Tak pernah sebanyak ini orang ingin menjadi pemimpin. Di panggung politik, di organisasi, di ruang kerja, bahkan di linimasa media sosial—semua berlomba berada di depan. Mikrofon direbut, kamera dicari, sorotan dipelihara. Seolah memimpin adalah satu-satunya cara untuk diakui ada.
Ironisnya, justru di tengah banjir calon pemimpin itulah negeri terasa limbung.
Memimpin telah direduksi menjadi posisi, bukan tanggung jawab. Jabatan, bukan pengabdian. Kata “pemimpin” kehilangan sunyinya—padahal dari sunyi itulah keputusan berat seharusnya lahir. Kita lupa bahwa memimpin bukan soal berbicara paling keras, melainkan mendengar paling lama.
Di zaman citra, pemimpin yang baik adalah yang tampak tegas, bukan yang benar-benar berpikir. Keraguan—yang dalam filsafat adalah tanda keseriusan—dipersepsikan sebagai kelemahan. Maka lahirlah pemimpin tanpa jeda: cepat memutuskan, lambat mempertimbangkan. Negeri dijalankan seperti status media sosial: singkat, emosional, dan mudah dihapus jika keliru.
Semua ingin memimpin karena tak ada yang ingin dipimpin. Kata “dipimpin” terdengar seperti kehilangan martabat. Padahal, kemampuan mengikuti dengan sadar adalah prasyarat memimpin dengan adil. Tanpa itu, kepemimpinan berubah menjadi perebutan ego, bukan pengelolaan bersama.
Kita pun ikut bersalah. Kita mengidolakan figur, bukan kerja. Kita memilih yang pandai menjanjikan, bukan yang berani membatasi. Kita menuntut solusi instan untuk masalah yang dibangun puluhan tahun. Lalu kecewa ketika pemimpin—yang kita angkat karena slogan—tak sanggup mengurai kerumitan.
Filsafat lama mengingatkan: kekuasaan adalah ujian karakter. Tapi di negeri yang semua ingin memimpin, kekuasaan justru menjadi tujuan. Ia dikejar bukan untuk melayani, melainkan untuk membuktikan. Membuktikan bahwa diri penting, bahwa suara layak didengar, bahwa nama pantas diingat. Kepemimpinan berubah menjadi autobiografi.
Akibatnya, kebijakan lahir dari kepentingan jangka pendek. Keputusan diukur dari tepuk tangan, bukan dampak. Yang tak populer ditunda; yang sulit dihindari dengan retorika. Negeri pun hancur bukan karena kekurangan pemimpin, melainkan karena kelebihan ambisi.
Mungkin kita perlu membalik pertanyaan: bukan siapa yang ingin memimpin, tetapi siapa yang bersedia menanggung akibat. Bukan siapa yang paling yakin, tetapi siapa yang paling siap dikoreksi. Bukan siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang tetap bekerja saat tak ada kamera.
Di tengah hiruk-pikuk ini, kepemimpinan sejati justru terasa sunyi. Ia tak tergesa mencari panggung. Ia tahu, memimpin berarti sering disalahkan, jarang dipuji, dan harus memilih yang benar meski tak disukai.
Jika semua ingin memimpin, negeri memang terancam hancur. Tapi jika ada yang bersedia belajar dipimpin—oleh akal sehat, oleh data, oleh etika—barangkali harapan masih punya alamat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar