Jumat, 18 Juli 2025

Zarathustra

Zarathustra bukan nabi biasa. Ia bukan pembawa wahyu, melainkan pembakar kitab. Ia turun dari gunung bukan untuk membawa hukum Tuhan, tapi untuk mengumumkan kematian-Nya. Di tangan Friedrich Nietzsche, tokoh fiktif ini menjadi suara paling nyaring dari zaman yang mulai kehilangan pegangan—pada iman, pada moral, bahkan pada makna itu sendiri. Also sprach Zarathustra adalah buku yang tak bisa dibaca seperti ceramah, melainkan harus dirasakan seperti mimpi buruk yang justru membangunkan kita.

Zarathustra bukan penjelas, ia pengacau. Ia tidak menawarkan ketenangan, melainkan kegelisahan yang jujur. Ketika ia berkata bahwa “Tuhan telah mati”, itu bukan selebrasi ateisme, tapi duka atas dunia yang kehilangan pusat. Dunia modern, kata Nietzsche melalui mulut sang nabi, telah membunuh Tuhannya sendiri dengan pisau ilmu pengetahuan, konsumerisme, dan nihilisme. Dan yang paling tragis: kita bahkan tak sadar bahwa kita sedang berkabung.

Dalam kekosongan itu, Zarathustra tidak meminta kita bersujud pada kebenaran baru. Ia justru mendorong kita menciptakannya sendiri. Di sinilah muncul konsep Übermensch—manusia unggul. Tapi jangan salah, ini bukan manusia super dalam bayangan komik, bukan pahlawan atau tiran. Übermensch adalah manusia yang berani hidup tanpa ilusi. Ia menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa menggantungkan makna pada surga, negara, atau norma yang diwariskan begitu saja. Ia adalah makhluk yang tahu bahwa hidup ini absurd, namun tetap memilih untuk menari di tengah absurditas itu.

Namun Zarathustra tidak sedang berkhotbah pada umat yang bersedia mendengar. Ia lebih sering diabaikan, ditertawakan, atau disalahpahami. Ini barangkali alegori paling jujur dari zaman kita sendiri: kebenaran yang tidak populer akan selalu dikalahkan oleh kenyamanan yang palsu. Masyarakat tidak suka diganggu oleh pertanyaan besar; kita lebih senang larut dalam rutinitas, konsumsi, dan hiburan. Zarathustra menjadi simbol bagi siapa saja yang mencoba hidup dengan cara yang berbeda, dan harus menanggung kesepiannya sendiri.

Secara filosofis, Zarathustra adalah perwujudan perlawanan terhadap kepasrahan. Ia menolak hidup yang dijalani karena “memang begitu”. Ia menantang kita untuk menanyakan ulang segalanya: dari keyakinan religius hingga etika sosial. Bahkan waktu pun tak luput: konsep eternal recurrence—gagasan bahwa kita harus menjalani hidup seolah akan mengulangnya selamanya—adalah ujian paling radikal bagi keotentikan hidup kita.

Di tengah dunia hari ini—yang terus menyembah tren, algoritma, dan popularitas—Zarathustra datang seperti suara asing yang mengajak kita berhenti, diam, lalu bertanya: apakah hidup yang kau jalani ini milikmu sendiri? Atau kau hanya sedang menjalani hidup orang lain yang kau warisi tanpa sadar?

Zarathustra tak meminta kita menjadi pengikut. Ia tak butuh disembah. Ia hanya ingin kita bangun—dan hidup dengan kesadaran yang utuh, meski itu berarti berjalan sendirian dalam badai. Sebab, barangkali, itulah satu-satunya cara menjadi manusia yang sungguh bebas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar