KONOHA, singkatan yang nakal—Kingdom of Nepotism, Oligarchy and Hidden Ambition. Nakal karena ia berani menyindir dengan main-main, tapi juga getir karena ia menunjuk ke arah yang tak ingin dilihat.
Boleh jadi istilah itu tak muncul dalam naskah resmi. Tapi jejaknya ada. Dalam setiap pewarisan kekuasaan yang tak berbasis pada kompetensi, tapi pada kedekatan. Dalam elitisme terselubung yang menyamar dalam nama “pengabdian.” Dalam ambisi yang dikubur dalam senyum, tapi membakar dari dalam.
Nepotisme, katanya, adalah cinta yang salah alamat. Ia mencintai yang dekat, tapi melupakan yang layak. Kita pernah diajarkan bahwa meritokrasi adalah landasan dunia modern—bahwa yang terbaiklah yang mestinya memimpin. Tapi dalam Konoha, yang naik adalah mereka yang lahir dalam lingkaran, bukan yang berjalan dari pinggir. Jabatan diturunkan seperti warisan, bukan diperebutkan oleh mereka yang layak.
Seorang kawan berkata, “di sini, meritokrasi adalah mitos yang dibacakan dalam pelantikan, lalu dibuang ke tong sampah ketika pintu ditutup.” Mungkin ia berlebihan. Tapi kita tahu, berlebihan kadang hanya berarti jujur secara emosional.
Oligarki, lebih halus. Ia tidak selalu menunjuk. Ia cukup membisik. Ia tidak mengambil alih, hanya mengatur arah. Ia seperti bayangan yang tak pernah bisa disentuh, tapi mengatur cahaya. Dalam banyak sistem, termasuk yang bernama “komunitas rohani” sekalipun, kita melihat tangan-tangan tak kasat mata yang lebih menentukan dibanding suara mayoritas.
Lalu ambisi. Ah, ini yang paling tersembunyi. Karena ia bisa dikemas dalam frasa “melayani,” “mengabdi,” bahkan “berkorban.” Tapi di dalamnya, ada hasrat untuk diakui, dipilih, dicatat. Ambisi tak selalu buruk. Tapi yang tersembunyi, yang menipu dengan wajah rohani, itulah yang berbahaya.
Maka kita punya pemimpin yang tampaknya rendah hati, tapi sebenarnya sedang merancang peta kekuasaan. Kita punya panitia yang katanya melayani, tapi diam-diam menjaring suara untuk pemilihan berikutnya. Kita punya gereja yang terlihat bersinar, tapi dibangun dengan agenda yang tak pernah dibicarakan di altar.
Maka Konoha, pada akhirnya, bukan cuma tempat dalam komik Jepang. Ia adalah metafora tentang kekuasaan yang terlalu akrab dengan keluarga, terlalu sempit untuk dibagi, terlalu licik untuk jujur. Ia bisa berwujud dalam lembaga, organisasi, atau gereja. Ia bisa memakai jubah ninja, toga sarjana, atau bahkan seragam pelayanan.
Apa yang salah dari sistem seperti ini? Barangkali bukan sekadar moralitas. Tapi karena ia membuat kita percaya bahwa perubahan hanya mungkin lewat garis keturunan, bukan lewat ketulusan. Bahwa suara minoritas akan selalu diredam oleh tawa akrab mereka yang duduk dalam meja bundar kekuasaan.
Yang tertinggal dari Konoha adalah ironi: bahwa bahkan dalam dunia fiksi, kita bisa membaca kenyataan. Dan kenyataan itu tak selalu menyenangkan. Ia bisa mengecewakan—atau justru menyadarkan.
Mungkin, suatu hari, KONOHA akan berubah. Tapi bukan karena mereka yang berkuasa akhirnya tercerahkan. Melainkan karena mereka yang diam, akhirnya bersuara.
Karena yang paling tersembunyi bukan jurus rahasia. Tapi niat yang dikubur di balik senyum.


