Di banyak sudut dunia, termasuk negeri ini, ijazah lebih dari sekadar dokumen. Ia menjadi penanda. Ia menjadi legitimasi. Ia menjadi paspor menuju dunia yang disebut “layak”. Tanpa ijazah, seseorang bisa dipertanyakan. Dengan ijazah, seseorang bisa dipercaya. Begitu simplifikasinya.
Namun seperti semua simbol, ijazah menyimpan ambiguitas. Ia mencatat waktu belajar, tapi tak selalu mencerminkan apa yang dipelajari. Ia membuktikan kelulusan, tapi tak menjamin kematangan. Ia dilegalkan oleh lembaga, tapi tak selalu disahkan oleh pengalaman.
Di negeri ini, ijazah bahkan bisa dibeli. Tak perlu masuk kelas, tak perlu membaca buku, tak perlu mengerjakan tuga, cukup punya koneksi, cukup punya uang. Maka ijazah menjadi ilusi legitimasi: gelar dicetak, tapi pikiran tetap kosong. Yang mengerikan, bukan hanya pemalsuan itu sendiri, tapi bahwa banyak sistem yang diam-diam membiarkannya.
Masyarakat pun menyesuaikan diri. Pekerjaan ditentukan bukan oleh kemampuan, tapi oleh gelar yang tertulis. “S-1”, “S-2”, “Dr.”—huruf-huruf itu kadang berbicara lebih nyaring daripada ide-ide. Maka orang pun berburu ijazah, bukan ilmu. Belajar menjadi sekadar proses administratif, bukan proses intelektual.
Padahal, belajar adalah aktivitas sunyi. Ia bukan upacara kelulusan. Ia bukan sidik jari di absen. Ia bukan skor angka di transkrip nilai. Belajar yang sejati melibatkan perasaan rendah hati: bahwa dunia ini terlalu luas untuk dikuasai, dan pengetahuan bukan koleksi, tapi perjalanan. Tapi semua itu tak tertera dalam ijazah.
Apa jadinya jika kita menggantungkan seluruh kredibilitas seseorang pada selembar kertas? Maka kita akan kehilangan mereka yang bijak tapi tak bergelar. Kita akan meremehkan tukang las yang teliti, karena tak punya diploma. Kita akan mencemooh pembicara yang fasih karena ia “hanya lulusan SMA”. Kita akan lebih percaya pada gelar doktor yang tak pernah membaca ulang tesisnya sendiri, daripada pada ibu rumah tangga yang diam-diam menghafal sejarah dan mendidik tiga anak dengan kesabaran.
Ini bukan seruan anti-pendidikan. Justru sebaliknya. Pendidikan sejati terlalu penting untuk digantungkan pada ijazah semata. Pendidikan adalah proses pembebasan. Paulo Freire menyebutnya “praktik kebebasan”, di mana manusia diajak berpikir, meragukan, membongkar, lalu membangun kembali. Tapi jika pendidikan dibatasi oleh format ujian dan angka kelulusan, maka ia berhenti menjadi pembebas—dan berubah menjadi alat domestikasi.
Barangkali yang harus kita ubah bukan ijazahnya, tapi cara kita memaknainya. Ijazah bukan bukti final, melainkan catatan perjalanan. Ia bukan akhir, tapi awal dari proses belajar yang tak pernah selesai.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar