Di sela duka yang tak selesai.
Kematian tak pernah benar-benar datang seperti pencuri. Ia lebih menyerupai tamu tua yang sabar menunggu, duduk diam di beranda, menunggu kita siap membuka pintu. Tapi apakah kita pernah siap? Aku tidak. Tidak saat melihatmu terbaring dalam diam, tidak saat tanganmu tak lagi menggenggam, dan tidak saat dunia terasa terlalu luas karena kehilanganmu di dalamnya.Dan kini, setelah semuanya menjadi sunyi, aku mengingatmu—bukan sebagai sosok yang hilang, tapi sebagai kehadiran yang terlalu penuh untuk dilenyapkan waktu. Kau, bukan hanya kenangan. Kau adalah bagian dari bahasa yang kugunakan untuk mencintai dunia. Dan kini, saat kata-kata menjadi terlalu sempit untuk menampung perasaan, aku menulis ini, seperti orang yang menaburkan bunga ke laut: tak berharap kembali, hanya berharap diterima.
Orang berkata waktu menyembuhkan. Tapi mereka tidak tahu bahwa waktu justru memperdalam luka. Ia membuat ingatan menjadi tajam, seperti pisau yang perlahan mengiris. Hari-hari tanpamu bukanlah pemulihan, tapi pengulangan rasa kehilangan yang tak henti-henti. Dalam tidurku, kau hadir tanpa tubuh. Dalam bangunku, kau absen namun tak pernah pergi.
Ada kalanya aku merasa kau hanya sedang bepergian, seperti dulu saat kau pamit ke sekolah, atau saat kau pulang dari tempat ibadah. Tapi malam datang, dan tak ada pintu yang terbuka. Tidak ada langkah yang datang dari dapur. Hanya keheningan yang kian dalam, menelan detik-detik yang terlalu panjang.
Kita dulu percaya bahwa cinta adalah bentuk kecil dari kekekalan. Kita mengucapkannya di altar, dalam doa, dalam sisa-sisa kecupan pagi. Tapi kini aku mengerti, bahwa cinta justru adalah keberanian untuk tetap hidup dalam ketiadaan. Dan kau, lebih dulu mengajarkannya padaku: bagaimana mencintai tanpa harus memiliki, bagaimana pergi tanpa benar-benar meninggalkan.
Aku tahu, kau tidak hilang. Aku tahu, dalam semesta yang tak terukur ini, ada bagian dari dirimu yang tetap hidup. Di suara angin yang menyentuh jendela. Di cahaya pagi yang merembes ke kamar tidur kita. Di setiap upaya kecilku untuk tetap menjadi manusia, meski setengah jiwaku telah pergi bersamamu.
Keabadian bukanlah surga seperti yang dikhotbahkan banyak orang. Keabadian adalah saat seseorang tetap hidup dalam ingatan orang lain. Dan kau, telah menjadi bagian dari keabadianku. Aku membawamu ke mana pun aku melangkah—bukan sebagai beban, tapi sebagai cahaya yang tak pernah padam.
Seseorang pernah berkata bahwa cinta sejati adalah kesediaan untuk melihat yang kita cintai bersemayam dalam yang tak terlihat. Maka hari ini, aku menatap langit, dan percaya kau ada di sana—bukan sebagai bintang, bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai doa yang telah menemukan jawabannya.
Dan aku, yang masih tertinggal di dunia ini, akan terus menulis namamu. Bukan di batu nisan, tapi di setiap laku, di setiap kasih yang kutebarkan kepada dunia, karena aku tahu, mengenangmu bukan tentang menolak kehilangan, melainkan tentang belajar hidup dengan setengah hati yang telah menetap di keabadian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar