. Bukan siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang tetap bekerja saat tak ada kamera.

Di tengah hiruk-pikuk ini, kepemimpinan sejati justru terasa sunyi. Ia tak tergesa mencari panggung. Ia tahu, memimpin berarti sering disalahkan, jarang dipuji, dan harus memilih yang benar meski tak disukai.

Jika semua ingin memimpin, negeri memang terancam hancur. Tapi jika ada yang bersedia belajar dipimpin—oleh akal sehat, oleh data, oleh etika—barangkali harapan masih punya alamat.

Minggu, 04 Januari 2026

Gembala Yang Baik Memberikan Nyawanya

Di sebuah padang yang jauh dari riuh rendah algoritma, ada sebuah metafora tua yang menolak mati: seorang gembala dan domba-dombanya. Kita sering mendengarnya dalam nada yang pastoral, tenang, dan sedikit sentimental. Namun, ada satu kalimat yang menghentikan ketenangan itu dengan bunyi retakan tulang: "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."

Di sini, romantisme berakhir dan tragedi dimulai.

Dalam dunia yang waras—dunia pasar, dunia politik, dunia transaksional—domba ada untuk memberi makan gembala. Bulunya dicukur, dagingnya dipotong, susunya diperas. Domba adalah komoditas; gembala adalah pemilik modal. Tapi dalam narasi ini, hierarki itu runtuh. Sang subjek (gembala) meluruhkan dirinya demi sang objek (domba).

Kita mungkin bertanya dengan nada skeptis: apakah ini tindakan kepahlawanan, atau sekadar bunuh diri yang luhur?

Dalam sejarah kekuasaan, "gembala" sering kali menjadi kedok bagi serigala yang pandai berpidato. Kita melihat pemimpin bangsa, pemimpin agama, hingga pemimpin korporasi yang mengeklaim diri sebagai pelindung, namun saat badai datang, merekalah yang pertama-tama melompat ke sekoci, meninggalkan "kawanan" tenggelam dalam ketidakpastian.

Gembala yang asli, dalam esensi tulisan ini, adalah antitesis dari ego. Memberikan nyawa bukan berarti sekadar mati secara biologis. Dalam konteks modern, itu berarti mematikan ambisi pribadi demi integritas komunal. Ia adalah keberanian untuk menjadi yang terakhir kenyang agar yang lain tidak lapar.

Namun, ada paradoks yang mengusik. Jika sang gembala mati, bukankah kawanan itu akan kocar-kacir? Di sinilah letak poin kritisnya: nyawa yang diberikan bukanlah sebuah kehilangan, melainkan sebuah benih.

Secara filosofis, tindakan memberikan nyawa adalah bentuk tertinggi dari kebebasan. Seseorang yang tidak lagi takut kehilangan nyawanya adalah satu-satunya orang yang benar-benar merdeka. Ia tidak bisa disuap oleh ancaman, tidak bisa ditekuk oleh rasa takut. Kematian sang gembala menjadi mitos yang menghidupkan keberanian domba-dombanya untuk berhenti menjadi sekadar "pengikut yang dungu" dan mulai menjadi "pewaris nilai".

Mungkin kita sedang krisis gembala karena kita terlalu memuja serigala yang berpakaian necis. Kita lebih suka pemimpin yang menjanjikan kemenangan daripada yang bersedia menanggung luka. Padahal, pada akhirnya, sejarah tidak mengingat mereka yang menimbun nyawa orang lain demi kekuasaan, melainkan mereka yang meletakkan nyawanya sendiri di atas altar pengabdian.

Di padang yang sunyi itu, sang gembala tetap berdiri. Bukan karena ia kuat, tapi karena ia sudah selesai dengan dirinya sendiri.