Selasa, 20 Mei 2025

Facebook

Facebook bukanlah ruang tamu, tapi kita memasukinya seperti sahabat lama yang datang membawa cerita. Kita menyapanya setiap pagi, kadang tanpa sadar, seperti ritual setengah sadar. Ia tidak berbau kopi, tidak berisi tawa yang hangat, tapi ia mengklaim keintiman. Ia menyebut dirinya “jejaring sosial”, padahal ia lebih mirip cermin yang memantulkan bayangan yang ingin kita lihat dari diri sendiri, dan dari dunia.

Kita menyebutnya media sosial. Tapi benarkah masih sosial, ketika percakapan digiring oleh algoritma, ketika pertemanan diproses oleh kecerdasan buatan, dan ketika yang paling keras suaranya justru yang paling diutamakan?

Facebook lahir dari ide sederhana: menyambungkan manusia. Tapi seperti semua yang sederhana dalam sejarah, ia tumbuh menjadi rumit. Ia bermula dari kampus Ivy League dan berkembang menjadi kekuatan global. Ia, hari ini, lebih besar dari sekadar perusahaan teknologi. Ia seperti negara, tanpa wilayah, tapi punya hukum sendiri; tanpa parlemen, tapi memutuskan apa yang layak tampil dan apa yang tenggelam; tanpa pemilu, tapi pemiliknya bisa memengaruhi jutaan suara.

Zuckerberg, seperti banyak pemilik imperium, tidak tampil seperti raja. Ia mengenakan kaos abu-abu, tersenyum kikuk, dan menyebut perusahaannya sebagai “komunitas”. Tapi komunitas macam apa yang dijaga oleh barisan moderator bayaran, kecerdasan buatan, dan sistem penyaringan yang bisa membungkam satu suara sekaligus memviralkan kebencian dalam satu klik?

Facebook memberi kita ilusi pilihan, tapi ia juga memilihkan untuk kita. Ia menyusun beranda berdasarkan apa yang kita suka, atau lebih tepatnya: berdasarkan apa yang membuat kita terus menatap layar. Maka bukanlah kebenaran yang dijunjung, tapi keterlibatan. Bukanlah kesunyian yang diberi tempat, tapi keramaian, sekalipun itu keramaian palsu, gaduh yang dikonstruksi, dan kebisingan yang dibeli.

Kita menyebutnya tempat berbagi, tapi siapa yang paling banyak mengambil?
Data. Privasi. Waktu. Tiga hal yang perlahan tergerus oleh kehadiran yang tampak tanpa pamrih ini. Kita tidak membayar untuk memakai Facebook, tapi justru karena itu kita membayar lebih mahal: kita menjadi produk. Data kita dijual, perilaku kita dipetakan, pilihan kita dipelajari, dan semua itu dijadikan komoditas. Sering tanpa kita sadari, kita ikut menyusun peta besar dunia yang dikuasai perusahaan-perusahaan digital raksasa, yang kantor pusatnya jauh dari rumah-rumah kita.

Mungkin yang paling getir adalah ini: kita menjadi aktor dalam pertunjukan yang tak kita tulis naskahnya. Kita membagikan foto, opini, berita, kemarahan, kesedihan, tapi semua itu dimasukkan ke dalam mesin yang tak peduli pada isi, hanya pada efek. Seorang ibu kehilangan anak karena hoaks yang disebarkan melalui Facebook. Seorang teman jadi musuh karena perbedaan pandangan yang diperuncing di kolom komentar. Dan kita semua, pelan-pelan, belajar untuk memilih kata bukan berdasarkan nurani, tapi berdasarkan respons.

Adakah jalan keluar?
Barangkali tidak mudah. Karena Facebook tidak hanya hadir di gawai kita. Ia sudah menjadi bagian dari lanskap mental. Ia membentuk cara kita melihat diri sendiri dan orang lain. Ia menjadi ruang publik baru, tapi dengan batas-batas yang tak transparan. Ia adalah pasar gagasan, tapi juga tempat berkembangnya ilusi dan kebencian.

Namun, seperti juga semua kekuasaan yang pernah ada, Facebook tidak kebal. Ia bisa ditinggalkan. Ia bisa dipertanyakan. Ia bisa, dan harus, dikritik.

Bukan karena kita membencinya. Tapi justru karena kita telah terlalu lama hidup bersamanya tanpa cukup curiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar