Kita mengenalnya sebagai rumah ibadah, tempat orang-orang berkumpul dalam kidung dan doa. Tapi juga tempat di mana suara-suara tertentu lebih didengar daripada yang lain. Gereja seharusnya menjadi ruang suci—sanctum—di mana manusia menanggalkan egonya. Tapi, sebagaimana semua ruang yang ditempati manusia, ia pun tak lepas dari sejarah yang berliku, bahkan luka.
Sejarah gereja adalah sejarah tubuh dan kuasa. Sejak Konstantinus mengangkat Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, gereja berubah dari sekadar komunitas pengikut menjadi institusi politik. Ia memiliki tanah, tentara, dan kadang—ironisnya—senjata. Dari Konsili Nicea hingga pengadilan inkuisisi, dari reformasi Luther hingga Vatikan modern, gereja terus bergulat dengan satu pertanyaan yang tak kunjung selesai: bagaimana membicarakan Tuhan tanpa merampas manusia?
Dan mungkin itu yang menjadi persoalan mendasar: bahwa setiap kali kekudusan dilembagakan, ia cenderung beku. Kasih yang seharusnya bebas, dijadikan doktrin. Iman yang mestinya bergerak, dijadikan sistem. Maka Tuhan pun, yang dalam Injil datang sebagai bayi miskin dan mati sebagai penjahat, kini diperkenalkan lewat tata ibadah dan seragam liturgi. Ia menjadi formal, bahkan administratif.
Kita hidup di zaman ketika gereja-gereja menjelma gedung-gedung megah, lengkap dengan proyektor, musik elektronik, dan pengkhotbah yang tampil layaknya selebritas rohani. Tuhan, dalam banyak khotbah, terdengar seperti manajer sukses, dan jemaat seperti konsumen yang harus “diberkati”. Doa berubah menjadi permintaan. Ibadah menjadi hiburan. Dan iman, sayangnya, menjadi transaksi.
Kritik ini bukan untuk membubarkan gereja. Tapi justru untuk mengingatkan: bahwa gereja, pada hakikatnya, bukan bangunan, bukan sistem, bukan bahkan liturgi. Gereja adalah kumpulan manusia yang saling menanggung. Yang duduk bersama dalam perjamuan sederhana. Yang meratap bersama dalam kesunyian tanpa panggung. Yang menolak kekuasaan atas nama kasih, dan merayakan kasih yang tak butuh pengesahan.
Gereja yang sejati mungkin tak selalu ramai. Ia bisa hadir di kamar kecil seorang ibu yang berdoa dalam bisu. Ia bisa hidup di tenda pengungsian, di mana sekelompok orang menyanyikan mazmur tanpa alat musik. Ia bisa muncul dalam pelukan pada seorang anak yang kehilangan. Karena gereja, pada dasarnya, adalah tubuh yang saling menjaga luka satu sama lain.
Tentu, kita tak bisa melepaskan gereja dari waktu. Ia akan selalu berubah. Ia akan selalu terancam oleh kehendak mengatur lebih dari menyembah. Tapi justru di situlah iman diuji: bukan dalam kemenangan, tapi dalam pengakuan bahwa kita pun bisa keliru.
Dan bila gereja tak mampu mengakui itu—maka mungkin yang tinggal hanya bangunannya, bukan jiwanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar