Minggu, 18 Januari 2026

Ketika Agama Lupa Sunyi

Agama, seperti puisi, pernah lahir dari ruang yang sunyi. Ia bukan sekadar sistem keyakinan, tapi semacam getaran: sebuah kesadaran bahwa ada yang lebih besar dari tubuh, dari waktu, dari nasib. Agama adalah cara manusia merespons misteri, bukan menaklukkannya.

Tapi dunia berubah. Agama tak lagi disampaikan dalam bisik-bisik doa. Ia kini hadir dalam spanduk, dalam algoritma, dalam politik. Ia bersuara nyaring, kadang berteriak. Ia tak lagi sekadar iman pribadi; ia menjadi identitas sosial. Bukan lagi laku batin, tapi lencana.

Kita menyaksikan orang memamerkan kesalehan di depan kamera, tapi memaki dalam kolom komentar. Kita melihat doa-doa dikurasi untuk media, bukan untuk langit. Kita hidup di zaman di mana agama bisa ditukar dengan like, bisa dijual sebagai merek.

Kita diingatkan akan bahaya fanatisme yang lembut. Fanatisme yang tidak selalu membawa pedang, tapi membawa tafsir tunggal. Ia tak melarangmu berpikir, tapi membisikkan bahwa berpikir adalah tanda kelemahan iman. Di sinilah agama kehilangan dirinya: ketika ia lebih sibuk menjaga aturan, ketimbang menyentuh luka.

Agama yang hidup terlalu lama dalam kuasa, sering lupa bahwa ia lahir dari penderitaan. Musa bukan raja, tapi pengungsi. Yesus bukan pejabat, tapi tukang kayu. Muhammad bukan penguasa, tapi yatim. Tapi kini, banyak yang menggunakan nama mereka untuk mendirikan kerajaan kecil di bumi. Kerajaan yang dijaga oleh tembok eksklusifitas, dipagari jargon-jargon suci, dan dibungkus rasa benar yang tak tergoyahkan.

Agama, dalam bentuknya yang paling murni, seharusnya merangkul. Tapi terlalu sering ia digunakan untuk memilah. Untuk menyebut siapa “kita” dan siapa “mereka.” Untuk mengukur siapa lebih dekat ke surga. Padahal surga—kalau pun ada—tak pernah meminta bukti unggahan kita.

Tentu agama tetap penting. Ia adalah sumber harapan bagi jutaan jiwa. Tapi yang penting bukan hanya bahwa ia ada, tapi bagaimana ia hadir. Apakah ia membawa cahaya atau sekadar sorotan? Apakah ia membebaskan atau justru menundukkan?

Hari ini, kita butuh agama yang kembali rendah hati. Yang tak tergesa menyalahkan. Yang tak merasa cukup hanya dengan doktrin. Yang mau mendengar tangis orang yang berbeda iman, dan tetap menganggapnya manusia.

Karena jika agama kehilangan kasih, ia hanya tinggal ritual. Jika agama kehilangan rasa malu, ia berubah menjadi alat kekuasaan. Dan jika agama kehilangan sunyi, ia tak lebih dari pertunjukan.

Sabtu, 17 Januari 2026

Mabuk Agama

Agama, pada mulanya, adalah jalan sunyi. Ia mengajak manusia menundukkan ego, merawat kasih, dan menimbang hidup dengan hati-hati. Tapi di ruang publik kita hari ini, agama kerap tampil lain: berisik, mudah tersinggung, dan gemar menghakimi. Seperti orang mabuk—bukan karena terlalu sedikit minum, melainkan karena terlalu banyak menelan tanpa mencerna.

Mabuk agama bukan soal iman yang dalam, melainkan keyakinan yang kehilangan jarak. Ayat dihafal, makna ditinggal. Simbol dijunjung, etika dilupakan. Agama berubah dari laku batin menjadi identitas politik. Ia dipakai untuk menandai kawan dan lawan, bukan untuk menguji diri.

Dalam keadaan mabuk, orang merasa paling suci. Keraguan dianggap dosa; pertanyaan dicap pembangkangan. Padahal tradisi spiritual besar lahir dari tanya yang serius. Iman yang sehat selalu menyisakan ruang bagi ketidakpastian—sebab di situlah kerendahan hati bernaung.

Mabuk agama juga laku di pasar. Ia menjanjikan kepastian instan di dunia yang kacau. Narasinya sederhana: dunia hitam-putih, benar-salah jelas, surga-neraka dekat. Algoritma menyukainya. Amarah religius, seperti emosi lain, mudah dijual. Ia mengikat identitas dan memobilisasi massa.

Ironisnya, yang sering hilang justru yang paling inti: kasih. Atas nama Tuhan, empati dikurangi. Atas nama kebenaran, kemanusiaan ditunda. Yang berbeda bukan lagi sesama pencari, melainkan ancaman. Bahasa menjadi keras, hati mengeras.

Filsafat mengingatkan tentang bahaya absolutisme. Ketika satu tafsir diklaim mewakili Tuhan, kekerasan menemukan legitimasi. Sejarah penuh contoh bagaimana kesalehan yang mabuk berubah menjadi alat penindasan. Tuhan tak lagi ditanyai; Ia dijadikan stempel.

Namun kritik ini bukan ajakan meninggalkan agama. Justru sebaliknya: mengembalikannya ke kesadaran. Seperti minum obat, dosis menentukan manfaat. Agama yang diminum perlahan menyembuhkan; yang ditenggak berlebihan merusak.

Tanda iman yang matang bukan suara yang paling keras, melainkan hidup yang paling konsisten. Bukan kemampuan mengutip ayat, melainkan kesediaan memeluk yang lemah. Bukan klaim kebenaran, melainkan praktik kasih.

Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah agama yang kita jalani membuat kita lebih manusiawi? Jika tidak, barangkali kita bukan kurang beragama—kita hanya sedang mabuk.

Jumat, 16 Januari 2026

Mens Rea

Hukum pidana mengenal satu istilah Latin yang terdengar kering dan akademis: mens rea—niat batin. Ia menunjuk pada apa yang ada di kepala seseorang ketika sebuah perbuatan dilakukan. Bukan sekadar apa yang terjadi, melainkan mengapa ia terjadi. Tanpa mens rea, kejahatan hanyalah gerak; dengan mens rea, ia menjadi makna.

Namun di ruang publik kita, mens rea sering lenyap. Yang tersisa hanya akibat. Video dipotong, peristiwa dipercepat, vonis dijatuhkan di kolom komentar. Kita tergesa menilai perbuatan tanpa menengok batin. Padahal hukum—dan etika—selalu menuntut lebih dari sekadar tampilan.

Ada kecenderungan zaman ini untuk menyederhanakan manusia menjadi headline. Seseorang melakukan kesalahan; ia menjadi kesalahannya. Niat, konteks, tekanan, dan riwayat hidup dianggap penghalang keadilan. Kita ingin kepastian cepat: siapa salah, siapa benar. Mens rea memperlambat, maka ia disingkirkan.

Ironisnya, ketika berurusan dengan kekuasaan, mens rea tiba-tiba jadi penting. Niat diperdebatkan, tafsir diperluas, keraguan dipelihara. Ketika pelakunya kecil, niat dianggap jelas; ketika besar, niat menjadi kabur. Hukum pun tampak memiliki dua kecepatan: cepat ke bawah, lambat ke atas.

Filsafat moral mengingatkan bahwa tanggung jawab lahir dari kebebasan batin. Orang yang dipaksa berbeda dengan yang memilih. Orang yang lalai berbeda dengan yang berniat. Menghapus mens rea berarti meratakan kompleksitas manusia—dan itu berbahaya. Kita berisiko menghukum bukan kejahatan, melainkan ketidakberuntungan.

Di sisi lain, mens rea bukan alasan untuk membenarkan segalanya. Niat baik tak selalu meniadakan akibat buruk. Tetapi tanpa memeriksa niat, kita kehilangan keadilan yang proporsional. Hukuman menjadi balas dendam yang dibungkus prosedur.

Kehidupan sehari-hari pun tak luput. Kita cepat tersinggung, cepat menuduh. Salah ucap dianggap niat jahat; perbedaan pandangan dicap permusuhan. Kita lupa bertanya: apa maksudnya? Apa konteksnya? Padahal pertanyaan-pertanyaan itu adalah fondasi percakapan yang beradab.

Mens rea—batin yang berniat—menuntut kesabaran. Ia memaksa kita mendengar sebelum menilai, memahami sebelum memutuskan. Di zaman yang mengagungkan kecepatan, kesabaran terasa subversif.

Mungkin keadilan hari ini tak kekurangan aturan, melainkan kekurangan waktu untuk berpikir. Mens rea mengajak kita kembali ke pusat manusia: niat, pilihan, dan tanggung jawab. Tanpa itu, hukum menjadi mesin; dan kita hanya baut-baut yang mudah diganti.

Menimbang mens rea bukan berarti melunakkan kejahatan. Ia berarti mengembalikan keadilan pada ukurannya: tidak tumpul, tidak tajam, tapi tepat.