Mungkin itu alasan mengapa kita menulis, berbicara, mem-posting status: bukan untuk didengar, tapi untuk merasa tidak sendiri.
Dalam Mazmur, Daud berseru: "Sampai kapan, Tuhan, Kau diam saja?"—seolah kesepian bukan cuma pengalaman eksistensial, tapi juga teologis. Sepi yang paling menusuk adalah ketika langit tak memberi tanda. Doa menguap begitu saja, dan iman menjadi seperti surat yang tak pernah dibalas.
Namun mungkin, justru dalam sepi, kita menemukan sesuatu yang tak bisa dicapai oleh bising: keheningan yang mengundang kedalaman. Seperti palung laut yang tenang karena tak tersentuh gelombang permukaan. Kita hanya menyadari kedalaman ketika suara dunia berhenti.
Sepi bukan hanya ruang antara dua kata, tetapi mungkin tempat satu-satunya di mana kita bisa mengenali makna itu sendiri.
Dalam sejarah, orang-orang bijak justru memeluk sepi. Socrates berjalan sendiri di medan pikirnya. Yesus berdoa dalam sunyi Taman Getsemani. Buddha duduk diam di bawah pohon. Tapi sepi mereka bukan sekadar kesendirian. Ia adalah keheningan yang disiapkan untuk mendengar sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam kata-kata.
Namun zaman ini memusuhi sepi. Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi notifikasi, suara mesin, dan algoritma yang terus membisikkan “jangan diam.” Sepi dianggap kegagalan. Orang yang tak aktif di media sosial dianggap menghilang. Seseorang yang duduk sendirian di kafe dilihat seperti makhluk asing yang tersesat.
Padahal mungkin, di situlah justru kekuatan tersembunyi. Karena dalam sepi, manusia bisa melihat dirinya—tanpa sorot mata orang lain. Bisa menangis, bisa mengutuk, bisa mengaku kalah... dan tak seorang pun akan menertawakan.
Barangkali, sepi adalah kondisi paling jujur yang bisa dialami manusia. Sebab di sanalah, tak ada ruang untuk berpura-pura. Kita hanya bertemu dengan diri kita sendiri. Dan itu menakutkan. Karena siapa, di antara kita, yang benar-benar mengenal siapa dirinya?
Tapi mungkin juga, hanya dari sepi kita bisa mulai mengenal. Dari kekosongan itulah suara hati muncul. Bukan teriakan, tapi bisikan pelan—yang selama ini tertutup oleh bising dunia.
Mungkin sepi adalah bahasa spiritual yang paling purba. Sebab Tuhan, kata orang, tidak selalu datang dalam petir. Ia datang dalam suara yang lirih. Dan hanya mereka yang tenang dalam sepi yang bisa mendengarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar