Selasa, 29 Juli 2025

KONOHA

Saya pernah mendengar nama itu pertama kali dari seorang anak muda yang tertawa getir di pinggir meja kopi. “KONOHA,” katanya, “bukan lagi desa ninja. Tapi kerajaan.” Ia tak sedang membicarakan anime. Ia menunjuk ke sekelilingnya: lembaga-lembaga yang dikunci oleh nama-nama marga, pertemuan rapat yang hanya mengulang suara yang sama, dan ambisi yang tumbuh di balik doa-doa rohani.

KONOHA, singkatan yang nakal—Kingdom of Nepotism, Oligarchy and Hidden Ambition. Nakal karena ia berani menyindir dengan main-main, tapi juga getir karena ia menunjuk ke arah yang tak ingin dilihat.

Boleh jadi istilah itu tak muncul dalam naskah resmi. Tapi jejaknya ada. Dalam setiap pewarisan kekuasaan yang tak berbasis pada kompetensi, tapi pada kedekatan. Dalam elitisme terselubung yang menyamar dalam nama “pengabdian.” Dalam ambisi yang dikubur dalam senyum, tapi membakar dari dalam.

Nepotisme, katanya, adalah cinta yang salah alamat. Ia mencintai yang dekat, tapi melupakan yang layak. Kita pernah diajarkan bahwa meritokrasi adalah landasan dunia modern—bahwa yang terbaiklah yang mestinya memimpin. Tapi dalam Konoha, yang naik adalah mereka yang lahir dalam lingkaran, bukan yang berjalan dari pinggir. Jabatan diturunkan seperti warisan, bukan diperebutkan oleh mereka yang layak.

Seorang kawan berkata, “di sini, meritokrasi adalah mitos yang dibacakan dalam pelantikan, lalu dibuang ke tong sampah ketika pintu ditutup.” Mungkin ia berlebihan. Tapi kita tahu, berlebihan kadang hanya berarti jujur secara emosional.

Oligarki, lebih halus. Ia tidak selalu menunjuk. Ia cukup membisik. Ia tidak mengambil alih, hanya mengatur arah. Ia seperti bayangan yang tak pernah bisa disentuh, tapi mengatur cahaya. Dalam banyak sistem, termasuk yang bernama “komunitas rohani” sekalipun, kita melihat tangan-tangan tak kasat mata yang lebih menentukan dibanding suara mayoritas.

Lalu ambisi. Ah, ini yang paling tersembunyi. Karena ia bisa dikemas dalam frasa “melayani,” “mengabdi,” bahkan “berkorban.” Tapi di dalamnya, ada hasrat untuk diakui, dipilih, dicatat. Ambisi tak selalu buruk. Tapi yang tersembunyi, yang menipu dengan wajah rohani, itulah yang berbahaya.

Maka kita punya pemimpin yang tampaknya rendah hati, tapi sebenarnya sedang merancang peta kekuasaan. Kita punya panitia yang katanya melayani, tapi diam-diam menjaring suara untuk pemilihan berikutnya. Kita punya gereja yang terlihat bersinar, tapi dibangun dengan agenda yang tak pernah dibicarakan di altar.

Maka Konoha, pada akhirnya, bukan cuma tempat dalam komik Jepang. Ia adalah metafora tentang kekuasaan yang terlalu akrab dengan keluarga, terlalu sempit untuk dibagi, terlalu licik untuk jujur. Ia bisa berwujud dalam lembaga, organisasi, atau gereja. Ia bisa memakai jubah ninja, toga sarjana, atau bahkan seragam pelayanan.

Apa yang salah dari sistem seperti ini? Barangkali bukan sekadar moralitas. Tapi karena ia membuat kita percaya bahwa perubahan hanya mungkin lewat garis keturunan, bukan lewat ketulusan. Bahwa suara minoritas akan selalu diredam oleh tawa akrab mereka yang duduk dalam meja bundar kekuasaan.

Yang tertinggal dari Konoha adalah ironi: bahwa bahkan dalam dunia fiksi, kita bisa membaca kenyataan. Dan kenyataan itu tak selalu menyenangkan. Ia bisa mengecewakan—atau justru menyadarkan.

Mungkin, suatu hari, KONOHA akan berubah. Tapi bukan karena mereka yang berkuasa akhirnya tercerahkan. Melainkan karena mereka yang diam, akhirnya bersuara.

Karena yang paling tersembunyi bukan jurus rahasia. Tapi niat yang dikubur di balik senyum.

Minggu, 27 Juli 2025

Ibadah

Ibadah. Kata yang begitu lama dipakai, begitu sering diucap, tapi semakin jarang membuat hati berguncang. Ia diulang, dilafalkan, dijadwalkan. Dijalankan dengan tertib. Diukur dengan durasi. Tapi mungkin justru karena itu, ia kehilangan guncangannya.

Ibadah berlangsung seperti sebuah mekanisme. Tertib. Rapi. Teratur. Ada liturgi, ada jadwal, ada struktur suara. Tapi kita tahu: ketertiban tak selalu melahirkan kedalaman. Seperti konser tanpa gairah. Seperti pelukan tanpa detak.

Sebab ibadah yang terlalu dikejar dalam bentuk, sering menyisakan kekosongan dalam isi. Kita khusyuk dalam gerak, tapi tak tahu kepada siapa kita bicara. Kita hafal ayat, tapi tak lagi bergetar.

Ada masa ketika ibadah adalah perjumpaan yang menakutkan. Musa menanggalkan kasutnya. Yesaya gemetar di hadapan kekudusan. Para sufi menangis dalam sunyi. Tapi hari ini, kita hadir dalam ibadah seperti datang ke resepsi: berdiri, duduk, senyum, lalu pulang. Tuhan diperlakukan seperti pejabat yang harus dihormati, bukan kekasih yang dirindukan.

Ibadah menjadi upacara. Dan upacara, kadang hanya menjadi perpanjangan ego. Kita datang bukan untuk menyembah, tapi untuk dilihat sedang menyembah. Kita angkat tangan bukan karena iman, tapi karena tata panggung.

Yang lebih menyedihkan, ibadah kadang menjadi senjata. Ia digunakan untuk menilai. Untuk membeda-bedakan. Untuk menentukan siapa yang layak disebut suci. Padahal, bukankah ibadah seharusnya menghapus garis batas, bukan menggandakannya?

Ibadah, dalam bentuknya yang paling hakiki, mungkin adalah momen ketika manusia menyadari dirinya kecil—dan karena itu, terbuka. Terbuka pada pengampunan. Terbuka pada perubahan. Terbuka pada kemungkinan bahwa yang tak tampak bisa lebih nyata dari yang kasat mata.

Dan mungkin, itulah yang kini kita cari: ibadah yang tak hanya terdengar, tapi juga mengguncang. Yang tak hanya dijalankan, tapi juga dijalani. Yang tak hanya dideklarasikan, tapi diam-diam mengubah cara kita melihat orang lain—dan diri sendiri.

Sebab ibadah yang sejati, seperti puisi yang baik, bukan yang paling panjang, tapi yang paling jujur. Bukan yang lantang, tapi yang menyentuh. Bukan yang formal, tapi yang diam-diam membuat seseorang menangis tanpa tahu sebabnya.

Maka barangkali kita perlu berhenti sejenak di tengah liturgi, dan bertanya: apakah aku sedang berbicara, atau sekadar mengulang kata-kata? Apakah aku sedang hadir, atau hanya berada di dalam ruangan?

Sebab bisa jadi, ibadah sejati bukan saat tangan terangkat, melainkan saat hati tergeletak. Tak berdaya. Dan justru karena itu, siap disapa.

Sabtu, 19 Juli 2025

Sepi

Sepi adalah kata yang tak pernah selesai didefinisikan. Ia hadir tanpa mengetuk, mengendap dalam ruang yang tadinya riuh. Ia bukan sekadar ketiadaan suara, tapi absennya gema dari dunia. Bahkan dalam keramaian, orang bisa merasa lebih sepi dari dinding-dinding kosong. Sepi, dalam bentuk yang paling telanjang, adalah ketika keberadaan kita tak menyentuh siapa-siapa.

Mungkin itu alasan mengapa kita menulis, berbicara, mem-posting status: bukan untuk didengar, tapi untuk merasa tidak sendiri.

Dalam Mazmur, Daud berseru: "Sampai kapan, Tuhan, Kau diam saja?"—seolah kesepian bukan cuma pengalaman eksistensial, tapi juga teologis. Sepi yang paling menusuk adalah ketika langit tak memberi tanda. Doa menguap begitu saja, dan iman menjadi seperti surat yang tak pernah dibalas.

Namun mungkin, justru dalam sepi, kita menemukan sesuatu yang tak bisa dicapai oleh bising: keheningan yang mengundang kedalaman. Seperti palung laut yang tenang karena tak tersentuh gelombang permukaan. Kita hanya menyadari kedalaman ketika suara dunia berhenti.

Sepi bukan hanya ruang antara dua kata, tetapi mungkin tempat satu-satunya di mana kita bisa mengenali makna itu sendiri.

Dalam sejarah, orang-orang bijak justru memeluk sepi. Socrates berjalan sendiri di medan pikirnya. Yesus berdoa dalam sunyi Taman Getsemani. Buddha duduk diam di bawah pohon. Tapi sepi mereka bukan sekadar kesendirian. Ia adalah keheningan yang disiapkan untuk mendengar sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam kata-kata.

Namun zaman ini memusuhi sepi. Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi notifikasi, suara mesin, dan algoritma yang terus membisikkan “jangan diam.” Sepi dianggap kegagalan. Orang yang tak aktif di media sosial dianggap menghilang. Seseorang yang duduk sendirian di kafe dilihat seperti makhluk asing yang tersesat.

Padahal mungkin, di situlah justru kekuatan tersembunyi. Karena dalam sepi, manusia bisa melihat dirinya—tanpa sorot mata orang lain. Bisa menangis, bisa mengutuk, bisa mengaku kalah... dan tak seorang pun akan menertawakan.

Barangkali, sepi adalah kondisi paling jujur yang bisa dialami manusia. Sebab di sanalah, tak ada ruang untuk berpura-pura. Kita hanya bertemu dengan diri kita sendiri. Dan itu menakutkan. Karena siapa, di antara kita, yang benar-benar mengenal siapa dirinya?

Tapi mungkin juga, hanya dari sepi kita bisa mulai mengenal. Dari kekosongan itulah suara hati muncul. Bukan teriakan, tapi bisikan pelan—yang selama ini tertutup oleh bising dunia.

Mungkin sepi adalah bahasa spiritual yang paling purba. Sebab Tuhan, kata orang, tidak selalu datang dalam petir. Ia datang dalam suara yang lirih. Dan hanya mereka yang tenang dalam sepi yang bisa mendengarnya.